NovelToon NovelToon
ASISTEN DUDA TAJIR MELINTIR

ASISTEN DUDA TAJIR MELINTIR

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda
Popularitas:724
Nilai: 5
Nama Author: Flaura Charisma

Asisten Duda CEO Tajir Melintir

Grizella Madeline Dealova, seorang anak magang yang ambisius dan berani, tidak pernah menyangka akan terlibat dengan Galaxy Adelion Wesley, CEO kaya raya yang dingin dan terluka karena pengkhianatan masa lalu.

Pertemuan mereka dipenuhi pertengkaran, tetapi perlahan rasa benci berubah menjadi ketertarikan. Saat Galaxy memintanya menjadi asisten pribadi dan tinggal bersamanya, keduanya mulai menghadapi perasaan yang tidak bisa mereka hindari.

Namun, ketika cinta mulai tumbuh, mantan istri Galaxy kembali membawa rahasia lama yang mengancam hubungan mereka.

Akankah Grizella menjadi alasan Galaxy kembali percaya pada cinta, atau justru menjadi luka baru dalam hidup sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3 menit menuju kehancuran

"Sistem penghancuran tersisa tiga menit."

Suara mekanis itu bergema di setiap sudut markas Black Haven.

Lampu merah terus berkedip.

Debu mulai berjatuhan dari langit-langit.

Galaxy menatap Leonard dengan sorot mata tajam.

"Kalau kau datang hanya untuk mempermainkan kami..."

"Menyingkirlah."

Leonard tersenyum tipis.

"Aku datang untuk memberimu kesempatan terakhir."

Galaxy tidak bergeming.

"Aku tidak pernah meminta kesempatan darimu."

Grizella melangkah maju.

"Cukup!"

Tatapannya tajam menembus mata Leonard.

"Selama ini hidup saya dipenuhi kebohongan."

"Kalau memang masih ada rahasia..."

"Katakan sekarang."

Leonard mengangguk perlahan.

"Baik."

"Tapi bersiaplah membenci semua orang yang ada di ruangan ini."

Suasana mendadak membeku.

Leonard mengangkat foto lama yang dibawanya.

Di dalam foto itu terlihat dua keluarga sedang tersenyum.

Keluarga Hart.

Dan keluarga Wesley.

Di tengah mereka terdapat seorang bayi yang digendong bergantian.

"Bayi itu adalah Grizella."

kata Leonard.

Galaxy memperhatikan foto itu dengan saksama.

Alexander tampak mulai mengingat sesuatu.

"Aku pernah melihat foto ini..."

gumamnya.

Leonard melanjutkan,

"Dua keluarga ini dulu bukan musuh."

"Mereka adalah sekutu."

Adrian mengangguk pelan.

"Itu benar."

"Kami bekerja sama membangun jaringan bisnis internasional."

"Termasuk mendirikan dana amal dan pusat riset."

Grizella mengerutkan kening.

"Lalu kenapa semuanya berubah?"

Leonard menatap Elena.

"Karena pengkhianatan."

Elena menutup matanya.

"Bukan."

"Aku tidak pernah mengkhianati siapa pun."

Leonard tertawa kecil.

"Tapi keputusanmu membuat semuanya hancur."

Galaxy menoleh kepada Elena.

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

Elena menarik napas panjang.

"Dua puluh tahun lalu..."

"Keluarga Wesley dan keluarga Hart sepakat melindungi sebuah penemuan yang bisa mengubah dunia bisnis."

Grizella terlihat bingung.

"Penemuan?"

Alexander mengangguk.

"Sebuah sistem keamanan finansial."

"Teknologi yang tidak boleh jatuh ke tangan siapa pun."

Aaron terkejut.

"Jadi selama ini..."

"The Black Crown bukan mengejar uang."

"Mereka mengejar teknologi itu."

Adrian membenarkan.

"Ya."

"Dan akses terakhir menuju sistem itu..."

Ia memandang Grizella.

"...disembunyikan melalui identitas Grizella."

Grizella membeku.

"Saya?"

Elena mengangguk.

"Sejak kau lahir."

"Kau menjadi kunci terakhir."

Galaxy mengepalkan tangannya.

"Berarti seluruh hidup Grizella dijadikan tameng?"

Elena menjawab dengan mata berkaca-kaca.

"Aku tidak punya pilihan."

"Kalau aku tidak melakukannya..."

"The Black Crown akan membunuhnya."

Grizella perlahan memegang tangan ibunya.

Meski hatinya terluka...

Ia mulai memahami betapa berat keputusan yang harus diambil Elena.

