⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️
Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Cinta untuk Nona Muda" 4
Pagi itu, Lucy kembali ke sekolah dengan penampilan yang sama kepang dua, kacamata tebal, seragam lusuh, dan langkah kecil yang tidak menarik perhatian. Tidak ada yang tahu bahwa semalam dia baru saja duduk di atas pohon sakura tua, menyaksikan kehidupan pribadi ketua OSIS yang paling ditakuti di sekolah.
Tidak ada yang tahu. Dan itu persis seperti yang dia inginkan.
Di kelas, Kaito Fujiwara sudah duduk di kursinya, tertawa bersama dua anggota Five Shadows. Lucy meliriknya sekilas saat berjalan ke tempat duduknya. Jiwanya masih memancarkan energi liar yang sama, tapi hari ini fokus Lucy bukan padanya.
Hari ini, dia masih mengamati Ren Arisugawa.
Jam istirahat pertama. Lucy duduk di bangku dekat koridor yang menghubungkan gedung utama dengan gedung klub. Buku tebal terbuka di pangkuannya dengan judul buku Sejarah Dunia Modern, halaman 234. Tapi matanya tidak membaca satu kata pun.
Di ujung koridor, Ren Arisugawa berjalan sendirian. Langkahnya tenang, terukur, seperti biasa. Tapi ada dua hal yang Lucy perhatikan.
Pertama: telinganya. Di kedua telinganya, terselip earphone putih kecil yang kabelnya menjuntai ke saku blazernya. Setiap hari. Tanpa kecuali. Bahkan saat berjalan di koridor yang ramai, dia selalu mendengarkan sesuatu.
Apa yang dia dengarkan? pikir Lucy. Pelajaran? Podcast? Atau...
Kedua: matanya. Saat melewati ruang klub musik sebuah ruangan dengan pintu kaca besar yang menampilkan alat-alat musik di dalamnya lalu langkah Ren selalu melambat. Hanya sedikit. Hanya sepersekian detik. Tapi cukup bagi seseorang yang sudah mengamatinya selama seminggu penuh.
Matanya selalu tertuju pada satu benda. Sebuah gitar akustik yang tergantung di dinding ruang klub musik.
Setiap kali. Tanpa kecuali.
Lucy menutup bukunya perlahan. "Lili," bisiknya.
Dari dalam tasnya, suara kucing putih itu terdengar di kepalanya. "Ya?"
"Cari tahu semua tentang Ren Arisugawa dan musik. Aku butuh informasi."
"Sudah kuduga kau akan bertanya." Jeda sejenak. "Aku sudah memindai ingatan samar dari data dunia ini. Ren Arisugawa... sejak kecil menyukai musik. Dia belajar gitar secara diam-diam saat SMP. Tapi begitu ayahnya tahu, gitar itu dihancurkan di depannya."
Tangan Lucy sedikit mengepal di atas buku.
"Ayahnya menganggap musik sebagai 'gangguan tidak berguna'. Sama seperti OSIS. Sama seperti apa pun yang Ren pilih sendiri."
"Jadi dia mendengarkan musik diam-diam... dan menatap gitar setiap kali lewat... karena itu adalah bagian dari dirinya yang dia kubur."
"Tepat."
Lucy menyandarkan punggungnya ke bangku. Matanya masih mengikuti punggung Ren yang semakin menjauh di ujung koridor.
"Satu lagi," lanjut Lili. "Dia juga menyukai makanan manis."
Alis Lucy terangkat. "Makanan manis? Ren Arisugawa yang dingin itu?"
"Dia tidak pernah membelinya secara terbuka. Tapi setiap kali melewati toko kue, langkahnya melambat. Dan di kafetaria sekolah, dia selalu mengambil hidangan penutup selalu yang paling manis tapi memakannya dengan ekspresi datar seolah-olah itu bukan hal spesial."
Lucy terkekeh pelan. "Seorang ketua OSIS yang dingin dan ditakuti... menyukai musik dan makanan manis. Ironis sekali."
"Semua orang memiliki sesuatu yang mereka sembunyikan."
"Dan aku baru saja menemukan dua celah."
Enam hari sebelum Hana Himura masuk sekolah. Empat hari sebelum acara ulang tahun sekolah.
Lucy duduk di atap sekolah ditempat yang sepi saat jam istirahat bersama Lili yang kini muncul dalam wujud fisiknya. Angin siang menerbangkan bulu putih kucing itu, tapi Lili tidak bergeming.
"Acara ulang tahun sekolah," kata Lucy. "Kapan tepatnya?"
"Empat hari lagi. Semua klub dan eskul wajib berpartisipasi. Termasuk klub musik."
"Klub musik akan tampil?"
"Ya. Mereka akan mengisi salah satu sesi pertunjukan di aula utama."
