Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pintu ruang VIP itu terbuka perlahan, menampilkan ruangan yang lebih mirip suite hotel mewah daripada kamar rumah sakit.
Wangi bunga lili yang segar memenuhi udara, menutupi bau obat-obatan yang biasanya menyengat.
Tuan Besar Pratama sedang duduk bersandar di ranjangnya dengan wajah yang jauh lebih sehat.
Meskipun terlihat sedikit lelah, tatapan mata pria tua itu masih memancarkan aura seorang pemimpin bisnis yang tangguh.
Melihat Bima masuk bersama Kiara, senyum lebar langsung mengembang di wajahnya.
"Ah, ini dia pahlawanku."
Tuan Besar Pratama menepuk sisi ranjangnya, memberikan isyarat agar Bima mendekat.
"Kemarilah, Anak Muda."
"Aku harus melihat dengan jelas wajah orang yang menarikku kembali dari pintu kematian."
Bima berjalan mendekat dan membungkuk sedikit dengan sopan.
"Syukurlah kondisi Anda sudah jauh membaik, Tuan Besar."
"Sebut aku Kakek Darma."
"Panggilan Tuan Besar membuatku merasa seperti sedang rapat direksi," ucap pria tua itu sambil terkekeh pelan.
"Kau tahu, Bima?"
"Saat parasit itu menggerogoti ususku, aku merasa seolah ada api yang membakar isi perutku."
"Aku sudah pasrah jika hari itu adalah hari terakhirku."
Kakek Darma menatap Bima dengan pandangan yang dalam.
"Kiara sudah menceritakan semuanya kepadaku."
"Bagaimana kau melawan diagnosis dokter spesialis yang arogan itu dan menemukan makhluk keparat tersebut di dalam perutku."
"Kau bukan hanya memiliki mata yang tajam, tapi juga keberanian yang luar biasa."
Bima hanya tersenyum merendah.
"Saya hanya melakukan tugas saya, Kakek Darma."
"Jika saya membiarkan mereka membedah Anda dengan kondisi jantung yang lemah, itu sama saja dengan pembunuhan."
Kakek Darma mengangguk setuju.
"Tepat sekali."
"Dunia medis saat ini terlalu sering bergantung pada mesin dan prosedur birokrasi, hingga mereka lupa menggunakan insting dan akal sehat."
"Aku sangat menghargai dokter yang berani mengambil risiko demi pasiennya."
Tiba-tiba, ekspresi Kakek Darma berubah menjadi lebih serius.
"Bima, aku adalah seorang pengusaha."
"Aku tidak suka berutang budi, apalagi utang nyawa."
"Kartu hitam yang diberikan Kiara padamu itu hanyalah bentuk rasa terima kasih kami."
"Tapi aku ingin menawarkan sesuatu yang lebih besar."
Kakek Darma menatap lurus ke mata Bima.
"Aku berencana membangun sebuah rumah sakit penelitian khusus untuk menangani penyakit-penyakit langka."
"Proyek ini akan didanai penuh oleh Grup Pratama Nusantara."
"Aku ingin kau menjadi kepala penelitinya sekaligus direktur medis di sana jika rumah sakit itu sudah selesai dibangun."
Mendengar tawaran itu, Bima cukup terkejut.
Menjadi direktur medis di sebuah rumah sakit konglomerat adalah impian setiap dokter di seluruh dunia.
Bahkan Dokter Surya sekalipun akan rela bersujud untuk mendapatkan posisi itu.
Kiara yang berdiri di samping juga ikut terkejut, namun dia tersenyum bangga melihat kakeknya memberikan kepercayaan sebesar itu pada Bima.
"Ini adalah tawaran yang sangat luar biasa, Kakek Darma."
"Tapi saya rasa saya belum pantas menerima posisi itu."
Jawaban Bima membuat Kakek Darma mengernyitkan dahi.
"Belum pantas?"
"Kau menyelamatkanku saat semua spesialis di sini menyerah, Bima."
"Kemampuanmu jauh melampaui mereka semua."
Bima menggeleng pelan.
"Kemampuan medis saya mungkin mumpuni, tapi saya belum memiliki pengalaman dalam memimpin sebuah institusi."
"Lagipula, saya belum resmi menjadi dokter spesialis penuh."
"Jika saya menerima tawaran itu sekarang, itu hanya akan menimbulkan masalah politik di kalangan medis."
"Berikan saya waktu untuk membuktikan diri di rumah sakit ini terlebih dahulu."
Kakek Darma terdiam sejenak mendengar alasan logis Bima.
Senyum pria tua itu kemudian kembali mengembang, kali ini dengan rasa kagum yang lebih besar.
"Sikap yang rendah hati dan pemikiran yang sangat matang."
"Kau tidak silau oleh kekuasaan dan harta instan."
"Baiklah, aku akan menghargai keputusanmu."
"Rumah sakit itu butuh waktu tiga tahun untuk dibangun, anggap saja posisi itu sudah aku pesan khusus untukmu."
"Terima kasih atas pengertiannya, Kakek Darma," jawab Bima dengan lega.
Bima memang berniat menggunakan kemampuannya semaksimal mungkin, tetapi dia tidak ingin loncat terlalu cepat tanpa pondasi yang kuat.
Sistem Medis Super masih menyimpan banyak rahasia yang harus dia pelajari perlahan.
"Ngomong-ngomong soal parasit itu..."
Kakek Darma melirik ke arah tabung spesimen di meja nakas yang berisi parasit mati tersebut.
"Hendra memberitahuku bahwa parasit itu bukanlah jenis alami."
"Apakah kau punya teori dari mana asalnya, Bima?"
Bima mengalihkan pandangannya ke arah Kiara sebelum menjawab.
"Itu adalah parasit hasil rekayasa genetika, Kakek Darma."
"Parasit itu sengaja dibuat agar bisa bertahan di lingkungan asam lambung dan langsung menargetkan pembuluh darah."
"Seseorang pasti memasukkannya ke dalam makanan atau minuman Anda dalam kurun waktu satu bulan terakhir."
Ruangan itu seketika menjadi dingin.
Wajah Kakek Darma mengeras, memancarkan aura membunuh yang mengerikan.
"Jadi ini adalah percobaan pembunuhan."
"Ada tikus yang berani bermain di dalam rumahku sendiri."
Kiara memegangi lengan kakeknya dengan cemas.
"Kakek, kita harus segera menyelidiki semua pelayan dan juru masak di rumah."
"Pasti ada yang disuap oleh musuh bisnis kita."
"Jangan khawatir, Kiara."
"Aku akan mengurus tikus-tikus itu."
"Mereka pikir Darma Pratama sudah tua dan mudah disingkirkan."
"Aku akan tunjukkan pada mereka apa artinya membangunkan singa tidur."