semoga suka ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak org, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 9
"APA-APAAN INI! KENAPA BAJU SAYA BISA RUSAK GINI!!" teriak Lea menggema di ruang tamu, menatap para maidnya dengan mata menyala
"JAWAB!! SIAPA YANG SUDAH NGERUSAK BAJU SAYA!!"
"M-maaf nyonya, tapi yang nyuci bajunya itu bukan kami" ucap salah satu maid ketakutan.
"LALU SIAPA?!" tanya Lea, menatap maid itu tajam
"yang nyuci itu Aluna, nyonya" jawab maid itu kegugupan
Aluna
"Di mana dia sekarang?" tanya Lea lagi
"dia ada di dapur, nyonya" jawab salah satu maid.
dengan amarah yang terus membara dan memuncak, Lea pun melangkahkan kakinya menuju dapur, dengan diikuti oleh para maidnya yang lain.
setibanya di dapur, Lea langsung menatap punggung Aluna yang sedang memasak. Amarah Lea semakin memuncak ketika melihat Aluna. dengan tangan halusnya, dia menarik lengan Aluna dan melayangkan sebuah tamparan keras mengenai Pipinya.
Plak!
saking begitu kerasnya, Aluna sampai terjatuh ke lantai dengan wajah kebingungan dan pipi yang memerah. Aluna pun menolehkan kepalanya, menatap wajah ibu mertuanya yang menatapnya tajam dengan napas yang memburu.
"BANGUN!!"
Aluna pun bangun dari jatuhnya dengan kesusahan "shhh" ringis Aluna kesakitan.
"JAWAB! APA MEMANG KAU YANG MENCUCI BAJU INI?!" teriak Lea, menunjukkan bajunya yang sedikit robek di tengahnya.
Aluna yang melihat ada sobekan di tengah baju yang dipegang Lea, jantungnya seakan berdetak kencang. dia pun tidak punya pilihan lain selain menganggukkan kepalanya.
amarah Lea makin membara ketika Aluna lah yang mencuci bajunya sampai sobek.
"Aluna! tapi kenapa baju saya bisa sobek gini, hah! kamu tahu nggak, ini saya belinya di London dan ini juga sangat mahal. tapi kenapa kamu malah merusaknya!!" bentak Lea, menatap tubuh Aluna yang menundukkan kepalanya.
"M-maaf nyonya. sebenarnya saya memang niatnya mau mencucinya di mesin cuci, tapi ada salah satu maid yang mengatakan kalau saya tidak bisa memakai mesin itu
jadi saya mencucinya di kamar mandi saja, nyonya." ucap Aluna gugup
mata Lea membulat sempurna mendengar penjelasan Aluna yang mencuci baju berharganya di kamar mandi.
Plak!
lagi-lagi Lea melayangkan sebuah tamparan keras di pipinya, meninggalkan bekas kemerahan di sekitar Pipinya.
"Aluna! kenapa kau mencucinya di kamar mandi? kau lihat karena perbuatanmu ini bajuku jadi sobek begini, Aluna! kau mau ganti rugi hah!"
"M-maaf nyonya.... hiks hiks... saya benar-benar tidak ada maksud untuk itu. tapi karena maid-"
"Alah, nggak usah banyak alasan kamu, Aluna! udah jelas-jelas di sini kamu yang ngerusak baju saya. kamu nggak usah mengelak!"
"tapi, nyonya saya-"
karena kesal dan marah, Lea mengalihkan perhatiannya ke arah panci yang berisi air panas yang sedang berada di atas kompor.
dengan tidak manusiawinya Lea mengambil panci yang masih panas itu dan menuangkan air panas itu ke wajah Aluna.
para maid yang masih ada di sana langsung terkejut melihat perilaku Lea yang menyiram air panas itu ke wajah Aluna, hingga membuat Aluna berteriak kesakitan.
Aini, Aya, dan Nisa menatap khawatir ke arah Aluna yang menjerit kesakitan. mereka sebenarnya ingin mengatakan apa yang terjadi hingga baju Lea sobek.
tapi melihat amarah Lea yang tidak bisa dicegah oleh siapapun, akhirnya mereka memilih diam dan menatap Aluna dengan wajah gelisah dan cemas.
"Akhhh! panas... panas... hiks.. hiks.... hiks panas.... tolong... hiks tolong hiks... sakit" jerit Aluna kesakitan.
Nisa yang awalnya ingin membantu Aluna terhenti ketika mendengar suara tegas Lea yang menatapnya tajam.
"berhenti kamu! jangan ada siapapun yang berani menolongnya. kalau kalian masih mau membantunya, saya akan pastikan kalian semua akan bernasib sama dengannya" tegas Lea, menatap para maid itu dengan tatapan menusuk, seolah jika ada yang berani melawan perintahnya maka dia akan bernasib buruk seperti Aluna.
Aluna hanya mampu menangis menahan rasa panas dan perih di sekitar wajahnya yang memerah.
ia mengipas-ngipas wajahnya dengan kedua tangannya untuk menghilangkan rasa panas yang sangat menyakitkan itu.
