" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.
Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keributan Dua Wardhana
Valerian..." panggil Tuan Bagian dengan nada suara yang tertata rapi, mencoba memasang topeng kehangatan seorang mertua yang manipulatif.
"Kabar kehamilanmu adalah berkah terbesar bagi keluarga ini setelah dua tahun pernikahan yang hambar. Aku tidak peduli badai apa yang terjadi di luar ruangan ini, dan aku tidak peduli drama asmara apa yang sedang kalian mainkan di belakang punggungku. Yang aku tahu, janin di dalam rahimmu harus lahir sebagai pelindung stabilitas Wardhana Group."
Pria tua itu berbalik, menatap lurus pada Aksa dan Damian secara bergantian. "Keputusanku mutlak. Tidak akan ada perceraian antara Damian dan Valerian sebelum bayi itu lahir dan tes DNA resmi dilakukan di bawah pengawasan dokter pribadiku.
Hingga waktu itu tiba, Aksa... kau dilarang keras mengalihkan satu persen pun saham investasimu dari London ke perusahaan luar, termasuk V-Property Group.
Makan malam kompromi hitam itu akhirnya bubar dengan ketegangan yang kian menggantung tinggi di langit-langit rumah. Tuan Bagian dan Damian segera meninggalkan kediaman dengan kawalan ketat untuk menghadiri rapat pleno darurat, meninggalkan Valerian dan Aksa di dalam ruang kerja yang kini terasa bagai ruang interogasi yang hampa.
Begitu deru mobil mewah Damian terdengar menjauh meninggalkan halaman depan, Valerian tidak bisa lagi menahan beban di dadanya. Tubuh cantiknya merosot, terduduk di atas sofa kulit dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.
Dave... apa yang harus kita lakukan?" bisik Valerian lirih, suaranya parau dipenuhi oleh kepasrahan yang teramat sangat mendalam. "Janin ini... jika mereka melakukan tes DNA setelah dia lahir, semuanya akan berakhir. Damian akan menggunakannya untuk menghancurkanmu, dan aku akan kehilangan hak asuh atas anakku sendiri."
Aksa melangkah cepat, memotong jarak di antara mereka. Ia berlutut di depan Valerian, mengambil kedua tangan kecil wanita itu.
"Aku tidak akan pernah membiarkan seujung kuku pun dari mereka menyentuhmu atau janin ini".
Aksa naik ke atas sofa, menarik tubuh seksi Valerian ke dalam dekapan lengan kekarnya yang hangat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu, menghirup aroma tubuh Valerian dengan napas yang memburu—sebuah pelukan intens yang seolah sedang menandai kembali wilayah kekuasaannya yang tak boleh diganggu gugat oleh siapa pun, termasuk Damian.
Bagaimana dengan makam ibumu, Dave?" tanya Valerian lembut, mengingat luka baru yang baru saja terkelupas di kompleks pemakaman subuh tadi.
"Aku akan mencari tahu di mana keberadaan beliau yang sebenarnya, bahkan jika aku harus membongkar seluruh arsip rahasia di brankas pribadi ayah."Ucap Aksa seraya menyeka air mata di pipi wanita yang teramat di cintainya itu.
Keesokan harinya, taktik pengawasan Damian benar-benar mencapai tingkat yang tidak masuk akal. Dua orang pengawal bertubuh kekap dengan pakaian hitam pekat kini berdiri tepat di depan pintu kamar utama, membatasi setiap senti ruang gerak Valerian. Bahkan pelayan yang mengantarkan makanan pun harus melalui pemeriksaan ketat di bawah pengawasan asisten pribadi Damian.
Valerian berdiri di dekat jendela balkon, mengenakan jubah tidur sutra panjang berwarna hitam yang membungkus siluet tubuh seksinya dengan sempurna. Ia menatap ke arah taman belakang, di mana sayup-sayup ia bisa melihat mobil selebritis milik Aksa bergerak keluar meninggalkan gerbang utama.
Pintu kamar utama dibuka dengan paksa tanpa ketukan terlebih dahulu. Damian melangkah masuk dengan langkah lebar, wajahnya tampak kusut akibat tekanan investor di kantor pusat, namun sifat temperamentalnya langsung menyala begitu melihat Valerian berdiri di dekat balkon.
Menjauh dari jendela itu, Valerian!" bentak Damian gila, berjalan mendekat dan menyambar pergelangan tangan istrinya dengan gerakan kasar yang merendahkan kebebasannya. "Apakah kau sedang menunggu kekasih gelapmu melompat dari balkon sebelah lagi, hah?! Jangan mengira aku tidak tahu trik kotor kalian!"
Valerian tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang netra elang suaminya dengan tatapan mata yang begitu dingin, tajam, dan tak lagi mengenal kepasrahan yang kerdil. Dengan satu gerakan sentakan yang kuat dan tegas, ia mengempaskan tangan Damian dari pergelangan tangannya.
Jaga bicaramu, Damian! Jangan meluapkan ketidakmampuanmu mengendalikan perusahaan dengan bersikap sekasar ini padaku!" ucap Valerian dengan nada suara yang teratur namun menusuk tepat ke ulu hati ego maskulin suaminya.
