NovelToon NovelToon
Masih Ada Esok?

Masih Ada Esok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Duda / Penyelamat
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Tabina Lutfi

Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.

Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.

Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.

Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sore ini untuk Mereka

Bibir Ell mengerucut tajam, mengekspresikan rasa bosan yang sudah menumpuk di dada sejak Sean dan Malik berpamitan pulang.

“Ihh... semua orang pada pergi. Kalau begini Ell jadinya gabut banget!” keluh Ell seraya menyandarkan dagunya di atas meja makan, menatap langit-langit rumah dengan raut teraniaya.

Javin, yang duduk santai di samping bocah itu sambil merapikan sisa cangkir di meja, menghentikan gerakannya. Ia menoleh, menyunggingkan senyum tipis lalu mengacak-acak rambut Ell hingga berantakan.

“Gimana kalau kita main ke sungai?” tanyanya, mengalihkan pandangan dari Ell menuju Owen yang baru selesai mengelap meja dapur.

Mata Ell seketika berbinar. “Asyik! Ell mau! Nanti kita tangkap ikan juga ya, Kak!” serunya mendadak antusias.

Jaya, yang baru saja selesai membenahi kerah kemejanya di dekat cermin besar ruang tengah, menoleh sambil menyunggingkan senyum hangat. 

Ia melihat arloji di pergelangan tangannya sejenak sebelum memberikan lampu hijau.

“Boleh deh kalian main ke sungai, asal hati-hati ya. Nanti jangan main sampai ke bagian yang dalam,” nasihat Jaya tegas. Matanya lalu melirik ke arah Rafa yang sedang memutar-mutar kunci motor di jemarinya. “Terus Rafa, nanti bawa motornya jangan ngebut-ngebut! Bawa adiknya yang bener!”

“Siap, Pih,” sahut Rafa cepat, memberi gestur hormat main-main meski matanya sesekali masih menyisakan kekhawatiran yang coba ia sembunyikan rapat-rapat dari semua orang.

“Terus juga nanti Kakak harus ikut

ndampingi Ell. Papi takut dia kecemplung kayak Lily dulu,” lanjut Jaya mengingatkan, diiringi nada geli yang sengaja disembunyikan.

“Iya, Pih,” jawab Owen seraya menyunggingkan senyum jahil yang mengembang sempurna ke arah Lily.

Mata Lily mendelik tajam. “Udah lah! Jangan diingat-ingat lagi, malu tahu enggak!”

“Kenapa harus malu? Kan emang biasanya Lo malu-maluin. Tapi untung aja waktu kecemplung di sungai dulu Lo enggak mendadak berubah jadi duyung, ya Ly,” sahut Wafa yang berdiri menyender di meja makan.

Ell mendongak polos, matanya membulat sempurna. “Memangnya Kak Lily itu duyung ya, Bang?”

“Iya, Ell! Makanya kalau dekat-dekat dia tuh kadang ada bau-bau amis kayak ikan gitu!” sambung Rafa cepat, ikut melancarkan serangan udara untuk memanasi suasana dan menutupi kekesalan hatinya.

Mendengar ledekan beruntun dari kedua saudara laki-lakinya, kekesalan Lily meledak hingga ke ubun-ubun. Rasa gengsi dan harga dirinya mendadak terkoyak di depan Javin dan Papinya. 

Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung melompat dan menerjang Rafa serta Wafa sekaligus.

“Kalian berdua bener-bener ya!!” jerit Lily seraya mengayunkan tangannya untuk meraih mereka.

Jaya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan anak-anaknya yang tak pernah bisa akur lebih dari lima menit. Pandangannya kemudian beralih ke Kino yang sedang sibuk merapikan tas punggungnya di atas sofa.

“Kino, nanti kamu dijemput, kan?” tanya Jaya memperjelas.

