Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.
Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.
Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?
Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8
Terapis Favorit
Sabtu berikutnya, Renard sudah menunggu dengan kain sutra hitam terikat rapi di matanya.
Di koridor, Karina menyerahkan hasil evaluasi mingguan kepada Liana sebelum membuka pintu.
"Frekuensi mual turun tiga puluh persen setelah sesi darurat," katanya. "Tapi ketergantungannya pada kontakmu naik. Elvin ingin setiap sesi tetap punya batas waktu dan pemeriksaan."
"Apakah itu berbahaya?"
"Kalau Renard mulai percaya hanya kamu yang bisa membuatnya hidup normal, iya." Karina melirik pintu. "Terapi harus menolong dia membangun kendali, bukan memindahkan kendalinya kepadamu."
"Saya mengerti."
"Kalau perasaan pribadi mulai mengganggu keputusanmu, katakan. Kontrak bisa dievaluasi tanpa hukuman."
Pipi Liana menghangat. "Saya masih bisa menjaga batas."
Karina membuka kunci. "Pastikan kamu jujur kepada dirimu sendiri."
Liana masuk tepat pukul dua belas malam. Ia mengetuk pintu dua kali, mengunci dari dalam, lalu memasang gelang darurat. Aroma cendana dari diffuser mengisi kamar, sengaja dibuat netral agar catatan gejala tak terganggu parfum lain.
"Selamat malam, Nona Terapis."
Liana menyentuh punggung tangannya sebagai jawaban.
Renard membalik telapak tangan dan menangkap dua jarinya. Tidak meremas, hanya memastikan siapa yang datang.
"Tanganmu lebih hangat."
Ia menulis, T-i-d-a-k h-u-j-a-n.
Sudut bibirnya terangkat. "Kamu sedang bercanda?"
Liana mengetuk sekali.
Renard tertawa pendek. Suara itu begitu jarang terdengar di kantor hingga Liana hampir lupa pria ini mampu melakukannya.
Mereka memulai pemeriksaan. Suhu normal, tekanan darah stabil, obat tidak ditambah sejak sesi darurat. Setelah semua dicatat, Liana duduk di sampingnya dan meletakkan telapak tangan di bahunya.
Tubuh Renard menerima sentuhan itu tanpa gemetar hebat.
Kemajuan.
Namun perubahan terbesar bukan pada gejala. Gerakannya kini jauh lebih terukur. Pada sesi pertama, ia meraih Liana seperti orang tenggelam. Malam ini, setiap kali hendak memindahkan tangan, ia bertanya.
"Boleh di pinggang?"
Satu ketukan.
"Lebih dekat?"
Satu ketukan lagi.
Ketika Liana memberi dua ketukan karena posisi bahunya mulai tidak nyaman, Renard langsung berhenti dan membantu mengatur bantal.
"Begini?"
Liana menulis `ya` di lengannya.
Ia belajar terlalu cepat.
Bahkan dalam hal sentuhan, Renard tetap seorang murid yang menolak gagal.
Liana sengaja mengurangi kontak. Ia membiarkan hanya ujung jemari mereka bersentuhan, menguji apakah Renard dapat mempertahankan napas tanpa memeluknya.
Jemari pria itu bergerak gelisah, tetapi tidak mengejar.
"Ini bagian latihan?"
Liana mengetuk sekali.
"Berapa lama?"
Ia menulis angka lima di telapak tangannya.
Lima menit terasa lebih panjang daripada satu jam. Pada menit kedua, keringat muncul di pelipis Renard. Pada menit keempat, rahangnya mengeras. Namun ia tetap duduk, hanya menyentuh ujung jari Liana.
Ketika waktu selesai, Liana menangkup tangannya sebagai penghargaan.
Renard mengembuskan napas. "Kalau hadiahnya seperti ini, aku sanggup latihan sepuluh menit."
Liana menulis, S-o-m-b-o-n-g.
"Ambisius," koreksinya.
"Kamu tersenyum," katanya tiba-tiba.
Liana membeku.
"Aku bisa merasakannya dari napasmu. Apa yang lucu?"
Ia menulis di telapak tangannya. M-u-r-i-d t-e-r-b-a-i-k.
"Aku?"
Satu ketukan.
"Berarti ada murid lain?"
Liana menahan tawa. Ia menulis, T-i-d-a-k b-o-l-e-h c-e-m-b-u-r-u.
Renard menangkap tangannya sebelum huruf terakhir selesai. "Siapa bilang aku cemburu?"
Ia mengangkat bahu.
Kamar kembali sunyi, tetapi sunyinya berubah. Bukan lagi ketegangan antara pasien dan orang asing. Ada permainan kecil di dalamnya, rasa nyaman yang seharusnya tak tumbuh di bawah kontrak.
