NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Retakan di Balik Topeng

Ketegangan di dalam ballroom mewah itu mendadak berlipat ganda, menggilas sisa-sisa kenyamanan yang sempat mereka rasakan setelah melewati adangan wartawan di karpet merah.

Alunan musik jazz klasik yang mengalun lembut dari arah panggung kini terdengar seperti dentang lonceng kematian yang monoton di telinga Adrian Hutama dan Alea Corisand.

Adrian menatap layar ponsel pintarnya yang masih menyala redup di balik telapak tangannya, menampilkan untaian kalimat ancaman dari nomor misterius yang sama.

Napasnya berembus berat, mengalirkan rasa frustrasi yang tertahan.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, dia memasukkan kembali benda pipih itu ke saku dalam jas tuxedo-nya, lalu menatap Alea.

Wajah wanita itu tampak sedikit lebih pucat dari biasanya meskipun riasan wajahnya yang dikerjakan oleh perias profesional berhasil menyamarkannya dengan sangat rapi dari pandangan mata publik yang jeli.

"Kita tidak bisa diam saja berdiri di sini seperti pajangan, Alea," bisik Adrian, suaranya terdengar sangat rendah, nyaris tenggelam di antara denting gelas kristal dan gelak tawa para taipan yang berdiri beberapa meter di sekitar mereka.

"Thomas baru saja pergi, dan pesan teks ini membuktikan dengan sangat presisi bahwa dia atau orang kuat yang membayarnya sedang mengawasi setiap jengkal pergerakan kita detik ini juga. Kita seperti ikan di dalam akuarium."

Alea menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan gemuruh di dadanya.

Dia mengencangkan cengkeraman jemarinya pada lengan Adrian, seolah menyerap kekuatan dari sana.

"Jangan panik, Adrian. Kendalikan ekspresi wajahmu. Ingat aturan main kita: buat dia mengira kita terjebak dalam skenario terornya, tapi jangan pernah biarkan topeng kebahagiaan ini lepas di depan orang tua kita atau media. Jika kita terlihat panik, dia menang."

Alea membalikkan tubuhnya dengan gerakan anggun ke arah Eleanor Corisand dan Raymond Hutama yang masih asyik mengobrol hangat dengan seorang menteri di dekat meja VIP.

Dengan senyuman manis yang luar biasa natural, seolah tidak ada beban apa pun di pundaknya, Alea menyela pembicaraan mereka dengan intonasi suara yang manja namun sopan.

"Ibu, Ayah, maaf sekali saya harus menyela obrolan seru kalian," ujar Alea sambil mengerucutkan bibirnya sedikit, berakting dengan sangat matang.

"Kepala Adrian mendadak agak pusing karena kurang istirahat beberapa hari ini akibat mengurus seluruh berkas kepindahan dan barang-barang kami ke The Obsidian. Kami izin untuk pulang ke apartemen lebih awal, ya?"

Eleanor menoleh, menatap menantunya dengan pandangan cemas yang dibuat-buat, lalu mengangguk dengan cepat sambil mengelus lengan Alea.

"Oh, astaga. Tentu saja, Sayang. Pulanglah sekarang juga dan beristirahat. Jaga suamimu baik-baik, Alea. Pengantin baru tidak boleh terlalu lelah bekerja."

Raymond Hutama ikut menoleh dan menepuk bahu kokoh Adrian dengan mantap, menunjukkan binar bangga yang tak bisa disembunyikan.

"Jaga kesehatanmu, Adrian. Kamu sudah memimpin Hutama Industries dengan luar biasa, tapi tubuhmu juga butuh istirahat. Urusan sisa investasi malam ini bisa Ayah handel."

"Terima kasih banyak, Ayah, Ibu," jawab Adrian, mengangguk hormat dengan senyuman tipis yang sangat sopan sebelum dia menuntun Alea membelah kerumunan tamu undangan yang padat.

Sesuai dengan kesepakatan tak tertulis mereka, Adrian tetap melingkarkan tangan kanannya di pinggang ramping Alea sepanjang jalan menuju pintu keluar lobi utama hotel.

Dia memastikan setiap pasang mata sosialita yang memandang melihat mereka sebagai pasangan pengantin baru yang saling menjaga, penuh perhatian, dan diliputi rasa kasih sayang yang dalam.

Namun, begitu mereka melangkah masuk ke dalam kabin sedan mewah antipeluru milik keluarga Hutama dan pintu mobil ditutup rapat dengan bunyi deburan khas yang kedap, kehangatan yang tadi terpancar di bawah lampu sorot menguap dalam sekejap tanpa bekas.

