Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 1: RUMAH DI UJUNG GANG SEPI BAB 9 –Akhir dari Ikatan yang Terlarang
Langkah Raka melesat secepat kilat menuruni tangga, tapi rasanya seperti berlari di tempat—setiap langkah terasa berat seolah diseret ke belakang oleh kekuatan tak terlihat. Di belakangnya, suara raungan makin memekakkan telinga, disertai derap kaki kaku yang makin mendekat. Hembusan udara dingin menyengat tengkuknya, membuat rambut di seluruh tubuhnya berdiri tegak.
“Berhenti! Kembalikan apa yang menjadi milik kami!”
Sebuah tangan panjang dan kurus melesat dari kegelapan, mencengkeram pergelangan tangan kanannya yang memegang kotak kayu. Raka terhuyung, nyaris terjatuh. Jemarinya terasa terbakar dingin, seolah disentuh oleh es yang membeku dalam waktu lama. Ia menoleh sekilas—di balik bahunya, wajah Tuan Handoko sudah hanya berjarak beberapa sentimeter, matanya berlubang kosong mengeluarkan kabut hitam, mulutnya terbuka lebar hendak menggigit.
“Lepaskan!” teriak Raka sambil mengayunkan gagang pisau kayu jati ke arah lengan itu sekuat tenaga.
Bersentuhan dengan kayu tua yang sudah dipakai turun-temurun, terdengar suara mendesis keras disertai percikan asap hitam. Tuan Handoko menjerit kesakitan dan menarik lengannya mundur, memberi celah kecil yang langsung dimanfaatkan Raka. Ia melompat maju, melewati ruang tamu yang kini dipenuhi bayangan-bayangan bergerak mengelilinginya seperti ombak.
Wadah pembakar kemenyan di tangannya sudah nyaris padam, nyalanya tinggal bara kecil yang hanya menyisakan sedikit asap tipis. Perlindungannya hampir habis. Ia merasakan kekuatan tubuhnya makin berkurang, tapi tekadnya tetap mengeras—jika ia gagal sekarang, tidak hanya nyawanya yang melayang, tapi rumah tua ini akan terus menjadi jebakan bagi orang lain setelahnya.
Begitu kakinya menginjak ambang pintu utama, cahaya redup bulan yang baru muncul dari balik awan menyentuh kulitnya. Sesaat itu juga, kekuatan yang menekan tubuhnya berkurang sedikit. Ia melangkah keluar ke halaman yang dipenuhi semak belukar, tapi tidak berhenti berlari—ia terus menuju pagar besi, tempat ia sudah mempersiapkan cara terakhir.
Pak Surya sudah berpesan: hancurkan kotak itu dengan api di luar batas tanah rumah tua itu, dan ikatannya akan putus selamanya.
Raka melompat melewati celah pagar yang terbuka, dan segera menjatuhkan diri ke tanah tepat di luar batas halaman yang ditandai oleh deretan batu tua yang tertimbun tanah. Ia meletakkan kotak kayu itu di atas tanah, lalu mengambil sisa bara api dari wadah pembakar dan menambahkan ranting kering yang sudah disiapkan dalam saku jaketnya.
Di belakangnya, seluruh keluarga Handoko sudah berdiri di ambang pintu, tidak bisa melangkah keluar lebih jauh—seolah ada batas tak terlihat yang menahan mereka tetap berada di dalam wilayah rumah itu. Wajah mereka berubah campuran amarah dan kepanikan, jeritan mereka kini terdengar penuh keputusasaan.
“Jangan lakukan itu! Kami akan lenyap selamanya! Kita bisa hidup berdampingan, jangan hancurkan ikatan ini!”
Raka tidak menoleh. Ia menyalakan api dengan cepat, nyalanya membesar dan menjilat sisi kotak kayu berukir bunga melati itu. Begitu kayu itu mulai terbakar dan mengeluarkan asap putih tebal, perubahan terjadi seketika.
Suara-suara jeritan berubah menjadi raungan yang makin lama makin melemah. Dari dalam kotak yang terbakar, kertas-kertas tua terbang keluar terbawa angin—surat-surat yang ditulis Nyonya Handoko bertahun-tahun lalu, berisi keluhan, rasa sedih, dan doa agar keluarganya dibebaskan dari keserakahan suaminya. Bersamaan dengan itu, cahaya kelabu yang menyelimuti rumah tua perlahan memudar, dan bayangan-bayangan keluarga itu mulai menjadi samar, bentuk mereka memudar seperti kabut yang tertiup angin pagi.
Raka merasakan sesuatu terlepas dari tubuhnya—rasa berat di bahu, dingin yang menusuk tulang, dan ketegangan yang menyelimuti pikirannya selama ini perlahan menghilang. Ia segera menoleh ke bahunya, dan melihat jejak tangan kelabu yang selama ini tak bisa dihapus perlahan memudar hingga akhirnya lenyap tanpa bekas.
Rumah tua di belakangnya kembali terlihat seperti bangunan kosong biasa: cat mengelupas, kayu lapuk, jendela pecah, tanpa lagi memancarkan aura mencekam yang menekan. Suasana sepi malam kembali normal, hanya terdengar suara jangkrik dan angin yang berhembus lembut.
Kotak kayu itu habis terbakar menjadi abu dalam waktu singkat, hanya menyisakan tumpukan sisa arang yang mendingin. Raka duduk tergeletak di tanah, napasnya terengah-engah, tubuhnya basah oleh keringat dingin, tapi untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir ia merasakan ketenangan yang sesungguhnya.
Ia menatap ke arah rumah tua sekali lagi—tidak ada lagi mata putih yang bersinar, tidak ada lagi suara bisikan atau langkah kaki yang mengikuti. Semua ikatan yang telah mengikat selama lebih dari tiga puluh tahun akhirnya terputus.
Beberapa saat kemudian, ia mendengar langkah kaki tergesa mendekat. Ternyata Pak Surya yang sudah menunggu di ujung gang, datang melihat apa yang terjadi setelah mendengar suara keras dari kejauhan. Lelaki tua itu melihat abu di tanah, lalu menatap bahu Raka yang bersih, dan senyum lega terukir di wajahnya yang keriput.
“Kau berhasil… akhirnya, rumah itu kembali menjadi sekadar bangunan tua tanpa kekuatan apa pun,” kata Pak Surya dengan suara parau namun tenang.
Raka hanya mengangguk, masih terlalu lelah untuk berbicara banyak. Ia tahu, peristiwa ini akan menjadi kenangan yang takkan pernah ia lupakan seumur hidupnya—sebuah pelajaran bahwa tempat yang terlihat sepi dan kosong bisa menyimpan rahasia kelam yang terpendam selama puluhan tahun, dan bahwa ketakutan hanyalah satu-satunya jembatan yang memungkinkan dunia lain menyentuh kehidupan kita.
Malam itu, mereka pulang dengan hati lega. Dan sejak hari itu, tidak ada lagi cerita aneh atau kejadian menyeramkan yang terjadi di sekitar Gang Melati. Rumah tua itu tetap berdiri kokoh di ujung gang, tapi kini hanya menjadi bangunan kosong yang perlahan dimakan waktu, tanpa lagi menjadi tempat yang harus dihindari oleh siapa pun.
📌 jangan lupa follow,like,dan komen setiap novel di akun ini ya.. 🥰