Mereka berhenti pada pergantian jam. Liana memberikan air, lalu duduk di kursi terpisah selama lima menit. Renard tidak membuka mata atau melepas kain hitam.
"Di kantor, ada seseorang yang menyuruhku menjaga kesehatan," katanya. "Tapi dia sendiri berdiri di depan air kotor untukku."
Liana menunduk.
"Dia keras kepala."
Liana menulis di lengannya. M-u-n-g-k-i-n b-o-s-n-y-a l-e-b-i-h k-e-r-a-s.
Renard tertawa pelan. "Kamu bahkan membelanya."
Ia tidak tahu Liana sedang membela dirinya sendiri.
Setelah satu jam, aroma melati dan kamboja mulai muncul dari kulit Liana. Renard menoleh tepat ke arahnya.
"Aku ingin bertanya sesuatu."
Liana menunggu.
"Namamu."
Ia menegang.
"Aku tidak meminta alamat atau pekerjaanmu. Satu nama saja."
Liana membalik telapak tangannya dan menulis, T-i-d-a-k.
"Karena kontrak?"
Satu ketukan.
"Kalau kontrak selesai?"
Liana tidak menjawab.
Renard mengusap garis telapak tangannya. "Baik. Aku tidak akan memaksa."
Jawaban itu seharusnya melegakan. Anehnya, justru ada ruang kosong kecil di dada Liana.
Renard melepaskan tangannya dan menyandarkan punggung. "Aku tidak pernah tahu wajah orang yang menolongku. Aneh rasanya mempercayai seseorang sedalam ini tanpa tahu satu pun hal sederhana tentangnya."
Liana mengambil telapak tangannya lagi.
K-a-m-u t-a-h-u a-k-u a-k-a-n d-a-t-a-n-g.
"Setiap Sabtu," katanya.
Satu ketukan.
"Dan kamu akan berhenti kalau aku melanggar batas."
Satu ketukan lagi.
"Mungkin itu cukup untuk sekarang."
Liana menelusuri garis di telapak tangannya sebagai jawaban. Kepercayaan mereka memang dibangun dari hal-hal yang tidak memerlukan nama: pertanyaan sebelum menyentuh, tangan yang berhenti pada dua ketukan, dan pintu yang selalu bisa dibuka dari dalam.
Namun semakin aman ia merasa, semakin sulit mengingat bahwa keamanan ini memiliki tanggal berakhir.
Jam di meja bergerak melewati pukul dua. Liana memperbarui catatan gejala: mual nihil, suhu stabil, latihan jarak berhasil lima menit. Data itu tampak klinis. Tidak ada kolom untuk mencatat bahwa pasiennya baru saja berjanji menunggu ciuman yang belum boleh ia miliki.
Terapi berlanjut. Renard menyentuh sisi wajahnya dengan punggung jari, gerakan ringan yang sudah mereka sepakati. Ia mengenali bentuk alis, pipi, dan garis rahang hanya melalui sentuhan.
"Kulitmu sangat lembut."
Panas naik ke wajah Liana.
Jarinya bergerak ke ujung hidung, berhenti, lalu turun ke sudut bibir.
Keduanya diam.
Napas Renard berubah. Hidungnya menyusuri jarak dari kening Liana ke hidung, tidak benar-benar menyentuh, hanya mengikuti aroma yang memandunya dalam gelap. Ketika wajahnya semakin dekat, Liana dapat merasakan hangat napas di bibir.
"Boleh?" tanyanya.
Satu kata itu menggantung di antara mereka.
Liana memikirkan ciuman pertama yang selama hidup sebelumnya tak pernah diberikan karena cinta. Aldi pernah mencoba mengambilnya sebagai bukti kepemilikan. Liana selalu menghindar, menunggu sesuatu yang terasa benar.
Renard bukan kekasihnya.
Di kamar ini, ia bahkan tidak tahu siapa Liana.
Liana menekan dua kali tangan di pinggangnya.
Berhenti.
Ia memalingkan wajah.
Renard langsung mundur. Tak ada desakan, tak ada pertanyaan marah. Hanya napas yang sedikit lebih kasar saat ia mengembalikan jarak.
Liana menulis di telapak tangannya dengan ujung jari gemetar.
U-n-t-u-k o-r-a-n-g y-a-n-g a-k-u c-i-n-t-a-i.
Renard membaca huruf-huruf itu dalam diam.
Tiga detik berlalu.
Lalu jemarinya menyentuh bibir Liana sangat ringan, tidak mengambil apa pun, hanya mengikuti garisnya seolah menyimpan bentuk itu di dalam ingatan.
"Baik," bisiknya.
Ujung jarinya tetap di sana.
"Aku akan menunggu."