Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.
Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.
Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Pertemuan Keluarga
Laluna menatap tangan pria itu beberapa saat. Meskipun mereka sudah menikah secara kontrak, tetap saja setiap kali Nathan menunjukkan sikap seperti ini, jantungnya selalu bereaksi aneh.
"Apa kita harus bergandengan tangan seperti ini?" tanya Laluna sambil menunjuk tangan Nathan.
Nathan mengangkat alisnya. "Bukankah sudah seharusnya pasangan yang baru menikah seperti ini?"
Laluna yang mendengar itu hanya mengangguk. Walau sejujurnya ia merasa canggung akan sikap pria itu. Tetapi ia memilih menuruti perintah pria itu untuk bersikap romantis selayaknya drama yang pernah ia bintangi.
"Tetapi dengan begini apa kah tidak terlalu dibuat buat? Bukankah suami istri tidak terus bergandengan tangan?"
Nathan melangkah mendekat, lalu sedikit menundukkan kepalanya agar hanya Laluna yang bisa mendengar suaranya.
"Setidaknya untuk beberapa jam ke depan, kamu adalah istri kesayangan yang sangat sangat aku cintai. Jadi aku akan memperlakukanmu seperti itu."
Kalimat sederhana itu membuat Laluna sedikit terpaku. Ia tidak menyangka Nathan yang biasanya dingin bisa mengatakan sesuatu yang terdengar begitu meyakinkan. Namun sebelum ia sempat menjawab, pintu mansion sudah terbuka.
Seorang wanita paruh baya dengan senyum hangat berjalan keluar bersama beberapa orang lainnya. Wanita itu begitu cantik, bahkan wajahnya cukup mirip dengan Nathan, ia tahu wnaita yang sering wara wiri di berita seorang wanita paruh baya yang merupakan Nyonya Adikara, sekaligus founder dari yayasan anak anak.
"Nathan."
Nada suara wanita itu terdengar penuh kebahagiaan saat melihat kedatangan putranya. Kemudian tatapannya berpindah kepada Laluna yang berdiri di samping Nathan.
Senyumnya semakin lebar.
"Jadi ini Laluna?Menantuku?"
Laluna sedikit gugup. Ia sudah membayangkan berbagai kemungkinan tentang keluarga Nathan. Mengingat pria itu berasal dari keluarga besar, ia takut dirinya tidak akan diterima. Namun wanita itu justru segera menghampirinya dan menggenggam tangannya.
"Selamat datang di keluarga kami, sayang. "
Laluna terkejut dengan sambutan itu.
"Terima kasih, Tante," jawabnya pelan.
Wanita itu tertawa kecil. "Jangan panggil Tante. Panggil Mama. Sekarang tante adalah mamamu juga. "
Mata Laluna sedikit membesar. Ia menoleh sekilas ke arah Nathan, seolah meminta bantuan. Namun pria itu hanya tersenyum tipis melihat ekspresinya yang kebingungan.
"Aku sudah bilang, keluargaku tidak seperti rumor yang kamu dengar, mereka baik baik tidak sekejam itu," bisik Nathan.
Laluna mengingat percakapan mereka di mobil tadi dan hanya bisa menghela napas kecil. Mungkin memang tidak semua hal yang ia dengar tentang Nathan benar.
"Masuklah, makanan sudah siap. Kami sudah menunggu kalian sejak tadi," ujar wanita itu sambil menarik tangan Laluna dengan lembut.
Nathan berjalan di sisi lain Laluna. Tangannya kembali meraih tangan wanita itu, menggenggamnya seolah mereka benar-benar pasangan yang sudah lama menikah.
Laluna melirik tangan mereka yang saling bertaut.
Ketika mereka memasuki ruang utama mansion, Laluna kembali dibuat kagum. Interior rumah itu sama megahnya dengan bagian luar. Lampu kristal besar menggantung di langit-langit, lantai marmer mengilap memantulkan cahaya, dan setiap sudut ruangan menunjukkan kemewahan keluarga Adikara.
Di sana sudah ada beberapa orang yang menunggu.
"Kak Nathan akhirnya membawa istrinya pulang juga. Ini pasti Laluna artis terkenal itu?" Suara seorang pria muda membuat Laluna menoleh.
Seorang wanita yang jauh lebih tua dari Nathan segera berjalan mendekat, wajahnya tampak galak dan sikapnya penuh wibawa.
" Wanita ini yang sedang hits di berita? Aktris kasar yang menampar pelayannya?" wanita itu berjalan ke arah Laluna menatap dari atas ke bawa diri Laluna.
Yang membuat Laluna menunduk, sedikit takut. Namun, saat melihat Nathan segera berdiri di hadapannya membuat dirinya merasa terlindungi.
