NovelToon NovelToon
The Light We Found

The Light We Found

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: Tr_w

Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.

Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.

Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

Keesokan paginya Tirta bangun lebih dulu. Matanya terasa sangat berat karena baru bisa tidur sekitar pukul tiga dini hari. Semalam Lala terus menangis sambil meluapkan seluruh perasaannya. Gadis itu baru bisa memejamkan mata setelah benar-benar mengeluarkan semua sesak di dadanya.

Untung saja hari ini mereka sama-sama libur, jadi keduanya bisa bangun lebih siang dari biasanya.

Tirta segera meraih ponselnya. Baru kali ini ia ingat bahwa semalam dirinya belum sempat menanyakan apakah Marchel sudah makan atau belum. Saking fokusnya mendengarkan cerita Lala, ia benar-benar melupakan pria itu.

Tapi... seharusnya Marchel sudah makan, bukan? Kondisinya juga sudah jauh membaik. Tidak mungkin pria itu kembali mogok makan.

Layar ponsel mulai menyala. Beberapa pesan masuk memenuhi notifikasi, salah satunya dari Arga. Kening Tirta langsung berkerut.

"Kemarin Marchel mengamuk lagi karena Kak Arga masuk ke kamarnya? Sepertinya memang ada yang salah dengan pria itu." Gumamnya pelan. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menekan tombol panggil.

Namun...

Panggilannya tidak dijawab.

"Mungkin sedang bekerja." Setahunya Arga memang hampir tidak mengenal hari libur. Pria itu selalu bekerja tanpa mengenal waktu. Anehnya, sesibuk apa pun Arga, selalu saja ada waktu jika urusannya menyangkut Marchel.

Entah karena kasihan...

Atau memang sudah terlalu terbiasa mengurus pria keras kepala itu.

"Kamu nyaman tinggal di sana?" Suara Lala yang masih serak membuat Tirta menoleh. Gadis itu bahkan belum membuka matanya.

"Iya. Tentu saja." Jawab Tirta sambil tetap memeriksa ponselnya.

"Kamu menyukai pria lumpuh yang tempramen itu?" Pertanyaan itu membuat jemari Tirta berhenti bergerak. Ia menoleh ke arah Lala. Namun tidak segera menjawab.

"Tidak usah dijawab." Lala tersenyum tipis.

"Aku sudah tahu."

Sebenarnya, ada sedikit rasa keberatan di dalam hati Lala. Tirta adalah gadis yang mandiri, lembut, dan begitu baik kepada semua orang. Rasanya ia tidak rela jika sahabatnya harus dekat dengan pria yang memiliki begitu banyak luka. Terlebih lagi, Marchel memiliki sifat yang kasar dan masih bergelut dengan depresinya.

Namun Lala memilih diam. Jika ia mengutarakan ketidaksetujuannya hanya karena kondisi fisik Marchel, Tirta pasti akan kecewa. Gadis itu tidak pernah menilai seseorang dari kekurangannya. Karena itulah Lala memutuskan untuk mendukung selama Marchel tidak menyakiti sahabatnya.

Tetapi...

Jika suatu hari pria itu sampai mempermainkan Tirta... Lala sendiri yang akan memastikan Marchel tidak mendapat kesempatan kedua.

"Pulanglah. Aku juga sudah bosan melihat wajahmu." Usir Lala sambil mengibaskan tangannya. Setelah itu ia kembali memunggungi Tirta dan melanjutkan tidurnya.

"Baiklah. Aku pulang setelah mandi." Tirta terkekeh pelan lalu berjalan menuju kamar mandi.

Ia membuka lemari pakaian milik Lala tanpa rasa canggung, mengambil handuk, lalu mencari satu set pakaian yang menurutnya masih cukup tertutup.

"Aku pinjam bajumu ya. Besok aku kembalikan."

"Hmm..." Lala hanya berdeham pelan.

Lagi pula, mereka memang sudah terbiasa saling bertukar pakaian ketika menginap. Tak ada rasa sungkan sedikit pun. Tirta menatap pakaian yang dipilihnya sambil menggeleng pelan.

"Lala benar-benar tidak punya baju yang tertutup." Kini ia mengenakan crop top sebatas perut dipadukan dengan rok celana yang menurutnya sangat minim. Sebelum berangkat, ia melilitkan kain di pinggang untuk menutupi roknya agar tidak tersingkap saat mengendarai motor.