"Sistem penghancuran tersisa dua menit."

Suara alarm kembali menggema.

Aaron menatap panel keamanan.

"Kita harus pergi sekarang!"

Namun Leonard masih berdiri di depan pintu keluar.

"Aku belum selesai."

Galaxy melangkah maju.

"Kalau begitu singkirkan aku."

Tatapan kedua pria itu saling bertemu.

Tidak ada lagi kata-kata.

Hanya ketegangan yang memenuhi ruangan.

Dan tepat saat Galaxy bersiap melewati Leonard...

Suara ledakan keras terdengar dari lorong utama.

BOOM!

Lantai berguncang hebat.

Jalan keluar yang mereka incar runtuh oleh reruntuhan beton.

Kini...

Mereka benar-benar terjebak di dalam markas Black Haven.

Debu tebal memenuhi lorong.

Pecahan beton berjatuhan dari langit-langit.

Jalan keluar utama kini tertutup total oleh reruntuhan.

Aaron segera memeriksa kondisi semua orang.

"Semua baik-baik saja?"

Grizella mengangguk pelan.

Galaxy meraih bahunya, memastikan tidak ada yang terluka.

"Kau tidak apa-apa?"

"Saya baik."

Baru setelah mendengar jawaban itu, Galaxy mengembuskan napas lega.

"Sistem penghancuran tersisa satu menit lima puluh detik."

Suara peringatan kembali terdengar.

Adrian memandang lorong yang runtuh.

"Masih ada satu jalan."

Alexander langsung menoleh.

"Jalur evakuasi lama?"

Adrian mengangguk.

"Tapi pintunya berada di ruang pusat energi."

Aaron menggeleng.

"Itu sisi paling berbahaya."

Galaxy mengambil keputusan tanpa ragu.

"Kita tetap ke sana."

Leonard masih berdiri beberapa langkah dari mereka.

Namun kali ini ekspresinya berubah.

"Galaxy."

"Kalau kalian masuk ke ruang pusat energi..."

"Kemungkinan untuk keluar hidup-hidup sangat kecil."

Galaxy menatapnya tajam.

"Kalau begitu jangan menghalangi."

Leonard tersenyum pahit.

"Aku tidak menghalangi."

"Aku justru ingin memperingatkanmu."

Galaxy tidak menjawab.

Ia tetap memilih memimpin semua orang menuju lorong sempit di sisi kanan.

Mereka berlari melewati koridor yang mulai dipenuhi asap.

Pipa-pipa di langit-langit pecah satu per satu.

Percikan listrik menyambar dinding.

Grizella yang mulai kelelahan sedikit terhuyung.

Galaxy segera menangkap tangannya.

"Pegang aku."

"Saya masih bisa berjalan."

"Aku tahu."

"Tapi aku tidak mau mengambil risiko."

Tanpa menunggu protes, Galaxy tetap menggenggam tangan Grizella erat.

Untuk pertama kalinya...

Grizella tidak lagi berusaha melepaskannya.

Di ujung lorong, mereka menemukan pintu baja besar bertuliskan:

PUSAT ENERGI

Aaron mencoba membuka panel elektronik.

"Terkunci."

Alexander memukul pintu itu pelan.

"Terlalu tebal."

Adrian memperhatikan simbol kecil di sudut panel.

"Ini memakai sistem lama."

Ia menoleh kepada Elena.

"Masih ingat kodenya?"

Elena mengangguk pelan.

Tangannya yang sedikit gemetar mulai memasukkan kombinasi angka.

7... 1... 9... 4...

Suara mekanis terdengar.

Klik!

Pintu perlahan terbuka.

Di dalam ruangan, mesin-mesin raksasa masih beroperasi.

Lampu indikator berkedip merah.

Di tengah ruangan terdapat sebuah konsol utama.

Aaron berlari menghampirinya.

"Wah..."

Galaxy mendekat.

"Apa?"

Aaron menunjuk layar.

"Penghancuran masih bisa dihentikan."

Semua orang langsung melihat secercah harapan.

"Lalu kenapa tidak segera dilakukan?"

tanya Grizella.

Aaron terdiam beberapa detik.

Karena ada satu kalimat lain di layar.

"Penghancuran dapat dibatalkan dengan otorisasi pemimpin The Black Crown."

Ruangan kembali sunyi.

Semua orang perlahan menoleh ke arah satu orang.

Selena Ashcroft.

Namun wanita itu tidak ada di sana.

Yang berdiri di ambang pintu justru Leonard Wesley.

Ia menatap layar itu cukup lama.

