Bercerita tentang seorang perempuan yang membuat janji kepada dua orang sahabatnya. Janji itu cukup tidak masuk akal dan mereka membuat penjanjian itu di umur yang masih kecil. Akankah janji itu terus berjalan hingga mereka beranjak dewasa? atau justru mereka melupakan semua dan menjadikan perjanjian itu tak berkisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fifizulfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkelahian
Sudah seminggu ini perubahan demi perubahan telah Kayla lewati. Dimulai dari ia yang mulai dekat dengan Ardan, Daniel yang dulu menolak untuk berbicara menggunakan aku-kamu, sekarang hampir terbiasa, dan satu lagi perubahan tentang Dami yang sulit ia hubungi beberapa hari ini. kecurigaan pernah terbesit pada pikirannya, namun langsung ia tolak mentah-mentah. Kayla percaya orang di sekitarnya tidak mungkin membohonginya.
Tetapi bila Dami keluar kota, hanya untuk mengurus neneknya yang sakit, tidak mungkin selama ini. satu minggu lebih Dami tidak masuk sekolah. Itu sudah cukup menambah rasa aneh pada diri Kayla. Lagi pula Dami bisa mengurus nenek dengan membawanya kerumah, tanpa harus keluar kota, dan Dami juga bisa tetap bersekolah.
Hari ini jam istirahat Kayla di dalam kelas sendirian, lantaran Ardan yang berlari keluar terlebih dahulu untuk mengangkat sebuah panggilan telepon. Seminggu ini Kayla terbiasa menghabiskan waktu luangnnya bersama Ardan, seperti jam istirahat, jam kosong di kelas bahkan di rumah. Bi Minah pun hingga hafal betul muka manis itu.
Lama Kayla hanya berdiam diri di kelas, hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar, kala dengan samar-samar telingannya mendengar kegaduhan. Tidak jauh dari kelasnya terlihat segerombolan orang melingkar meneriaki seseorang di dalamnya.
Sebegitukah serunya hingga mereka teriak-teriak? Batinya. Kayla semakin penasaran dan mendekat membelah gerombolan itu, hingga membelalak setelah tau apa yang terjadi. "DANIEL!! ARDAN!! Apa yang kalian lakukan?" teriak Kayla yang jelas tidak digubris, dua orang itu terus beradu kekuatan. Saling pukul memukul. Dengan emosi yang terlihat jelas.
"Hey! Apa gunannya kalian sorak-sorak! Cepet lerai mereka!" Sekarang gantian Kayla yang meneriaki orang-orang tidak berguna yang malah berteriak mendukung perkelahian ini. "Dasar. Bodoh!" Dengan geram Kayla turun tangan melerainya.
Bukan hal yang mudah, bahkan sangat sulit. Memisah dua orang yang sama-sama tersulut emosi. Sesekali Kayla mendapat pukulan kecil, karena mereka tidak mau berhenti. "Udah cukup. Ayla mohon berhenti."
"Ayla minggir!" tegas Daniel. Kayla menggeleng pelan.
"Ay, minggir," ucap Ardan juga, "Sepertinya temen lo ini, masih emosi! Padahal hanya masalah kecil." tambahnya.
Daniel mendengar itu tentu tidak diam, ia meneruskan mencengkeram kerah Ardan. "Apa yang lo bilang tadi, Hah!"
"Daniel udah! Kalian kenapa sih sebenernya?" Kayla tidak menyerah. Tangannya tetap mencoba melerai semuannya, bahkan matanya sudah berkaca-kaca melihat ini.
"KAYLA GUE BILANG MINGGIR!" bentak Daniel mendorong tubuh Kayla dengan tangannya sendiri. Jelas Kayla yang belum siap merima harus terpental, tanpa tahu di belakangnya terdapat bangku besi, dan tepat pada keningnya harus menerima benturan.
Di sisa kesadaran Kayla, ia mendengar suara Ardan memanggil namanya dan sempat melihat Daniel yang menatap tangan yang tadi ia gunakan saat mendorongnya. Kayla juga merasakan cairan berbau anyir merambat pada pelipisnya, setelah itu semuannya gelap.
Daniel masih tetap diam terpaku. Apa yang barusan aku lakukan? Ayla? Daniel terus menatap tangannya tanpa henti. Ia tidak sadar jika Kayla sudah tak lagi di sana. Lamunanya buyar di saat sebuah tangan kekar menarik lengannya.
"Ikut ke kantor sekarang." Suara pak Adam wali kelasnya terdengar biasa namun menakutkan.
"Tapi, Pak, Ayla!"
"Dia sudah dibawa Ardan ke Rumah Sakit. Sekarang kamu ikut saya! Kasih penjelasan semua ini!"
Di ruang BK, Daniel sekarang duduk berhadapan langsung dengan pak Adam. Sedari tadi seorang paruh baya itu terus saja mengoceh hal tidak jelas baginya. Daniel tak memperdulikannya, matanya terus fokus pada tangan ini, tangan yang berani lancang mendorong, bahkan mulutnya kembali membentak kayla, jelas-jelas baru beberapa hari lalu Daniel bilang tidak akan lagi membentak sahabatnya itu. Tapi apa ini? justru ia sudah kelewatan.
"Daniel, kamu dengar apa yang Bapak bilang?"
"Iya, Pak."
