Bagi dunia, Hades Sterling adalah pengusaha kejam yang tak tersentuh. Namun bagi Persephone Sinclair, dia adalah suami posesif yang memanggilnya "Ma chérie". Percy suka petualangan dan kegilaan keliling dunia, sementara Hades suka membiarkannya bebas, dalam pengawasan ratusan pengawal bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Sebelum Percy sempat membalas ucapan sahabatnya, suara ketukan pintu utama chalet berbunyi nyaring. Dua kali ketukan tegas, disusul oleh suara derit pintu yang terbuka secara perlahan tanpa menunggu izin dari penghuninya.
Tyche langsung menegakkan tubuhnya, sementara Percy terlonjak berdiri dari sofa, jantungnya mendadak berdegup kencang hingga menembus tulang rusuk. Aroma maskulin yang tajam bercampur bourbon dan dinginnya salju langsung menyergap udara ruangan tersebut aroma yang sangat ia kenali di luar kepala, aroma yang selalu membuatnya gemetar antara rindu dan teror murni.
Dari balik bayang-bayang pintu yang terselimuti kabut salju luar, sesosok pria berpostur tinggi tegap melangkah masuk. Mantel panjang hitam miliknya basah oleh kepingan salju, memperlihatkan bahu bidang dan siluet tubuh bak dewa Yunani.
Hades Sterling.
Pria itu tidak membawa pengawal, tidak membawa pasukan. Ia datang seorang diri, namun kehadirannya seketika membuat seluruh ruangan terasa menyusut dan kehilangan oksigen. Sepasang mata kelabu sedingin es itu langsung terkunci pada sosok mungil Percy yang berdiri mematung di dekat perapian.
"Ma chérie..." suara bariton itu terdengar rendah, berat, dan begitu mematikan di tengah kesunyian chalet.
Percy menelan ludah susah payah. Kaki mungilnya mundur selangkah secara otomatis, sementara lesung pipinya mendadak lenyap digantikan oleh ekspresi panik murni. "H-Hades..." cicitnya pelan, nyaris tak terdengar di atas suara deru angin salju di luar.
Di ambang pintu, tepat di belakang Hades, Dionisos Volkov muncul sekilas sebelum menarik diri dan menutup pintu dari luar, meninggalkan sang miliarder berhadapan langsung dengan istri buronannya. Sementara itu, di sudut ruangan, Tyche buru-buru membereskan tas tangannya, melemparkan pandangan penuh simpati sekaligus geli kepada Percy seolah berkata, 'Good luck, darling, your time is up' sebelum bergegas melangkah keluar lewat pintu samping menuju kamar tamu.
Hades melangkah maju perlahan, setiap jejak sepatunya di atas lantai kayu terdengar bagai hitungan mundur bagi Percy. Wajah tampan tanpa cela itu tampak sangat tenang, namun di balik tatapan kelabunya, badai kemarahan dan kerinduan tengah bergolak hebat.
"Kau berlari cukup jauh kali ini," bisik Hades, suaranya begitu dekat ketika pria itu akhirnya berdiri tepat di hadapan Percy. Tingginya yang jauh menjulang membuat Percy terlihat begitu mungil, bagai boneka porselen di bawah bayang-bayang raksasa.
"Aku... aku hanya ingin mencari udara segar!" bela Percy dengan nada tinggi yang dibuat-buat garang, meskipun kedua tangannya sudah meremas ujung hoodie nya erat-erat karena gugup. "Dunia ini luas, Hades! Kenapa kau harus menyusulku ke tengah salju sialan ini?!"
Hades tidak langsung menjawab. Perlahan, tangan besar dan hangat pria itu terulur, menyentuh helaian rambut panjang berwana chesnut brown milik istrinya yang sedikit berantakan, lalu turun meraba pipi putih Percy yang merona merah karena dingin. Sentuhan itu lembut, teramat lembut, kontras dengan reputasinya sebagai pria paling kejam di Amerika. Namun cengkeraman tangan sebelahnya di pinggang Percy tidak memberikan ruang untuk melarikan diri sedikit pun.
"Karena di luar sana, ada banyak serigala kelaparan yang mencoba mendekati apa yang sepenuhnya milikku," bisik Hades tepat di dekat telinga Percy, suaranya berubah menjadi lebih gelap. "Termasuk aktris murahan yang memanfaatkan bayang-bayangku di media, dan pria-pria sialan yang mengira mereka bisa mencuri perhatianmu."
