NovelToon NovelToon
Jalan Kultivasi Sang Dewa

Jalan Kultivasi Sang Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Adit

Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15 - Malam Sebelum Perjalanan Panjang

Sore hari perlahan tiba, dan langit di atas desa mulai berubah menjadi warna jingga keemasan saat matahari bergerak semakin dekat menuju cakrawala. Cahaya senja menyelimuti jalan-jalan desa dengan suasana yang hangat, sementara para penduduk mulai menyelesaikan aktivitas mereka sebelum malam datang.

Di jalan utama yang masih cukup ramai, Cang Xuan dan Tuan Xin terus berjalan berdampingan sambil mencari tempat untuk bermalam. Setelah menghabiskan sebagian besar hari berkeliling desa dan beristirahat di restoran, keduanya memutuskan untuk mencari penginapan sebelum hari benar-benar gelap.

Sesekali Cang Xuan melihat ke berbagai arah, memperhatikan bangunan-bangunan yang berdiri di sepanjang jalan. Dibandingkan dengan Desa Awan Timur yang telah hancur, desa ini terasa jauh lebih hidup dan ramai. Banyak hal yang masih terlihat baru di matanya, membuat rasa penasarannya terhadap dunia luar semakin besar.

Sementara itu, Tuan Xin tetap berjalan santai seperti biasa sambil membawa kendi araknya. Ekspresinya sudah kembali normal, seolah kejadian aneh yang terjadi di restoran sebelumnya tidak pernah terjadi sama sekali.

Besok pagi mereka akan kembali melanjutkan perjalanan menuju wilayah tempat Penguasa Benua Timur berada. Perjalanan itu masih panjang, tetapi bagi Cang Xuan, setiap langkah yang ia ambil sekarang membawanya semakin dekat kepada tujuan yang selama ini ingin dicapainya. Dengan pemikiran tersebut, ia terus mengikuti langkah Tuan Xin menyusuri jalan desa yang perlahan mulai diselimuti suasana senja.

Saat mereka berjalan menyusuri jalan utama desa yang mulai diterangi cahaya senja, Tuan Xin yang berada beberapa langkah di depan tiba-tiba menoleh ke arah Cang Xuan.

"Ngomong-ngomong, anak muda."

"Hm?" Cang Xuan mengangkat kepala. "Ada apa, Tuan Xin?"

Lelaki tua itu menatapnya sejenak sebelum bertanya dengan nada santai, "Kenapa kau lama sekali di restoran tadi?"

Mendengar pertanyaan itu, Cang Xuan langsung menggaruk kepalanya.

"Oh, itu."

Ekspresinya terlihat sedikit canggung.

"Aku tadi sedang mengobrol dengan seorang gadis."

Tuan Xin langsung melirik ke arahnya.

"Seorang gadis?"

"Iya." Cang Xuan mengangguk tanpa berpikir panjang. "Namanya Ling Yue."

Langkah Tuan Xin sempat melambat sesaat.

Meski perubahan itu sangat kecil, matanya terlihat sedikit menyipit.

Namun Cang Xuan sama sekali tidak menyadarinya.

Dengan santai, ia melanjutkan ceritanya. "Empat tahun lalu aku pernah menyelamatkannya dari kawanan serigala di hutan. Waktu itu dia sedang pingsan dan hampir dimangsa. Aku bahkan sudah hampir lupa dengan kejadian itu, tetapi ternyata dia masih mengingatnya sampai sekarang."

Mendengar penjelasan tersebut, Tuan Xin terdiam selama beberapa saat.

"Ling Yue..."

Nama itu kembali bergema di dalam pikirannya.

"Ternyata memang dia."

Kalimat itu hanya terucap sangat pelan, hampir seperti gumaman yang ditujukan kepada dirinya sendiri.

Namun tetap saja, Cang Xuan berhasil mendengarnya.

Ia langsung menoleh dengan rasa penasaran.

"Tuan Xin?"

"Hm?"

"Apa kau mengenalnya?"

Mendengar pertanyaan itu, Tuan Xin langsung menggelengkan kepala tanpa ragu.

"Tidak."

Jawabannya terdengar terlalu cepat.

"Bukan apa-apa."

Ia segera mempercepat langkahnya sambil mengalihkan pembicaraan.

"Kita lebih baik fokus mencari penginapan sebelum malam tiba. Tidak bagus berkeliaran terlalu lama saat hari mulai gelap."

