NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Orang Baik Selalu Mendapat Karma Baik

Langkah kaki Bumi terasa makin berat menyusuri tepian jalan raya besar yang gersang. Asap kendaraan yang sesekali melintas membuat dadanya terasa sesak, berbaur dengan debu jalanan yang menempel di luka-luka memarnya. Di pundaknya, tas karung goni kusam itu setumpuk dengan kebingungan yang berkecamuk di kepalanya. Bumi menghentikan langkahnya sejenak di bawah bayangan papan reklame besar yang kosong. Ia menatap ke kanan dan ke kiri, jalanan panjang membentang tanpa ujung yang jelas.

"Gua harus kemana sekarang ya?" bisik Bumi pada diri sendiri, suaranya terdengar parau. "Uang dari Mak Sumi gak seberapa, kalau cuma luntang-lantung di pinggir jalan begini bisa-bisa mati kelaparan."

Bumi menghela napas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang mulai diserang rasa cemas. Ia tahu ia harus tetap sabar, tapi kenyataan bahwa ia tidak memiliki tujuan sama sekali membuat lututnya terasa lemas.

Tin! Tiiiiin!

Suara klakson nyaring mendadak mengejutkannya dari arah belakang. Sebuah mobil bak terbuka berwarna hitam yang mengangkut tumpukan keranjang kosong bekas sayuran berhenti tepat di sampingnya. Debu jalanan sempat mengepul tipis saat mobil itu mengerem.

"Bumi! Luar biasa, beneran kamu ternyata!" seru seorang pria paruh baya dari kaca jendela mobil yang diturunkan.

Bumi mengerjapkan matanya, mengenali wajah pria di balik kemudi tersebut. "Eh, Kang kardi? Kang Kardi mau kemana, Kang?"

Kang Kardi adalah salah satu petani sukses di Desa Sukamaju yang terkenal netral dan jarang ikut campur urusan politik desa. Beliau sering bolak-balik keluar daerah untuk menjual hasil panen ladangnya.

"Gua mau jalan ke ibu kota, Bum. Mau ngirim barang sekalian ngambil setoran. Lah, kamu sendiri mau kemana jalan kaki bawa karung begini siang bolong?" tanya Kang Kardi, wajahnya menaruh simpati yang mendalam.

Bumi tersenyum kecut sambil membenarkan posisi karungnya. "Saya... saya juga gak tahu mau kemana, Kang. Yang penting jalan aja dulu menjauh dari desa."

Kang Kardi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah kesal. "Gua udah dengar semuanya, Bum. Kemarin malam pas gubugmu dibakar, gua lagi di desa sebelah. Pas pulang subuh tadi, gua kaget dengar cerita dari Pak Jaya kalau kamu diusir secara sepihak sama Kepala Desa gara-gara ulah si Doni. Bener-bener keterlaluan itu orang-orang!"

"Ya mau gimana lagi, Kang. Pengaruh Pak Kades kuat banget di desa, saya gak bisa ngelawan," ucap Bumi pasrah.

"Gua tahu kamu anak baik, Bum. Almarhum bapakmu dulu sering bantu gua di ladang waktu awal-awal gua merintis. Gak mungkin darah dagingnya jadi maling budiman kayak yang dituduhin si Doni kunyuk itu. Pasti kamu dijebak, kan?"

Bumi menunduk, matanya agak berkaca-kaca karena akhirnya ada warga lain yang mengerti posisinya tanpa harus ia jelaskan panjang lebar. "Iya, Kang. Tapi sudahlah, nasi sudah jadi bubur. Rumah saya juga udah rata sama tanah."

"Sudah, gak usah sedih terus. Daripada kamu bingung luntang-lantung di pinggir jalan raya begini, mending kamu naik ke mobil gua. Ikut gua ke ibu kota. Mau gak? Gratis, gak usah bayar ongkos!" tawar Kang Kardi sambil membuka pintu depan sebelah kiri.

