"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Siapa yang Berkuasa
"Saya yang menunjuknya sebagai pengelola sementara," jawab Nadhira.
Mbak Wati berdiri di antara mereka, jelas ingin menghilang ke balik dinding.
Rayhan menutup laporan. "Tinggalkan kami."
"Baik, Pak."
Setelah Mbak Wati pergi, Rayhan berjalan ke ruang kerja. Nadhira mengikutinya. Pintu tertutup, meninggalkan hawa tegang yang sejak tadi memenuhi lorong.
"Anda mengganti seluruh kunci, memecat pengelola rumah, dan mengangkat orang baru dalam satu hari tanpa memberi tahu saya," kata Rayhan.
"Saya mengirim pesan. Kamu sedang rapat dan tidak menjawab."
"Keputusan kerja memiliki akibat hukum dan administrasi."
"Karena itu saya meminta bagian administrasi menghitung hak Mbak Rini. Semua ada di laporan."
"Itu tidak mengubah fakta bahwa saya tahu setelah semuanya selesai."
Nadhira meletakkan kedua tangan di meja. "Dan saya tahu setelah Dinda sudah punya kunci, kamar, jadwal anak, serta orang yang melapor kepadanya bertahun-tahun."
Rayhan terdiam.
Nadhira membuka laporan pada halaman foto kunci. Ia menunjukkan label pintu samping, koper yang masih tersimpan, lalu pesan Dinda yang masuk di ponsel Mbak Rini saat teknisi bekerja.
"Mbak Rini menerima peringatan tertulis darimu. Setelah itu dia tetap mengirim jadwal PAUD Alif, waktu kamu pulang, menu Arkan, dan pergantian kunci. Kalau saya menunggu satu malam lagi untuk mendapat izin, Dinda punya satu malam lagi untuk mengetahui kode dan akses baru."
"Anda bisa membekukan akses tanpa langsung memecat."
"Sudah. Lalu dia membocorkan proses pembekuan itu juga."
Rayhan membaca pesan pratinjau. Rahangnya mengeras.
"Kenapa kamu tidak pernah mengambil kunci Dinda?" tanya Nadhira. "Kenapa barangnya masih ada di kamar seolah dia bisa kembali kapan saja?"
"Saya tidak tahu kunci itu masih ada."
"Itulah masalahnya. Semua orang mengira orang lain sudah memberi tahu kamu. Kamu diam, Dinda mengisi kekosongan, dan Mbak Rini menyebutnya keluarga."
Kemarahan Rayhan tidak hilang. Arahnya berubah.
Ia mengambil ponsel dan menelepon Dinda. Panggilan dijawab cepat.
"Mas Rayhan? Aku baru mau menghubungimu. Nadhira mengusir Mbak Rini dan membuang barang-barangku. Kamu tahu dia mulai menguasai semua orang?"
"Barang Anda tidak dibuang. Akan dikirim dengan daftar dan bukti penerimaan."
Dinda diam sesaat. "Kamu ada di sampingnya?"
"Dengar baik-baik. Anda tidak boleh masuk ke rumah saya, menghubungi staf, meminta jadwal anak, atau menyimpan kunci."
Suara Dinda berubah lembut. "Aku cuma menjaga Arkan. Dini pasti tidak tenang kalau tahu anaknya diserahkan kepada perempuan yang baru dikenal."
"Jangan gunakan Dini untuk melanggar batas anak saya."
"Aku adiknya! Aku satu-satunya keluarga dari pihak ibunya."
"Hubungan darah bukan izin mengambil data dan akses rumah."
Tangis terdengar di seberang. Dinda terisak begitu cepat hingga Nadhira teringat cara Bu Sumini mengubah diri menjadi korban ketika terpojok.
"Mas Rayhan sekarang membenciku karena dia," katanya. "Setelah semua yang kulakukan untuk Arkan, kamu memilih orang asing."
"Nadhira istri saya. Dia bukan orang asing di rumah ini."
Tangis itu berhenti sepersekian detik.
"Mulai malam ini," lanjut Rayhan, "semua komunikasi tentang Arkan melalui saya. Jangan hubungi staf lagi."
Ia mengakhiri panggilan tanpa menunggu jawaban.
Ponselnya langsung berdering lagi, kali ini dari nomor lain.
"Fajar," kata Rayhan setelah melihat layar.
Nadhira mengenali nama itu dari peta hubungan yang pernah dijelaskan pengacara. Fajar Wicaksono, suami Dinda.
Rayhan mengaktifkan pengeras suara.