Cang Xuan memandang punggung lelaki tua itu dengan sedikit kebingungan.

Entah kenapa, ia merasa reaksi Tuan Xin tadi agak aneh.

Namun karena tidak menemukan alasan untuk terus memikirkannya, ia akhirnya hanya mengangkat bahu lalu mengikuti langkah Tuan Xin seperti biasa.

Tidak lama kemudian, setelah berkeliling cukup lama menyusuri jalan-jalan desa, Cang Xuan dan Tuan Xin akhirnya menemukan sebuah penginapan yang cukup besar di dekat pusat keramaian. Bangunan itu memiliki dua lantai dengan papan kayu besar yang tergantung di depan pintu masuk, sementara beberapa lentera sudah mulai dinyalakan karena langit perlahan semakin gelap.

Begitu melihatnya, Tuan Xin langsung tersenyum puas.

"Akhirnya." Ia mengembuskan napas panjang seolah baru saja menyelesaikan tugas besar. "Kukira tidak ada penginapan di desa ini."

Cang Xuan hanya tersenyum kecil melihat reaksinya.

"Kalau begitu ayo kita masuk."

Tanpa membuang waktu, keduanya segera berjalan menuju pintu dan memasuki penginapan tersebut untuk mencari kamar sebelum malam benar-benar tiba.

Namun ada satu hal yang tidak mereka sadari.

Tidak jauh dari sana, di sebuah sudut jalan yang mulai diterangi cahaya lentera, sepasang mata sedang memperhatikan mereka sejak beberapa saat yang lalu.

Pemilik tatapan itu tidak lain adalah Ling Yue.

Gadis itu berdiri dengan tenang sambil melihat Cang Xuan dan Tuan Xin menghilang ke dalam penginapan. Tatapannya sempat tertuju pada sosok Tuan Xin yang berjalan di samping Cang Xuan.

"Jadi Cang Xuan tidak sendirian."

Alisnya sedikit terangkat.

"Ternyata dia bepergian bersama seseorang."

Karena jaraknya cukup jauh, ia tidak dapat melihat wajah lelaki tua itu dengan jelas. Yang terlihat hanya sosok punggung berjubah lusuh yang berjalan santai di samping Cang Xuan.

"Siapa dia, ya?" gumamnya pelan. "Kalau hanya melihat dari belakang, memang sulit dikenali."

Namun setelah melihat mereka memasuki penginapan, senyum kecil perlahan muncul di wajahnya.

"Jadi mereka menginap di sana."

Tatapannya kembali mengarah ke pintu penginapan yang masih terbuka.

"Kalau begitu, aku juga harus masuk."

Entah kenapa, memikirkan bahwa Cang Xuan akan segera melanjutkan perjalanan membuatnya merasa tidak ingin menunggu terlalu lama.

"Aku harus berbicara dengannya malam ini."

Dengan keputusan yang sudah bulat, Ling Yue mulai melangkah menuju penginapan tersebut. Cahaya senja perlahan memudar dari langit, sementara malam mulai turun menyelimuti desa.

Di dalam penginapan yang hangat dan terang oleh cahaya lentera, Tuan Xin dan Cang Xuan langsung berjalan menuju meja kasir yang berada di dekat pintu masuk. Seorang pegawai penginapan yang sedang mencatat sesuatu segera mengangkat kepalanya ketika melihat mereka mendekat.

Dengan senyum ramah, Tuan Xin bertanya, "Permisi, apakah masih ada kamar kosong di penginapan ini?"

Pegawai itu segera menganggukkan kepala.

"Tentu saja ada, Pak. Apakah kalian ingin menginap di sini?"

"Iya." Tuan Xin meletakkan kedua tangannya di atas meja kasir. "Aku ingin memesan dua kamar untuk satu malam saja. Besok pagi kami akan langsung melanjutkan perjalanan."

Pegawai tersebut segera mengambil buku catatannya lalu menghitung biaya penginapan selama beberapa saat.

"Baiklah." Ia kembali mengangkat pandangan. "Untuk dua kamar selama satu malam, totalnya delapan koin emas."

Tanpa banyak bicara, Tuan Xin langsung mengeluarkan koin-koin yang diperlukan dan menyerahkannya.

Pegawai itu menerima pembayaran tersebut lalu mengambil dua buah kunci dari rak kayu yang berada di belakangnya.

"Baik, kamar kalian berada di lantai satu," jelasnya sambil menyerahkan kedua kunci tersebut. "Setelah melewati koridor utama, belok ke kiri. Pintu pertama untuk Bapak, sedangkan pintu di sebelahnya untuk Tuan Muda."

