Bara Pratama hanyalah seorang pemulung yang dihina dan dibuang oleh kekasihnya demi pria kaya. Namun, nasibnya berbalik total saat darah dari luka pukulannya tanpa sengaja mengaktifkan sebuah tungku berkarat yang terhubung dengan Sistem Daur Ulang Multiverse. Melalui sistem ini, Bara bisa memproses rongsokan tidak berharga menjadi pil kultivasi, material langka, dan barang pusaka bernilai tinggi dari dimensi Sekte Harmoni. Berbekal kekuatan dan kekayaan baru yang terus mengalir dari tumpukan sampah, Bara siap menghancurkan kesombongan orang-orang yang dulu menginjaknya dan memulai hidup baru sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Dia juga bisa mencari barang antik murahan di pasar loak dan menjualnya kembali dengan harga selangit kepada para kolektor.
Ide-ide brilian untuk menghasilkan lebih banyak uang dengan cepat mulai bermunculan silih berganti di dalam kepala Bara.
[Peringatan Sistem: Slot Daur Ulang Tungku tingkat satu telah mencapai batas maksimal penggunaannya untuk hari ini.]
[Masa pendinginan selama 24 jam akan segera dimulai, silakan kembali esok hari.]
Sistem kembali memberikan peringatan rutinnya, dan cahaya biru di dalam tungku pun perlahan meredup lalu mati sepenuhnya.
Bara mengangguk pelan, dia mulai terbiasa dengan batasan satu kali pemakaian per hari ini dan memutuskan untuk tidak terlalu serakah.
"Baiklah, hari ini aku punya mainan baru yang sangat menarik untuk dicoba di luar sana," ucap Bara sambil melepaskan Kacamata Identifikasinya.
Bara segera menyimpan kacamata itu ke dalam saku jaket kulit mahalnya.
Dia sudah mandi dan berganti pakaian dengan setelan rapi yang dia beli semalam, penampilannya benar-benar mencerminkan seorang pemuda sukses sekarang.
Bara melangkah keluar dari kontrakan kumuhnya, mengunci pintu rapat-rapat, dan mulai berjalan santai menyusuri jalanan pagi kota.
Tujuan Bara hari ini adalah pasar barang antik tradisional yang terletak di dekat pelabuhan lama.
Di sana banyak pedagang kaki lima yang menggelar tikar dan menjual berbagai macam benda kuno, mulai dari keris, piring keramik, sampai perhiasan zaman dulu.
Bara berniat menggunakan kekuatan Kacamata Identifikasinya untuk berburu harta karun di tempat itu dan melipatgandakan sisa uangnya yang ada di bank.
Suasana pasar antik itu cukup ramai dan bising di pagi hari, banyak orang tua dan kolektor yang sedang tawar-menawar harga dengan para pedagang.
Bara berjalan santai melewati kerumunan orang, penampilannya yang bersih dan rapi membuat beberapa pedagang menawarinya barang dengan harga yang sangat tinggi, mengira dia adalah anak orang kaya raya yang bodoh.
Bara hanya tersenyum tipis dan memakai Kacamata Identifikasi Spiritualnya secara diam-diam.
Pandangannya langsung dipenuhi oleh deretan teks informasi putih yang melayang di atas setiap benda yang dipajang di pasar itu.
[Nama Benda: Piring Keramik Tiongkok Palsu]
[Kondisi: 100% Baru diproduksi pabrik bulan lalu]
[Nilai Estimasi: Rp 50.000]
[Nama Benda: Keris Sepuhan Kuningan]
[Kondisi: 80% Besi berkarat yang dilapisi pewarna murahan]
[Nilai Estimasi: Rp 150.000]
Bara menggelengkan kepalanya pelan saat melihat sebagian besar barang antik yang dijual di pasar ini ternyata adalah barang palsu buatan pabrik modern.
"Para pedagang licik ini benar-benar pintar membodohi orang awam dengan cerita sejarah karangan mereka," batin Bara sambil terus berjalan menyusuri lorong pasar.
Saat Bara hampir mencapai ujung pasar dan mulai merasa bosan, pandangannya tiba-tiba tertuju pada sebuah kios kecil yang terlihat sangat kumuh di pojokan.
Seorang kakek tua yang berpakaian lusuh sedang duduk bersila di atas tikar, menjual beberapa bongkahan batu kotor dan kayu ukir yang terlihat sama sekali tidak menarik.
Bara melirik ke arah barang dagangan kakek itu dengan santai, namun langkah kakinya tiba-tiba terhenti secara paksa.
Kacamata Identifikasinya menangkap sebuah informasi yang sangat mencolok dan bersinar sedikit keemasan di atas sebuah batu berbentuk kotak kotor yang tergeletak di ujung tikar.
[Nama Benda: Stempel Giok Kekaisaran Dinasti Ming Tertutup lapisan lumpur keras]
[Kondisi: 95% Giok hijau murni kualitas terbaik, sedikit lecet di bagian bawah]
[Nilai Estimasi Asli: Rp 2.500.000.000 Dua setengah miliar rupiah]
Mata Bara melebar sempurna saat membaca rentetan angka nol yang sangat panjang di akhir informasi tersebut.
Jantungnya berdebar kencang saat menyadari bahwa dia baru saja menemukan harta karun sesungguhnya yang nilainya mencapai miliaran rupiah!
Bara berusaha keras menyembunyikan keterkejutannya, dia mengatur napasnya agar terlihat setenang mungkin sebelum mendekati kios kakek tua itu.
"Permisi Kek, boleh aku melihat-lihat batu-batu ini?" sapa Bara dengan nada suara seramah mungkin.
Kakek tua itu mendongak dan menatap Bara dengan pandangan sayu, lalu mengangguk pelan mempersilakan.
"Silakan, Nak, semua batu ini aku temukan di dasar sungai dekat reruntuhan candi bulan lalu, harganya sangat murah kok," jawab kakek itu dengan suara serak.
Bara berjongkok dan pura-pura memeriksa beberapa batu kotor yang tidak berharga, sebelum akhirnya tangannya dengan perlahan menyentuh batu kotak yang menyimpan giok miliaran rupiah itu.
"Kakek, batu kotak yang jelek ini sepertinya lumayan cocok untuk dijadikan penahan pintu kamarku biar tidak mudah tertiup angin," ucap Bara dengan nada meremehkan sambil menimbang batu itu di tangannya.
"Berapa harga batu rongsokan ini, Kek?"
Bara menahan nafasnya menunggu jawaban, dia siap berdebat jika kakek itu mematok harga tinggi, meskipun dia tahu benda di tangannya ini bernilai ribuan kali lipat lebih mahal.