NovelToon NovelToon
Di Bawah Lampu Operasi

Di Bawah Lampu Operasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Starry Light

Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.

Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.

Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.

Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Pertama di OK 3

Jam 07:58, koridor lantai 7 sepi. Hanya ada suara roda brankar yang bergesekan dengan lantai epoxy dan desis AC central yang terlalu dingin.

Savira berhenti di depan pintu ganda stainless bertuliskan OK 3. Di atasnya ada lampu merah kecil: Sedang Beroperasi. Tapi hari ini bukan jadwal operasi. Ini jadwal 'lapor dan dievaluasi'.

Dokter muda itu menarik napas sekali. Pendek. Gengsinya tidak mengizinkan dia terlihat gugup. Tangannya yang memegang logbook tidak gemetar. Itu kemenangan kecil.

Pintu terbuka sendiri saat dia mendekat. Sensor. Hawa dingin yang lebih menusuk langsung menyambar. Bau antiseptik, dan satu aroma lain yang langsung dia kenali dari cerita senior: sandalwood. Mahal. Tenang. Berbahaya.

Di tengah scrub room, dokter Devan Adiguna Handaru berdiri. Dia belum pakai baju operasi lengkap. Hanya scrub biru gelap, masker yang menggantung di leher, rambut disisir rapi ke belakang. Di tangannya ada tablet. Matanya tidak mendongak saat Savira masuk.

"Jam 07:58." suaranya rendah, datar, tanpa intonasi." Kamu telat dua menit."

Savira mengangkat dagu. "Saya datang jam 07:58, dokter. Pintu baru terbuka sekarang."

Dokter Devan akhirnya mendongak. Tatapan itu. Dingin. Menilai. Seperti CT scan yang memindai setiap kebohongan yang ada dalam diri Savira dalam tiga detik. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Hanya evaluasi.

Savira membalas tatapan itu. Keras kepala. Kalau dia menunduk sekarang, dia kalah. Tiga detik. Cukup lama untuk membuat udara di antara mereka terasa tipis.

Dokter Devan menutup tabletnya dengan satu ketukan. "Dokter Savira Kirana Larasati. Residen Anestesi tahun kedua. Nilai SKDI 89. Rotasi BTKV pertama kali."

Dia ingat. Dia selalu ingat. Savira tidak menjawab. Hanya mengangguk sekali sudah cukup.

"Logbook."

Savira menyodorkan logbook. Dokter Devan mengambilnya, membuka, membalik dua halaman. Matanya membaca cepat. Mencari kesalahan eja. Mencari alasan untuk mencoret.

Tidak ada.

Dia menutup logbook dan meletakkan kembali di tangan Savira. Tepat. Rapi. Seperti dia menutup hidup seseorang.

"Pertanyaan pertama." katanya. "Kenapa anestesi?"

Pertanyaan itu membuat Savira seperti memutar memori otaknya.

"Anestesi berarti, aku adalah orang terakhir yang menjaga hidup mati seseorang. Tugasku mematikan kesadaran pasien, agar tidak kesakitan saat di bedah. Dan memastikan mereka bangun saat semuanya selesai. Melihatnya menjalani hidup dengan harapan yang baru." Itulah alasannya memilih anestesi.

Mematikan kesadaran pasien dan membangunkannya. Di saat jiwanya sendiri sudah mati, terkubur oleh tekanan dan ekspektasi mamanya. Tapi jawaban itu hanya ia simpan dalam hati.

Savira memegang kuat logbooknya. Seolah mencari kekuatan demi menutupi rasa gugupnya. "Karena saya tidak suka kalau tangan saya gemetar saat nyawa orang ada di ujung jarum saya, Dokter."

Hening.

Dokter Devan memiringkan kepalanya sedikit. Aroma sandalwood nya makin jelas saat dia melangkah maju, mendekat Savira.

"Kamu pikir anestesi itu tentang tangan yang tidak gemetar?" suaranya dingin menusuk.

"Bukan." jawab Savira cepat. "Tapi kalau tangan saya gemetar, pasien mati. Jadi saya pastikan itu tidak akan terjadi!"

Dokter Devan tidak tertawa, tidak tersenyum. Tidak ada ekspresi apa pun di wajah tampannya.

"Jawaban yang bagus untuk seminar. Di meja operasi saya, jawaban itu tidak cukup."

Savira mengernyit. "Lalu apa yang cukup, Dokter?"

Dokter Devan berdiri tepat satu langkah di depan Savira. Cukup dekat untuk Savira melihat bintik coklat kecil di iris matanya yang hitam. Cukup dekat untuk dia merasa dinilai sampai ke tulang.

"Pertanyaan kedua." suaranya tetap datar. "Apa kamu siap, kalau pasien mati di tanganmu? Dan besok pagi kamu harus menjelaskan ke istrinya, ke anaknya yang masih 8 tahun, sambil menatap mata mereka?"

Pertanyaan itu bukan pertanyaan. Itu pukulan yang membuat lutut residen bergetar.