Tuan Xin menerima kedua kunci itu dan mengangguk puas.

"Baik. Terima kasih."

Pegawai tersebut membalas dengan senyum sopan sebelum kembali mengurus pekerjaannya.

Setelah menerima kunci kamar masing-masing, Tuan Xin dan Cang Xuan berjalan menyusuri koridor penginapan yang diterangi beberapa lentera gantung. Suasana di dalam penginapan jauh lebih tenang dibandingkan jalanan desa di luar, hanya sesekali terdengar suara langkah kaki para tamu atau percakapan pelan dari kamar-kamar yang masih terbuka.

Di tengah perjalanan menuju kamar mereka, Cang Xuan yang sejak tadi memikirkan sesuatu akhirnya tidak bisa menahan rasa penasarannya.

"Tuan Xin."

"Hm?" sahut lelaki tua itu tanpa menoleh.

"Sepertinya uangmu banyak sekali."

Mendengar pertanyaan itu, Tuan Xin langsung tertawa.

"Tentu saja."

Nada suaranya terdengar santai seolah hal tersebut bukan sesuatu yang istimewa.

"Bahkan sekarang aku masih memiliki ratusan koin emas di kantongku."

Langkah Cang Xuan hampir terhenti.

"Ratusan?!"

Matanya langsung membesar.

Jumlah itu jauh melampaui apa yang pernah dimilikinya selama hidup.

"Itu bahkan cukup untuk hidup bertahun-tahun."

Melihat reaksinya, Tuan Xin kembali tertawa kecil.

"Anak muda tetaplah anak muda. Kalau suatu hari kau berhasil mencapai Dunia Tengah atau Dunia Atas, kau akan menyadari bahwa ratusan koin emas sebenarnya tidak sebanyak yang kau bayangkan."

Namun bagi Cang Xuan yang tumbuh dalam kemiskinan, jumlah tersebut tetap terdengar seperti kekayaan yang luar biasa.

Sambil berbincang, mereka akhirnya tiba di depan kamar masing-masing. Kedua pintu itu berdiri berdampingan di ujung koridor sesuai dengan petunjuk yang diberikan pegawai penginapan sebelumnya.

Tuan Xin berhenti di depan kamarnya lalu menoleh ke arah Cang Xuan.

"Anak muda, hari ini kau pasti sudah lelah karena perjalanan tadi."

Cang Xuan mengangguk pelan.

Sejak pagi ia telah mengalami banyak hal baru dalam satu hari.

"Masuklah dan beristirahat. Besok perjalanan kita masih sangat panjang."

"Baik."

Tuan Xin terlihat puas mendengar jawabannya.

"Kalau begitu aku masuk dulu." Ia menguap sambil memutar kunci di tangannya. "Aku juga sudah capek dan ingin langsung tidur."

Setelah mengatakan itu, ia membuka pintu kamarnya lalu melangkah masuk tanpa ragu.

Beberapa saat kemudian, pintu tersebut tertutup perlahan.

Kini hanya Cang Xuan yang tersisa di koridor.

Dengan kunci di tangan, ia berdiri sejenak sambil memandangi pintu kamarnya sendiri. Perjalanan yang selama ini hanya ada dalam impiannya akhirnya benar-benar dimulai. Dan entah mengapa, meskipun hari itu begitu melelahkan, ia justru merasa semakin bersemangat untuk melihat apa yang menunggunya di hari-hari berikutnya.

End Chapter 15

1
asri_hamdani
tangkap 1-2 kan bisa untuk ganjel perut lapar 🤔
.: karena menurut Cang xuan menangkap hewan hewan kecil seperti kelinci ataupun kucing hutan itu hanya membuang-buang waktu karena hewan tersebut memiliki pergerakan yg cukup lincah Apalagi walaupun berhasil menangkap dia hanya mendapatkan koin yg sedikit apalagi dia mempunyai waktu terbatas yaitu jangan sampai malam hari karena banyak monster abbys yg berkeliaran oleh karena itu daripada membuang buang waktu ke hewan yg memiliki nilai koin yg sedikit menurut Cang xuan lebih baik mencari hewan yg ukuran nya cukup besar dan mendapatkan koin yg lebih banyak dibandingkan harus bersusah payah menangkap hewan ukuran kecil
total 1 replies
Kevandra
B🌻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!