NovelToon NovelToon
Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.

Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Hujan turun semakin deras seiring langkah Lukas menjauhi pagar besi kediaman keluarga Chandra. Tetesan air menghantam aspal dengan bunyi riuh, membasahi pakaiannya hingga ke kulit dalam hitungan menit, namun ia tak berhenti. Kakinya bergerak otomatis, seolah tahu harus menjauh sejauh mungkin dari tempat yang baru saja mengusirnya tanpa ampun, meski pikirannya masih kosong tak berarah. Di tangannya, tas ransel usang itu kini terasa berat—bukan karena isinya, melainkan karena itulah satu-satunya benda yang tersisa sebagai bukti bahwa ia pernah memiliki tempat untuk pulang.

Ia berjalan melewati gerbang perumahan elit itu, di mana lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya kemerahan di permukaan air hujan. Beberapa mobil mewah melintas pelan, kaca jendelanya tertutup rapat seolah tak ingin melihat dunia luar. Lukas menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang basah dan matanya yang berkaca-kaca. Ia tak ingin dikenali—meski siapa pula yang akan mengenali anak yang baru saja dinyatakan tak berharga oleh keluarga paling terpandang di kota ini?

Setelah berjalan hampir dua jam, kaki yang lelah akhirnya membawanya keluar dari kawasan perumahan itu. Di hadapannya kini terbentang jalan raya utama kota Palu, lebih ramai dan bising. Lampu kendaraan menyilaukan matanya, suara klakson bersahut-sahutan, dan orang-orang berlarian mencari tempat berteduh di bawah atap ruko atau halte bus. Lukas berdiri di pinggir trotoar, memandang ke kiri dan ke kanan tanpa tahu harus melangkah ke mana.

Ia mencoba meraba setiap saku celananya, berharap mungkin ada koin yang tertinggal—meski tahu mustahil. Keluarga Chandra tidak pernah memberinya uang saku lebih dari yang dibutuhkan untuk keperluan sekolah, dan hari ini ia bahkan tidak sempat pergi ke sekolah. Saku kosong. Saku lain pun kosong. Hanya ada selembar kertas tugas sekolah yang terlipat rapi, tulisannya sudah luntur terkena air.

Lukas menelan ludah yang terasa pahit. Tidak ada kerabat yang bisa ia tuju. Saat diadopsi sepuluh tahun lalu, petugas panti asuhan hanya mengatakan bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia dalam kecelakaan, dan tidak ada sanak saudara lain yang bersedia merawatnya. Tak ada nama alamat, tak ada nomor telepon, tak ada satu pun petunjuk tentang siapa orang-orang yang melahirkannya. Selama ini ia berharap keluarga Chandra akan menjadi rumah barunya—namun hari ini harapan itu hancur bersamaan dengan pintu yang dikunci rapat di belakangnya.

Perutnya mulai terasa perih lapar. Sejak pagi ia hanya minum segelas teh hangat, dan kini tenaganya semakin terkuras oleh hujan serta langkah panjang yang tak berujung. Ia melihat warung makan kecil di seberang jalan, aroma nasi goreng dan sate tercium hingga ke tempatnya berdiri, namun ia hanya bisa menelan ludah. Tanpa uang sepeser pun, ia tak berani mendekat, apalagi meminta makanan.

Langit semakin gelap. Hujan tak kunjung reda, malah semakin lebat hingga jarak pandang menjadi terbatas. Lukas memutuskan untuk berjalan menyusuri pinggiran sungai Palu, berharap menemukan tempat yang lebih teduh. Di sepanjang jalan itu, ia melihat orang-orang yang bergegas pulang ke rumah masing-masing—seorang ayah yang menggendong anaknya di pundak sambil berlari, sepasang suami istri yang berbagi satu payung, kakek tua yang berjalan perlahan menuju pintu rumahnya. Setiap pemandangan itu bagaikan pisau yang mengiris hatinya pelan-pelan. Semua orang punya tempat untuk berlindung dari hujan, kecuali dia.

