Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.
Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.9
Kampus di pagi itu begitu meriah, suara tawa mahasiswa bercampur dengan langkah kaki yang berisik disepanjang koridor. Beberapa kelompok tampak saling berdiskusi, sementara yang lain berjalan tergesa menuju ruang kuliah mereka.
Di tengah keramaian itu terlihat seorang gadis cantik bernama Aluna Anna melangkah memasuki area kampus. Rambutnya bergerak lembut tertiup angin, sementara senyum tipis menghiasi wajah cerahnya.
"Hai, Anna," sapa seorang pria tiba-tiba di sampingnya.
"Hai juga, Rasya," balas Anna sambil tetap melangkah menuju kelas.
"Santai saja, Anna. Dosen si botak itu tidak masuk hari ini," canda Rasya, teman sekelasnya.
"Pak Anton, bukan si botak, paham?" tegur Anna mengingatkan.
"Hehehe, aku cuma bercanda kok," jawab Rasya sambil cengengesan.
"Lain kali jangan ngomong buruk tentang Pak Amton, nanti kalau ada yang dengar, kamu bisa dilaporkan," Anna memperingatkan serius. "Aku kesal sama Pak Anton. Sampai sekarang laporan tugas-tugasku belum juga di-ACC, belum lagi skripsiku. Dia dosen paling judes yang pernah aku temui," keluh Rasya sambil curhat pada Anna.
" Makanya, jangan kebanyakan main perempuan," kata Anna dengan nada galak, membuat pria di sampingnya tampak kikuk. "Aku kan butuh hiburan, Anna," jawab pria itu sambil menatap Anna dalam-dalam.
"Jangan menatapku seperti itu, aku sudah punya Alvaro," ketus Anna sambil memolototi temannya saat menyadari tatapan itu.
"Salah ya? Aku cuma mengagumi wanita di sampingku, tapi sayang dia sudah milik orang." Tanpa sadar, Anna menepuk pundak pria itu agak keras hingga Rasya meringis.
" Hahahaha, Anna, aku cuma bercanda, hei tunggu...! Anna berlari kecil meninggalkan temannya yang mulai genit itu. Meski Rasya hanya bercanda, Anna tetap merasa tidak nyaman.
"Anna, aku minta maaf, tolong jangan dimasukin hati," napas Rasya terengah-engah mengejar Anna, memohon agar ucapannya tidak disalahpahami.
Langkah keduanya berbelok mantap melewati taman kampus yang ramai dengan mahasiswa menuju perpustakaan. Anna berpikir, lebih baik ke perpustakaan mumpung dosen tidak masuk hari ini. Sedangkan Rasya dengan setia mengekor kemana saja Anna pergi.
" Kita ini kayak sepasang kekasih, ya, An?" ujar Rasya dengan nada bercanda saat Anna baru melangkah masuk ke dalam ruangan.
Namun, ucapan itu membuat Anna berhenti sejenak.
"Kamu itu..." suara Anna terdengar penuh penekanan, semakin kesal.
"Bercanda kok," sahut Rasya sambil berlari masuk ke dalam perpustakaan dan langsung mengambil posisi di pojok, takut kena tamparan dari Anna.
"Kenapa wajahmu cemberut begitu, Anna?" tanya Mely, yang sejak tadi sudah duduk bersama laptop di depannya, ia memperhatikan Anna tidak secerah biasanya. "Hupps, gara-gara Rasya, darahku makin mendidih tiap kali dekat sama dia," jawab Anna sambil memejamkan mata.
"Oh, ternyata kamu digangguin sama si ganteng," goda Mely.
"Ganteng dari mana? Dia cuma jago bikin orang kesal," balas Anna.
" Tapi Rasya itu pria idaman para wanita di kampus kita, lho, Anna. Kamu saja yang tidak mau mengakui ketampanannya."
Mely menatap Anna dengan senyum nakal. "Jangan-jangan kamu suka sama Rasya, ya?"
Mely tiba-tiba tersedak air liurnya sendiri, ia buru-buru mengambil air minumnya, sementara Anna tertawa puas melihat temannya salah tingkah.
" Apa sih, An, ngaco banget," balas Mely cepat sambil menghindari tatapan Anna.
Niat hati masih ingat menggoda temannya, namun telepon berdering nyaring.
"Pasti dokter Alvaro, kan?" tebak Mely saat melihat siapa yang menelepon Anna. Dan benar saja, tebakan itu tepat. Mely dan Anna sudah berteman sejak awal perkuliahan hingga kini. Bahkan saat magang di sebuah rumah sakit, mereka selalu bersama. Jadi, wajar jika Mely tahu banyak tentang hubungan pribadi Anna.