"Mas Rayhan, maaf," ujar Fajar. Suaranya lelah. "Dinda baru menelepon saya sambil menangis. Saya tidak mau ikut campur rumah tangga Anda, tapi saya juga tidak mau keadaan makin buruk."
"Istri Anda meminta staf saya mengirim jadwal anak dan menyimpan kunci rumah."
Fajar mengembuskan napas panjang. "Saya tidak tahu soal kunci."
"Sekarang Anda tahu."
"Saya akan pastikan barang dan kuncinya tidak kembali dipakai."
Ada jeda. Ketika bicara lagi, suara Fajar lebih rendah.
"Sejak Kak Dini meninggal, Dinda sulit melepaskan keluarga itu. Dia tidur buruk, memeriksa kabar Arkan terus, dan marah kalau ada orang menyarankan psikolog. Saya sudah mengajaknya mencari bantuan profesional. Dia selalu bilang semua orang ingin menghapus kakaknya."
"Duka tidak membenarkan pelanggaran akses."
"Saya tahu." Fajar terdengar semakin letih. "Pernikahan kami juga terdampak. Dia sering pergi tanpa memberi tahu, lalu menyebut rumah Anda sebagai tempat yang seharusnya dia jaga. Saya tidak mengatakan dia tidak waras. Saya mengatakan perilakunya sejak kehilangan itu makin sulit dikendalikan dan dia menolak bantuan."
Nadhira menghargai perbedaan tersebut. Masalah Dinda bukan alasan untuk mengejek kesehatan mental, tetapi juga tidak boleh dijadikan kebal dari konsekuensi.
"Mas Fajar," kata Nadhira mendekati ponsel. "Apakah Dinda pernah membicarakan anak anjing?"
Fajar tampak terkejut mendengar suaranya. "Bu Nadhira?"
"Iya. Beberapa hari sebelum Kopi datang, Dinda sudah tahu Rayhan akan membawa anak anjing hitam."
Hening cukup lama.
"Dia membeli mangkuk dan tali anjing sekitar dua minggu sebelum pernikahan kalian," jawab Fajar. "Saya tanya untuk apa. Katanya Mas Rayhan pasti akan membawa anjing hitam ke rumah setelah Arkan mulai dekat dengan keluarga baru. Saya kira dia mendengar dari orang kantor."
Rayhan menatap Nadhira. "Saat itu hanya Gilang dan tempat adopsi yang tahu."
"Dinda tidak kenal Gilang sedekat itu," kata Fajar. "Setidaknya setahu saya."
"Apakah dia sering mengatakan hal yang belum terjadi?" tanya Nadhira.
"Kadang dia bicara seolah sudah tahu hasil keputusan orang. Proyek mana yang akan berhasil, siapa yang akan pindah, kapan harga barang naik. Kalau salah, dia bilang cuma menebak. Kalau benar, dia menganggapnya bukti bahwa kami harus mendengarkan."
"Sejak kapan?"
"Beberapa tahun terakhir. Setelah kematian Kak Dini, kebiasaan itu makin kuat."
Rayhan menulis sesuatu di tepi laporan. "Jangan beri tahu Dinda kita membahas ini."
"Baik. Saya juga ingin tahu dari mana dia mendapat semua informasi itu."
"Jaga dia agar tidak datang ke sini," kata Rayhan. "Kalau dia menerobos, keamanan akan memperlakukannya seperti penyusup lain."
"Saya mengerti."
Panggilan berakhir.
Rayhan menyimpan catatan tentang prediksi Dinda di dalam laporan keamanan, lengkap dengan tanggal dan keterangan Fajar sebagai sumber.
Ruang kerja kembali sunyi. Rayhan menatap laporan pemecatan, lalu menandatangani halaman persetujuan administrasi.
"Mbak Wati boleh menjadi pengelola sementara," katanya. "Evaluasi tiga puluh hari."
"Saya setuju."
"Lain kali, bekukan akses segera kalau ada bahaya. Tapi beri tahu saya sebelum keputusan kerja final, bahkan jika harus meminta Gilang masuk ke ruang rapat."
"Dan kamu harus memberi saya akses ke informasi rumah sebelum orang lain menggunakannya melawan kita."
"Setuju."
Itu bukan kemenangan salah satu pihak. Itu cara dua orang belajar membagi rumah yang sebelumnya hanya memiliki satu pemilik dan terlalu banyak bayangan.
Nadhira menutup laporan. "Terima kasih sudah mendengarkan."
Rayhan menatapnya. "Mulai sekarang, ini rumahmu. Kamu yang memutuskan."