"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 8, Permintaan Yang Sulit Di Tolak
Jeevan menghentikan gerakan makannya. Ia mengusap ujung bibir menggunakan tisu, lalu meraih telepon tersebut. Sorot matanya berubah sedikit lebih serius.
"Aku angkat sebentar."
Kalimat yang di ucapkan Jeevan terdengar datar, bahkan nyaris tanpa intonasi.
Anna hanya membalasnya dengan anggukan pelan. Memberikan izin kepada suaminya untuk mengangkat panggilan tersebut.
Pria itu berdiri, membawa ponsel di tangan kanan, kemudian melangkah menuju balkon mungil yang menyatu dengan ruang tengah. Pintu kaca digeser perlahan hingga menyisakan celah tipis sebelum akhirnya tertutup rapat.
Dari tempat duduknya, Anna dapat melihat siluet suaminya diterpa cahaya lampu jalan. Angin malam mengibaskan anak rambut hitamnya, sementara sebelah tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
Ia berbicara pelan, mungkin karena jarak antara dirinya dengan Jeevan di pisahkan oleh beberapa langkah dan juga pintu kaca dari meja makan.
Bibir pria itu terlihat bergerak, tetapi suaranya tenggelam bersama desir angin.
Anna kembali menyuapkan nasi ke mulut, namun lidahnya mendadak kehilangan kemampuan mengecap rasa. Entah mengapa, nama yang muncul di layar ponsel suaminya tadi berputar-putar di kepalanya seperti jarum kompas yang kehilangan arah.
Arumi.
Nama perempuan itu cukup mencubit dadanya, bahkan Anna sempat melihat wanita itu. Cantik, ya...cantik menurut Anna yang kesehariannya selalu di rumah.
Matanya kembali melirik ke arah balkon.
Jeevan masih berdiri disana. Wajahnya tetap dingin, sulit diterjemahkan. Sejak pertama kali menikah, laki-laki itu memang dikenal hemat ekspresi. Meski demikian, di balik pembawaannya yang membeku, kemampuan bekerja justru berbanding terbalik.
Sebagai salah satu sosok penting di perusahaan teknologi tempatnya berkarier, Jeevan adalah poros yang menjaga banyak proyek tetap berputar. Rekan kerja sering berkata, jika pria itu mengambil cuti mendadak, beberapa divisi akan kelimpungan mencari arah.
Anna pernah mendengar itu, dari Abimanyu... sahabat sekaligus atasan suaminya.
Ia juga pernah menyaksikan sendiri bagaimana ponsel Jeevan nyaris tak pernah benar-benar beristirahat.
Namun malam ini terasa berbeda.
Sesekali lelaki itu menganggukkan kepala. Bibirnya mengucap sesuatu yang singkat, lalu terdiam mendengarkan lawan bicara. Jemarinya bahkan sempat memijat pelipisnya, seolah persoalan di seberang sana cukup menyita perhatian.
Anna menundukan wajah. "Tidak...Arumi hanya asistennya Mas Jeevan..." bisiknya.
Sendok di tangannya berputar perlahan di atas nasi yang mulai dingin.
Aneh.
Padahal ia bukan tipe istri yang gemar mencurangi pasangan.
Akan tetapi, benih prasangka seringkali tumbuh tanpa meminta izin. Ia ibarat akar liar yang menyelinap melalui retakan batu-- kecil ketika muncul, tetapi mampu merobohkan dinding apabila dibiarkan menjalar.
Beberapa menit kemudian, Jeevan mengakhiri panggilan itu. Layar ponselnya kembali gelap.
Ia mengembuskan napas panjang sebelum menggeser pintu kaca balkon dan masuk ke dalam apartemen.
Tanpa menyadari sepasang mata yang sejak tadi diam-diam mengamatinya, Jeevan kembali menarik kursi, lalu melanjutkan makan malam seolah tidak ada sesuatu yang patut di jelaskan.
Sementara itu, di dalam hati Anna, sebuah tanda tanya perlahan tumbuh, menggantung di langit pikirannya layaknya bulan yang tertutup awan-- belum hilang, tetapi juga belum memperlihatkan cahaya sebenarnya.
...🌼🌼🌼...
Malam telah jatuh sepenuhnya.
Di balik tirai yang tertutup rapat, kamar apartemen itu hanya diterangi lampu tidur yang memancarkan cahaya temaram. Keheningan menyelimuti setiap sudut ruangan, diselingi dengungan pendingin udara yang terdengar lirih seperti nyanyian malam yang enggan usai.
Anna telah lebih dulu berbaring membelakangi sisi ranjang yang masih kosong.
Kelopak matanya terpejam, tetapi pikirannya belum benar-benar beristirahat. Namun Arumi masih sesekali melintas di benaknya, bagai riak kecil yang menggangu permukaan danau yang semula tenang. Ia mencoba mengusir bayangan itu. Mungkin hanya urusan pekerjaan, batinnya berulang kali meyakinkan diri.
