Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.
Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.
Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?
Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?
Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.
Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)
Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Sama-sama Emosi
"Akhirnya aku berhasil mengelabuhinya. Dengan dia menyetujui usulanku aku bisa lebih dekat dengannya, dan pastinya aku bakalan tahu identitasnya.
Setelah memiliki kesepakatan kerjasama dengan Ayuna, Erlangga memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Ia harus terlihat profesional di depannya, walaupun sebenarnya rencana promosikan desain itu hanya sebuah alasan agar bisa selalu dekat dengannya.
"Dari mana saja kamu! Sudah jam berapa ini."
Erlangga terkejut bukan main ketika mendapati ibunya sudah berada di dalam rumahnya.
"Mama, ngagetin aja! Sejak kapan Mama datang ke sini? Kenapa nggak kasih tahu aku kalau mau datang ke sini," cerocos Erlangga.
"Aku sudah sejak tadi tiba di sini. Kalau nggak ada hal penting aku juga ogah main ke sini," sungut Hana.
Erlangga menarik nafasnya. Lagi-lagi ibunya mulai memancing suasana menjadi lebih menegangkan.
"Hal penting apa lagi sih ma," cicit Erlangga. Dia cukup tahu apa yang ingin dibahas oleh ibunya, tentu mengenai perjodohannya dengan Laras Wijaya. "Kalau Mama masih mendesakku buat menikahi Laras dengan berat hati aku menolak, karena sampai kapanpun aku tidak mau menikahi wanita itu."
"Ini bukan karena Laras, ini tentang perempuan lain."
Erlangga mengernyit sembari menggumam. "Perempuan lain? Maksud Mama?"
"Jawab Mama dengan jujur. Apa kamu pernah menjalin hubungan dengan seseorang selain Luna?"
Wajah Hana terlihat begitu tegang, tersirat ada rasa kecewa yang mendalam.
"Mama dapat informasi dari mana sih," cicit Erlangga. "Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun selain Luna. Hubunganku dengan Luna sangatlah kuat, dan aku tidak bisa menggantikannya dengan wanita lain."
Meskipun pernah terlibat skandal panas dengan wanita lain tapi di hatinya tetap milik Luna Wijaya. Ya..., sudah enam tahun berlalu ia tengah mencari wanita yang pernah tidur dengannya, tapi sampai saat ini belum juga ditemukannya. Bukan karena sengaja, kejadian itu bermula karena terpengaruh oleh obat bius dan obat perangsang yang dicampur ke dalam minumannya hingga membuatnya kehilangan kesadaran dan menggunakan wanita untuk melampiaskan hasratnya.
"Yakin kamu nggak pernah melakukan skandal dengan wanita lain?"
Erlangga tidak mengerti dengan maksud perkataan ibunya. Bahkan kejadian itu disimpannya rapat-rapat dan tidak satupun orang mengetahuinya, kecuali Sofyan, asisten pribadinya.
"Ma, sudahlah. Jangan memiliki asumsi buruk tentangku."
"Mama itu bukan berasumsi buruk, Erlangga! Mama hanya takut kamu melakukan hal-hal yang merugikan orang lain," sungut Hana. "Coba ingat-ingat lagi. Barangkali kamu sudah melakukan kebodohan tanpa sepengetahuan kami. Jangan sampai kau menyesal karena ulahmu sendiri."
Tanpa berpamitan Hana langsung pergi meninggalkannya. Erlangga terdiam, dalam benaknya mulai diselimuti berbagai pertanyaan yang mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Apa mama tahu tentang kejadian itu? Apa yang membuatnya begitu yakin kalau aku pernah melakukan skandal dengan seorang wanita? Atau jangan-jangan ~~
Dia langsung merogoh saku jasnya dan menghubungi Sofyan.
("Di mana kamu!")
("Tuan, saya sedang ada di perjalanan pulang. Ada apa Tuan?")
("Segeralah kemari. Ada hal penting yang harus dibahas!")
("B-baik Tuan. Saya akan ke sana sekarang.")
Urusanku dengan Ayuna belum selesai, sekarang sudah ada masalah baru. Huft..., bagaimana ini. Kenapa aku begitu ceroboh sampai meniduri anak orang. Lantas siapa wanita itu? Kenapa dia tidak ada datang untuk menemuiku?"
Tidak lama dari itu datanglah Sofyan. Pria itu langsung menemuinya di ruang kerjanya.
"Permisi Tuan."
"Hm..., masuklah."
Sofyan masuk dan mengambil tempat duduk di depan Erlangga terhalang oleh meja kerjanya.
"Tuan, tadi Tuan bilang ada hal penting yang ingin dibahas. Kalau boleh tahu tentang apa?"
