Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.
"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.
"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.
"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 ~ Cara Meluluhkan
Pagi itu, Garra sedang duduk di ruang kerjanya, fokus meneliti berkas-berkas di atas meja. Belum lama ia bekerja, pintu ruangan diketuk pelan.
"Masuk."
Ervan melangkah masuk, berdiri tegak di depan meja kerja.
"Tuan," ucapnya sopan. "Tuan Arthur ada di lobi bawah. Ia ingin bertemu dengan Anda, katanya ada urusan penting yang perlu dibicarakan langsung."
Garra tetap menunduk sejenak, jari-jarinya berhenti menyentuh kertas. Ia sudah bisa menebak arah kedatangan itu.
"Urusan apa?" tanyanya singkat.
"Ia menyebutkan soal keluarga dan juga soal kerja sama," jawab Ervan jujur.
Baru saat itu Garra mengangkat wajahnya, tatapannya datar dan dingin. Ia mengangguk pelan.
"Suruh dia naik."
"Baik, Tuan."
Ervan segera keluar untuk menyampaikan pesan itu. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka lagi dan Tuan Arthur masuk dengan langkah tegap, memasang senyum sopan di wajahnya.
"Selamat pagi, Garra. Maaf sekali mengganggu waktumu di jam kerja begini," sapanya lebih dulu dengan nada berusaha terdengar akrab. "Aku datang hari ini karena ada beberapa hal yang ingin kita bicarakan secara langsung, agar tidak ada kesalahpahaman lewat surat atau pesan saja."
Garra hanya menatapnya diam sejenak, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, tetap dengan ekspresi datar.
"Silakan."
Tuan Arthur melangkah mendekat, duduk tepat disebrang Garra, tetap menjaga sikap sopan namun matanya tak lepas mengamati reaksi Menantunya.
"Garra.. Sebenarnya kedatanganku kemari untuk membicarakan tentang hubungan kalian. Hezlin sudah mengatakannya padaku beberapa hari lalu, jika dia ingin mengajukan perceraian."
Wajah Garra masih tampak datar, mengamati setiap kata yang diucapkan oleh sang mertua.
"Aku yakin ini hanya soal emosi sesaat atau kesalahpahaman yang bisa diperbaiki, bukan keputusan yang benar-benar dipikirkan matang-matang."
Garra tetap diam mendengarkan, tidak menyela, tapi tatapannya makin terasa dingin dan tajam. Setelah Arthur selesai berbicara, ia baru membuka suara dengan nada datar dan lugas.
"Katakan intinya saja,"
Tuan Arthur sedikit menegakkan badan, lalu melanjutkan dengan nada yang dibuat sehalus dan semenarik mungkin, seolah sedang menawarkan solusi terbaik.
"Kau tentu tahu sifat wanita saat sedang marah bukan? kata-kata saja tidak cukup. Mereka butuh sesuatu yang cukup besar untuk melunakkan perasaan mereka, sesuatu yang bisa membuat mereka merasa dihargai dan dipikirkan."
Sudut bibirnya terangkat sedikit, menyampaikan maksud tersirat itu dengan halus namun tegas.
"Jadi kupikir, mungkin jika kau bersedia menerima usulan kerja sama kita di proyek pulau dan tambang itu... Hezlin akan melihatnya sebagai tanda bahwa hubungan ini masih punya tempat. Dia pasti akan berpikir ulang soal perceraian itu. Aku mengenal putriku sendiri dengan baik. Cara seperti pasti bisa meluluhkan hatinya."
Garra terdiam sejenak. Ia tahu ini siasat, tapi dalam hatinya juga mengakui selama ini hanya memberi materi, tak pernah memberi perhatian. Nyatanya Hezlin tetap pergi tanpa membawa barang pemberiannya sedikit pun.
Ia menatap lurus ke arah Tuan Arthur.
"Lalu bagaimana dengan perjanjian kontrak pernikahan kami? Bukankah masa berlakunya sudah habis? Hezlin pun sudah pergi dari rumah."
Tuan Arthur segera menggeleng tegas.
"Itu tidak berlaku lagi sekarang. Kita sudah terikat sebagai keluarga, bukan lagi soal kontrak kertas."