"Kau mengawasiku seperti tawanan bisnis karena kau takut, bukan? Kau takut jika sahammu hancur, kau takut jika posisimu digantikan oleh Aksa, dan kau terlalu pengecut untuk mengakui bahwa di dalam rumah ini... kau sudah kehilangan segalanya, termasuk rasa hormatku sebagai istrimu!"
Damian tertegun, sedikit terperangah melihat perubahan sikap istrinya yang mendadak menjadi begitu berani menantang dominasinya di bawah hidungnya sendiri. Amarahnya berada di ubuk tertinggi, tangan kanannya terangkat tinggi di udara, bersiap melayangkan hantaman impulsif yang fatal ke arah wajah cantik Valerian.
Pukul aku, Damian! Lakukan jika kau ingin melihat rekaman kekerasan fisik ini berakhir di meja Tuan Bagian sebelum matahari terbenam!" tantang Valerian dengan kalimat yang terdengar begitu lugas dan humanis, sama sekali tidak mundur setapak pun di depan ancaman fisik tersebut.
"Ingat kata-kata ayah semalam... janin di dalam rahimku ini harus lahir dalam keadaan selamat demi stabilitas Wardhana Group. Jika terjadi sesuatu pada kandunganku karena sifat temperamentalmu yang gila ini, menurutmu siapa yang akan pertama kali didepak oleh ayah dari silsilah keluarga?"
Tangan Damian tertahan di udara, bergetar hebat menahan gejolak murka yang luar biasa pekat di balik topeng ketenangannya. Kata-kata Valerian tepat sasaran, menguliti kelemahannya yang paling fatal di depan posisinya sendiri. Pria penguasa hukum itu perlahan menurunkan tangannya, rahangnya mengetat rapat hingga urat-urat lehernya menegang tajam.
Damian mundur beberapa langkah, lalu berbalik dan membanting pintu kamar dengan kekuatan penuh yang menyisakan gema pemutus di dalam ruangan yang luas itu.
Valerian menarik napas panjang, memeluk perutnya sendiri dengan jemari yang bergetar pelan.
Malam kian larut ketika Aksa akhirnya kembali ke kediaman setelah menyelesaikan pertemuan rahasia bersama beberapa spekulan bursa di kawasan Sudirman. Langkah kakinya yang jangkung menyusuri lorong lantai dua yang sunyi sepi.
Di tengah gejolak emosi yang nyaris membuatnya kehilangan kendali atas logikanya, sebuah suara ketukan halus yang sangat spesifik terdengar dari arah pintu geser kaca balkon belakang kamarnya. Tiga ketukan pendek, disusul satu ketukan panjang—isyarat rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya dan Valerian.
Aksa bergerak cepat, membuka pintu kaca tersebut. Di balik temaram sinar bulan, sosok Valerian berdiri dengan jubah tidur sutra hitamnya yang tipis, wajah cantiknya tampak meremang akibat dinginnya angin malam namun matanya memancarkan kerinduan yang teramat sangat intens.
Tanpa membuang waktu, Aksa langsung menarik tubuh seksi Valerian ke dalam dekapan lengan kekarnya yang hangat dan posesif. Ia mengunci pintu kaca di belakang mereka, membenamkan wajahnya di rambut wanita itu dengan napas yang memburu. "Bagaimana kau bisa meloloskan diri dari penjaga di depan, sayang ?"
Aku mencampur obat tidur dosis rendah ke dalam kopi yang diantarkan pelayan untuk mereka beberapa jam lalu," bisik Valerian lirih di sela-sela napasnya yang mulai memburu akibat debar adrenalin yang tinggi. "Damian sedang tidak ada di rumah, dia kembali ke kantor pusat karena ada masalah darurat di lantai bursa yang kau buat, bukan?"
Aksa menyeringai licik, sebuah seringai tipis yang sarat akan kemenangan mutlak seorang mentor bisnis yang manipulatif. "Itu barulah kejutan kecil untuk mengalihkan fokusnya, ratuku."
Aksa menuntun tubuh seksi Valerian bersandar pada sofa panjang di dalam kamarnya. Di bawah temaram lampu meja yang remang, romansa terlarang dan jalinan dosa manis di antara mereka kembali berkobar dengan intensitas yang jauh lebih liar dan menuntut dari sebelumnya.
Aksa menangkup wajah cantik Valerian, ibu jarinya mengusap lembut bibir ranum wanita itu sebelum akhirnya menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman panas yang dalam, liar, dan memabukkan—sebuah ciuman yang membakar habis sisa-sisa siksaan batin yang mereka terima sepanjang hari.
Jemari hangat Aksa merayap turun ke atas lilitan kain sutra jubah tidur Valerian, dengan penuh ketelatenan seorang kekasih yang posesif, ia membuka perlahan pakaian tersebut hingga mengekspos lekuk tubuh indah Valerian di bawah siraman cahaya remang.
Tangan kekar Aksa bergerak mengusap perut rata wanita itu, meremas lembut buah dadanya dengan bimbingan protektif yang begitu pekat, membuat Valerian meloloskan lenguhan pasrah yang tertahan di dada kokoh sang adik ipar.
Ahhh, Aksa..." desis Valerian parau,