"Tentang wanita yang ada di hotel bersamaku. Apa kau sudah mendapatkan informasi mengenai wanita itu?"
Dalam kondisi mabuk berat ia tak bisa mengenali siapa wanita yang sudah dijadikan mangsanya. Hanya saja ia masih ingat betul dengan parfum yang dikenakan oleh wanita itu, tapi selebihnya ia tidak bisa mengingat apapun.
"Saya sudah menyelidikinya Tuan," cicit Sofyan. "Menurut manager di hotel itu wanita yang keluar dari kamar yang Tuan pesan salah satu dari pegawainya, dia bekerja sebagai homeskiping, tapi setelah kejadian itu wanita itu resign, tidak lagi bekerja di sana."
"Resign?"
Erlangga mengerjab. Ia merasa bersalah karena tidak sempat mengenalinya. Bahkan ia tidak memberinya kompensasi sebagai ganti rugi atas harga dirinya yang menjadi korbannya.
"Iya Tuan, wanita itu sudah resign. Saya juga bertanya di mana alamatnya, tapi manager tidak memberitahunya, katanya privasi."
Erlangga menghela nafas dan menoleh padanya. "Kamu tahu apa yang seharusnya kamu lakukan kan?"
Sofyan mengangguk. "Menyuapnya pakai uang Tuan."
"Hm..., lakukan saja. Sumpal mulutnya dengan sejumlah uang maka dia bakalan mengaku."
"Baik Tuan, besok saya bakalan datang lagi ke hotel untuk memberinya sejumlah uang," cicit Sofyan. "Tapi jika dia menolak....?"
"Dia tidak akan menolak. Bagi sebagian orang, uang itu segalanya. Mereka rela melakukan tindakan yang membahayakan dirinya sendiri hanya demi mendapatkan keuntungan. Bahkan jabatan bisa dipertaruhkan demi sejumlah uang. Jadi saya sangat yakin kalau dia bakalan buka mulut."
Untuk saat ini hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan kejelasan. Selebihnya ia hanya bisa pasrah jika karma akan berbalik padanya.
"Oh ya Sofyan, apa saja yang kau katakan pada ibuku saat dia datang ke kantor tadi pagi?"
Pria itu menggeleng. "T-tidak Tuan, saya tidak cerita apapun pada nyonya, hanya saja nyonya tadi melihat foto nona Luna di laci meja kerja Tuan. Nyonya juga sempat bertemu dengan nona Ayuna."
Erlangga terbelalak terkejut. "A-apa? Tadi Mama membuka laci kerjaku?"
"Iya Tuan. Saya minta maaf karena gagal tidak bisa menghalanginya."
"Terus saat dia bertemu dengan Ayuna apa reaksinya?"
"Nyonya terkejut, beliau berpikir kalau nona Ayuna itu Nona Luna Wijaya. Tapi setelah saya kasih penjelasan nyonya sepertinya malah salah paham."
Sofyan sengaja memberinya penjelasan agar tidak terjadi kesalahpahaman antara Ayuna dengan Ibu dari majikannya. Tapi sepertinya ibu dari majikannya mengira kalau Ayuna yang sudah membuat Erlangga menolak dijodohkan dengan Laras Wijaya.
"Salah paham bagaimana? Apa dia memaksa Ayuna buat mengakui bahwa dia sebenarnya Luna Wijaya? Atau dia melakukan sesuatu terhadap Ayuna?"
Sofyan menggeleng. "Bukan begitu Tuan. Nyonya khawatir dengan penolakan anda yang tidak mau menikahi nona Laras Wijaya ada kaitannya dengan nona Ayuna."
Brak,,
Erlangga menggebrak meja. Pantas saja ibunya terlihat begitu kesal meskipun tak memberikan penjelasan apapun mengenai pertemuannya dengan Ayuna.
"Aku tidak mau menikahi Laras Wijaya bukan karena Ayuna. Dari awal aku hanya setuju menikah dengan Luna Wijaya, bukan Laras Wijaya, meskipun keduanya datang dari keluarga Wijaya," cerocosnya. "Mama sudah sangat keterlaluan! Dia selalu ingin ikut campur urusan pribadiku. Harus dengan cara apa aku bisa membuatnya diam dan berhenti tak mencampuri urusan pribadiku?" Dengan nafas tertahan ia berusaha mengendalikan diri agar tidak tersulut emosi. Menurutnya apa yang dilakukan oleh ibunya sudah cukup keterlaluan dan tak membuatnya tenang. "Awas saja kalau sampai berani menyinggung Ayuna, aku tidak segan-segan untuk membuatnya menyesal."