NovelToon NovelToon
HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Tamat
Popularitas:213
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Hari Gerhana dan Tebasan Gelombang Nihilitas

Hari Penghakiman akhirnya tiba di Benua Tengah.

Langit di atas Gunung Olympus mendadak kehilangan sinar emasnya ketika lingkaran hitam legam dari bulan kosmis perlahan mulai mengikis piringan matahari. Cahaya dunia meredup menjadi warna temaram yang kelabu, menyisakan korona cahaya merah darah di sekeliling gerhana yang menakutkan. Di bawah langit yang sekarat itu, tanah di kaki Gunung Olympus bergetar hebat bukan karena gempa bumi, melainkan karena barisan sejuta pasukan Aliansi Tiga Klan Suci yang telah menghunus senjata mereka.

Zirah perak Legiun Cahaya, kilatan zirah merah membara Legiun Api, dan riak energi biru tua dari Legiun Samudra berjejer rapat laksana lautan energi elemental yang tiada bertepi. Di barisan paling depan, melayang tiga sosok agung berbaju kebesaran klan masing-masing. Mereka adalah Tetua Agung Varun dari Klan Samudra, Zhuo Yan yang membawa dendamnya, dan Tetua Agung Guang dari Klan Cahaya Abadi. Ketiganya memancarkan aura Ranah Penguasa Langit (Sky Sovereign) Tingkat Puncak yang menekan atmosfer hingga radius puluhan kilometer.

"Anomali itu datang!" teriak Zhuo Yan, matanya berkilat penuh kebencian bercampur ngeri saat menunjuk ke ujung lembah ngarai.

Dari balik kabut pasir yang gersang, sosok berjubah hitam melangkah keluar sendirian. Di belakangnya, Zian memimpin ribuan pendekar terbuang yang berjalan dalam formasi pengikat batin yang kokoh. Namun, perhatian sejuta pasukan itu hanya tertuju pada satu orang: Kala. Pemuda itu berjalan dengan ketenangan yang mengerikan, tangan kirinya bertumpu pada sarung pedang kayu putih perak Yggdrasil, dan kain kasa hitam yang menutupi matanya kini telah dilepas penuh, memperlihatkan Netra Kosmos Black Hole yang memancarkan pusaran galaksi kosmis secara mutlak.

"Bocah sombong! Berani mati menghadapi sejuta bilah aliansi kami!" Tetua Agung Guang dari Klan Cahaya meraung gila. Dia mengangkat tongkat sucinya ke langit. "Seluruh pasukan, lepaskan serangan elemental! Lumat iblis waktu ini menjadi debu!"

ROAAARRR!

Perintah itu memicu serangan masif terluas dalam sejarah Benua Tengah. Sejuta kultivator melepaskan energi Qi mereka secara serentak. Ratusan ribu tombak cahaya suci, lautan ombak air yang sanggup menenggelamkan benua, dan ribuan meteor api raksasa melesat serentak ke udara, menutupi seluruh langit di atas ngarai. Serangan gabungan itu menyatu menjadi badai destruktif elemental setinggi ratusan meter yang meluncur deras, siap meratakan seluruh lembah tempat Kala berdiri.

Zian dan pasukan di belakangnya seketika menegang, merasakan kiamat kecil sedang menuju ke arah mereka.

Namun, Kala menghentikan langkahnya tepat di tengah ngarai. Basis kultivasinya di Ranah Raja Bumi Tingkat Awal meledak, memancarkan denyut energi naga purba yang pekat ke dalam pembuluh nadinya.

“Kala, sekarang! Jangan menjeda tubuh mereka, melainkan gunakan Tebasan Gelombang Nihilitas pada pusaran serangan itu!” suara wanita dari sarung pedang Yggdrasil bergaung kencang memandu jiwanya.

CHIIING!!!

Dentingan pedang yang paling nyaring dan jernih memotong gemuruh badai kosmis. Kala menarik bilah pedang hitamnya keluar sepanjang tepat sepuluh sentimeter.

DENG!!!

Hukum Sepuluh Senti meledak secara horizontal. Semesta abu-abu monokrom tercipta dalam radius satu kilometer di udara.

