Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 — Festival Menyambut Musim Dingin.
Tiga hari telah berlalu sejak kepulangan Yana dari Lembah Bintang.
Kabar baik pun datang: Aron dan rombongan utusan kembali dari pemukiman Suku Beruang dengan selamat.
Berkat penawar racun buatan Yana dan negosiasi yang tenang dari Aron, perselisihan antarsuku dapat diredam tanpa pertumpahan darah.
Hari ini, pemukiman Suku Serigala tampak jauh lebih sibuk dan meriah daripada biasanya.
Pohon-pohon di sekitar pemukiman dihiasi oleh jalinan tali kain warna-warni dan ukiran kayu berbentuk kepala serigala. Di tengah lapangan utama, beberapa pria sibuk mendirikan tumpukan kayu bakar raksasa untuk api unggun malam nanti. Para wanita mengolah daging panggang yang dibumbui rempah-rempah beraroma tajam, sementara anak-anak berlarian gembira memakai topeng kulit binatang.
Suku Serigala sedang bersiap menyambut Festival Menyambut Musim Dingin—sebuah tradisi tahunan untuk mengucap syukur kepada Dewa Binatang atas keberlimpahan hasil buruan sebelum musim dingin yang membekukan tiba.
Yana berdiri di depan gua tempat tinggalnya, memperhatikan keceriaan warga suku dengan tatapan sayu.
Di kehidupan sebelumnya, Festival ini adalah festival terakhir yang pernah dirayakan oleh Suku Serigala.
Tepat dua pekan setelah festival ini dirayakan di masa lalu, gadis transmigrator itu muncul di perbatasan hutan utara, memicu awal mula kehancuran yang meratakan pemukiman ini menjadi abu.
"Yana, kenapa malah melamun di sini? Ayo bantu Ayah mengangkat kayu persembahan ini!"
Suara Aron memecah lamunan Yana.
Pria tegap itu melangkah mendekat sambil memanggul sebatang kayu jati raksasa di pundaknya tanpa terlihat kesulitan sedikit pun.
Melihat raut wajah ayahnya yang sehat dan penuh semangat, rasa sesak di dada Yana perlahan menghilang. Ia tersenyum tipis lalu menghampiri ayahnya.
"Ayah ini selalu saja memanggul kayu sendirian. Bukankah ada Paman Bimo dan pemburu muda lain yang bisa membantu?" ujar Yana sambil mengambil alih beberapa cabang kayu kecil dari tangan ayahnya.
Aron tertawa lebar, meletakkan kayu besar itu di dekat perapian utama. "Ayahmu ini masih Kepala Suku! Kekuatanku tidak kalah dari para pemuda itu."
Aron kemudian merangkul bahu Yana dengan tangannya yang besar dan hangat. Mereka berjalan bersama menyusuri area festival.
"Lagipula," lanjut Aron dengan suara yang lebih lembut dan tulus, "Ayah sangat bersyukur pada festival kali ini. Berkat firasatmu di Hutan Hitam dan obat dari Lembah Bintang yang kamu temukan, suku kita bisa melewati masa-masa sulit kemarin. Ayah sangat bangga padamu, Yana."
Mendengar pujian yang tulus dari ayahnya, Yana merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar di dadanya. Di kehidupan lalu, ia tidak pernah sempat mendengar ucapan bangga seperti ini dari ayahnya karena ia selalu bersikap manja dan tidak berdaya.
"Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan, Ayah," jawab Yana pelan, menyandarkan kepalanya sejenak di lengan ayahnya. "Aku hanya ingin Ayah dan suku kita selalu aman."
Aron mengelus rambut perak Yana dengan kasih sayang yang murni. "Dewa Binatang telah memberiku seorang putri yang luar biasa."
Di tengah suasana hangat itu, dari kejauhan Luka berdiri memperhatikan mereka berdua.
Luka memakai pakaian festival terbaiknya dari kulit rusa yang diukir halus. Ia memegang sebuah kalung berhiaskan taring serigala perak—hadiah yang menurut tradisi suku harus diberikan oleh seorang pemburu muda kepada tunangannya saat Festival menyambut musim dingin.
Luka melangkah mendekati Yana dan Aron dengan raut wajah agak canggung.
"Paman Aron... Yana," sapa Luka, menganggukkan kepala sopan pada sang Kepala Suku.
Aron tersenyum ramah pada Luka. "Ah, Luka! Kamu sudah siap untuk tarian persembahan nanti malam?"