“Iya, Om. Papa dalam perjalanan,” jawab Kino, matanya tetap sibuk menonton aksi kejar-kejaran seru antara tiga saudara yang kini sedang berputar-putar di sekitar meja makan.

“Pih! Lihat Lily, Pih!” seru Owen tiba-tiba, menunjuk ke arah tengah ruangan, memotong percakapan Jaya. Atensi semua orang di ruangan itu seketika tertuju ke satu titik.

“Biar tahu rasa Lo!” Wafa tertawa jahat.

Rafa dan Wafa rupanya berhasil menyergap Lily. Dengan kerja sama tim yang luar biasa solid, kedua laki-laki itu mengangkat tubuh Lily secara terbalik—kaki di atas dan kepala menunjuk ke lantai!

“BAJU GUE!” Lily panik setengah mati. Baju kausnya tersingkap ke bawah akibat posisi terbalik itu, memperlihatkan sedikit bagian perutnya yang mungil.

Melihat hal memalukan tersebut, Ell dengan sigap berlari menghampiri. Bocah itu pasang badan, menutupi dan memegangi baju kakaknya agar tidak tersingkap makin parah di depan Javin.

“Kalian ini! Turunin enggak?! Kalau sampai Lily lecet sedikit aja, Papi buang kalian berdua ke sungai ya!” Jaya mulai emosi melihat tingkah dua putra jahilnya yang makin menjadi-jadi.

“Buang aja, Pih! Ayo lah, Waf, sekalian kita gantung kakinya di pohon mangga belakang rumah!” ledek Rafa makin memanasi suasana, masih menahan kedua kaki Lily di udara.

“Ide bagus tuh, Bang!” sahut Wafa penuh semangat.

“TURUNIN GUE!” Lily memukul-mukul perut dan paha kedua saudaranya itu sekuat tenaga menggunakan tinju kecilnya.

“Gue turunin, tapi ada syaratnya! Syaratnya Lo harus minta maaf dulu ke kita berdua!” ujar Wafa menawar dengan wajah tanpa dosa.

Owen menatap gemas kedua adiknya dari samping meja. “Kalian berdua juga salah! Udah, saling minta maaf aja kenapa sih! Kasihan Lily-nya itu!”

Akhirnya, dengan perlahan dan berhati-hati agar kepala Lily tidak terantuk lantai, Rafa dan Wafa menurunkan Lily kembali ke posisi tegak. Lily langsung merapikan pakaiannya dengan wajah merah padam akibat kehabisan napas dan menahan malu.

“Nah, udah. Sekarang berpelukan, terus saling minta maaf,” perintah Jaya seraya melipat kedua tangan di dada, memasang gestur tidak bisa dibantah.

“Dikiranya kita Teletubbies apa...” tolak Rafa pelan secara halus, memutar bola matanya.

“Ayo berpelukan, atau uang saku kalian bertiga Papi potong bulan ini!” ancam Papi Jaya tajam.

Mendengar ancaman maut yang menyasar dompet mereka, tanpa buang waktu detik itu juga Rafa, Wafa, dan Lily langsung saling berpelukan erat-erat. Tidak ada hangat-hangatnya, pelukan itu lebih mirip adegan gulat bebas.

“Jangan kenceng-kenceng! Gue enggak bisa napas, woyy!” jerit Lily pengap di tengah dekapan paksa dan jepitan lengan kedua saudaranya, memancing tawa pecah dari seluruh orang di ruangan itu.

Pukul dua siang tepat, suasana rumah perlahan-lahan mereda. Semua tamu pulang ke rumah masing-masing, menyisakan Javin yang masih setia menemani Ell dan Owen yang siap-siap meluncur ke sungai.

Jaya sendiri sudah tampil sangat rapi. Ia mengenakan kemeja putih bersih berpotongan rapi yang dipadukan dengan celana bahan berwarna cokelat tanah, memberikan kesan hangat namun tetap berkarisma.

