NovelToon NovelToon
Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.

Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**

Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.

Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**

Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**

"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."

Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:

*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9: Menyuruh Robby Mencari Tahu

“Cari tahu tentang Lianna Souw.”

Robby yang baru duduk di depan meja kerja Sebastian langsung mengangkat alis.

Di balik kaca tinggi kantor SCBD, deretan gedung berkilau terkena matahari pagi. Layar besar di dinding menampilkan peta proyek Nara di kawasan satelit Jakarta. Sebastian seharusnya membahas jadwal survei tanah, bukan seorang perempuan yang bekerja di rumah keluarganya.

Robby menutup tablet. “Lia yang baru masuk rumah lo?”

“Nama lengkapnya Lianna Souw. Asal Singkawang.”

“Gue tahu siapa yang lo maksud.” Sudut bibir Robby naik. “Yang lo tanyakan bahkan sebelum gue sempat jawab telepon hari pertama itu.”

Sebastian menyandarkan punggung. “Periksa keluarga, keadaan rumah, dan kenapa dia datang ke Jakarta. KTP-nya ada di berkas pekerja rumah. Gunakan salinannya hanya untuk mencocokkan identitas, jangan masuk data yang dilindungi.”

Nada bercanda Robby hilang. Latar belakang militernya membuat ia paham batas antara mencari fakta dan melanggar hukum.

“Gue bisa mulai dari Tante Meilin, alamat lama, dan kontak terbuka di Singkawang. Tidak akan ada akses ilegal.”

“Jangan tanya langsung kepada Lia.”

“Jangan sampai keluarga lo tahu juga?”

“Terutama keluarga.”

Robby menyilangkan tangan. “Ini pemeriksaan keamanan atau urusan pribadi?”

Sebastian menatap layar peta tanpa melihat isinya. Ia teringat pesan dari `Papa`, kotak makanan basi, dan mata Lia yang basah saat memohon agar rahasianya tidak dibuka.

“Keduanya.”

“Sebas.” Robby menahan tawa. “Lo bahkan belum pernah minta gue memeriksa perempuan yang dikenalkan Mamah lo. Sekarang satu pekerja rumah baru datang, lo minta pengecekan dari Jakarta sampai Singkawang.”

“Kerjakan saja.”

“Lo sudah mulai peduli, ya?”

Sebastian mengangkat pandang. “Mau kutambah pekerjaanmu?”

Robby berdiri sambil mengambil tablet. “Tidak usah. Yang satu ini saja kelihatannya sudah cukup menarik.”

Sebelum keluar, ia berhenti di pintu. “Tenang. Gue tidak akan membuat dia tahu.”

Itulah alasan Sebastian mempercayainya.

Robby bukan orang yang suka menjual cerita. Setelah meninggalkan dinas keamanan, ia membangun tim pengamanan proyek dan membantu Sebastian mengurus risiko lapangan. Beberapa kali ia menolak permintaan klien yang ingin memakai koneksi untuk menekan warga atau membuka data pribadi. Baginya, mencari fakta berarti mengumpulkan saksi, dokumen terbuka, dan urutan kejadian, bukan menerobos sistem.

Karena itu Sebastian tahu satu hal: bila Robby menemukan sesuatu tentang Lia, informasi tersebut akan berhenti di meja kerjanya.

Sebelum kembali ke laporan proyek, Sebastian mengirim satu pesan singkat kepada Lia.

`Besok pagi, bawa kopi ke ruang baca. Jangan sarapan dulu.`

Balasan muncul hampir satu menit kemudian.

`Baik, Ko Sebas.`

Hanya empat kata, tetapi Sebastian membaca pesan itu dua kali.

***

Pukul enam tiga puluh pagi berikutnya, Lia diminta membawa kopi ke ruang baca kecil di lantai dua.

Saat masuk, ia menemukan Sebastian sudah bekerja di depan laptop. Di meja samping tersedia nasi tim ayam, telur, dan teh hangat untuk satu orang.

“Tutup pintunya,” kata Sebastian.

Lia melirik lorong sebelum menurut. “Ini semua untuk saya?”

“Perjanjian kita.”

“Saya bisa makan di dapur.”

“Di dapur orang keluar-masuk.”

Sebastian menggeser kursi di depannya. Lia duduk sambil menahan perasaan aneh. Ia mengenakan seragam rumah sederhana, sedangkan pria di seberang meja memakai kemeja kerja dan membaca laporan bernilai miliaran. Perbedaan dunia mereka terlihat bahkan dari kedua pasang tangan yang berada di atas meja.

“Makan,” katanya tanpa melihat ke atas.

Lia mengambil sendok.

Kali ini tak ada tatapan mengawasi setiap suap. Sebastian benar-benar bekerja, memberi Lia ruang untuk menghabiskan makanan dengan tenang. Ketika mangkuk hampir kosong, panas mulai naik ke wajahnya.

Wangi manis perlahan mengisi ruang baca.

Jari Sebastian berhenti di papan ketik.

Mata mereka bertemu.

Lia menelan suapan terakhir dan berbisik, “Ko Sebas sengaja tidak membuka jendela?”

“Kalau dibuka, wanginya keluar ke lorong.”

Jawaban itu masuk akal. Namun cara Sebastian kembali menatap layar dengan rahang sedikit tegang memberi tahu Lia bahwa bukan hanya keamanan rahasia yang membuat jendela tetap tertutup.

Ia cepat-cepat menunduk.

Setelah sarapan, Sebastian memberinya sekotak permen jahe. “Kalau perutmu sakit sebelum aku pulang, makan satu. Jangan menunggu sampai lemas.”

“Permen tidak membuat kenyang.”

“Itu untuk sementara. Kirim pesan kalau perlu makan penuh.”

Lia menerima kotak tersebut. Tidak ada seorang pun yang pernah mengatur waktu makannya dengan perhatian sebanyak ini.

“Terima kasih, Ko Sebas.”

“Bawa mangkuknya. Popo bisa curiga kalau melihat.”

***

Di lantai bawah, Bryan langsung menggeliat saat Lia mengangkatnya dari keranjang. Hidung kecil bayi itu bergerak, lalu pipinya menempel pada leher Lia yang masih hangat.

Popo mengamati dari kursi rotan.

“Sekarang wajahmu lebih segar,” katanya. “Akhirnya makan yang benar?”

Lia hampir menjatuhkan botol susu. “Iya, Popo.”

“Bagus. Jangan sampai Popo harus mengawasimu terus.”

Dari tangga, Sebastian turun sambil memasang jam tangan. Pandangannya singgah pada Lia dan mangkuk kosong di tangannya. Lia membalas sekilas, lalu menepuk punggung Bryan seolah tak terjadi apa-apa.

Satu tatapan pendek itu terasa seperti rahasia kedua.

***

Menjelang sore, Sebastian sedang di dalam mobil menuju lokasi rapat ketika Robby menelepon.

“Baru dapat garis besarnya,” kata Robby. Suaranya tak lagi mengandung gurauan. Terdengar bunyi kertas dibalik. “Alamat dan keluarganya cocok. Tapi, Bos, keluarga perempuan ini bermasalah. Ada utang dan sejumlah uang yang dikaitkan langsung dengan Lia.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!