Lucy menyeringai. "Dan Ren Arisugawa, sebagai ketua OSIS, pasti akan hadir."
"Bisa dipastikan."
"Bagus." Lucy menegakkan tubuhnya. "Sekarang, bisakah kau menambahkan namaku ke daftar anggota klub musik?"
Lili memiringkan kepalanya. "Itu mudah. Tapi... bukankah kau tidak pernah bergabung dengan klub apa pun?"
"Justru itu. Tidak ada yang akan menyadari bahwa aku tiba-tiba ada di sana." Lucy memutar-mutar ujung kepangnya. "Bagaimana sistem klub di sini?"
"Klub musik SMA Seiran memiliki dua sesi latihan. Sesi A berlatih di hari Senin dan Rabu. Sesi B berlatih di hari Selasa dan Kamis. Anggotanya tidak selalu tahu siapa yang ada di sesi lain. Hari ini adalah Rabu yang merupakan sesi A. Jadi aku menambahkan namamu ke sesi B..."
"Maka besok, saat sesi B berlatih, aku akan muncul. Dan mereka akan menganggap aku selalu ada di sesi B."
"Tepat. Ditambah lagi, untuk persiapan acara empat hari lagi, kedua sesi akan digabungkan. Jadi akan ada banyak wajah baru di ruangan itu."
Lucy tertawa kecil. "Sempurna. Lakukan."
Lili mengangkat cakarnya. Layar hologram kecil muncul, menampilkan data anggota klub musik SMA Seiran. Dengan gerakan ringan, nama "Lucy" muncul di daftar sesi B.
"Selesai," kata Lili. "Kau sekarang resmi menjadi anggota klub musik."
"Hebat. Sekarang aku butuh tiga hal lagi."
"Apa?"
"Pertama, aku butuh gitar. Kedua, aku butuh lagu yang tepat. Ketiga..." Mata Lucy berkilat. "...aku butuh penonton yang tepat."
Keesokan harinya, pukul 15.00.
Ruang klub musik SMA Seiran cukup luas bekas aula kecil yang diubah menjadi ruang latihan. Dindingnya dilapisi panel akustik dan berbagai alat musik tersebar di sudut-sudut ruangan. Ada drum set di pojok, keyboard di sisi lain, dan beberapa gitar tergantung di dinding.
Sesi B baru saja dimulai. Sekitar dua puluh murid berkumpul, sebagian besar sudah membawa alat musik masing-masing. Lucy masuk dengan langkah kecil, memeluk gitar akustik pinjaman dari ruang klub dan bukan gitar yang selalu ditatap Ren, tapi yang serupa.
Dia melihat sekeliling. Seperti yang diduga, tidak ada yang mempertanyakan keberadaannya. Beberapa murid meliriknya sekilas, lalu kembali ke urusan masing-masing. Di mata mereka, dia hanyalah anggota sesi B yang biasanya berlatih di hari lain.
"Eh, kamu..."
Lucy menoleh. Tiga orang gadis mendekatinya dengan senyum ramah. Yang pertama berambut pendek sebahu dengan highlight cokelat, yang kedua berponi lurus dan berkuncir kuda, yang ketiga berambut panjang bergelombang.
"Kamu anggota baru ya? Atau dari sesi A?" tanya yang berponi lurus dia tampaknya yang paling ramah. "Aku Nao."
"Aku... dari sesi B," jawab Lucy dengan suara pelan, sedikit gugup. "A-aku Lucy."
"Ah, pantas aja kita jarang lihat! Aku Rina," kata yang berambut pendek. "Dan ini Mika," dia menunjuk yang berambut panjang.
Mika tersenyum dan melambai kecil. "Kamu main gitar? Asik! Kita perlu gitaris buat persiapan acara nanti."
"Kebetulan banget!" Nao berseru. "Kita bertiga vokalis semua, jadi kita butuh yang bisa mainin alat musik. Kamu jago gitar?"
Lucy menunduk, pipinya sedikit memerah. "A-aku... lumayan..."
"Yaudah, gabung sama kita! Kita lagi nyiapin satu lagu buat acara ulang tahun sekolah. Kamu bisa bantuin kita latihan!"
Ketiga gadis itu mengelilinginya dengan antusias. Mereka tidak memandangnya dengan aneh atau merendahkan. Mereka hanya... menerimanya. Seperti anggota tim baru yang kebetulan dibutuhkan.
Lucy tersenyum dalam hati. Teman yang baik. Tidak kuduga.
Latihan berlangsung selama dua jam. Lucy memainkan gitarnya dengan level "lumayan" tidak terlalu bagus, tidak terlalu buruk. Cukup untuk tidak mencurigakan. Dia sengaja membuat beberapa kesalahan kecil, membiarkan Nao mengoreksinya, berpura-pura gugup saat diminta mengulang bagian tertentu.
Aktingnya sempurna.