Seketika, lautan serangan elemental sejuta pasukan yang tadinya menderu dengan daya hancur luar biasa mendadak membeku kaku di atmosfer. Ratusan ribu tombak cahaya mengeras seperti kristal mati, meteor-meteor api berhenti berputar dan melayang kaku bagai batu jalanan, dan ombak samudra raksasa membatu laksana dinding es monokrom di udara hampa. Semua daya ledak serangan mereka dijeda dalam ruang waktu yang hancur.

Karena Kala tidak menghentikan fisik sejuta manusianya, melainkan hanya menjeda serangan energinya, dia tidak merasakan tekanan balik yang mematikan pada organ dalamnya. Dada Kala hanya bergemuruh pelan.

"Satu detik," bisik Kala dingin dalam keheningan total.

Mata kiri Black Hole Kala melebar secara ekstrem, berputar berlawanan arah jarum jam dengan kecepatan kosmis.

"Menelan dan Membalikkan!" raung Kala dalam batinnya.

Sebuah lubang hitam kosmis raksasa termaterialisasi tepat di tengah langit ngarai yang membeku. Gaya tarik gravitasi nihilisme yang tak terbatas meluncur, menarik paksa seluruh ratusan ribu tombak cahaya, meteor api, dan ombak samudra yang membatu itu untuk melengkung dan terhisap masuk ke dalam satu titik pusaran hampa udara di depan pedang Kala. Seluruh energi sejuta pasukan itu dipadatkan secara ekstrem menjadi sebuah bola energi nihilisme berdiameter satu meter yang berdenyut liar dengan warna hitam keperakan.

Kala menarik pedang Jian hitamnya keluar sepenuhnya dari sarung kayu. Mata kanannya berkilat hebat.

"Tebasan Gelombang Nihilitas: Gulungan Balik Takdir!''

Kala mengayunkan pedang tipisnya dalam satu tebasan vertikal yang memotong bola energi tersebut di dalam ruang waktu yang berhenti. Ruang di depan ngarai terbelah secara absolut, menciptakan celah dimensi hitam tipis yang beresonansi dengan bola energi yang padat. Kala langsung mendorong kembali pedang tipisnya masuk ke dalam sarung kayu Yggdrasil dengan presisi mutlak.

KLIK.

Satu detik keheningan abadi berakhir. Waktu semesta kembali mengalir normal.

BOOOOOOOOOOMMMMMMMM!!!!!!!!!!!

Sebuah ledakan mahadahsyat yang sejuta kali lebih kuat dari serangan aslinya meledak dari langit ngarai, menyemburkan gelombang kejut energi nihilisme yang berputar balik ke arah barisan pasukan Aliansi Tiga Klan. Gelombang energi hitam keperakan itu menyapu bumi laksana dinding kematian kosmis yang melaju secepat kilat.

"Apa?! Bagaimana mungkin serang-—" Tetua Agung Guang bahkan tidak sempat menyelesaikan jeritannya.

SLASSH... VUUUSH!

Gelombang pembalik takdir itu menghantam garda depan sejuta pasukan tanpa ampun. Dalam hitungan fraksi detik, Legiun Cahaya dan Legiun Api yang berada di barisan terdepan hancur lebur menjadi abu kosmis. Zirar-zirah perak dan merah mereka menguap, dan tubuh ratusan ribu kultivator elit itu lenyap dari muka bumi tanpa menyisakan jasad sedikit pun.

Tetua Agung Guang dan Tetua Agung Varun terlempar muntah darah ratusan meter, tubuh Penguasa Langit Puncak mereka retak-retak hebat dengan energi Qi yang hancur berantakan. Ngarai di kaki Gunung Olympus terbelah dua menjadi jurang baru sedalam ratusan meter akibat daya hancur satu tebasan balik milik Sang Dewa Waktu.

Hanya dalam waktu satu detik di bawah gerhana matahari kosmis, separuh dari legiun sejuta pasukan yang sombong itu telah terhapus dari sejarah Benua Tengah.

Kala berdiri tegak di tengah kepulan debu dan uap energi yang membumbung tinggi, menyeka noda darah tipis di bibirnya. Tatapan mata Black Hole-nya yang kini berkilat semakin terang menembus kabut, langsung mengunci ke arah puncak Gunung Olympus tempat Altar Langit berada.

"Barisan depan kalian sudah runtuh," suara Kala menggema dingin menembus sisa-sisa sejuta pasukan yang kini gemetar ketakutan. "Sekarang, minggir... atau biarkan sisa garis waktu hidup kalian aku potong hari ini juga."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!