Bumi tertegun mendengar tawaran itu. "Ke ibu kota, Kang? Tapi... saya gak punya saudara di sana, gak punya kenalan sama sekali. Apa gak merepotkan Kang Kardi nanti?"

"Halah, merepotkan apa sih! Gua kan cuma ngasih tumpangan sampai sana. Kebetulan gua jalan sendirian, gak ada teman ngobrol, malah bagus kalau ada kamu jadi gua gak ngantuk di jalan. Ayo, buruan naik! Keburu siang banget nih," desak Kang Kardi ramah.

Bumi melihat ke arah tas karungnya, lalu melihat ke arah jalanan besar di depannya. Pintu kesempatan seolah mendadak terbuka di tengah keputusasaannya. "Baik, Kang. Terima kasih banyak ya, Kang Kardi. Kebaikan Kang Kardi bener-bener penyelamat buat saya."

Bumi segera naik ke dalam kabin mobil bak tersebut, meletakkan tas karung goninya di bawah kaki, lalu menutup pintu dengan rapat. Mobil bak hitam itu kembali melaju, membelah jalan raya besar meninggalkan area Desa Sukamaju sejauh mungkin.

Perjalanan menuju ibu kota memakan waktu berjam-jam. Di dalam kabin mobil yang bergetar akibat mesin yang menderu, Kang Kardi mulai membuka obrolan demi memecah keheningan, sekaligus memberikan pandangan hidup kepada pemuda di sampingnya.

"Bum, kamu harus tahu, ibu kota itu beda jauh sama Desa Sukamaju. Di sana itu dunianya keras, lebih keras dari batu batako yang biasa kamu angkat waktu jadi kenek bangunan," kata Kang Kardi sambil fokus menatap jalan di depan.

Bumi menoleh, menyimak dengan saksama. "Kerasnya gimana, Kang? Apa orang-orangnya suka main hakim sendiri juga kayak si Doni?"

"Bukan cuma main hakim sendiri, Bum. Di sana itu kalau kamu lemes sedikit, kamu bakal keinjek-injek sama keadaan. Orang-orang di kota itu cuek-cuek, gak kayak di desa yang masih ada gotong royongnya. Di sana, lu mati kelaparan di pinggir jalan pun, belum tentu ada orang yang mau nengok," jelas Kang Kardi realistis.

"Ngeri juga ya, Kang. Terus kalau orang kayak saya yang gak punya ijazah, apa bisa bertahan di sana?" tanya Bumi agak ragu.

"Bisa! Sangat bisa, asalkan kamu pegang satu prinsip penting," Kang Kardi melirik Bumi sekilas. "Jangan pernah hilangin sifat sabar sama ketekunanmu yang selama ini kamu punya di desa. Di kota, banyak orang pintar, orang berijazah tinggi, tapi mereka malas dan gampang menyerah. Orang kayak kamu, yang mau kerja apa aja asalkan halal, justru yang biasanya dicari sama bos-bos besar di sana."

"Saya mah kalau kerjaan kasar gak pernah takut, Kang. Jadi kuli bangunan lagi atau kuli panggul juga saya siap, yang penting ada tempat buat berteduh sama bisa makan sehari tiga kali," jawab Bumi dengan nada mantap.

"Nah, itu modal utamamu, Bum. Nanti sesampainya di kota, gua bakal turunin kamu di daerah dekat pasar induk tempat gua biasa nyetor sayur. Di sana banyak gudang-gudang besar. Kamu coba tanya-tanya ke mandor di sana, biasanya mereka selalu butuh tenaga kuli bongkar muat malam hari. Kerjanya capek, tapi duitnya lumayan lancar buat modal awal kamu bertahan hidup."

"Wah, info yang berharga banget, Kang. Makasih banyak. Saya pasti bakal langsung nyari mandornya begitu kita sampai," ucap Bumi penuh semangat, rasa sakit di tubuhnya seolah sedikit berkurang mendengar secercah harapan tersebut.