Setelah berpamitan kepada keluarga Lala, Tirta langsung menuju sebuah warung untuk mengisi perut sebelum pulang.

...****************...

Di kediaman Arga. Tepatnya di rumah belakang. Marchel menatap Arga tajam. Pagi-pagi sekali ia memanggil pria itu hanya untuk meminta sebotol whiskey beserta segelas es.

"Dia sudah akan sampai?" Tanya Marchel singkat. Arga mengangguk. Ia menuangkan whiskey ke dalam gelas sesuai perintah. Marchel langsung menghabiskannya dalam sekali teguk.

"Isi lagi." Tanpa banyak bertanya, Arga kembali menuangkan minuman itu. Namun bukannya diminum, Marchel justru menyiramkan whiskey tersebut ke bagian depan baju hitamnya.

"Coba cium." Arga mendekat. Pria itu mengangguk pelan.

"Sudah berbau alkohol."

"Bagus." Marchel kembali mencipratkan minuman itu ke pakaiannya.

"Berantakkan kamar ini. Tapi jangan ada yang pecah." Perintah berikutnya membuat Arga mengernyit.

Dia sedang...

Merekayasa keadaan?

Kemarin memang benar Marchel mengamuk. Tetapi jelas tidak separah biasanya.

"Keluarlah sebelum gadis itu datang."

Tanpa berani bertanya lagi, Arga segera keluar. Siapa juga yang masih punya keberanian membantah pria itu? Apalagi kalau masih sayang nyawa. Begitu pintu rumah belakang tertutup, Arga sengaja berjalan perlahan ke arah rumah depan.

Belum sempat masuk...

"Kak Arga!" Teriakan Tirta membuatnya berhenti. Pria itu langsung berbalik. Sesuai dugaan. Tirta benar-benar datang. Untung saja ia sempat berpura-pura hendak menuju rumah belakang. Kalau tidak, gadis polos itu pasti akan membombardirnya dengan banyak pertanyaan.

"Tirta? Kamu baru pulang? Aku pikir kamu sudah ada di dalam." Sapanya sambil tersenyum canggung.

"Aku baru pulang dari rumah temanku. Apa benar Marchel tidak makan kemarin?" Tanya Tirta sambil mengambil beberapa kotak makanan yang masih tersusun di depan rumah. Tanpa diminta, Arga langsung membantu membawanya. Ia bahkan membukakan pintu lebar-lebar agar Tirta bisa masuk.

"Ya... begitulah." Arga mengembuskan napas pelan.

"Kamu bilang aku boleh masuk, jadi kemarin aku datang ke kamarnya. Bukannya berterima kasih, dia malah mengamuk karena aku masuk ke wilayah pribadinya tanpa izin."

Semua itu memang benar.

Ia memang lupa menghubungi Marchel lebih dulu. Akibatnya, pria itu memaki dan melemparinya dengan beberapa barang.

"Maaf ya, Kak." Suara Tirta terdengar lirih.

"Aku tidak tahu kalau dia benar-benar sebenci itu saat ada orang lain masuk ke kamarnya. Padahal pagi harinya dia masih sempat bertengkar denganku." Mereka kini sudah berada di dapur. Kotak-kotak makanan itu diletakkan di atas meja marmer.

"Tidak apa-apa." Arga tersenyum kecil.

"Mungkin aku terlalu senang melihat dia mulai berubah, sampai lupa kalau penyembuhannya memang belum benar-benar selesai." Pria itu mengusap tengkuknya.

"Sekarang temui saja dia. Aku tidak berani masuk lagi. Takut nanti malah dipukul." Arga berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Oh ya... kemarin dia juga minta whiskey. Sudah kuberikan."

"Dia minum lagi?" Mata Tirta langsung membulat. Arga hanya mengangguk pelan dengan wajah tak berdaya. Aktingnya benar-benar layak mendapat penghargaan.

"Aku temui dia dulu ya."

"Pergilah." Arga mengangguk. Begitu Tirta menghilang menuju rumah belakang, senyum tipis akhirnya muncul di wajah pria itu. Ia bahkan mengusap lengannya sendiri dengan bangga.

Sejauh ini...

Semua sandiwara yang disusun Marchel berjalan begitu mulus.

Ceklek...

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!