Adrian langsung melepaskan lambaian tangannya dari pinggang Alea, menarik tubuhnya menjauh, lalu melonggarkan dasi kupu-kupu hitamnya yang kaku dengan gerakan kasar.

Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi kulit dengan ekspresi frustrasi yang kentara.

"Sandi!" panggil Adrian dengan nada tajam pada pengawal pribadi kepercayaannya yang berada di kemudi depan.

"Bagaimana laporan mengenai CCTV restoran tadi siang? Dan apakah timmu di lapangan melihat pergerakan Thomas di sekitar area hotel ini sebelum acara dimulai?"

Sandi melirik melalui spion tengah, guratan tegang menghiasi wajahnya yang biasanya kaku.

"Laporan dari tim IT di restoran tadi siang menunjukkan hal yang buruk, Tuan Adrian. Rekaman CCTV di koridor lantai dua sengaja dihapus secara permanen atau mengalami corrupt massal selama lima belas menit, tepat saat Anda berempat sedang menikmati makan siang. Dan mengenai Thomas... tim keamanan kami baru saja memeriksa daftar manifes tamu hotel malam ini. Nama Thomas sama sekali tidak terdaftar. Dia berhasil masuk ke dalam ballroom menggunakan tanda pengenal palsu sebagai kru dokumentasi dari vendor pihak ketiga."

Alea yang mendengar penuturan itu langsung menyandarkan kepalanya pada kaca mobil yang dingin, membiarkan dahinya menyentuh permukaan kaca yang berembun.

Matanya menatap kosong ke luar jendela, memperhatikan lampu-lampu jalanan Kota Valerika yang bergerak cepat menjadi garis-garis cahaya yang buram.

"Thomas sangat rapi dan metodis," sahut Alea dengan nada suara yang terdengar lelah namun tetap dingin.

"Dia tahu persis kelemahan sistem keamanan korporasi dan vendor kita, karena dialah orang yang ikut menyusun seluruh draf protokol keamanan internal keluarga Corisand saat Kakek masih hidup. Dia bukan lawan yang bisa kita remehkan dengan uang."

"Pertanyaannya yang paling krusial adalah: apa motif utama bajingan itu?" Adrian menolehkan kepalanya, menatap lurus pada profil samping wajah Alea yang tampak tegas di bawah siraman lampu jalan yang bergantian masuk ke dalam kabin mobil.

"Apakah dia melakukan aksi teror nekat ini murni karena balas dendam atas pemecatannya yang memalukan dua tahun lalu oleh ibumu, atau... ada pihak ketiga, mungkin kompetitor bisnis Hutama Industries, yang membayar jasanya untuk merebut kendali saham gabungan kita?"

"Kedua kemungkinan itu memiliki persentase yang sama besarnya, Adrian," balas Alea tanpa mengubah posisi kepalanya yang masih bersandar pada kaca.

"Thomas adalah pria yang serakah dan licik, tapi dia sangat cerdas. Dia adalah orang yang memegang dan menyusun draf pertama surat wasiat Kakek sebelum draf finalnya disahkan. Jika draf pertama itu ternyata berisi klausul rahasia yang berbeda dari dokumen hukum yang kita baca kemarin, dia bisa menggunakan informasi itu sebagai senjata untuk memeras kita, atau bahkan membatalkan hak waris kita di depan pengadilan tata usaha negara dengan tuduhan manipulasi."

Keheningan yang pekat dan kaku kembali menyelimuti kabin sedan mewah itu selama sisa perjalanan mereka menuju area eksklusif kota.

Jam digital di dasbor mobil sudah menunjukkan pukul satu dini hari lewat lima belas menit saat mobil mereka akhirnya berhenti dengan mulus di depan lobi apartemen ultra-mewah The Obsidian.

Mereka berdua naik ke lantai penthouse teratas menggunakan lift privat dalam keheningan yang mencekam.

Rasa lelah fisik dan tekanan mental seolah-olah berkolaborasi membuat pundak kedua pewaris konglomerat ini terasa sangat berat.

Begitu melangkah masuk ke dalam ruang tamu luas yang didominasi oleh lantai marmer hitam dan dinding kaca tinggi, Alea langsung melepas sepatu hak tinggi hitamnya dengan helaan napas panjang yang sarat akan beban pikiran.

