NovelToon NovelToon
SEMUA SALAH BUNDA

SEMUA SALAH BUNDA

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Horor / Hantu / Tamat
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Di balik senyumnya, Yovana (17) menyimpan rahasia kelam. Seseorang telah merenggut masa depannya, sementara Bunda—orang yang paling ia cintai—terlalu buta untuk menyadari penderitaannya.
​Hingga akhirnya, Yovana memilih menyerah dan mengakhiri hidupnya.
​Penyesalan terlambat meremukkan hati Bunda. Namun, kematian Yovana ternyata bukan akhir dari segalanya.
​Bunga kamboja yang mendadak membusuk menghitam.
Jejak langkah di lorong rumah saat tengah malam.
Dan aroma khas Yovana yang menyeruak di udara.
​Di kota lain, Zain mulai diteror oleh dosa masa lalu yang ia kubur rapat-rapat. Satu per satu orang di sekelilingnya menjadi korban.
​Yovana telah kembali.
Bukan untuk mencari pelukan hangat ibunya, melainkan untuk menagih hutang darah dan keadilan.
​Sementara Bunda hanya bisa meratapi takdir dalam kehancuran. Karena pada akhirnya, penyesalan tak akan pernah mampu menghentikan dendam yang menuntut bayaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

YOVANA

​Rumah itu kini tak ubahnya sebuah makam besar yang berdiri megah. Terlalu sunyi.

​Setelah kepergian Lia dan Dimas, tak ada lagi gemerisik tawa, pertengkaran-pertengkaran kecil yang menghangatkan suasana, atau langkah kaki tergesa yang biasanya memadati lorong. Yang tersisa hanyalah duka yang merayap dingin dan rasa takut yang tak kasat mata.

​Rina duduk sendirian di sofa ruang tamu. Matanya sembap, dikelilingi lingkar hitam yang membayang tegas akibat air mata yang tak kunjung suri. Dalam rentang waktu yang teramat singkat, takdir merenggut kedua buah hatinya sekaligus. Namun, di luar duka atas kematian anak-anaknya, ada racun lain yang perlahan merayapi pikirannya: perubahan sikap Zain.

​Suaminya kini menjelma menjadi sosok yang sama sekali asing. Laki-laki itu gampang tersentak oleh suara sekecil apa pun, kerap melamun menatap dinding kosong, dan selalu menolak tidur jika lampu padam. Bahkan beberapa kali, di tengah keheningan malam, Rina terbangun dan mendengar Zain bergumam sendirian dengan napas memburu.

​"Jangan ganggu mereka..."

"Aku yang salah..."

"Kembalilah..."

​Kalimat-kalimat itu terus berputar di kepala Rina seperti mantra yang menyiksa.

​Malam itu, Zain tertidur di sofa dalam pengaruh obat penenang dosis tinggi. Rina berdiri di sampingnya, menatap wajah suaminya yang tampak terusik oleh mimpi buruk. Kerutan di dahi Zain menyingkapkan sebuah beban yang sangat berat. Ada rahasia besar yang disembunyikan laki-laki itu. Dan naluri seorang istri, sekeras apa pun ia mencoba mengabaikannya, jarang sekali meleset.

​Keesokan harinya, ketika matahari memancarkan sinar temaram, Rina memutuskan untuk membersihkan ruang kerja Zain—tempat yang belakangan ini selalu dikunci rapat oleh suaminya. Di sudut terbawah lemari arsip, tersembunyi di balik tumpukan berkas tua, tangannya menyentuh sebuah kotak kayu berukir.

​Kotak itu terkunci rapat. Namun, entah karena kebetulan atau kelalaian, kuncinya tergantung begitu saja di dekat engsel lemari.

​Dengan jemari yang berguncang hebat, Rina memutar kunci tersebut. Suara klak kecil memecah kesunyian ruangan. Ketika tutup kotak terangkat, di dalamnya tidak ada dokumen berharga atau perhiasan. Hanya ada beberapa lembar foto lama dengan sudut-sudut yang menguning, lipatan surat, dan sebuah ponsel genggam model lama yang layarnya telah retak.

