Bagi Bara Mahendra, lima belas tahun lalu adalah malam jahanam yang merenggut segalanya. Di bawah guyuran hujan lebat, ia dipaksa menyaksikan kematian tragis kedua orang tuanya akibat sabotase keji.
Sebuah nama yang dibisikkan sang ibu sebelum mengembuskan napas terakhir melekat abadi di kepala Bara: Darma Amartya. Sejak detik itu, Bara bersumpah akan menukar masa mudanya demi satu tujuan tunggal—balas dendam.
Kini, Bara kembali sebagai pengusaha muda yang dingin, genius, dan penuh taktik. Baginya, kematian terlalu instan dan mudah untuk seorang Darma.
Pria tua itu harus merasakan penderitaan yang jauh lebih menyiksa, yaitu melihat permata paling berharga dalam hidupnya hancur berkeping-keping: Senja Amartya, putri tunggalnya.
Senja adalah perwujudan dari namanya sendiri, hangat, tulus, dan murni. Ia tidak tahu-menahu tentang dosa masa lalu sang ayah. Ketika perusahaan ayahnya berada di ambang kebangkrutan, Bara hadir layaknya seorang kesatria penyelamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun yang di Suntikkan Secara Perlahan
Kebebasan Senja telah direnggut sepenuhnya. Kode akses pintu apartemen telah diganti oleh Rian, menjadikannya tahanan rumah yang mutlak.
Namun, bagi Bara Mahendra, mengurung fisik Senja saja belum cukup untuk memuaskan dahaga dendamnya. Ia ingin menghancurkan mental gadis itu, meremukkan harga dirinya sebagai seorang istri hingga tak tersisa serpihan pun.
Kesempatan itu datang dalam wujud seorang wanita bernama Olivia Wijaya. Olivia adalah seorang desainer interior terkemuka sekaligus putri dari mitra bisnis strategis Mahendra Capital. Sejak lama, Olivia menaruh hati pada Bara. Baginya, pernikahan mendadak Bara dan Senja hanyalah sebuah transaksi bisnis yang tidak didasari cinta, dan hal itu membuatnya merasa masih memiliki peluang besar untuk menggeser posisi Senja.
Bara mengetahui hal itu. Dan dengan licik, ia memutuskan untuk memanfaatkan perasaan Olivia sebagai instrumen baru untuk menyiksa Senja.
______________________________________________
Malam itu, jam dinding baru menunjukkan pukul setengah tujuh. Senja baru saja selesai menata hidangan makan malam di atas meja saat pintu lift apartemen berdenting terbuka. Ia segera merapikan celemeknya dan berdiri dengan patuh di dekat meja makan, bersiap menyambut suaminya seperti biasa.
Namun, langkah kaki yang terdengar bukan hanya milik Bara. Ada ketukan sepatu hak tinggi yang berirama centil menggema di lorong lobi.
Senja mendongak, dan jantungnya seketika mencelos.Bara melangkah masuk, namun ia tidak sendiri. Di lengan kanannya, bergelayut manja seorang wanita cantik dengan gaun merah ketat yang mengekspos bahu indahnya. Wanita itu tertawa renyah, menatap Bara dengan pandangan penuh pujaan. Bara sendiri tampak tidak keberatan, ia bahkan membiarkan kedekatan intim tersebut sesuatu yang tidak pernah ia berikan pada Senja.
"Ah, jadi ini apartemenmu, Bara? Indah sekali," ucap Olivia dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Pandangannya kemudian beralih pada Senja yang berdiri mematung di samping meja makan. Olivia meneliti penampilan Senja yang polos tanpa riasan, mengenakan pakaian rumahan yang sederhana dan dilapisi celemek.
"Oh... jadi ini 'istri' yang dibicarakan media itu? Kupikir dia pelayan barumu."
Kalimat itu meluncur begitu saja, tajam dan merendahkan. Senja mengepalkan tangan di balik celemek, mencoba menahan rasa sakit yang mendadak menghantam dadanya. Ia menatap Bara, berharap pria yang secara sah adalah suaminya itu akan membelanya, atau setidaknya menegur ketidaksopanan tamu tersebut.
Namun, Bara justru tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang langsung membunuh harapan Senja.
"Dia memang yang mengurus seluruh lantai ini, Olivia," sahut Bara datar, matanya menatap Senja dengan pandangan yang kosong dan meremehkan.
"Senja, ambilkan piring dan sendok tambahan untuk Olivia. Malam ini dia akan makan malam bersama kita."