Tak lama kemudian, kasur bergoyang pelan.
Jeevan ikut merebahkan tubuh di sampingnya setelah memastikan seluruh pintu dan lampu apartemen telah di periksa. Seperti biasanya, lelaki itu tidak banyak bicara. Hanya mengembuskan napas panjang, lalu memandangi langit-langit beberapa saat.
Sunyi kembali mengisi ruangan.
Beberapa menit berlalu.
Tiba-tiba sebuah lengan yang hangat melingkar perlahan di pinggang ramping Anna.
Gerakannya tidak tergesa, seolah memberi kesempatan apabila perempuan itu merasa tidak nyaman.
"Anna."
Suara berat itu terdengar pelan.
"Hm..." jawab Anna pelan.
"Kamu sudah tidur?"
Anna membuka mata tanpa berbalik.
"Belum. kenapa?"
Jeevan terdiam cukup lama.
Keheningan itu terasa lebih panjang dari biasanya. Bagi orang lain, menyampaikan keinginan mungkin perkara mudah. Namun bagi lelaki yang lebih akrab dengan laporan proyek dibandingkan ungkapan perasaan, dua atau tiga kalimat sederhana sering kali terasa lebih sulit daripada memimpin rapat dengan puluhan karyawan.
"Mas..." ucapnya pelan.
Kalimat itu kembali terputus. "Malam ini, Mas boleh meminta sesuatu?"
Anna akhirnya memutar tubuh hingga menghadap suaminya.
"Apa?"
Sorot mata Jeevan terlihat sulit untuk di tebak , nyaris tanpa ekspresi. Wajahnya masih sama seperti yang dikenal rekan-rekannya di kantor-- dingin, kaku, sulit ditebak. Julukan kulkas dua belas pintu memang bukan tanpa alasan.
Jeevan menatap lamat wajah istrinya, lalu perlahan jatuh pada bibir Anna yang terlihat merona.
"Malam ini...Mas mau minta jatahku."
Hening.
Tidak ada rayuan manis atau kata-kata romantis yang dikatakan oleh pria yang Anna akui memang tampan ini.
Lagi-lagi hanya permintaan sederhana yang diucapkan apa adanya selama hampir lima tahun pernikahan.
Anna menatap wajah lelaki di hadapannya cukup lama. Dadanya menghangat oleh perasaan yang sulit dijelaskan.
Bukan karena permintaan yang barusan di ajukan oleh Jeevan, melainkan karena kenangan yang tiba-tiba menyeruak dari sudut ingatan.
Setiap kali mencoba menolak, selalu ada tatapan kecewa yang membuat lidahnya kembali kelu. Lama-kelamaan, mengalah menjadi kebiasaan. Menurut kemauan orang lain terasa jauh lebih mudah daripada menyuarakan isi hati sendiri.
Kebiasaan itu tumbuh bersamanya.
Hingga setelah menikah pun, Anna masih menjadi perempuan yang sama.
Jeevan memperhatikan wajah istrinya yang mendadak diam.
Ia tidak segera menunggu jawaban. Sebaliknya, pelukannya sedikit mengendur.
"Kalau kamu capek..." katanya pelan. "Nggak papa."
Tatapan Anna perlahan beralih kepadanya.
"Bilang saja kalau kamu memang capek. Mas gak akan maksa kamu," ucapnya pelan.
Kalimat yang di lontarkan suaminya membuat ia merasa tidak nyaman. Anna terlihat mencoba melengkungkan bibirnya, menciptakan sebuah senyum yang selalu ia pasang di wajahnya.
Anna mengangguk kecil. "Iya..."
Jeevan menatapnya beberapa saat, mencoba memastikan bahwa anggukan itu benar-benar lahir dari keinginannya, bukan sekadar kebiasaan mengalah. Meski ia tidak pandai membaca perasaan orang, ia tahu satu hal-- kedekatan tidak seharusnya di bangun di atas paksaan.
Dengan lembut, jemarinya menyentuh punggung tangan Anna. Tatapannya tenang, lalu perlahan merengkuh tubuh istrinya dan mendekatkan wajahnya. Perlahan tapi pasti, kecupan lembut di bibir Anna membuat suatu reaksi yang tidak bisa di jelaskan oleh kata-kata.
Keduanya memejamkan mata ketika napas itu saling bercampur, merasakan setiap sensasi yang mereka ciptakan sendiri. Pelukan Jeevan terhadap Anna semakin kuat, sedangkan perempuan itu mencoba sedang memerankan dirinya sebagai seorang istri yang memberikan kebutuhan libido suaminya.
...🌼🌼🌼...
Hai...
Hope you enjoy reading!
...BERSAMBUNG ...