​Rina mengambil foto paling atas. Wajahnya perlahan memucat.

​Foto itu menampilkan seorang gadis muda berseragam sekolah. Wajahnya manis, manis yang polos, dengan mata yang memancarkan kelembutan. Rina membalik foto tersebut. Di sana, tergores nama dengan tinta hitam yang mulai memudar: Yovana.

​Kening Rina berkerut. Dengan dada yang mulai berdebar kencang, ia membuka gulungan surat di bawah foto tersebut, serta lembaran hasil cetak percakapan pesan singkat yang tersimpan rapi.

​Semakin matanya menelusuri bait demi bait tulisan itu, semakin sirna warna dari wajah Rina. Napasnya memburu, dadanya dihantam rasa sesak yang teramat sangat.

​Tidak. Ini tidak mungkin.

​Kepingan-kepingan teka-teki yang selama ini menghantui pikirannya mendadak menyatu secara paksa. Kematian Lia yang tidak wajar. Kejadian tragis yang menimpa Dimas. Rasa takut Zain yang meluap-luap. Semuanya bermuara pada satu nama: Yovana.

​Air mata Rina meluncur deras. Kali ini, bukan sekadar duka yang meremas jantungnya, melainkan rasa jijik dan amarah yang membakar. Selama bertahun-tahun, ia berbagi ranjang dan kehidupan dengan seorang pria yang menyimpan dosa yang begitu menjijikkan—seorang pria yang telah merenggut masa depan dan menghancurkan hidup seorang anak manusia.

​Rina membekap mulutnya erat-erat, menahan jeritan yang hendak meledak. Tubuhnya kehilangan daya hingga ia merosot, duduk memeluk lutut di atas lantai kayu yang dingin. Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, Rina menyadari bahwa ia tak pernah benar-benar mengenal pria yang ia sebut suami.kebohongan kedua akhirnya kembali terungkap.

​​Malam merayap turun membawa angin dingin yang menusuk tulang. Ketika Zain melangkah masuk ke dalam rumah, langkah kakinya terasa berat. Wajahnya kuyu, dipenuhi bayang-bayang keletihan mental yang kian mengikis kesadarannya.

​Namun, begitu melangkah ke ruang tamu, langkah Zain terhenti seketika.

​Rina duduk di sana, di balik meja kaca. Tatapan perempuan itu menatap perlahan. Tak ada lagi pancaran kehangatan atau kesedihan seorang ibu yang kehilangan anak. Yang tersisa di mata Rina hanyalah tatapan dingin, kosong, dan tajam menusuk.

​"Ada apa?" tanya Zain pelan, mencoba menetralkan getar di suaranya.

​Rina tak menjawab dengan kata-kata. Jarinya yang bergetar hanya mengetuk pelan foto Yovana yang kini tergeletak tepat di atas meja, bersanding dengan lembaran surat yang terbongkar.

​Zain mendadak membeku. Seluruh darah seolah tersedot keluar dari wajahnya. Ia tampak seperti seseorang yang baru saja dihantam kenyataan pahit.

​"Kamu... membuka lemari itu?" bisik Zain, suaranya tercekat di tenggorokan.

​Rina mengangkat wajahnya tinggi-tinggi. "Jadi, semua yang ada di surat ini benar?"

​Zain menunduk, tak berani menatap mata istrinya. Cengkeraman tangannya pada tas kerja mengencang hingga buku-buku jarinya memutih.

​"Jawab aku, Zain!" jerit Rina. Suaranya pecah, menggema menembus sudut-sudut rumah yang sepi. Air matanya kembali merebak. "Kamu menghancurkan hidup seorang gadis kecil? Kamu merusak masa depannya?!"

​Zain menyapu wajahnya kasar, lalu menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan. "Aku salah... Aku khilaf, Rina..."

