Kevin Setiawan, 25 tahun, adalah seorang pengusaha muda kaya, yang kabur dari rumah karena menolak di jodohkan oleh orangtuanya.
Untuk menutupi identitasnya, dia tinggal di sebuah rumah kos dan bekerja sebagai pegawai minimarket.
Suatu malam dia menemukan seorang bayi tepat di depan pintu rumah kosnya, pertemuan dengan bayi perempuan itu membuat hidup Kevin berubah, dan kini dia menyandang status ayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meira Demam
Karena hari itu ramai pengunjung di minimarket, Kevin pulang agak malam, akhirnya dia tidak bisa memandikan Meira, hanya menyeka tubuhnya sekedarnya.
Di depan minimarket, sambil menggendong Meira Kevin memesan taksi online, saat itu jalanan sangat macet dan padat, Kevin harus bersabar menunggu taksinya datang.
Tiba-tiba Kevin menangkap sosok Tania yang kini berjalan mendekatinya. Wanita itu tersenyum saat melihat Kevin yang menoleh kearahnya.
"Hai Tania...kau juga lembur hari ini?" Tanya Kevin.
"Iya..."
"Kalau begitu ikutlah bersamaku naik taksi, sekalian mengantarmu pulang..." Tawar Kevin.
"Tidak usah...kita berbeda arah..." Kilah Tania.
"Kau jangan sungkan padaku...kita kan sudah kenal lumayan lama...Meira juga pasti akan senang...iya kan Mei...?" Kevin mengecup kening Meira.
Tak lama taksi yang di pesan Kevin sudah tiba.
"Ayo Tania...masuklah...!" Seru Kevin.
Akhirnya mau tidak mau Tania masuk kedalam taksi menuruti Kevin.
"Tunjukan alamatmu pada pak supir..." Kata Kevin.
"Jalan Flamboyan nomor 10 pak...!" Sahut Tania. Sang supir taksi menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di alamat yang di berikan Tania. Sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun tampak sepi.
"Ini rumahmu?" Tanya Kevin. Tania mengangguk.
"Kau tinggal dengan siapa?"
"Aku tinggal dengan ibuku..." Sahut Tania, setelah itu dia langsung beranjak turun dari mobil.
"Tunggu Tania...!" Tania menoleh.
"Berikan aku nomor ponselmu...please...!" Pinta Kevin.
Tania tersenyum, kemudian dia mengambil secarik kartu nama dari dalam tasnya, kemudian memberikannya pada Kevin.
"Ini kartu namaku, nomorku ada di situ..." Ujar Tania. Kemudian gadis itu langsung membalikkan tubuhnya dan masuk kedalam rumah itu.
Setelah bayangan Tania hilang dari pandangan mata Kevin, dia kembali menyuruh sang supir taksi untuk melanjutkan perjalanannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam saat Kevin dan Meira sampai di rumahnya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Kevin segera menyeka tubuh Meira dengan lap basah, lalu mengganti popok dan pakaiannya serta membalurkannya dengan minyak telon.
"Nah...sekarang anak Daddy sudah wangi...mau minum susu Mei...sebentar ya Daddy buatkan..."
Kevin beranjak ke dapur dan mulai membuatkan susu hangat untuk Meira. Setelah selesai membuat susu, kemudian Kevin segera menyusui Meira, sebotol susu itu sudah habis di minum Meira.
Namun tiba-tiba, Meira memuntahkan susu itu lagi, sehingga baju dan selimut Meira basah dan kotor. Dan bayi itupun mulai rewel.
"Yah...anak Daddy kenapa nih...kok dimuntahkan? Perutnya tidak enak ya..."
Kevin kembali membuka baju Meira, membersihkan tubuhnya dan mengoleskan perut Meira dengan minyak telon.
Karena Meira mulai menangis, Kevin langsung menggendongnya dengan gendongan. Lalu mulai menenangkannya.
"Mei rewel ya...maafin Daddy ya Mei...tadi Meira ikut-ikutan lembur...capek ya sayang...maaf ya Mei...besok-besok Daddy tidak mau lembur lagi ah..." Ujar Kevin. Meira semakin keras menangis.
Kevin semakin panik, apalagi kini tubuh bayi itu semakin panas. Dia belum pernah menghadapi bayi yang sakit, buru-buru Kevin meraih ponselnya dan mulai menjelajah, bagaimana menghadapi bayi yang rewel.
Kevin mulai mengompres dahi Meira, namun bayi itu tidak berhenti menangis.