Mata amber Percy melebar. "Kau... kau tahu soal Iris?"
"Aku tahu segalanya tentang apa pun yang menyangkut dirimu, Ma chérie," balas Hades dingin. Sudut bibir pria itu terangkat miring, memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat lutut Percy terasa lemas. "Dan sekarang, masa percobaanmu telah habis. Waktu bermain di luar dunia kita sudah selesai."
"Tidak! Tunggu, Hades...aku belum sempat belanja tas edisi terbatas di Paris...mpph!"
Protes Percy terhenti seketika saat bibir dingin namun menuntut itu menepis seluruh kata-katanya dalam sebuah ciuman yang dalam, penuh posesif, dan sarat akan kerinduan yang membakar. Tidak ada perlawanan. Tubuh mungil Percy melemas di dalam dekapan kuat sang suami, menyerah sepenuhnya pada kehangatan dan rasa aman yang hanya bisa diberikan oleh monster bermata kelabu tersebut.
Di luar, badai salju semakin menggila di atas Pegunungan Alpen, tetapi di dalam pelukan Hades Sterling, Persephone tahu bahwa pelariannya telah resmi berakhir untuk selamanya.
"Tidak! Kumohon, Hades, sebentar saja!" Percy meronta kecil di dalam dekapan erat sang suami, matanya yang berwarna amber berkaca-kaca memancarkan permohonan paling memelas yang ia miliki. Lesung pipinya terbenam dalam kerutan sedih, sementara bibir kecil ranumnya terus bergerak merajuk. "Tyche sudah berjanji akan menemaniku ke Milan minggu depan! Kita baru dua minggu di luar, Hades! Dua minggu! Di rumah mansion itu sangat membosankan, tidak ada yang bisa kuajak bicara selain pelayan dan tembok marmer!"
Hades sama sekali tidak bergeming. Pria itu tetap berdiri tegak bagai patung marmer hitam, kedua lengannya melingkar posesif di pinggang ramping Percy tanpa berniat sedikit pun melonggarkan cengkeramannya. Tatapan mata kelabunya menatap lurus ke arah sang istri, tajam, menusuk, dan sama sekali tidak menyisakan celah untuk negosiasi.
Suasana di dalam chalet mendadak berubah hening, menyisakan suara deru angin salju yang menghantam kaca jendela luar.
Dengan suara bariton yang rendah, dingin, dan mengiris udara tanpa ampun, Hades berucap, "Cukup, Ma chérie. Jangan memancingku."
Percy menelan ludah keluh mendengar nada suara itu, nada suara mutlak yang menjadi tanda bahaya tertinggi dari sang penguasa Sterling.
"Sekali aku berkata pulang, tetap pulang," lanjut Hades tanpa nada tinggi, namun setiap suku kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti vonis mati. "Jangan membuat aku melakukan hal yang akan kau sesali, Persephone."
Mendengar nama lengkapnya disebut dengan cara yang begitu dingin, seluruh tubuh Percy langsung menegang kaku. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia tahu persis apa arti ancaman halus di balik kalimat itu. Hades tidak sedang bercanda. Jika ia terus membangkang, pria itu tidak akan ragu untuk memborgolnya secara harfiah, menyeretnya ke jet pribadi, dan mengunci pintu mansion mereka rapat-rapat tanpa memberinya izin untuk melihat dunia luar selama berbulan-bulan ke depan.
Kepanikan dan rasa takut yang nyata akhirnya meredam sifat 'cegil' dalam diri Percy. Ia terdiam seribu bahasa, bahunya yang mungil merosot pasrah.
Melihat istrinya bungkam dengan mata amber yang mulai meredup, ekspresi Hades sedikit melembut. Jemari besar pria itu terulur menyentuh rahang halus Percy, mengusap pipinya dengan kelembutan kontras yang hanya diberikan kepada wanita itu seorang. "Anak pintar," bisik Hades pelan di dekat bibirnya. "Kemasi barang-barangmu. Jet kita bersiap dalam satu jam."
Percy menggigit bibir bawahnya, tidak berani melawan lagi. Dengan langkah lesu dan kepala tertunduk, ia beranjak pergi dari hadapan suaminya, berjalan menuju kamar tidur untuk mengemas seluruh barang belanjaannya, menyadari bahwa liburan gilanya telah resmi berakhir di bawah cengkeraman sang singa mutlak.