​Rina tertawa kecil. Tawa yang sumbang, hampa, dan dipenuhi rasa sakit yang teramat dalam.

​"Salah?" Suara Rina bergetar hebat. "Kamu sebut tindakan sekeji ini hanya sebuah kesalahan? Lia dan Dimas mati, Zain! Anak-anak kita mati! Dan semua keperihan ini bermula dari perbuatanmu yang biadab itu!"

​"Cukup, Rina! Cukup!" Zain memohon, matanya dihiasi kebingungan dan rasa bersalah yang teramat sangat. Namun, ia tak punya alasan lagi untuk membela diri. Benteng kebohongan yang ia bangun dengan rapi selama bertahun-tahun kini runtuh total, menimbun dirinya sendiri.

​Rina bangkit berdiri. Tubuhnya berguncang hebat oleh dorongan amarah dan kekecewaan. "Aku hidup bertahun-tahun dengan seorang monster. Laki-laki yang kupikir pelindung, ternyata adalah penyebab hancurnya keluarga ini."

​Hening yang mematikan kembali menguasai ruangan. Hanya denting jam dinding dan napas Rina yang memburu memecah malam.

​Tiba-tiba, lampu gantung di atas ruang tamu berkedip. Sekali. Dua kali.

​Zain seketika mendongak. Ketakutan yang amat sangat kembali menguasai raut wajahnya. Matanya liar memandangi sudut-sudut ruangan yang mendadak menggelap.

​Rina menatap ketakutan suaminya dengan senyum pahit. "Masih punya muka untuk takut, Zain? Setelah apa yang kamu lakukan pada gadis itu?"

​Lampu kembali berkedip hebat. Angin dingin berembus kencang, masuk melalui celah jendela yang sebenarnya tertutup rapat. Rina memeluk lengannya sendiri saat suhu ruangan merosot drastis. di ruangan tempat mereka berdiri sekarang terdengar sebuah tangisan pilu yang penuh dengan duka dan kepahitan.

​Rina memalingkan wajah ke arah cermin besar di dinding ruang tamu.

​Di sana, dalam bayangan cermin yang temaram, seorang gadis berdiri tepat di belakang Zain. Wajahnya pucat pasi, rambutnya terurai kusam, namun matanya yang gelap menatap lurus ke arah Zain dengan kebencian yang mendalam.

​Rina terpaku. Anehnya, rasa takut tak merasuki relung hatinya. Yang merayap masuk ke dada Rina justru rasa kasihan dan kesedihan yang teramat sangat—kesedihan dari jiwa muda yang masa depannya dirampas tanpa ampun.

​Saat Rina mengedipkan mata, sosok di cermin itu sirna.

​Air mata Rina menetes pelan ke pipinya. Ia memejamkan mata dan berbisik lurus ke udara dingin yang mengelilingi mereka.

​"Maafkan aku..." bisik Rina penuh penyesalan. Ucapan itu bukan ditujukan untuk suaminya yang terkulai bersalah, melainkan untuk jiwa Yovana. "Maafkan kami..."

​​Malam semakin larut ketika Rina mengurung diri di dalam kamar. Di atas meja riasnya, di bawah cahaya lampu remang-remang, ia mengambil selembar kertas putih dan sebuah pena.

​Dukanya telah bermutasi menjadi kepasrahan yang dingin. Dengan tangan yang tenang, Rina mulai menorehkan kata demi kata. Ia menuliskan seluruh kenyataan kelam yang baru saja ia temukan: tentang kejahatan Zain, bukti-bukti yang tersembunyi, serta rasa malu dan bersalah yang kini meremukkan jiwanya.

​Di lembar akhir tulisan itu, tangannya terhenti sejenak sebelum menggoreskan kalimat terakhir:

​"Aku tidak lagi mampu bernapas di bawah bayang-bayang kenyataan ini. Aku telah kehilangan anak-anakku, dan kini aku kehilangan seluruh alasan untuk memercayai pria yang selama ini kubanggakan sebagai suami. Jika dosa yang disembunyikan rapat-rapat selama bertahun-tahun akhirnya menagih bayarannya, maka biarlah keadilan menemukan jalannya sendiri."