Senja menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa begitu kering dan perih.
"Baik, Mas Bara," cicitnya lirih.
"Sudah kubilang, jangan panggil aku dengan sebutan itu di rumah ini," potong Bara ketus, suaranya mendadak berubah tajam, membuat Olivia di sampingnya sedikit terkejut namun kemudian tersenyum puas.
"Panggil aku seperti pelayan memanggil majikannya jika kau lupa posisimu."
Air mata Senja hampir saja tumpah di depan wanita asing itu, namun ia memaksakan diri untuk berbalik dan berjalan menuju dapur. Di balik dinding pembatas dapur, Senja meremas dadanya yang terasa sesak luar biasa. Dihina secara privat oleh Bara adalah satu hal, namun direndahkan di depan wanita lain yang jelas-jelas menyukai suaminya adalah jenis rasa sakit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
______________________________________________
Makan malam itu berubah menjadi panggung sandiwara yang kejam bagi Senja. Ia tidak diizinkan duduk di meja makan. Bara memerintahkannya untuk tetap berdiri di dekat sudut ruangan, bersiap melayani jika Olivia atau dirinya membutuhkan sesuatu.
Sepanjang makan malam, Olivia tidak berhenti menunjukkan kemesraan. Wanita itu dengan sengaja menyuapkan sepotong daging ke mulut Bara.
"Bara, coba ini. Masakan... pelayanmu ini lumayan juga, tapi rasanya agak kurang bumbu. Lain kali, biar aku saja yang memasakkan steak kesukaanmu di sini, ya?"
Bara menerima suapan itu, matanya tetap melirik ke arah Senja yang berdiri di sudut. Ia ingin melihat bagaimana reaksi gadis itu. Ketika ia melihat tangan Senja yang bergetar hebat dan kepalanya yang kian menunduk dalam, ada rasa kepuasan batin yang aneh di hati Bara, walau di sudut hatinya yang lain, ada sedikit denyutan tidak nyaman yang langsung ia abaikan.
"Tentu. Masakanmu pasti jauh lebih baik daripada apa yang ada di meja ini," jawab Bara dengan nada memuji yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh Senja.
Olivia memekik senang. Ia kemudian sengaja menjatuhkan garpunya ke atas lantai marmer, menciptakan suara dentingan yang nyaring.
"Ups, maaf. Tanganku licin," ucap Olivia manja, lalu menatap Senja dengan pandangan memerintah.
"Hei, bisa ambilkan garpu yang baru? Dan tolong bersihkan lantai yang terkena noda saus ini."
Senja melangkah maju dengan kepala tertunduk. Ia berlutut di dekat kursi Olivia, mengambil garpu yang kotor, lalu mengeluarkan selembar tisu dari sakunya untuk mengelap sisa saus di lantai. Saat ia berada dalam posisi serendah itu, Olivia dengan sengaja menggerakkan kaki jenjangnya, membuat ujung sepatu hak tingginya menyenggol punggung tangan Senja dengan kasar hingga tergores.
Senja memekik pelan, menarik tangannya yang kini memerah.
"Oh, maaf ya. Aku tidak sengaja. Habisnya kamu terlalu dekat dengan kakiku," ucap Olivia tanpa nada bersalah sedikit pun.
Bara melihat kejadian itu dengan jelas. Ia tahu Olivia melakukannya dengan sengaja. Namun, bukannya menolong istrinya, Bara justru menyesap wine-nya dengan tenang.
"Senja, jika sudah selesai, bawa garpu kotor itu ke belakang. Dan jangan kembali ke ruangan ini sampai Olivia pulang. Kehadiranmu mengganggu selera makan kami."
Air mata yang sejak tadi ditahan Senja akhirnya jatuh menghujam lantai marmer. Ia segera berdiri, memeluk garpu kotor itu di dadanya, dan berlari kecil menuju dapur dengan tubuh yang gemetar hebat akibat tangis yang tertahan.
Di dalam dapur yang sepi, Senja luruh ke lantai. Ia membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan agar suara tangis keputusasaannya tidak terdengar sampai ke meja makan, di mana suara tawa renyah Olivia dan suara berat Bara masih terdengar bersahut-sahutan.
Malam itu, Senja menyadari bahwa Bara Mahendra tidak hanya ingin menghukum ayahnya lewat dirinya. Pria itu ingin menguliti seluruh harga diri, perasaan, dan jiwanya sampai ia benar-benar hancur berkeping-keping tanpa sisa.
Bersambung