Satu... dua... tiga..."
Gua merem, terus ngebuka mata lagi. Angka yang ada di layar hologram tablet lipat di depan gua masih sama. Gak berubah, gak berkurang nolnya, dan tetep bikin mual.
[Harga Eceran Resmi: 120.000.000 KRW (Termasuk Pajak)]
"Seratus dua puluh juta won..." Gua ngegandeng dagu pakai kedua tangan, natap angka itu kayak lagi natap musuh bebuyutan di kehidupan lalu. "Ini mah bukan sekadar mahal, tapi udah gak ngotak buat kantong orang kayak gua."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. dua dominasi
*ANGGGGGG!*
Pedang besi standar gua berbenturan langsung sama *Greatsword* raksasa milik Blood_Emperor di udara. Benturan itu menghasilkan gelombang kejut virtual yang begitu dahsyat sampai-sampai awan di sekitar Altar Langit Tertinggi terhempas menjauh, menyisakan langit malam yang bersih dan dipenuhi bintang.
Lantai batu di bawah kaki gua langsung amblas sedalam sepuluh sentimeter. Stat *Strength* Level 70 milik Blood_Emperor bener-bener gak main-main. Kalau gua masih pake *gear* VR rongsokan yang kemarin, gelombang umpan balik dari benturan ini pasti udah bikin saraf gua korslet dan bikin karakter gua kaku di tempat.
Tapi sekarang, di dalam kokpit *Sovereign Edition*, gua bahkan gak berkedip. Stabilisator saraf mesin ini meredam seluruh getaran ekstrem, ngebiatin otak gua tetep dingin dan fokus 100%.
"Hah?! Lu bisa nahan *[Tyrant Strike]* gua cuma pake satu tangan?!" Blood_Emperor melotot, otot-otot lengannya yang kekar tampak menegang hebat saat dia mencoba menekan pedang raksasanya ke bawah.
"Gua gak cuma nahan," ucap gua tenang, sambil natap lurus ke dalam matanya yang memancarkan aura merah. "Tapi gua juga bakal balikin."
*Sret!*
Gua miringin sudut bilah pedang gua sebesar lima belas derajat ke arah luar. Sebuah gerakan mikro yang sangat halus. Menggunakan teknik **[Flowing Water - Air Mengalir]**, gua gak ngelawan kekuatan raksasanya secara frontal, melainkan mengalirkan seluruh daya dorong *Greatsword*-nya melosor jatuh ke lantai batu di samping badan gua.
*CRASH!*
Pedang raksasa Blood_Emperor menghantam lantai altar hingga hancur berkeping-keping. Akibat kehilangan momentum dan berat senjatanya sendiri, tubuhnya limbung dan tertarik maju ke depan—menyisakan area punggung dan lehernya terbuka lebar tanpa pertahanan.
Gua gak menyia-nyiakan celah itu. Dengan putaran tubuh yang secepat kilat, gua mengayunkan pedang gua, mengincar sambungan zirah berat di pundaknya.
*JLEB!*
**[Weakpoint Destruction!]**
**[Critical Hit!]**
"Ugh!" Blood_Emperor mengerang. Angka *damage* merah besar meletup di atas kepalanya. Namun, sebagai pemain peringkat satu, mental bertarungnya bener-bener kelas dunia.
Alih-alih panik atau mencoba mundur, dia justru memanfaatkan momentum jatuhnya untuk melepaskan tendangan melingkar yang dilapisi aura api maut tepat ke arah rusuk gua.
*WUSH!*
Gua melompat mundur secara instan, menghindari ujung sepatunya yang membakar udara. Kami berdua kembali berjarak lima meter, saling menatap dengan napas yang mulai menderu. Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, kami berdua udah saling bertukar serangan mematikan yang bisa bikin pemain biasa jantungan.
Di kolom siaran langsung, 2,5 juta penonton bener-bener dibikin gila. Kolom *chat* bergerak layaknya badai saking cepatnya spam dari netizen.