" Itu hanya skandal kecil, lagi pula kenyataannya dia memukul pelayannya karena telah berselingkuh dengan mantan kekasihnya," jelas Nathan.
Wanita paruh baya yang dikenal dnegan Nyonya Isa Adikara segera menarik tangan putri tertuanya itu untuk duduk.
"Sudah, jangan membuat suasana ruang makan jadi tidak nyaman. Masalah itu hanya rumor biasa. Nathan pasti akan mencari cara untuk membereskan masalah itu," ujar Ibu Isa.
"Itu masalah lama kak Valora, aku akan segera menyelesaikannya," ujar Nathan yang segera duduk di hadapannya.
Sedangkan Laluna mengikuti langkah suami kontraknya itu, ia memilih menunduk karena merasa malu akan skandal yang masih melabeli dirinya sebagai wanita kasar.
Namun, sebelum Laluna sempat duduk sepenuhnya, tangan Nathan tiba-tiba menyentuh punggung tangannya yang berada di atas meja. Gerakan kecil itu membuat Laluna menoleh.
Nathan tidak melihat ke arahnya, ia tetap menatap hidangan di depan mereka seolah tidak terjadi apa-apa. Tetapi genggaman ringan itu seakan mengatakan bahwa ia tidak sendirian menghadapi semua tatapan orang-orang di ruangan ini.
Laluna terdiam beberapa saat. Pria ini selalu melakukan hal-hal yang tidak pernah ia duga.
Di satu sisi Nathan bisa begitu menyebalkan, dingin, dan suka membuatnya kesal. Namun di sisi lain, pria itu selalu muncul ketika dirinya berada dalam posisi sulit.
"Kamu tidak perlu memikirkan apa yang mereka katakan," bisik Nathan pelan.
Laluna menatapnya bingung. "Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya? Mereka semua mengenalku sebagai wanita yang buruk."
Nathan menatapnya sebentar. "Laluna." Nada suaranya membuat gadis itu berhenti berbicara.
"Orang-orang hanya mengenal apa yang mereka lihat. Mereka tidak tahu kebenarannya."
Laluna terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah kenapa membuat dadanya terasa sedikit lebih tenang. . Namun suasana kembali berubah ketika Valora menyilangkan tangan di depan dada.
"Jadi kamu percaya begitu saja dengan penjelasannya?Dia aktris besar yang pasti penuh tipuan, lagi pula sekarang dia tengah terkena skandal. Mungkin saja dia mau memanfaatkanmu untuk membersihkan skandalnya. "
Tatapan wanita itu kembali tertuju kepada Laluna. Laluna sedikit menegang.
"Aku hanya ingin memastikan siapa wanita yang akan masuk ke keluarga ini," lanjut Valora. "Bagaimanapun juga, Nathan bukan orang biasa. Banyak wanita yang mendekatinya hanya karena status dan kekayaannya."
Nathan langsung menatap kakaknya.
"Kak Valora! " tegasnya.
"Aku hanya menanyainya, lagi pula keluarga Adikara tidak bisa menerima menantu asal asalan. ."
Laluna menunduk kecil. Ia tidak bisa menyalahkan wanita itu sepenuhnya. Jika berada di posisi mereka, mungkin ia juga akan merasa curiga kepada seseorang yang tiba-tiba muncul dan menikah dengan anggota keluarga mereka.
"Aku mengerti kenapa Kak Valora berpikir seperti itu," ujar Laluna akhirnya.
Semua orang di meja makan menatapnya.
"Aku memang tidak memiliki reputasi yang baik saat ini. Banyak orang menganggapku wanita yang buruk karena berita yang beredar." Ia menarik napas perlahan. "Tapi aku tidak datang ke sini untuk mengambil keuntungan dari Nathan atau keluarganya."
Valora sedikit mengangkat alis mendengar jawaban itu.
"Aku tidak tahu apa yang Nathan ceritakan tentang hubungan kami, tapi aku akan menghargai keluarga ini karena kalian adalah keluarga Nathan."
Ruangan itu menjadi hening. Nathan menatap Laluna dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia tidak menyangka wanita yang biasanya banyak bicara dan mudah terpancing justru bisa memberikan jawaban yang begitu tenang.
Pria paruh baya yang duduk paling ujung segera menepuk meja yang membuat semua orang segera menoleh.
"Valora, jaga bicaramu itu! Saya yang telah menjodohkan Nathan dengan Laluna. Laluna adalah putri sahabat saya, jadi kamu jangan meragukannya lagi!" tegas pria paruh baya itu, yang Laluna kenal sebagai tuan Adikara.