Setelah berjalan sekitar satu jam lagi, akhirnya ia melihat tiang-tiang beton besar yang menjulang ke langit—jembatan layang yang melintasi sungai. Di bawahnya, terdapat ruang yang cukup luas dan kering, dilindungi oleh lantai jembatan di atasnya dari guyuran air. Lukas mempercepat langkahnya, melangkahi genangan air dan bebatuan kecil, hingga akhirnya ia berdiri di bawah bayang-bayang jembatan itu.

Udara di sini terasa lebih dingin, berbau tanah basah dan lumut, namun setidaknya ia tidak lagi terkena hujan. Ia melihat ada beberapa orang lain yang juga berteduh di sana—seorang pemulung yang sedang merapikan karungnya, dua orang anak jalanan yang sedang berbagi sepotong roti, dan seorang pria paruh baya yang tertidur menyandar pada tembok beton. Mereka semua menoleh sejenak saat melihat kedatangan Lukas, namun tidak ada yang menyapa atau mengusir. Hanya tatapan dingin orang-orang yang sama-sama tak memiliki tempat pulang.

Lukas memilih sudut yang agak jauh dari mereka, duduk melipat kedua kakinya di atas tumpukan kardus bekas yang sedikit kering. Ia meletakkan tas ranselnya di pangkuan, lalu memeluknya erat seolah itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki. Tubuhnya menggigil kedinginan, pakaiannya masih basah kuyup menempel di kulit, dan kakinya terasa nyeri hingga ke tulang.

Perlahan ia membuka tas ransel itu, ingin melihat apa saja yang dikemas orang tua angkatnya untuknya—atau mungkin sengaja tidak dikemas. Di dalamnya hanya ada tiga helai baju kaos lusuh, dua pasang celana panjang, buku tulis pelajaran sekolah, satu buku cerita yang sangat ia sukai, dan sebuah amplop cokelat tua yang terlipat di bagian paling bawah. Lukas mengernyitkan dahi—ia tidak ingat pernah menaruh amplop itu di sana.

Ia mengambil amplop itu dengan tangan gemetar. Kertasnya terasa kasar dan sudah agak lembap di ujungnya. Saat ia membukanya, di dalamnya hanya ada selembar kertas buram bertuliskan tangan yang samar, dan sebuah foto kecil yang warnanya sudah memudar. Foto itu menampilkan sepasang suami istri muda yang tersenyum bahagia, di tengah-tengah mereka berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun dengan mata yang bersinar cerah—itu adalah dirinya.

Lukas menahan napas. Di belakang foto itu tertulis tulisan tangan yang indah namun sedikit bergetar: “Untuk Lukas kami yang berani. Jangan pernah takut mencari kebenaran, walau jalanmu sepi.”

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, membasahi pipi yang dingin. Ia belum pernah melihat foto ini sebelumnya, belum pernah melihat tulisan ini. Mengapa benda ini ada di dalam tasnya? Apakah orang tua angkatnya sengaja memasukkannya? Atau ada orang lain yang diam-diam menaruhnya sebelum ia diusir? Pertanyaan itu membuat dadanya semakin sesak. Jika mereka benar-benar menganggapnya tidak berguna dan membawa nasib buruk, mengapa masih menyisakan jejak masa kecilnya yang hilang ini?

Ia memandang ke arah sungai yang airnya berwarna keruh dan bergerak deras, membawa ranting serta sampah yang tersapu arus. Seperti dirinya, pikirnya—terbawa ke mana saja tanpa kendali, tak tahu di mana akan berakhir. Hujan di atas sana masih terdengar bunyi riuh menghantam lantai jembatan, menciptakan irama yang menenangkan sekaligus menyedihkan.

Di kejauhan, lampu-lampu kota mulai menyala terang, memancarkan cahaya keemasan yang memantul di permukaan air sungai. Terlihat gedung-gedung bertingkat, hotel mewah, dan kantor perusahaan yang jendelanya masih menyala—tempat di mana orang-orang bekerja, berjuang, dan membangun kehidupan. Dulu ia sering berharap suatu hari nanti ia bisa masuk ke dalam gedung-gedung itu, menjadi orang yang berguna dan membanggakan. Namun kini ia hanya bisa melihatnya dari bawah sini, seolah dunia gemerlap itu terpisah jauh oleh tembok yang tak bisa ia tembus.