> **[Room Chat Live]**
> * **GamerProfesional:** GILA KEDUA ORANG INI!!! Level makro mereka udah di luar nalar manusia! Blood_Emperor nembus *frame rate* normal, tapi si SwordGod bisa ngebaca jalurnya kayak lagi liat video *slow-motion*!
> * **KsatriaBintang:** Lihat persentase sinkronisasi SwordGod di pojok layar! 100% Sempurna stabil parah! Mesin baru dari s-Teknologi bener-bener ngelepasin belenggu si tuhan pedang!
> * **SultanSawer:** GUA TARUHAN 20 JUTA WON BIAR SWORDGOD MENANG!!! AYOH BANTAI BOS TERAKHIRNYA, BANG!!!
>
"Luar biasa..." Blood_Emperor pelan-pelan menegakkan tubuhnya kembali, mengusap noda darah virtual di bibirnya. Senyumannya kini berubah menjadi ekspresi penuh rasa hormat sekaligus gairah bertarung yang mengerikan.
"Gua gak pernah ketemu lawan yang bisa ngelakuin *Parry* pengalihan arus sesempurna itu. S-Teknologi bener-bener gak salah ngasih lu mesin prototipe itu, Kang Jin-woo."
Dia mengangkat kembali *Greatsword*-nya, tapi kali ini, aura merah di sekeliling tubuhnya mendadak berubah warna menjadi hitam pekat bagai darah yang membeku. Udara di sekitar altar mendadak kerasa berat, dan sistem navigasi game gua mulai memunculkan peringatan bahaya warna merah yang berkedip-bertubi-tubi.
**[PERINGATAN: Musuh mengaktifkan Skill Warisan Terlarang – [Domain of the Blood God]!]**
**[Efek Domain: Mengurangi stat Agility musuh sebesar 40% dan mengonversi semua damage menjadi lintah darah (Lifesteal) 100%!]**
"Ini adalah wujud tertinggi dari kelas *Blood Knight* gua," ucap Blood_Emperor, suaranya kini bergetar dengan gema kematian yang pekat. "Di dalam domain ini, kecepatan lu bakal berkurang drastis, Jin-woo. Dan setiap tebasan yang gua terima atau gua berikan... bakal terus memulihkan *HP* gua tanpa batas. Lu gak bakal bisa ngebantai gua pakai kombo *weakpoint* lu lagi!"
Gua ngerasain kaki virtual gua mendadak kerasa berat, seolah-olah lantai Altar Langit berubah menjadi rawa darah yang kental. Stat *Agility* akun Level 2 gua yang emang udah kecil, sekarang makin diperkosa sama efek domain terlarang ini.
Namun, gua malah nurunin ujung pedang besi gua ke lantai, menatap sang kaisar darah dengan mata emas gua yang berkilat semakin terang.
"Mengurangi kecepatan gua, ya?" Gua terkekeh pelan, sekelumit memori dari kehidupan masa lalu gua sebagai pendekar kelana kembali terlintas. "Blood_Emperor... lu tahu gak kenapa gua dapet gelar *Sword God* di kehidupan lalu?"
Blood_Emperor ngerutin dahi, gak paham sama omongan gua.
Gua menarik napas pendek, membiarkan detak jantung asli gua di dalam kokpit menyatu dalam ritme yang sangat tenang.
"Gua dapet gelar itu bukan karena gua bisa bergerak lebih cepat dari orang lain," ucap gua dingin, sambil menggenggam hulu pedang gua dengan kedua tangan. "Tapi karena gua bisa menebas... bahkan sebelum target gua sempat berniat untuk bergerak."
Gua memasang kuda-kuda paling dasar dari Aliran Pedang Kelana. Kuda-kuda mati yang gak menyisakan ruang buat mundur.
"Datanglah," bisik gua. "Gua bakal tunjukin ke lu... kalau domain dewa lu ini, cuma bakal jadi tempat pemakaman buat gelar nomor satu lu."