“LILY! UDAH SIAP BELUM?” teriak Papi Jaya keras dari lantai satu, suaranya menggelegar menembus selasar tangga.

“UDAH, PIH!” balas Lily melengking tak kalah nyaring dari dalam kamarnya.

Tak lama kemudian, derap langkah kaki bergesekan cepat dengan anak tangga. Lily berlari-lari kecil menuruni tangga.

Owen yang sedang duduk di ruang tengah mendongak. Matanya berbinar melihat penampilan sang adik. “Cantik banget pakai dress,” puji Owen tulus tatkala mendapati Lily mengenakan dress manis berwarna merah muda pastel dengan aksen renda tipis di bagian lengan.

Seketika itu juga, rona merah merambat halus di kedua pipi Lily. Ia merapikan tatanan rambutnya yang dibiarkan terurai halus.

“Iya, Kak Lily tumben banget pakai dress,” sambung Ell. Bocah itu yang tadinya asyik menyusun mainan bersama Javin langsung bangkit dan mendekati Lily, mengamati dari atas sampai bawah.

“Palingan mau ketemu cowok yang tadi pagi ke sini terus pulang-pulang ngambek,” ledek Rafa yang berdiri di dekat pintu luar, menaik-turunkan alisnya sengaja menyindir kejadian Julian tadi pagi.

Wafa tertawa berasas seraya menimpali, “Udah lah, Bang, enggak usah ngurusin bocah bucin itu!”

“Mending bucin daripada cinta bertepuk sebelah tangan kayak Lo! Enggak dianggap!” balas Lily tak mau kalah. Ia melipat tangan di dada lalu tertawa keras membalas ejekan saudaranya.

Wafa membelalakkan mata, memasang raut sok tangguh meski dadanya sedikit berdenyut. “Siapa? Maksud Lo siapa?”

“Puisi di buku Lo itu... si Bu—”

Sebelum kalimat bahaya itu terlontar utuh dari bibir Lily, Wafa dengan sigap melompat maju dan membungkam mulut Lily rapat-rapat menggunakan telapak tangannya.

“Hayo... siapa, Waf?!” cecar Owen penasaran, ikut mendekat.

“Enggak ada! Awas Lo ya sampai bilang-bilang!” ancam Wafa membisiki telinga Lily seraya tetap membungkam mulut kakak nya erat-erat.

Jaya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya. “Udah, udah... kalian ini berantem terus. Coba ingat waktu kalian kecil dulu. Kalian tuh nempel terus udah kayak perangko, tahu enggak?”

“Halah, jangan bohong deh, Pih,” elak Wafa tak percaya.

“Nih, kalau enggak percaya. Dulu kalian kalau difoto maunya berdekatan terus.” 

Jaya merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel lalu menunjukkan sebuah foto lama di layarnya.

Di foto itu, tampak Wafa kecil sedang merangkul gagah pundak Lily, dan di sebelah Wafa ada Rafa kecil yang menyeringai polos.

Jaya menggeser layar ponselnya lagi, memperlihatkan foto kedua anak kecil yang usianya hampir sebaya sedang menaiki sepeda—satu berwarna hitam dan satu lagi berwarna merah muda. “Nih, lihat... udah kayak anak kembar, kan?”

“Dih, mana ada! Gue enggak percaya, editan pasti itu!” sergah Wafa menolak fakta.

“Beneran itu, Dek. Lagian kalian kan cuma beda satu tahun doang. Ke sekolah juga selalu barengan, jadi wajar lah dulu nempel terus,” terang Owen meluruskan.

“Mana ada! Dari dulu Lily deketnya cuma sama Kak Owen doang ya!” elak Lily gengsi.

Ell melipat kedua tangannya di dada dengan bibir bersungut-sungut. “Oh... jadi Kak Lily enggak sayang ya sama Ell?”

“Nah, kan... Ell ngambek!” Rafa tertawa seraya mengelus gemas kepala adik bontotnya itu.