"Sudah, Paman," jawab Luka. Matanya kemudian beralih menatap Yana yang berdiri di samping Aron. "Yana... bisakah aku bicara bersamamu sebentar? Ada hal penting yang ingin kuberikan."
Yana menatap Luka dengan mata abu-abu kehijauannya yang dingin tanpa emosi. Ia tahu betul kalung apa yang ada di dalam genggaman tangan Luka. Di kehidupan sebelumnya, ia akan melompat gembira dan menerima kalung taring itu dengan wajah merah merona.
Namun sekarang, melihat benda itu justru membuat Yana merasa muak. Kalung yang sama ini dulu dibuang oleh Luka ke dalam lumpur saat pria itu memilih mengejar gadis transmigrator asing tersebut.
"Maaf, Luka. Aku harus membantu Bibi Nora menyiapkan bumbu daging persembahan di gua utama," pangkas Yana kaku tanpa memberi kesempatan pada Luka untuk membalas.
Luka terpaku, wajahnya memucat karena penolakan Yana yang begitu terang-terangan di depan Kepala Suku.
Aron memandangi putrinya dan Luka secara bergantian dengan dahi berkerut heran. Sebagai seorang ayah, ia menyadari ada ketegangan yang tidak biasa di antara keduanya dalam beberapa hari terakhir.
"Yana, tidak baik bersikap sekeras itu pada tunanganmu," tegur Aron pelan setelah Luka berjalan pergi dengan langkah lunglai dan wajah kecewa.
Yana menundukkan kepalanya. "Ayah... bagaimana jika seseorang yang Ayah percayai ternyata akan mengkhianati Ayah di masa depan saat situasi menjadi sulit?"
Aron terkejut mendengar pertanyaan yang begitu dalam dan berat keluar dari mulut putri remajanya.
Pria itu menghentikan langkahnya dan menatap Yana dengan raut wajah sangat serius.
"Seseorang di suku ini?" tanya Aron memastikan.
Yana menggeleng pelan. "Aku hanya bertanya, Ayah."
Aron mendesah pelan, memegang kedua bahu Yana. "Kepercayaan adalah hal paling berharga bagi Suku Serigala, Yana. Jika seseorang belum melakukan kesalahan, kita tidak boleh menghakiminya hanya karena keraguan di dalam hati kita. Tapi... jika seseorang benar-benar terbukti mengkhianati suku dan keluarganya, maka dia bukan lagi bagian dari kita."
Kata-kata ayahnya meresap dalam ke benak Yana. Ia sadar, ia tidak bisa menghukum Luka atas kejahatan yang belum pria itu lakukan di kehidupan kedua ini. Namun, Yana juga tidak akan pernah membiarkan dirinya jatuh ke dalam lubang pembodohan yang sama.
***
Malam pun tiba dengan cepat.
Langit malam yang gelap disinari oleh nyala api unggun raksasa di tengah lapangan suku.
Suara tabuhan drum kayu bergema nyaring, diiringi oleh sorak-sorai warga yang menari memutari api unggun dengan pakaian adat mereka.
Aroma daging panggang yang gurih dan wangi minuman manis beralkohol hasil fermentasi buah memenuhi udara. Warga suku tertawa, minum, dan saling merangkul gembira.
Aron berdiri di depan panggung batu, mengangkat mangkuk kayunya tinggi-tinggi.
"Untuk Dewa Binatang yang memberkati tanah kita! Untuk Suku Serigala!" teriak Aron lantang.
"UNTUK SUKU SERIGALA!" sahut seluruh warga dengan gemuruh yang menggetarkan lembah.
Yana berdiri di tepi lapangan, memegang mangkuk kayunya. Ia menyaksikan senyuman di wajah Paman Bimo, tawa riang Bibi Nora, serta kebanggaan di mata ayahnya.
Namun, di tengah kemeriahan dan kehangatan festival yang luar biasa ini, dada Yana justru terasa makin dihimpit oleh ketakutan yang dingin.
Ia meraba dadanya yang berdetak kencang.
Festival ini begitu indah. Kehidupan ini begitu hangat.
Tetapi Yana tahu pasti... ini adalah ketenangan terakhir sebelum badai besar melahap mereka semua.
Waktu dua bulan yang diberikan padanya kian menipis setiap detiknya.
Yana memandang ke arah kegelapan hutan utara di luar batas cahaya api unggun.
'Ini adalah festival terakhir yang tenang bagi suku kita...' batin Yana dengan mata berkilat tajam. 'Aku akan memastikan... di masa depan, festival ini tidak akan menjadi yang terakhir!'
***
Bersambung ....