Langkah kakinya terasa dingin saat menyentuh permukaan marmer. Dia berjalan perlahan menuju area dapur bersih untuk mengambil segelas air putih hangat demi menenangkan kerongkongannya yang kering.

Namun, langkah kaki Alea mendadak terhenti seketika saat suara berat Adrian terdengar memecah kesunyian dari arah belakang tubuhnya.

"Alea."

Alea membalikkan badannya dengan pelan.

Dia mendapati Adrian sedang berdiri diam di dekat sofa marmer besar, menatapnya dengan sepasang mata elang yang tidak lagi memancarkan binar menantang atau keangkuhan pebisnis seperti biasanya.

Tatapan mata Adrian malam ini tampak... sangat jujur, lelah, namun menyimpan intensitas emosi yang sangat dalam dan mengintimidasi.

Alea berusaha menguasai dirinya, menegakkan punggungnya yang letih.

"Ada apa lagi, Adrian? Ini sudah lewat jam satu malam. Aturan nomor tiga di kontrak domestik kita sudah sangat jelas: tidak ada diskusi atau interaksi setelah jam malam dimulai jika situasi tidak dalam keadaan darurat."

Adrian tidak memedulikan kalimat Alea. Alih-alih mundur ke kamarnya di koridor timur, pria itu justru melangkah maju, mendekati area dapur bersih dengan langkah kaki yang konstan dan tegas.

Dia mengabaikan batasan jarak aman dua meter yang biasa mereka jaga dengan ketat selama dua hari terakhir. Adrian berhenti tepat di depan Alea, membuat wanita itu harus sedikit mendongak untuk bisa menatap matanya.

"Kita hampir saja membuat kesalahan taktis yang sangat besar hari ini di restoran dan di acara gala tadi, Alea," ujar Adrian dengan suara rendah yang dalam, menggema halus di ruangan dapur yang sunyi.

"Kita terlalu fokus berakting dan memasang topeng mesra di depan kamera orang lain, sampai kita lupa pada satu kemungkinan yang paling mengerikan."

Alea mengernyitkan alisnya yang rapi, menatap Adrian dengan pandangan menyelidik.

"Maksudmu apa? Jangan berbelit-belit, Adrian."

"Surat ancaman pertama datang dari bawah pintu utama apartemen ini, Alea. Artinya, area dalam penthouse ini tidak seaman dan sesteril yang kita pikirkan dalam teori hukum kita," kata Adrian, matanya bergerak tajam menyapu sudut-sudut plafon ruangan.

"Thomas memiliki jaringan yang luas. Dia atau siapa pun kaki tangannya bisa saja menyuap staf kebersihan atau teknisi gedung ini untuk menanam kamera pengintai tersembunyi berukuran mikro atau alat penyadap suara di dalam ruangan tengah ini saat kita sedang tidak ada di rumah."

Mendengar penuturan Adrian yang sangat masuk akal itu, bulu kuduk Alea mendadak meremang seketika.

Perasaan ngeri merayap cepat di sepanjang tulang belakangnya.

Dia secara refleks melemparkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu luas yang sunyi dan gelap itu dengan pandangan horor, merasa seolah-olah ada mata-mata tak terlihat yang sedang menonton mereka dari balik bayang-bayang.

"Kamu... kamu pasti sedang bercanda untuk menakutiku, kan, Adrian?" bisik Alea, suaranya sedikit bergetar, kehilangan sebagian besar ketenangannya.

"Aku tidak pernah sekalipun bercanda mengenai masalah keamanan nyawa dan reputasi, Alea Corisand," jawab Adrian dengan nada suara yang sangat tegas dan dingin.

Pria itu melangkah maju satu depa lagi, memangkas habis jarak di antara tubuh mereka hingga posisi mereka kini sangat dekat.

Alea bahkan bisa merasakan kehangatan suhu tubuh Adrian yang menjalar menembus gaun satin hijaunya, serta menghirup aroma maskulin parfum kayu cendana pria itu yang mulai memudar namun tetap terasa dominan dan memabukkan.

Sebelum Alea sempat memprotes kedekatan yang berbahaya ini, tangan kanan Adrian bergerak naik secara perlahan namun pasti.

Jemarinya yang kokoh menjangkau bagian belakang kepala Alea.

Dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati, Adrian melepas jepit rambut mutiara yang mengikat sanggul modern Alea.

Syuut...