Saat latihan selesai, Rina mengusap keringat di dahinya. "Wah, capek banget! Tapi seru ya! Lucy, kamu lumayan banget lho!"
"Be-belum seberapa," gumam Lucy dengan muka merah.
"Eh, kita pulang bareng yuk!" ajak Mika. "Kita bisa lanjut ngobrol sambil makan sesuatu."
Lucy menggeleng cepat. "A-aku... masih mau latihan sendiri sedikit. Kalian duluan aja..."
"Yakin? Udah sore lho."
"A-aku nggak enak kalian nungguin..."
Ketiga temannya saling pandang. Mereka sudah mengenali tipe orang seperti Lucy yang merupakan si pemalu yang tidak enakan menolak tapi sebenarnya ingin sendiri.
"Yaudah," kata Nao akhirnya. "Tapi hati-hati pulang ya! Jangan terlalu malem!"
"Masih ada empat hari latihan lagi sebelum acara," tambah Rina. "Jadi besok kita ketemu lagi ya!"
Lucy mengangguk dengan senyum kecil. "Iya... makasih..."
Ketiga gadis itu melambai dan berjalan keluar, obrolan mereka memudar di koridor. Pintu ruang musik tertutup dengan bunyi klik pelan. Dan kini, Lucy sendirian.
Dia menghela napas panjang. Pundaknya yang tadinya membungkuk kini menegak. Ekspresi gugupnya menghilang, digantikan senyum kecil yang penuh arti.
"Lili," panggilnya.
Dari balik tirai panggung kecil di sudut ruangan, Lili muncul. "Aku di sini."
"Berapa lama lagi dia datang?"
Lili memejamkan matanya sejenak. "Ren baru saja selesai rapat OSIS. Dia akan melewati koridor ini dalam... tiga menit."
"Tiga menit." Lucy bangkit, mengambil gitar akustik dari dinding bukan gitar pinjaman tadi, tapi gitar yang sedikit lebih bagus, dengan nada yang lebih kaya. "Cukup."
Dia berjalan ke jendela besar di sisi ruangan. Cahaya matahari sore masuk dengan sudut yang sempurna berwarna jingga keemasan, hangat, dramatis. Dia menarik satu kursi ke dekat jendela, duduk dengan gitar di pangkuannya, membelakangi pintu.
"Kau akan menggunakan kekuatanmu?" tanya Lili.
"Tidak." Lucy memetik satu senar, mendengarkan bunyinya. "Hanya suaraku. Hanya gitarku. Itu saja."
"Dan itu cukup?"
Mata Lucy menatap senja di luar jendela. "Lili, kau tahu apa yang ku pelajari selama ribuan tahun mengamati manusia? Kadang, yang mereka butuhkan bukanlah keajaiban. Hanya momen yang tepat. Lagu yang tepat. Dan seseorang yang... muncul di saat yang tepat."
"Dia datang," suara Lili di kepalanya. "Sekarang."
Lucy tersenyum. Jarinya mulai memetik senar gitar.
Koridor lantai dua sepi. Ren Arisugawa berjalan sendirian, langkahnya yang biasanya teratur kini sedikit lebih lambat dari biasanya. Earphone di telinganya memutar lagu instrumental sesuatu yang lembut, dengan piano dan string. Sesuatu yang bisa dia dengarkan tanpa harus berpikir.
Hari ini melelahkan. Rapat OSIS berlangsung lebih lama dari jadwal. Dan dalam beberapa jam lagi, dia harus pulang ke rumah. Menghadapi ayahnya. Mendengarkan ceramah yang sama. Menerima tuntutan yang sama.
Dia ingin memperlambat waktu.
Saat itulah dia mendengarnya.
Suara. Bukan dari earphone-nya. Tapi dari suatu tempat di depan. Ren mengerutkan kening dan melepas satu earphone.
Suara itu... gitar. Seseorang sedang bermain gitar. Tapi bukan itu yang membuat langkahnya berhenti.
Itu suaranya.
Suara perempuan yang bernyanyi. Merdu. Lembut. Mengalun seperti air yang menenangkan. Setiap nadanya tepat, setiap getarannya menyentuh sesuatu di dalam dada yang bahkan Ren sendiri tidak tahu ada.
Dia mulai berjalan lagi. Lebih pelan. Mengikuti suara itu.
Ruangan klub musik. Pintunya sedikit terbuka. Ren berdiri di ambang pintu, dan pemandangan yang dia lihat membuat napasnya tercekat sejenak.
Seorang gadis duduk di dekat jendela. Cahaya matahari senja menerobos kaca, menyelimuti tubuhnya dengan warna jingga keemasan. Kepang kembar hitamnya bergerak sedikit saat dia memainkan gitar. Jemarinya menari di atas senar dengan gerakan yang pasti. Dan dari bibirnya, mengalir lagu yang tidak Ren kenal tapi terasa familiar, seperti sesuatu yang pernah dia mimpikan.