Mobil bak terbuka itu terus melaju, melewati perbatasan antar kota, pemandangan sawah hijau lambat laun berubah menjadi deretan ruko-ruko dan pabrik-pabrik besar di pinggir jalan.

"Bum, satu lagi nasihat dari gua," kata Kang Kardi, nadanya berubah menjadi lebih serius. "Gua tahu kamu pergi dari desa membawa luka hati yang dalam gara-gara fitnah itu. Tapi gua minta, jangan pernah kamu simpan dendam di hatimu. Dendam itu cuma bikin langkahmu berat di kota orang."

Bumi terdiam sebentar, menatap lurus ke arah dasbor mobil. "Jujur, Kang... awalnya saya merasa dunia ini gak adil banget sama saya. Saya sedih, rumah peninggalan orang tua saya dibakar sampai habis. Tapi kalau diingat lagi, dendam juga gak bakal bikin rumah saya utuh lagi. Saya lebih milih fokus gimana cara buat nyambung hidup besok."

Kang Kardi tersenyum bangga, menepuk paha Bumi dengan tangan kirinya. "Pikiranmu dewasa, Bum. Bagus itu. Orang yang memfitnahmu pasti bakal dapat balasannya sendiri nanti, gak usah kamu yang tanganin. Hukum alam itu nyata, karma baik dibalas baik, karma buruk dibalas buruk. Buktinya sekarang, kamu diusir tapi malah dapat tumpangan langsung ke ibu kota kan? Itu karena kamu orang baik."

"Iya, Kang. Alhamdulillah, gusti Allah langsung gerakin hati Kang Kardi buat bantu saya," sahut Bumi tulus.

"Sama-sama, Bum. Saling bantu sesama manusia itu sudah kewajiban kita. Apalagi gua tahu betul kelakuan kamu di desa gimana."

Hari makin sore, kemacetan khas pinggiran ibu kota mulai menyambut kedatangan mobil bak Kang Kardi. Gedung-gedung tinggi pencakar langit yang belum pernah Bumi lihat sebelumnya mulai tampak menjulang di cakrawala, berkilauan diterpa cahaya matahari senja. Bumi menempelkan wajahnya ke kaca jendela, matanya berbinar-binar takjub melihat kemegahan yang asing tersebut.

Di dalam hatinya yang paling dalam, di tengah deru mesin mobil dan klakson kota yang bersahut-sahutan, Bumi mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Sebuah sumpah dan janji suci ia gaungkan di dalam batinnya sendiri.

"Bapak, Ibu... lihatlah, Bumi sudah sampai di ibu kota sekarang," ucap Bumi dalam hati, menatap deretan gedung tinggi di depannya. "Bumi berjanji, Bumi gak akan pernah menginjakkan kaki lagi di Desa Sukamaju sebelum Bumi sukses di kota orang. Bumi bakal buktiin ke Doni, ke Kepala Desa, dan ke semua orang yang sudah menghina dan memfitnah Bumi, kalau anak yatim piatu yang miskin ini bisa berdiri tegak dengan terhormat karena kejujuran dan kerja kerasnya."

Kang Kardi yang melihat perubahan ekspresi di wajah Bumi ikut tersenyum. "Gimana, Bum? Udah siap menaklukkan ibu kota?"

Bumi menoleh ke arah Kang Kardi, senyuman sabar namun penuh dengan ketegasan kini terukir jelas di wajahnya yang lebam. "Siap, Kang Kardi. Saya sudah sangat siap. Bismillah, mari kita mulai perjuangan ini."

Mobil bak itu terus melaju perlahan menembus kemacetan, membawa Bumi masuk lebih dalam ke jantung ibu kota, memulai lembaran hidup yang baru dengan sejuta harapan di pundaknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!