​Rina meletakkan pena itu perlahan. Air matanya telah mengering, meninggalkan ruang hampa di dalam dadanya.

​Ia memandangi bingkai foto Lia dan Dimas yang tersenyum ceria di atas meja. Jemarinya yang dingin mengusap kaca bingkai tersebut dengan kelembutan seorang ibu.

​"Lia... Dimas... Maafkan Mama," bisiknya pasrah. "Mama tidak bisa menjaga rumah ini lagi."

​Udara di dalam kamar mendadak berubah menjadi sangat dingin. Aroma bunga kamboja yang menusuk hidung perlahan memenuhi ruangan. Lampu kamar berkedip sekali sebelum redup memancar temaram.

​Rina perlahan mengangkat kepalanya. Di depan pintu kamar yang tertutup, sosok gadis itu kembali hadir. Yovana berdiri di sana dalam gaun putihnya yang kusam. Wajahnya pucat, berdiri tanpa bersuara, hanya memandangi Rina dengan mata yang memancarkan penderitaan tak bertepi.

​Rina tidak menjerit. Ia tidak bergeming. Perempuan itu hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam, menerima segala ganjaran atas takdir kelam yang menimpa keluarganya.

​"Kalau ini yang kamu inginkan untuk menuntaskan kesakitanmu..." suara Rina terdengar lirih, nyaris seperti bisikan angin. "... aku tidak akan menghalangimu lagi."

​Saat Rina kembali mendongakkan kepala, sudut pintu itu telah kosong. Hanya tersisa aroma kamboja yang pekat menyelimuti kamar.

​Keesokan harinya, fajar menyingsing dengan warna kelabu. Rumah besar itu kembali diguncang oleh tangisan dan raungan histeris.

​Rina ditemukan tak lagi bernyawa di atas tempat tidurnya, terbaring tenang seolah tengah tertidur pulas. Di atas meja rias di sampingnya, surat pernyataan yang ia tulis malam sebelumnya tergelar rapi, menanti untuk dibaca.

​Sirine mobil polisi meraung-raung membelah permukiman. Garis kuning dibentangkan mengelilingi rumah Zain. Penyelidikan resmi segera dibuka, dan surat yang ditinggalkan Rina menjadi petunjuk utama yang mengubah arah segalanya.

​Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun terpendam, nama Yovana terangkat ke permukaan, menyeret rahasia kelam Zain ke dalam terang penyelidikan hukum.

​Sementara itu, jauh di sebuah rumah kecil yang bersahaja di pinggir kota, Bunda terbangun dari tidurnya dengan dada yang berdebar kencang. Wanita tua itu memegangi dadanya yang terasa sesak, lalu menoleh ke arah foto Yovana yang terpajang di samping tempat tidurnya.

​"Sudah berapa banyak air mata yang harus jatuh, Nak?" bisik Bunda dengan suara gemetar, menyapu bayangan putrinya di balik bingkai.

​Tak ada jawaban. Hanya angin malam yang berembus perlahan membelai tirai jendela.

​Dan di batas dimensi yang tak terjangkau oleh jemari manusia, sosok Yovana masih berdiri di dalam keheningan yang dingin. Diam. Menunggu dengan kesabaran yang mengerikan.

​Karena perjalanannya belum usai. Masih ada satu nama terakhir yang tersisa di daftar pembalasannya.

​Zain.

1
andhig Rosdiana
terimakasih udah mampir dikarya aku jangan lupa udah rilis karya terbaru aku ya ...tumbal prewangan.😍
andhig Rosdiana
novel aku bab nya nggak banyak ya ringkas jelas padat dan selesai 🥰
andhig Rosdiana
yuk say ...udah mulai rilis LG novel genre misteri horor aku ya ... jangan lupa👍dan komentar ya say ...supaya bisa semngat update nya 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!