NovelToon NovelToon
Menjadi Pengantin Pengganti

Menjadi Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Pengantin Pengganti
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sia Masya

Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Dian merasa bosan. Tidak ada yang bisa ia lakukan di rumah itu. Padahal ia berharap Joshua masih bersamanya. Ia ingin Joshua lebih menceritakan banyak hal, apalagi ia masih terbilang baru di rumah itu.

Ia ingin mengganggu Cindy, tapi Cindy masih ikut homeschooling nya. Jadi ia tidak mungkin mengganggu.

Apa yang harus kulakukan, agar bisa menyingkirkan rasa bosan ku ini.

Dian memutuskan berjalan mengelilingi mansion besar itu. Agar ia bisa memahami setiap sudut mansion itu dan tidak tersesat.

Kebetulan ia bertemu dengan seorang pelayan yang sedang bersih-bersih. Pelayan itu terlihat masih sangat muda. Dian sedikit kasihan melihat nya. Diusianya yang terlihat masih muda, dia masih berjuang untuk mencari nasi serta lauk, untuk mengisi energinya di setiap hari. Seperti dirinya dahulu, disaat anak-anak mencoba menghibur diri mereka dengan permainan. Ia melakukan pekerjaan serabutan apapun itu, agar ia bisa mendapat uang untuk membeli susu tuk adiknya.

Dian akhirnya memutuskan untuk bertanya padanya.

"Umm, permisi."

Pelayan tersebut kaget, karena tidak menyadari kehadiran Dian di belakangnya. Ia segera menundukkan kepala saat tahu siapa yang datang.

"Ah, maaf nyonya. Saya tidak mendengar anda tadi."

"Tidak apa-apa. Saya yang mengejutkan mu. Seharusnya saya yang meminta maaf."

"Apa, tidak apa-apa nyonya. Saya yang salah."

"Sudahlah. Siapa namamu?"

"Nama saya Marina."

"Marina ya? Bisakah kamu temani saya berkeliling sebentar. Saya masih bingung dengan letak mansion ini."

"Jika demikian nyonya bisa meminta pada kepala pelayan. Biasanya dia yang mengurus segala sesuatu."

"Itu dia. Saya juga tidak tahu dimana kepala pelayan nya, dan bagaimana rupanya. Kenapa kamu nggak mau?"

"Bukan begitu nyonya, hanya saja memang apapun yang nyonya butuhkan harus diberitahukan langsung kepada Kepala pelayan."

Dian terdiam sejenak, menatap gadis muda itu dengan pandangan yang sedikit kecewa namun tetap lembut. Ia mengerti bahwa aturan di rumah yang begitu besar dan mewah ini mungkin sangat ketat, namun ia merasa canggung dan segan untuk langsung mencari orang yang bahkan belum pernah ia temui sebelumnya.

“Baiklah… jika memang kamu tidak bisa menemani,” ucapnya pelan sambil mengangguk paham. “Kalau begitu, bisakah kamu mengantarku menemui Kepala Pelayan itu? Aku sungguh tidak tahu di mana harus mencarinya, dan aku juga tidak tahu seperti apa wajahnya.”

Marina tampak ragu sejenak, melirik sekeliling seolah takut ada yang melihatnya melanggar aturan, namun melihat wajah nyonya mudanya yang tampak sungguh‑sungguh membutuhkan bantuan, ia akhirnya mengangguk pelan.

“Baiklah, Nyonya. Jika itu keinginan Nyonya, saya akan mengantar Nyonya ke ruangannya. Namun saya mohon maaf sebelumnya jika sikap saya tadi terlihat kurang sopan,” jawabnya sambil menundukkan badan hormat. “Kami memang sangat dilarang melayani permintaan apapun langsung dari Nyonya tanpa sepengetahuannya. Kami takut melakukan kesalahan.”

Dian tersenyum tipis mendengar penjelasan itu, hatinya terasa sedikit lebih tenang. “Tidak apa‑apa, Marina. Aku mengerti sepenuhnya. Aku pun baru pertama kali berada di sini, jadi aku juga belum terbiasa dengan semua aturan yang ada. Terima kasih sudah mau membantuku.”

Marina pun berjalan mendahului dengan langkah yang tertib dan hati‑hati, sementara Dian mengikutinya dari belakang sambil memperhatikan sekeliling. Lorong yang panjang itu dipenuhi lukisan‑lukisan indah dan ornamen ukiran yang megah, namun terasa begitu sunyi dan dingin baginya. Sesekali ia melirik ke jendela besar yang memperlihatkan halaman luas, namun tak ada sedikit pun rasa akrab yang muncul di hatinya.

“Kepala Pelayan kami bernama Bu Ratih, Nyonya,” ucap Marina pelan sambil terus berjalan. “Beliau sudah mengurus rumah ini sejak lama sekali, bahkan sebelum Tuan Joshua dewasa. Beliau orang yang sangat tegas dan tertib, namun sebenarnya beliau baik hati.”