Garra berpikir sejenak. Mungkin ada benarnya juga. Dalam pembicaraan terakhir mereka, ia sempat menduga bahwa salah satu alasan Hezlin bertahan selama ini adalah demi menggunakan kekuasaannya untuk menopang perusahaan ayahnya. Jika dengan cara ini bisa membuat wanita itu kembali, mengapa tidak mencobanya?
"Baik. Aku setuju," ujarnya akhirnya dengan nada datar, lalu menekan syaratnya. "Tapi ingat, kerja sama ini tidak berjalan seenaknya. Seluruh rencana, laporan keuangan, dan setiap langkah yang diambil harus sepenuhnya dalam pengawasanku. Tidak ada keputusan yang bisa diambil tanpa persetujuanku terlebih dahulu."
Tuan Arthur segera tersenyum lebar, wajahnya berseri seolah baru mendapatkan kemenangan besar. Ia menepuk-nepuk meja pelan, nadanya berubah menjadi lebih hangat dan penuh rasa percaya.
"Baik! Aku mengerti! Kau memang menantuku yang selalu bisa aku andalkan. Syarat itu tidak masalah, aku terima semuanya. Yang penting kita bisa berjalan bersama seperti keluarga seharusnya."
Ia berdiri dengan semangat baru, seolah semua kekhawatirannya hilang seketika.
"Tenang saja, Garra. Aku akan segera bicara dengan Hezlin hari ini juga. Aku yakinkan dia untuk membatalkan niatnya itu dan kembali ke rumah. Percayalah, soal ini akan selesai dalam waktu singkat."
Namun di balik senyumnya yang tampak tulus itu, hatinya justru bersorak kemenangan. Baginya, syarat yang diajukan Garra hanyalah formalitas belaka selama pintu akses ke proyek dan tambang itu sudah terbuka, lambat laun ia akan menemukan celah untuk mengatur semuanya sesuai keinginannya sendiri.
Setelah berpamitan dengan nada yang lebih ramah dari sebelumnya, Tuan Arthur bergegas keluar ruangan dengan langkah yang lebih ringan, penuh rencana di dalam pikirannya.
Sementara itu, Garra hanya menatap punggungnya yang menjauh dengan tatapan datar dan dingin. Ia tahu betul apa yang ada di balik pikiran pria itu. Namun baginya, ini hanyalah cara untuk menguji apakah benar kepergian Hezlin hanya karena urusan perusahaan ayahnya, atau memang ada hal lain yang selama ini tak ia mengerti.
••
••
Sementara itu, di kantor Xabiru...
Hezlin membawa laporan yang telah ia selesaikan semalam, lalu melangkah masuk ke ruangan kerja Kael. Pria itu tampak sedang duduk menata berkas-berkas yang baru saja ditandatanganinya. Di samping meja, masih berdiri sekretarisnya.
"Maaf mengganggu," ucap Hezlin sopan.
Kael mengangkat wajahnya, lalu memberi isyarat agar ia mendekat.
"Hezlin. Tidak masalah. Ada apa?"
"Aku hanya ingin menyerahkan laporan yang diminta."
"Baiklah, berikan ke sini. Akan aku periksa dulu. Bella, kamu boleh keluar sebentar."
"Baik, Tuan."
Begitu pintu tertutup dan hanya tinggal mereka berdua, suasana terasa lebih santai. Kael membuka lembaran demi lembar, lalu tak lama kemudian mengangguk puas.
"Bagus... ini sudah sangat lengkap dan rapi."
"Terima kasih banyak, Tuan Kael."
Kael menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis dan berkata dengan nada yang lebih akrab.
"Tidak perlu seformal itu saat kita sedang berdua saja. Cukup panggil namaku saja."
Ia meletakkan berkas itu, lalu melanjutkan.
"Ngomong-ngomong, minggu depan akan diadakan pesta pertemuan tahunan kalangan pengusaha. Apakah kamu bersedia datang menemaniku ke sana?"
•
•
Bonus Visual:
•• Garra Xaverius Kingston ••
••• Hezlin Rayla Iyzebele •••
•••Felicia Atanica•••
•• Kael Erlang Xabiru ••
•
•
❤️