"Mei...Daddy belum pernah jadi Daddy beneran...Daddy tidak tau sekarang Mei mau apa...jangan menangis lagi Mei...hati Daddy sakit mendengar Mei menangis terus..." Ucap Kevin sambil terus menimang Meira.
Hari sudah semakin malam, apalagi di komplek tempat Kevin tinggal masih terbilang sepi, jauh dari keramaian.
Akhirnya Kevin menyambar selimut Meira, lalu dia membawa Meira ke rumah pak Joko, Ketua RT yang tinggal di ujung jalan komplek itu.
Kevin menekan bell rumah itu berkali-kali, sampai seorang wanita paruh baya datang membukakan pintu.
"Maaf...ada yang bisa saya bantu...?" Tanya wanita itu yang tak lain adalah Bu Joko, Bu RT.
"Pak RT nya ada Bu? Ini anak saya demam, dia muntah banyak sekali dan sekarang rewel...saya bingung harus bagaimana Bu..." Ungkap Kevin.
"Aduh...kasihan sekali mas nya ini...ayo masuk dulu..."
Kemudian Kevin segera masuk kedalam rumah pak RT. Pak RT yang sudah tidur akhirnya keluar dari kamarnya.
"Lho mas Kevin...ada apa mas?" Tanya pak Joko.
"Ini lho Pak...bayi ya mas Kevin rewel dan demam..." Kata Bu Joko.
"Ya sudah...sekarang mas Kevin punya termometer tidak?" Tanya Pak Joko. Kevin menggelengkan kepalanya.
"Punya obat demam anak tidak?" Lagi-lagi Kevin menggelengkan kepalanya.
"Oalaa Mas... Mas....kalau punya bayi semua itu wajib Mas...ada persediaan di rumah..." Kini pak Joko yang mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Sini bayinya biar ku lihat..." Kata Bu Joko. Kevin langsung memberikan Meira pada Bu Joko.
Kemudian Bu Joko segera mengambil termometer di dalam laci lemari di ruang tamu itu, lalu segera menempelkan di lidah Meira.
"Wah, demamnya 39 derajat...saya ada obat demam Mas...saya langsung berikan ya, supaya demamnya turun malam ini, dan Mas nya besok pagi bisa langsung cek ke dokter..." Jelas Bu Joko. Kevin langsung menganggukkan kepalanya.
Bu Joko mengambil obat sirup demam dan meneteskan ke mulut Meira dengan menggunakan pipet.
"Trimakasih Bu...kalau tidak ada kalian...entah bagaimana jadinya anak saya..." Ucap Kevin.
"Iya Mas...kita kan bertetangga...kalau ada apa-apa jangan sungkan datang kemari..." Sahut Pak Joko.
"Makanya tiap bulan nanti bayinya rajin di bawa ke posyandu ya...kebetulan posyandunya tidak jauh dari sini..." Tambah Bu Joko.
"Iya Bu..."
"Mas Kevin...apa tidak sebaiknya Mas Kevin menikah lagi...supaya Meira ada yang mengurus...kalau begini kan Mas Kevin akan susah sendiri, jarang lho ada laki-laki yang merawat bayi sendirian...merawat bayi itu tidak mudah Mas..." Kata Bu Joko lagi.
"Iya Bu...nanti saya akan cari...sekarang sih belum ada yang cocok..." Ujar Kevin beralasan.
"Masa belum ada yang cocok...Mas Kevin ini ganteng lho...persis kayak masih perjaka...siapa sangka sudah jadi duda beranak satu..." Ucap Bu Joko.
'Memang aku masih perjaka...' Batin Kevin.
"Nah Mas Kevin...sepertinya bayimu sudah mulai tertidur, mari saya antar naik motor biar cepat..." Tawar Pak Joko. Demi Meira Kevin menganggukkan kepalanya.
Kemudian Pak Joko segera mengambil jaketnya, lalu mulai menyalakan motornya. Kevin naik di belakang Pak Joko sambil menggendong Meira.
"Bu Joko...trimakasih ya...!" Seru Kevin saat motor mulai bergerak.
Bu Joko mengangguk sambil melambaikan tangannya.
Tak lama merekapun sudah sampai di depan rumah Kevin.
"Pak Joko...trimakasih banyak lho..." Ujar Kevin.
"Sama-sama Mas...oya, itu KTP dan KK nya sudah disiapkan belum? Jangan lama-lama Mas...saya tunggu lho...!"
Kevin terdiam tanpa mampu menjawab pertanyaan dari Pak Joko, membayangkan di KTP statusnya yang masih single dan dia juga tidak punya Kartu Keluarga.
***********