Wajahnya tidak sepenuhnya terlihat. Hanya siluet dari samping. Kacamata tebal yang sedikit memantulkan cahaya senja. Pipi yang sedikit memerah karena konsentrasi. Dan suaranya... suaranya begitu jernih, begitu murni, sehingga untuk sesaat Ren lupa bahwa dia sedang berdiri di koridor sekolah.
Dia hanya berdiri di sana. Mendengarkan.
Lagu itu berakhir dengan petikan gitar yang perlahan memudar. Keheningan jatuh. Gadis itu menghela napas, tangannya masih di atas gitar.
Lalu dia menoleh.
Dan melihat Ren.
Wajahnya yang tadinya tenang dan damai berubah menjadi merah padam dalam sekejap. Matanya membulat di balik kacamata tebal. Mulutnya terbuka dan tertutup seperti ikan koi. "Ke-Ketua OSIS—?! Se-sejak kapan—"
Ren melangkah masuk, ekspresinya sudah kembali ke topeng datar yang biasa. "Suaramu cukup keras. Aku mendengarnya dari koridor."
"Ma-maaf! Aku tidak bermaksud—aku hanya—aku kira tidak ada orang—" Gadis itu—siapa namanya? Ren mencoba mengingat. Dia pernah melihatnya di suatu tempat. Kelas 2-C? Seorang kutu buku yang tidak pernah bicara? meletakkan gitar dengan tangan gemetar.
"Tidak perlu minta maaf." Ren memasukkan tangannya ke saku. "Suaramu bagus."
Kata-kata itu keluar begitu saja, dan Ren sendiri sedikit terkejut. Dia tidak biasanya memuji orang.
Wajah gadis itu semakin merah. "Ti-tidak... itu hanya... iseng..."
"Kau anggota klub musik?"
"I-iya... aku... dari sesi B..."
Ren mengangguk. "Sudah hampir mau malam. Kau sebaiknya pulang."
Gadis itu langsung berdiri, hampir menjatuhkan gitar dalam prosesnya. "I-iya! Aku pulang! Maaf mengganggu!"
Dia meraih tasnya, membungkuk dengan canggung, lalu setengah berlari keluar ruangan. Saat melewati Ren, dia tidak berani menatap matanya. Pipinya masih merah padam.
Ren menoleh, menatap punggungnya yang menghilang di ujung koridor.
Lucu, pikirnya. Dan itu mengejutkannya lagi, karena Ren Arisugawa tidak biasanya memikirkan hal-hal seperti itu.
Dia menggelengkan kepalanya pelan, lalu berbalik dan berjalan pulang. Tapi di sepanjang jalan, suara itu terus terngiang di kepalanya. Merdu. Menenangkan. Seperti sesuatu yang sudah lama dia cari tanpa dia sadari.
Sementara itu, di kamar sempitnya yang kusam, Lucy muncul dalam sekejap cahaya. Teleportasi singkat membawanya pulang sebelum siapa pun menyadari.
Lili sudah menunggu di atas tumpukan buku. "Bagaimana?"
Lucy meregangkan tubuhnya, lalu melepas kacamatanya. Senyumnya lebar bukan senyum pemalu yang tadi dia tunjukkan pada Ren, tapi senyum seorang Dewi yang baru saja memenangkan babak pertama.
"Sukses," katanya.
"Dia tertarik?"
"Dia bilang suaraku bagus. Dan dia berdiri di sana sampai lagunya selesai." Lucy menjatuhkan dirinya ke kasur. "Itu lebih dari cukup untuk langkah pertama."
"Tapi kau tidak tinggal untuk melihat reaksinya lebih lama."
"Itu bagian dari rencana." Lucy menatap langit-langit kamarnya yang retak. "Aku bukan gadis yang percaya diri. Aku gadis pemalu yang kebetulan ketahuan bernyanyi. Jika aku tinggal, itu akan terlihat aneh. Tapi dengan melarikan diri... aku memberi kesan bahwa aku tidak berusaha menarik perhatiannya. Dan itu justru lebih menarik."
Lili mengangguk. "Cerdik."
"Aku belajar dari yang terbaik." Lucy terkekeh. "Diriku sendiri."
Dia menutup matanya, membayangkan ekspresi Ren saat dia menoleh. Topeng datar itu. Tapi di baliknya, Lucy bisa melihat sedikit saja, sepersekian detik ada sesuatu yang bergetar.
"Empat hari lagi," gumamnya. "Acara ulang tahun sekolah. Aku akan menyanyi lagi. Tapi kali ini... di depan semua orang."
"Dan Ren akan ada di sana."
"Tentu saja." Lucy membuka matanya. "Karena aku akan memastikan dia duduk di barisan depan."