Kemudian berkata dengan suara pelan,

"Aku masih memiliki akses itu."

Galaxy mengernyit.

"Kau?"

Leonard mengangguk.

"Tapi setelah aku membatalkannya..."

"Aku ingin kalian mendengar seluruh kebenaran tentang malam ketika keluarga Wesley hancur."

Galaxy menatap Leonard tanpa berkedip.

Ia tahu...

Keputusan dalam beberapa detik ke depan akan menentukan bukan hanya hidup mereka.

Tetapi juga masa depan keluarga Wesley dan Grizella.

Alarm darurat terus menggema di seluruh ruang pusat energi.

"Sistem penghancuran tersisa satu menit."

Lampu merah berkedip semakin cepat.

Semua orang menatap Leonard.

Galaxy melangkah maju.

"Kalau kau memang bisa menghentikan sistem ini..."

"Lakukan sekarang."

Leonard menggeleng pelan.

"Aku akan melakukannya."

"Tapi setelah itu, tidak ada lagi kebohongan di antara kita."

Galaxy mengepalkan tangan.

"Baik."

"Aku akan mendengarkan."

Leonard berjalan menuju konsol utama.

Ia meletakkan telapak tangannya pada pemindai biometrik.

Akses diterima.

Aaron membelalakkan mata.

"Dia benar..."

"Dia memang memiliki otorisasi."

Leonard mulai mengetik beberapa perintah.

Layar yang semula berwarna merah perlahan berubah menjadi kuning.

Hitungan mundur terus berjalan.

00:00:45...

00:00:44...

Seluruh ruangan dipenuhi ketegangan.

Beberapa detik kemudian...

Terdengar bunyi panjang.

Biiip...

Layar berubah hijau.

"Sistem penghancuran dibatalkan."

Lampu darurat perlahan kembali normal.

Semua orang mengembuskan napas lega.

Grizella memejamkan mata.

Air matanya kembali jatuh.

Mereka selamat.

Galaxy menatap Leonard.

"Sekarang."

"Katakan semuanya."

Leonard memandang Elena beberapa saat.

Kemudian mulai berbicara.

"Dua puluh tahun lalu..."

"Bukan Elena yang mengkhianati keluarga Wesley."

Semua orang terdiam.

Leonard melanjutkan.

"Orang yang sebenarnya menjual informasi kepada The Black Crown..."

"...adalah Victor Wesley."

Alexander membeku.

"Kakakku?"

Leonard mengangguk.

"Victor berpura-pura menghilang."

"Padahal dia bergabung dengan organisasi itu demi kekuasaan."

Elena menundukkan kepala.

"Aku mencoba menghentikannya."

"Tapi semuanya sudah terlambat."

Galaxy mengepalkan kedua tangannya.

"Jadi..."

"Keluargaku hancur karena Victor?"

Leonard mengangguk.

"Ya."

"Dan Elena justru menyelamatkan sebagian besar aset keluargamu."

Galaxy menoleh kepada Elena.

Wanita itu hanya tersenyum tipis.

"Aku berjanji kepada ayahmu."

"Aku akan melindungi masa depan keluarga Wesley."

Grizella menggenggam tangan ibunya.

"Jadi selama ini..."

"Ibu memikul semua tuduhan sendirian?"

Elena mengangguk perlahan.

"Kalau semua orang mengetahui kebenarannya..."

"Victor pasti akan memburumu sejak kau masih kecil."

Grizella langsung memeluk ibunya.

Kini ia akhirnya memahami pengorbanan yang selama ini disembunyikan Elena.

Tiba-tiba...

Tep... Tep... Tep...

Suara tepuk tangan terdengar dari pintu masuk.

Semua orang menoleh.

Selena Ashcroft kembali muncul.

Namun kali ini ia tidak sendirian.

Di sampingnya berdiri seorang pria berambut perak dengan jas hitam elegan.

Alexander langsung memucat.

"Mustahil..."

Galaxy mengikuti arah pandang Alexander.

Pria itu tersenyum tipis.

"Aku senang akhirnya kalian mengetahui sebagian kecil kebenaran."

Grizella mengernyit.

"Siapa dia?"

Pria itu melangkah maju.

"Aku akan memperkenalkan diri lagi."

"Namaku..."

"Victor Wesley."

Ruangan mendadak sunyi.

Alexander gemetar.

"Kakak..."

Victor tersenyum dingin.

"Sudah lama kita tidak bertemu."

Galaxy mengepalkan tangannya.

Kini ia mengerti.

Musuh yang selama ini mereka cari...

Ternyata masih hidup.

Dan berdiri tepat di hadapan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!