Dalam sekejap, rambut hitam legam Alea yang panjang dan bergelombang jatuh terurai dengan bebas, membungkus sebagian bahu indahnya yang terbuka dan leher jenjangnya yang mulus.

Sentuhan jemari Adrian yang tidak sengaja menyapu kulit lehernya membuat Alea tertegun, tubuhnya membeku seketika seolah-olah seluruh pasokan oksigen di dalam paru-parunya mendadak lenyap.

Jantungnya berdegup sangat kencang, bertalu-talu dengan ritme yang kacau di dalam rongga dadanya.

"Adrian... apa yang kamu lakukan? Tindakanmu ini sudah melanggar klausul kontrak privasi kita!" desis Alea dengan napas yang tertahan, mencoba menjauhkan wajahnya namun sepasang mata elang Adrian mengunci pergerakannya dengan mutlak.

"Anggap saja ada lensa kamera tersembunyi yang sedang mengawasi gerak-gerik kita dari sudut plafon itu sekarang, Alea," bisik Adrian tepat di depan wajah Alea.

Suara bisikannya terdengar begitu seksi, berat, dan intim di tengah keheningan malam.

Jarak bibir mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter saja, hingga Alea bisa merasakan embusan napas Adrian yang hangat menyapu permukaan kulit wajahnya.

"Jika si pengirim teror itu melihat melalui kamera bahwa kita langsung menjaga jarak, bersikap dingin, dan tidur di kamar terpisah begitu kita masuk ke dalam rumah, maka seluruh sandiwara mahal yang kita tunjukkan di atas karpet merah tadi akan menjadi sia-sia dan tidak berguna," lanjut Adrian, tatapan matanya turun sesaat memperhatikan bibir ranum Alea yang polos tanpa sapuan lipstik, sebelum kembali menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu dengan intensitas yang membuat lutut Alea terasa lemas.

"Mulai malam ini, kita harus membuat bajingan itu percaya dengan mutlak bahwa kita adalah pasangan yang benar-benar saling jatuh cinta setengah mati... bahkan saat kita mengira kita sedang berada berdua saja di dalam rumah yang tertutup ini. Kita harus menghancurkan keyakinannya."

Alea menahan napasnya dalam-dalam, tangannya yang memegang gelas kristal bergetar halus.

Posisi tubuh mereka saat ini begitu intim dan dekat, sebuah posisi yang belum pernah dia lakukan bahkan dengan Julian sekalipun di tempat terbuka.

Ada bagian besar dari akal sehat dan ego tingginya yang berteriak kencang menyuruhnya untuk mendorong dada bidang Adrian menjauh dan menampar wajah pria itu karena kelancangannya.

Namun, ada bagian lain di dalam dirinya, bagian yang didorong oleh rasa takut yang logis akan ancaman Thomas, dan... sebuah getaran asing yang sangat aneh serta mendebarkan yang memaksanya untuk tetap diam terpaku, menikmati kehangatan yang ditawarkan oleh tubuh Adrian.

Adrian tidak melangkah lebih jauh.

Dia tahu kapan harus berhenti sebelum merusak segalanya.

Pria itu perlahan-lahan menurunkan tangannya dari rambut Alea, lalu beralih menyentuh sisi pipi halus wanita itu menggunakan ibu jarinya selama beberapa detik.

Gerakan tangan Adrian terasa begitu lembut, hangat, dan penuh perasaan, sebuah sentuhan yang terasa terlalu nyata dan tulus untuk ukuran sebuah akting kontrak bisnis.

"Selamat malam, Alea. Masuklah ke kamarmu dan tidurlah yang nyenyak," bisik Adrian dengan nada rendah yang menenangkan, sebelum akhirnya dia menarik tubuhnya mundur, berbalik, dan melangkah pergi dengan santai menuju koridor timurnya.

Pria itu meninggalkan Alea yang masih berdiri mematung sendirian di dapur dengan napas yang terengah-engah dan detak jantung yang masih mengamuk hebat di dalam dada.

Malam itu, di bawah bayang-bayang ancaman Thomas yang kian nyata dan mengerikan, garis batas tegas yang mereka gambar dengan angkuh di atas marmer hitam The Obsidian tidak hanya sekadar mengalami keretakan garis itu baru saja resmi dilewati oleh sebuah kebutuhan mendesak untuk bertahan hidup.

Atau mungkin, tanpa mereka sadari, garis itu mulai dikikis oleh sesuatu yang jauh lebih kuat, lebih liar, dan lebih berbahaya yang mulai tumbuh subur di antara mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!