Dian hanya mengangguk mendengarnya, menyimpan informasi itu di dalam hati. Ia berharap nanti ia bisa berbicara dengan tenang kepada wanita itu, agar ia tidak merasa seperti orang asing yang tersesat di rumah suaminya sendiri. Namun di dalam lubuk hatinya, ia juga samar‑samar merasa sedikit gugup—apakah orang‑orang di sini akan menerimanya dengan baik, ataukah mereka juga akan memperlakukannya dengan jarak yang sama seperti yang dirasakannya dari suaminya?

Tak lama kemudian, Marina berhenti di depan sebuah pintu kayu besar yang terletak di ujung lorong.

“Ini dia ruangannya, Nyonya. Nyonya boleh masuk duluan. Saya pamit kembali membersihkan lorong jika tidak ada hal lain lagi,” pamitnya sambil menunduk hormat, lalu segera berbalik pergi seolah enggan berlama‑lama berada di dekat pintu itu.

Dian menarik napas panjang perlahan, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar pelan. Ia mengangkat tangan, lalu mengetuk pintu itu dengan lembut.

“Permisi… apakah Bu Ratih ada di dalam?”

"Iya silakan masuk!"

Dian masuk dengan langkah pasti tanpa keraguan.

Bu Ratih yang awalnya mengira bahwa yang masuk adalah pelayan, ternyata malah istri dari tuannya.

Ia sangat terkejut dan bangun dari tempat duduknya memberi hormat.

"Ada apa nyonya kemari?" Tanyanya gugup, karena ia begitu tiba-tiba muncul di ruangan nya.

"Lanjutkan saja pekerjaan mu. Jangan sungkan. Saya kesini karena kiranya kamu tidak begitu sibuk. Saya ingin seseorang menemani saya jalan-jalan di mansion ini, sambil menjelaskan apapun. Saya ingin meminta bantuan Cindy, tapi sepertinya dia begitu sibuk pada tugasnya."

Jelas Dian panjang lebar.

"Jadi nyonya hanya ingin ditemani jalan-jalan?"

"Iya, karena saya butuh arahan. Saya belum mengenal tempat ini terlalu dalam. Yang saya tahu pun hanya kamar Saya dan suami saya, kamar Cindy, ruang makan, ruang tamu dan toilet. Itu saja. Selebihnya masih coba saya hafalkan."

"Baiklah Nyonya, jika demikian. Mari saya temani."

Dian berjalan mengikuti bu Ratih dari belakang, berusaha sejajar dengan nya.

Ia menjelaskan setiap sudut ruangan satu per satu dengan detail. Kebanyakan di situ kamar kosong. Dan ruangan yang belum diisi apapun, atau belum siap untuk digunakan.

Dian menarik napas panjang perlahan, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar pelan. Ia mengangkat tangan, lalu mengetuk pintu itu dengan lembut.

“Permisi… apakah Bu Ratih ada di dalam?”

Dari balik pintu terdengar jawaban yang tegas namun tenang: “Iya, silakan masuk!”

Dian pun mendorong daun pintu perlahan, melangkah masuk dengan sikap yang sopan dan tenang, berusaha menampakkan keyakinan meski hatinya masih sedikit canggung. Bu Ratih yang awalnya sedang merapikan catatan di meja mengira yang datang adalah salah satu pelayan yang dipanggilnya, namun saat mendongak dan melihat sosok Dian, ia seketika terperangah. Wanita paruh baya itu segera bangkit berdiri dengan tergesa-gesa, merapikan pakaiannya sejenak sebelum membungkuk hormat dengan dalam.

“Ah, Nyonya! Maafkan saya, saya sama sekali tidak menyangka Nyonya yang akan datang ke sini,” ucapnya dengan nada yang sedikit gugup, matanya menatap Dian dengan pandangan tak terduga. “Ada keperluan apa Nyonya menghampiri ruangan saya?”

“Tenang saja, Bu. Silakan duduk kembali, lanjutkan saja pekerjaan Ibu. Jangan merasa sungkan sama sekali,” ucap Dian lembut sambil melambaikan tangan pelan. “Saya ke sini bukan untuk hal yang mendesak. Saya hanya melihat sepertinya Ibu tidak terlalu sibuk saat ini, jadi saya memberanikan diri datang. Saya ingin meminta seseorang untuk menemani saya berjalan-jalan di dalam rumah ini, sambil menjelaskan fungsi setiap ruangan dan letak sesuatunya. Sebenarnya saya ingin mengajak Cindy, tapi sepertinya dia masih sangat sibuk dengan pelajaran homeschooling-nya, jadi saya tidak enak hati jika mengganggunya.”

Bu Ratih mendengarkan sambil mengangguk pelan, namun raut wajahnya tampak sedang berpikir berat.

“Jadi maksud Nyonya hanya ingin ditemani berkeliling dan mengenali letak rumah ini?” tanyanya kembali memastikan.

“Benar sekali,” jawab Dian sambil tersenyum tipis. “Saya benar-benar belum mengenal tempat ini dengan baik. Sampai saat ini, yang saya tahu persis hanyalah kamar saya dan suami, kamar Cindy, ruang makan utama, ruang tamu, serta kamar mandi yang biasa saya gunakan. Itu saja. Selebihnya saya masih merasa asing, dan takut jika tiba-tiba tersesat atau masuk ke ruangan yang salah. Saya masih harus beradaptasi banyak hal di sini.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!