“Tapi serius deh, dulu Abang mau foto sama Lily aja enggak boleh sama Wafa. Dihalangan terus,” ujar Rafa mengingat masa kecil mereka.

Javin ikut meramaikan suasana. “Kayaknya karena dulu kalian deket banget, makanya sekarang interaksinya jadi gengsian kayak gini.”

“Bener itu, Vin!” sahut Jaya bersemangat. “Nih ya, dulu setiap Mami pergi ke warung, mereka berdua ngintilin diam-diam dari belakang udah kayak tuyul!”

Gelak tawa seketika pecah di ruang tengah, kecuali Lily dan Wafa yang memasang raut muka asam.

“Udah lah, Pih, jangan dibahas lagi. Lily mual dengernya. Ayo berangkat sekarang!” kesal Lily menghentakkan kakinya pelan.

“Lo pikir cuma Lo doang yang mual? Gue juga udah merinding sebadan-badan nih!” selutuk Wafa tak kalah jijik.

Rafa menoel kepala kedua adiknya bergantian sambil tertawa. “Kagak usah pada lebay deh kalian! Udah, ayo kita berangkat juga, Waf.” Wafa mengangguk menyetujui ajakan Rafa.

“Kak Owen, nanti kalau keluar rumah pintunya jangan lupa dikunci ya,” pesan Jaya sebelum melangkah ke luar.

Owen mengacungkan jempolnya. “Siap, Pih, aman!”

“Kak Lily! Nanti Legonya jangan sampai lupa ya! Terus Dubai chewy cookie-nya cukup satu aja, soalnya Kino udah pulang duluan,” seru Ell mengingatkan dengan raut cemberutnya yang menggemaskan.

“Iyaaa!” balas Lily mengacungkan jempol tinggi-tinggi.

Setelah keempatnya berpamitan, mereka berpisah kendaraan. Jaya dan Lily menaiki mobil sedan milik Papi, sementara Rafa dan Wafa mengendarai sepeda motor.

Di dalam mobil, suasana terasa hangat. Jaya dan Lily asyik mengobrol tentang banyak hal—mulai dari kegiatan sekolah, ujian akhir, hingga hari kelulusan yang kian dekat. Lily juga dengan antusias menceritakan bahwa band milik Wafa bakal tampil memeriahkan acara kelulusan nanti.

“Kamu sebenarnya mau ajak Papi ke mana, Sayang?” tanya Jaya lembut seraya memutar kemudi.

“Ke toko bunga langganan Mami ya, Pih,” jawab Lily pelan.

Mendengar permintaan itu, Jaya mengangguk setuju dengan senyum hangat di bibirnya.

Sesampainya di toko bunga yang harum dan asri, Lily langsung sibuk berjalan ke sana kemari mengamati deretan pot dan tangkai bunga. Gadis itu tampak begitu terpesona hingga seolah melupakan keberadaan papinya.

Sementara Jaya setia berjalan mengekor di belakang putrinya. 'Ternyata ngajak keluar cuma buat beli bunga. Dan ini udah hampir sejam, tapi dia belum nemu juga bunga yang pas,' batin Jaya terkekeh dalam hati.

“Tulip merah muda itu bagus, Ly. Bunga kesukaan Mami kamu,” petunjuk Jaya membuka suara.

Lily menoleh, lalu menunjuk ke arah buket tulip pink yang dimaksud. “Yang ini, Pih?” Jaya mengangguk pelan.

Lily membungkuk untuk mengambil tangkai tulip segar itu lalu berdiri kembali.

Jaya terpaku sejenak menatap putrinya dari samping. 'Kalau dilihat-lihat... Lily kalau bawa bunga gini makin mirip sama almarhumah istri gue,' batin Jaya terenyuh. 

Tanpa sadar, ia merogoh ponsel dari sakunya dan mengabadikan momen anggun putrinya itu lewat sebuah foto.