Beberapa saat kemudian, anak jalanan yang tadi berbagi roti mendekat ke arahnya. Salah satu dari mereka, anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahun dengan rambut diikat asal-asalan, menyodorkan sepotong roti yang masih tersisa.

“Kamu belum makan, kan?” tanyanya pelan, suaranya serak namun ramah. “Ini masih ada sedikit. Ambil saja.”

Lukas menatap roti itu, lalu menatap wajah anak itu. Ia teringat bagaimana keluarga Chandra selalu menekankan agar ia tidak bergaul dengan orang jalanan, menyebut mereka kotor dan tidak berpendidikan. Namun saat ini, di saat ia paling terpuruk, justru anak kecil inilah yang menawarkan kebaikan kepadanya.

“Terima kasih,” ucap Lukas pelan, mengambil roti itu dengan hati-hati. Ia membaginya menjadi dua bagian, lalu menyodorkan kembali separuhnya. “Kita makan berdua saja.”

Anak itu tersenyum lebar, lalu duduk di sebelahnya. Namanya Sari, ia bercerita bahwa ia sudah tinggal di bawah jembatan ini selama dua tahun sejak ibunya sakit keras dan ayahnya pergi tanpa kabar.

“Kamu tidak perlu takut,” kata Sari sambil mengunyah roti. “Banyak orang yang lewat sini dan bilang mereka akan berubah nasib. Kadang mereka kembali dengan mobil bagus, kadang tidak. Tapi yang penting, jangan pernah berhenti berjalan. Kalau kamu berhenti, berarti kamu sudah kalah.”

Kata-kata sederhana itu menembus hati Lukas. Ia menyelesaikan makanannya perlahan, merasakan sedikit tenaga yang kembali mengalir ke tubuhnya. Ia menatap langit yang mulai menipis awan gelapnya, dan pikiran tentang jalan tanpa tujuan itu perlahan berubah. Mungkin saat ini ia belum tahu ke mana harus pergi, tapi ia tahu satu hal: ia tidak boleh menyerah. Ia harus mencari tahu siapa orang tua aslinya, mengapa ia disembunyikan, dan mengapa keluarga Chandra begitu takut jika ia mengetahui kebenaran itu.

Malam semakin larut. Sari dan temannya sudah tertidur di sudut lain, sementara pemulung dan pria paruh baya itu juga sudah terlelap. Lukas tetap duduk terjaga, memeluk tas ranselnya erat-erat, dengan foto lama itu diselipkan di saku dada dekat jantungnya. Di kejauhan, lampu kendaraan sesekali melintas, memancarkan cahaya yang sebentar menerangi tempatnya berteduh.

Ia belum tahu bahwa beberapa jam lagi, sebuah mobil hitam berwarna gelap akan melaju perlahan menuju jembatan ini, dengan pengemudi yang memegang erat peta kota dan sebuah berkas foto yang menampilkan wajahnya. Ia belum tahu bahwa ia tidak ditinggalkan sepenuhnya—bahwa selama ini ada seseorang yang diam-diam mencari jejaknya, menunggu waktu yang tepat untuk mempertemukan mereka.

Saat bintang mulai muncul di celah awan, Lukas menutup matanya sejenak, membayangkan wajah kedua orang tua di foto itu. Ia berjanji pada dirinya sendiri: walau jalan ini panjang dan sepi, walau ia harus berjalan sendirian melintasi kota yang asing ini, ia akan terus melangkah. Suatu hari nanti, ia akan menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang menyelimuti hidupnya—dan ia akan kembali bukan sebagai anak yang dibuang, melainkan sebagai orang yang berhak mengetahui siapa dirinya yang sesungguhnya.

Di bawah jembatan yang dingin itu, di tengah kota yang tak pernah tidur, benih harapan mulai tumbuh perlahan di hati Lukas. Ia tidak tahu ke mana kaki ini akan membawanya besok, namun ia tahu satu hal dengan pasti: jalan tanpa tujuan ini, suatu saat akan berujung pada tempat di mana ia seharusnya berada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!