Savira bisa saja menjawab 'siap mental' tapi dia benci bohong. Dia menelan ludah sekali. Hanya sekali.

"Saya siap bertanggung-jawab, Dokter." katanya pelan. "Tapi saya tidak akan membiarkan itu terjadi kalau saya bisa mencegahnya. Dan saya akan belajar sampai bisa mencegahnya."

Dokter Devan menatapnya lama. Lama sekali. Savira membalas tatapan itu, tidak berkedip. Egonya terlalu tinggi, tidak mengizinkannya untuk berkedip.

Lalu dokter Devan mengangguk sekali. Pelan. Hampir tidak terlihat jika sekali saja Savira berkedip.

"Bagus. Kamu tidak menjawab seperti yang saya harapkan."

Savira kembali mengernyit. "Maksud, Dokter?"

"Maksud saya," dia mundur selangkah, kembali ke jarak aman dan dinginnya. "Residen biasanya menjawab 'siap Dokter' sambil berkeringat. Kamu tidak. Kamu marah."

Savira tidak menyangkal. Berada di dunia medis adalah tumpukan amarah di balut rasa tidak berdaya. Jika ada seseorang yang mengusiknya, atau mencoba membuatnya getar, dia akan membabat habis. Pokonya 'senggol bacok'.

"Bagus." ulang dokter Devan. "Marah lebih berguna dari takut. Takut bikin kamu diam. Marah bikin kamu belajar." dia berbalik menuju meja persiapan.

"Ronde jam 06:00 besok. ICU post-BTKV bed 2 sampai 5. Kamu pegang semuanya. Kalau ada satu data gas darah yang salah baca, kamu jelaskan sendiri ke keluarga pasien."

Savira mengikuti langkahnya. "Siap, Dokter."

"Dan satu lagi." Dokter Devan berhenti di depan pintu menuju ruang operasi. Dia tidak menoleh.

"Di sini tidak ada istilah 'saya sudah berusaha'. Yang ada hanya 'pasien selamat' atau 'pasien tidak selamat' pilih salah satu."

Pintu terbuka dengan suara pelan. Dokter Devan masuk dulu. Tapi aroma sandalwood nya masih tertinggal, sebelum hilang ditelan hawa dingin ruang operasi.

Savira berdiri di ambang pintu. Logbook masih di tangannya. Jantungnya tidak berdebar kencang. Tapi ada sesuatu di dadanya panas.

Bukan takut. Tantangan. Dia melangkah masuk.

Di luar, Riko yang mengintip dari pintu OK 2 langsung berbisik ke Erika. "Sialan... Dia gak mati ditatap."

Erika hanya tersenyum tipis. "Belum."

Pintu OK 3 ditutup pelan. Lampu hijau 'in progress' masih menyala.

Di luar. Riko dan Erika bersandar di dinding koridor. Bau disinfektan dan kopi sachet bercampur jadi satu.

Riko melipat lengan, matanya ngintip ke celah pintu yang sudah tertutup. "Aku kira bakal ada drama. Kayak 'dokter Devan marah-marah ' atau 'Savira pucat lari ke luar'."

Erika tertawa kecil, nyodorin plastik keripik yang baru di buka. "Mau? Drama gratis udah abis buat hari ini."

Riko ambil satu, kunyah pelan. "Tapi serius, Ka. Dia diem banget pas masuk tadi. Nggak kayak anak baru yang gugup. Kayak...siap."

Erika mengangguk setuju. "Siap itu beda sama berani-beranian." katanya sambil nyender. "Aku udah liat ratusan residen. Yang berani-beranian biasanya 10 menit pertama langsung panik. Yang siap, dia diem, tapi tangannya nggak salah."

"Terus menurut kamu, Savira masuk yang mana?"

Erika mikir sebentar, ngeliat kearah pintu OK 3. "Yang siap. Dan yang paling bahaya dari yang siap itu...dia nggak butuh validasi."

Riko mengangkat alis. "Jadi kamu yakin kalau besok dia bakal dihajar lagi sama dokter Devan?"

"Pasti." Erika nyengir. "Orang kayak dokter Devan itu nggak berhenti kalau belum yakin. Tapi kalau udah yakin..." dia tidak melanjut kalimatnya. Cuma ngelirik Riko.

Riko tertawa pelan. "Kalau udah yakin, berarti Savira bakal jadi masalah buat kita semua. Karena dia nggak bakal mau jadi residen biasa lagi."

Lampu koridor berkedip sekali. Di dalam OK 3, monitor masih bin pelan. Tenang. Stabil.

"Yaudah," kata Riko sambil berdiri. "Aku jaga kopi. Besok jam 6 pagi aku yang buka pintu buat mereka."

Erika mengangguk. "Semoga kopinya gak tumpah."

*

*

*

*

*

To be continued

Tolong pasword nyaaa

Like, komen, subscribe, dan , vote 👌🏻👌🏻👌🏻👌🏻👌

1
Oktafiani Azzahra
alur nya bagus banget
Aryati Ningsih
lanjut Thor ..semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!