***
Wajah dokter itu tampak kusam dan lelah setelah seharian menghadapi banyak pasien. Lingkar samar di bawah matanya menjadi saksi betapa pekerjaan hari ini. Di dalam ruangan, aroma obat-obatan dan cairan dan cairan antiseptik begitu menyengat. Sesekali terdengar suara langkah setiap perawat yang berlalu-lalang.
" "Bagaimana, Eliz? Menurutmu, ada perubahan apa?" tanya Alvaro sambil mulai mengambil alat terapi yang selalu disiapkan di ruangan itu.
"Banyak perubahan, Dokter," jawab Eliz dengan wajah berseri-seri, seperti biasa setiap kali bertemu dengan dokter tampan itu.
" Baguslah," ucap Alvaro, ikut senang mendengar banyak perubahan pada pasiennya.
Dokter Alvaro dengan penuh kesabaran mulai memberikan terapi kepada Elizt. Gerakannya lembut dan hati-hati, seolah tak ingin menambah rasa sakit yang tersisa dalam diri gadis itu. Eliz mengikuti arahan dengan tenang.
Namun sesekali pandangannya jatuh pada wajah tampan Alvaro yang begitu menenangkan.
Ada kekaguman yang sulit disembunyikan dari sorot matanya. Perasaan yang tumbuh tanpa disadari.
" Mbak Anna sangat beruntung dicintai oleh seorang dokter seperti Alvaro," bisik Eliz dalam hati.
Sesaat, hatinya berkecamuk oleh rasa cemburu yang tiba-tiba muncul.
"Masih terasa sakit?" tanya Alvaro.
"Sedikit, Dok," jawab Eliz dengan suara pelan yang disertai ringis.
Alvaro memahami itu dan kemudian menjelaskan kepada Yusi dan Eliz bahwa rasa sakitnya masih ada karena terapinya memang berlangsung lebih lama dari biasanya.
Dengan sabar, Yusi setia menemani putrinya. "Baiklah, Dokter, terima kasih," ucap Yusi setelah terapi selesai.
Keduanya siap untuk pulang, namun langkah Yusi terhenti ketika suara Alvaro memanggilnya. Alvaro mendekatinya lalu berbisik pelan.
"Aku ingin minta izin, Tante, untuk membawa Anna sebentar malam ini ke rumah," izin Alvaro hati-hati, tapi penuh harap.
Terlihat guratan kecewa di wajah gadis yang masih duduk di kursi roda itu. Cairan bening mulai menggenang di matanya, namun sebisa mungkin ia tahan. Ia tak ingin ada orang yang tahu betapa perasaannya sedang terluka.
"Ta-tapi, Anna sepertinya sangat sibuk dengan kuliahnya, Dokter. Akhir-akhir ini dia lebih banyak menghabiskan waktu di kampus, katanya ingin cepat selesai."
" Aku sudah menelpon, Anna, Tante. Dia bersediah untuk kujemput sebentar malam.
" Oh, begitu," Yusi tak dapat berkutik lagi. Suka tak suka ia harus mengizinkan Anna pergi bersama Alvaro. Tapi cuma untuk malam ini, berikutnya tak ada yang tahu.
Alvaro begitu menghargai ibu dan adik sang kekasih. Saat melihat Eliz hendak masuk ke mobil, ia segera melangkah dan ikut membantunya. Dengan sikap sopan dan penuh kepedulian. Alvaro memastikan Eliz dapat masuk dengan nyaman.
"Jangan ngebut ya, Pak Sopir," Alvaro mengingatkan sebelum mobil melaju.
Dalam perjalanan pulang itu, Eliz tampak murung. Bukannya senang karena kondisi kakinya mulai membaik, pikirannya justru terus tertuju pada seseorang. Perlakuan baik Alvaro padanya berhasil menyentuh hatinya.
"Ada apa, Liz? Mama perhatikan kamu banyak diam," tegur Yusi dengan nada heran, menatap perubahan sikap Eliz yang tak biasa.
"Sudah berapa lama Alvaro dan Mbak Anna berpacaran?" tanya Eliz.
Yusi tertegun sesaat mendengar pertanyaan putrinya.
"Mama tidak tahu pasti berapa lama mereka berpacaran. Mama hanya tahu kalau Alvaro sangat mencintai Anna," jawab Yusi tanpa menyadari bahwa hati putri bungsunya kini sedang terluka.