NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:954
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Gema di Lembah Janji

Setelah melewati persimpangan yang kini kembali menjadi satu jalan lurus, Cepot dan Dawala melanjutkan langkah menuju lembah yang dikelilingi tebing batu tinggi. Konon, tempat ini disebut Lembah Janji — setiap kata yang diucapkan di sini akan bergema berulang kali, dan akan kembali kepada si pengucap sesuai dengan kebenarannya.

Saat mereka melangkah masuk, suasana terasa sunyi namun penuh gema. Setiap langkah kaki terdengar berkali-kali, seolah ada ribuan orang yang berjalan bersama mereka. Namun, ada yang aneh: gema-gema itu terdengar saling bertabrakan, sebagian lembut dan nyata, sebagian lagi tajam dan menyimpang.

“Kang, gemanya tidak beraturan,” bisik Dawala. “Seolah ada kata-kata yang tidak sesuai dengan kenyataan, sehingga suaranya menjadi rusak.”

Belum sempat Cepot menjawab, dari balik tebing muncul sosok lelaki berwajah ramah namun matanya menyembunyikan kegelisahan. Ia adalah Ki Ucap, yang dulu dikenal sebagai penjaga kebenaran di lembah ini.

“Maafkan kekacauan ini,” katanya dengan suara lirih. “Dahulu, gema di sini hanya mengembalikan kata apa adanya. Namun belakangan ini banyak orang yang datang berjanji namun tidak menepati, banyak yang berkata manis namun hati berniat lain. Lama-kelamaan, gema itu menjadi bingung, dan kini ia mengembalikan kata-kata itu dengan cara yang menyakitkan.”

“Apakah ada yang sengaja mengganggu sifat lembah ini?” tanya Cepot.

“Ada seseorang bernama Ki Manis,” jawab Ki Ucap. “Ia mengajarkan bahwa kata-kata harus selalu terdengar menyenangkan, meskipun tidak benar. Ia berkata bahwa kejujuran yang kasar akan menyinggung hati, jadi lebih baik berkata indah meskipun palsu. Sejak itu, gema di sini menjadi kacau, dan siapa pun yang berbicara di sini akhirnya mendengar hal yang menyakitkan atau membingungkan.”

Tepat saat itu, muncullah Ki Manis dengan senyum yang sangat ramah. “Mengapa harus bicara keras dan menyakitkan? Dunia ini sudah cukup susah, bukankah lebih baik jika kita saling menyenangkan dengan kata-kata yang indah?” katanya lembut.

“Kata yang indah namun palsu seperti bunga plastik: cantik dilihat, tapi tidak pernah tumbuh, tidak pernah memberi kehidupan,” jawab Cepot tenang. “Kebenaran tidak harus kasar, tapi ia tidak boleh diubah menjadi kebohongan demi menyenangkan sesaat. Jika janji tidak ditepati, jika kata tidak sesuai hati, maka kepercayaan akan hancur lebih parah daripada sekadar rasa sakit mendengar kejujuran.”

Dawala menambahkan, “Gema di sini mengajarkan bahwa apa yang kita ucapkan akan kembali kepada kita. Jika kita menanam janji palsu, kita akan menuai kekecewaan; jika kita menanam kebenaran yang tulus, gema itu akan menguatkan hati kita sendiri.”

Ki Manis terdiam. Selama ini ia hanya ingin menghindari pertengkaran dan kesedihan, namun ia tidak sadar bahwa ia justru membangun jembatan di atas jurang — terlihat kokoh, tapi akan runtuh saat diinjak.

Cepot kemudian berbicara dengan suara lantang namun penuh ketulusan, di tengah lembah: “Wahai gema yang bingung! Kembalilah pada hakikatmu. Sampaikanlah apa adanya, tanpa menambah, tanpa mengurangi. Biarlah kata yang benar menjadi kekuatan, dan biarlah kata yang keliru menjadi pengingat untuk berubah.”

Seketika itu juga, gema-gema yang tadinya berantakan perlahan menyatu dan menjadi jelas. Setiap kata yang terucap kini terdengar jernih, dan membawa pesan yang sesuai dengan niat hati. Tebing-tebing itu kembali menyebarkan ketenangan, dan udara lembah menjadi segar kembali.

Ki Manis mendekat dengan wajah penuh penyesalan. “Aku mengerti sekarang. Kata-kata yang sejati, meskipun sederhana, adalah pondasi yang kuat. Kata-kata manis tanpa kebenaran hanyalah bayangan yang akan hilang saat matahari bersinar terang.”

Ia pun berjanji akan mengajarkan orang lain untuk berbicara dengan lembut namun tetap jujur, menyenangkan namun tetap setia pada kenyataan.

Sebelum melangkah pergi, Ki Ucap memberikan mereka sebuah lonceng kecil. “Suaranya tidak akan berdering jika kata yang diucapkan tidak sesuai dengan hati. Gunakanlah untuk mengingatkan diri sendiri maupun orang lain agar tetap lurus dalam perkataan.”

Membawa lonceng itu dan pelajaran berharga, Cepot dan Dawala melanjutkan perjalanan. Mereka semakin yakin: mulut yang tulus adalah cerminan hati yang lurus, dan kata yang ditepati adalah jembatan kepercayaan antar sesama.

1
sakura
...
Fwyz
jujur ag bingung sm bahasa dialogny
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!