“Cantik,” bisik Jaya spontan.

Mendengar pujian itu, Lily menoleh dan mengulas senyum paling manis ke arah papinya.

“Aku... mirip sama Mami kan, Pih?” tanya Lily lirih.

Sebenarnya, alasan Lily memilih mengenakan dress hari ini adalah karena maminya dulu sangat menyukai dress. Dan alasan utamanya mengajak Jaya keluar hanya berdua—setelah kejadian mencurigakan semalam—adalah karena ada rasa takut yang bersarang di dadanya. 

Lily takut papinya benar-benar berpaling atau memiliki wanita lain. Karena itulah, ia sengaja berpenampilan mirip maminya agar sang papi selalu mengingat kenangan manis dan cinta mereka dulu.

Dada Jaya berdesir hangat sekaligus tersentuh. Ia tersenyum tulus, melangkah mendekat, lalu merengkuh tubuh kecil putrinya itu ke dalam dekapan erat seraya mengecup puncak kepalanya penuh kasih sayang.

“Kamu selalu mirip Mami... dan Papi sayang banget sama kamu,” bisik Jaya penuh keharuman kenangan.

Di lain sisi, Wafa yang duduk di jok belakang tampak penasaran. Dengan suara yang sedikit teredam helm, ia berteriak kecil, “Kita mau ke mana ini, Bang?”

“Ke...” Rafa menggantung kalimatnya sejenak. Sebenarnya ia sudah memikirkan satu tempat tujuan sejak tadi. “Ke pantai gimana? Lo mau enggak?” tanya Rafa seraya menatap pantulan wajah adiknya melalui kaca spion motor.

“Mau banget, Bang! Udah lama juga enggak ke pantai!” balas Wafa antusias, menyandarkan dagunya santai di bahu Rafa.

Rafa tersenyum tipis di balik helmnya. 'Mulai sekarang, gue bakal lakuin apa aja buat Lo, Waf. Gue pengin Lo selalu bahagia dan aman. Gue juga bakal berusaha cari pengobatan terbaik buat Lo... gue janji,' batin Rafa penuh tekad dan harapan.

“Inget enggak, Waf, waktu kita dulu main ke pantai sama Mami?” tanya Rafa, mencoba mengalihkan gejolak emosi di dadanya.

“Iya, Bang! Gue inget banget!” Wafa membayangkan kembali kenangan kenakalan masa kecil mereka. Anak laki-laki itu terkekeh pelan seraya menepuk punggung Rafa ringan. 

“Dulu kita suka berenang sampai agak ke tengah, kan? Mami sampai panik dan khawatir banget, tapi dasar kitanya aja yang bandel enggak mau dengerin. Eh, Mami malah nangis gara-gara takut kita kenapa-kenapa, alhasil kita langsung diamuk sama Papi deh!” cerita Wafa penuh semangat.

Rafa tertawa kecil menyahuti kenangan itu. “Nah, iya! Lo tuh dulu bandelnya minta ampun.”

“Dih, Lo juga ya, Bang! Bahkan Lo lebih parah bandelnya gara-gara pernah ngelempar Ell ke pinggiran laut!” balas Wafa tak mau kalah.

“Tapi kan itu ide dari Lo juga, Waf!”

Gelak tawa pun pecah di antara keduanya di atas sepeda motor yang melaju sedang.

Setelah tawa mereka mereda, hening mulai menyelimuti perjalanan. Tak ada lagi perkataan yang terucap, hanya sesekali pandangan mereka saling bertaut melalui cermin spion. Keduanya memilih untuk hanyut menikmati terpaan angin sore dan suasana syahdu menjelang terbenamnya matahari menciptakan momen hangat yang diam-diam begitu berarti bagi Rafa.

1
Putry Chan
sedikit saran ya deskripsi paragraf pertama pengenalan anak trlalu panjang
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat
Tabina Lutfi: terimakasih atas sarannya kk
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!