"hiks... panas... hiks" isaknya lirih
"sudah! semuanya bubar sekarang!" bentak Lea sebelum berlalu dari sana, diikuti oleh para maid yang lain.
dan hanya meninggalkan ketiga maid yang masih ada di sana. merekapun segera menghampiri Aluna yang masih terduduk di lantai sambil menangis tersedu-sedu.
"Aluna... hiks, maafkan kami. hiks... kami tidak bisa menolongmu" ujar Nisa ikut menangis melihat temannya diperlakukan kejam oleh Nyonyanya.
"hiks... panas... hiks, sakit... perih"
"Aluna.... hiks, jangan menangis. nanti kami semua juga ikut menangis" ucap Aya sambil memeluk tubuh Aluna erat.
"sakit.... hiks. kenapa? kenapa hidupku selalu seperti ini?" tangis Aluna di pelukan Aya.
"Aluna... hiks kamu yang sabar ya. hiks... kamu jangan pernah berpikir bahwa kamu sendirian. ingat kami akan selalu ada untukmu" ujar Nisa memeluk tubuh Aluna yang masih bergetar dalam dekapan Aya.
"sudah, jangan menangis lagi. sekarang kita harus mengobati luka Aluna dulu. takutnya kalo dibiarkan lama-lama bisa infeksi" ucap Aini menatap ketiga temannya yang masih berpelukan.
Aya membantu Aluna berdiri dan merangkul tubuh lemas Aluna. "iya kau benar. ayo Aluna, kita obati dulu luka-lukamu"
"tapi nanti-"
"udah, kamu tenang saja, Aluna. Nyonya tidak akan tahu tentang ini. ayo, kita obati dulu lukanya" timpal Nisa, lalu dia pun ikut menopang tubuh Aluna menuju kamar mereka untuk diobati.
tengah malam.
Aryan baru saja pulang dari kantor dengan kondisi yang sangat berantakan.
kemeja putihnya tampak sangat kusut. lengan bajunya dilipat hingga siku. jas hitamnya di sampirkan di lengan kiri sambil menenteng tas kerjanya, wajah dan rambutnya terlihat lelah dan kusut karena kelelahan bekerja seharian.
di ruang tamu, mata Aryan tak sengaja menangkap sosok ibunya yang terduduk di sofa. satu tangannya memegang kening. tatapannya tertuju pada satu setel baju ibunya yang tergeletak di atas meja di hadapannya.
"ibu kenapa belum tidur juga?" tanya Aryan sambil menghampiri ibunya.
Lea yang mendengar suara anak semata wayangnya itu langsung menoleh, dia menatap wajah lelah anaknya.
" Aryan kau tahu? ibu benar-benar kesal hari ini. istrimu itu sangat tidak berguna. lihat, baju yang ibu beli kemarin dari London rusak gara-gara kecerobohan istrimu itu" ketus Lea
Aryan pun mengalihkan pandangannya ke arah meja. di sana terlihat satu gaun berwarna pink yang sangat cantik dan berbulu halus. Kini, gaun itu robek tepat di bagian tengahnya.
Brak!
Aluna yang baru keluar dari kamar mandi sontak tersentak. dia mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang didobrak Aryan. suaminya itu kini berdiri di ambang pintu.
Aluna pun menghampirinya dan berniat mengambil tas kerja Aryan. " mas, kamu sudah pulang" ucapnya lembut
Alih-alih menyerahkan tasnya, Aryan justru melempar tas itu ke arah sofa yang ada di dalam kamar.
Plak!
sebuah tamparan mendarat tepat di wajah Aluna. wajah yang baru saja diobati itu kembali terasa perih dan panas.
"mas~"
Plak!!
"Akhhh!" pekik Aluna saat tubuhnya terjatuh ke lantai.
Aryan berjongkok di hadapan Aluna. dia mencekram dagu Aluna dengan kuat.
"kenapa kau menyusahkan sekali, Aluna?" suaranya dingin, menatap manik mata Aluna dengan tajam.
"Apa tidak cukup kau membuat ayah dan ibu bertengkar tadi pagi? dan sekarang kau malah membuat ulah lagi Aluna!" bentaknya tepat di wajah Aluna.
Aluna yang dibentak secara tiba-tiba itu matanya langsung berkaca-kaca. tubuhnya bergetar hebat. tangannya mendadak dingin, dan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
dengan bibir bergetar ketakutan, Aluna membuka mulutnya. "M-maafkan aku, mas. aku benar-benar minta maaf.... hiks hiks" air matanya menetes dari pelupuk matanya.
"kau! sungguh sangat menyusahkan!" Aryan menarik tubuh Aluna dan menyeretnya tanpa belas kasihan menuju kamar mandi.
ia mendorong tubuh Aluna ke lantai yang dingin itu, lalu menyiram tubuh Aluna dengan air dingin. tubuh Aluna pun menggigil hebat.
"mas, maaf... hiks, maaf, mas... hiks" ucap Aluna sambil meraih kaki Aryan dan bersimpuh di bawah kakinya.
Aryan yang sudah sangat lelah menatap Aluna dengan jengkel. dia menendang tubuh Aluna hingga tersungkur ke lantai. setelah itu, dia keluar dari kamar mandi dan menguncinya, meninggalkan Aluna yang terisak sendirian di dalam sana.