"Lalu apa yang akan kamu jelaskan dari kejadian tadi?"
"Saya gak bisa jelasin, Pak."
"Daniel! kamu mau macam-macam sama saya?"
"Tidak!"
Pak Adam mencoba meredakan emosinya, meladeni anak murid satu ini memang butuh kesabaran. "Baiklah, ini buat kamu!" ucapnya menyerahkan sebuah surat yang sudah terlipat rapi.
"Surat panggilan?" tanya Daniel bebasa-basi. Padahal ia tau, itu adalah lembaran yang bisa menjerumuskannya pada kemarahan bundanya nanti.
"Iya, dan skors 5 hari, bapak rasa itu cukup."
"Terimakasih!" balas Daniel dengan santainya, lalu mengambil surat itu dan melenggang pergi tanpa rasa takut ataupun bersalah.
...
Wajah Ardan dengan jelas terpampang kegelisahan memandangi pintu rawat di depannya, dengan Kayla yang sedang ditangani di dalam. Ditambah luka di wajahnya yang belum tersentuh antiseptik apapun, ia biarkan begitu saja. Ardan tidak peduli jika nantinya terinfeksi.
Tak lama seorang dokter keluar, dengan name tag dr. Hendra. Tak asing bukan? Yah, dokter kepercayaan Dami. Tadi memang setelah mendengar Kayla dibawa ke rumah sakit, dr.Hendra segera turun tangan menanganinya sendiri. dengan cepat Ardan menghampiri, bertanya bagaimana keadaan Kayla.
"Alhamdullilah, tidak ada luka serius yang harus dikhawatirkan, hanya luka luar yang mungkin memang banyak mengeluarkan darah ..."
" ... dan mungkin cukup lama menunggunya untuk sadar. Tapi setelah Kayla sadar nanti, bisa langsung istirahat di rumah, ingatkan untuk meminum resep obat, agar lukanya cepat mengering," jawab dr. Hendra dengan rinci. Ardan hanya mengangguk kecil atas penjelasan itu, dan bernapas lega.
"Kalau begitu saya tinggal, yah!"
"Iya, silahkan, Dok."
Mata gadis itu perlahan terbuka, mengerjab-ngerjab, menyesuaikan cahaya yang menerobos masuk pada retinanya. Menggeliat kecil, lalu memiringkan kepalanya dan langsung menemukan sosok tampan tengah duduk menyilangkan tangannya di atas dada, mengadahkan kepalanya dengan mata terpejam.
"Ardan?" panggil Kayla pelan. Yang tak di dengar.
"Ardan." Panggilan kedua masih sama, Ardan masih setia dengan tidurnya. Sepertinya dia kelelahan. Kayla meringis melihat luka di wajah tampan itu yang diyakini belum diobati. Lukanya masih terlihat alami.
Kayla turun dari brankar, mengambil kotak P3K yang tersedia di nakas. Mengambil kursi kecil mendorongnya mendekat pada Ardan.
Tangannya pelan-pelan mengobati luka kecil pada bagian ujung bibir, baru beberapa sentuhan Kayla lakukan, Ardan seperti terganggu. Ardan memang tipikal orang yang tidak bisa mendapat senggolan saat tertidur, karena ia akan terbangun sekecil apapun sentuhan itu.
Tiba-tiba Ardan terkejut melihat Kayla yang telah disampingnya. Ia menegakkan duduknya, memeriksa keadaan Kayla. "Gimana, Ay? Kamu gapapa kan?"
"Akh!" Kayla mengadu di saat tak sengaja tangan cowok itu menyenggol luka di keningnya yang terbungkus perban.
"Ah, maaf-maaf. Masih sakit?"
"Sedikit."
Ardan berhembus lega mendengarnya dan Kayla tersenyum kecil melihatnya. "Sekarang kamu diem, aku obatin dulu luka kamu!"
"Enggak, Ay. Gak usah, ini cuma luka kecil."
"Sekecil apapun luka kalau gak segera di obati akan tetep terinfeksi ..." sama seperti hati, terusnya dalam hati.
"Hm. Okelah!"
Setelah selesai mengobati Ardan, mereka berdua keluar dari kamar rawat. Rasanya Kayla mau muntah terus-terusan berada di sana.
"Ayla, bentar!" panggil Ardan menghentikan langkah Kayla.
"Ya?"
"Aku ke toilet bentar ya? Kebelet tiba-tiba. Kamu tunggu di sini, jangan kemana-mana!"
"Iya, udah sana."
"Beneran tunggu sini, jangan kemana-mana dulu."
Kayla terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. "Iya, aku tunggu di sini!" Sebelumnya Ardan mengacak gemas puncak rambut Kayla, lalu segera berlari, sungguh rasa buang air kecilnya sudah di ujung tanduk sekarang.
Kayla pun duduk pada bangku besi yang tersedia di sana, dan tak sengaja matanya mendapati seseorang yang duduk di kusi roda keluar dari kamar sebelah yang tadi ia tempati, bersama seorang suster di belakangnya. Sepertinya aku kenal? Batinya. Kayla sangat hafal dengan wajah orang itu walaupun hanya dari samping, mirip seperti ...
Jgn lupa mampir dan dukung karya ku Thor! Rahsia dibalik tirai.😁
"Rahasia dibalik tirai" 😘