terjadi kesalahan cerita, cerita akan di mulai dengan cerita baru. cerita ini tiba-tiba terjadi kesalahan yang tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Cinta untuk Nona Muda"
Koridor di luar ruang basket sepi. Lucy berjalan perlahan, buku di tangannya, pikirannya menyusun rencana untuk Kaito. Dia belum meminta Lili menyelidiki latar belakang antagonis pria ini—itu terlalu mudah, terlalu membosankan. Dia ingin mencari tahu sendiri. Menggali lapisan demi lapisan. Menemukan apa yang membuat Kaito Fujiwara menjadi seperti ini.
Kenapa dia begitu benci perempuan yang mendekatinya? Ada sejarah di baliknya. Pasti ada.
"Lucy."
Suara itu—datar, tenang, familiar—membuyarkan pikirannya. Dia berhenti dan menoleh.
Ren Arisugawa berdiri di dekat mesin minuman otomatis, satu tangannya memegang dua kotak susu. Seragam OSIS-nya rapi sempurna seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda. Mungkin caranya berdiri—sedikit lebih santai. Atau caranya memandang Lucy—sedikit lebih lembut.
"Ke-Ketua OSIS..." Lucy menunduk, pipinya langsung memerah.
"Aku sudah bilang, panggil Ren." Dia melangkah mendekat, lalu mengulurkan satu kotak susu. "Ini."
"Eh?"
"Untukmu. Susu stroberi."
Lucy menatap kotak itu. Susu stroberi. Manis. Dia ingat aku suka manis? Atau... dia memilih rasa yang dia suka?
"A-aku... kenapa...?"
"Kau kelihatan lelah. Latihan klub musik pasti berat." Suara Ren tetap datar, tapi ada sesuatu yang hangat di baliknya. "Minumlah."
Dengan tangan sedikit gemetar—akting, tapi juga sedikit asli karena dia tidak menyangka—Lucy menerima kotak susu itu. "Te-terima kasih..."
Dia membuka sedikit tutupnya, menyesap. Rasanya manis, creamy, menghangatkan tenggorokan yang tidak benar-benar haus.
Lalu dia teringat sesuatu.
"Ah! Tu-tunggu sebentar." Lucy membuka tasnya, merogoh sebentar, dan mengeluarkan sebuah kotak bekal kecil. "Ini... untukmu."
Ren menatap kotak itu. "Apa ini?"
"A-aku... membuatnya tadi pagi. Hanya... hanya kue mochi. Dan beberapa makanan manis lainnya." Suara Lucy semakin mengecil di akhir kalimat. "Karena... ka-kau selalu kelihatan lelah juga... setelah rapat OSIS... jadi... kukira kau butuh gula..."
Ren tidak segera mengambilnya. Dia menatap kotak bekal itu, lalu menatap Lucy. Pipi gadis itu merah padam, matanya menunduk, tangannya sedikit gemetar saat memegang kotak itu.
Dia membuatkanku makanan. Pikiran itu terasa asing di kepala Ren. Dia memperhatikanku.
Perlahan, dia mengambil kotak itu. Tangannya yang besar menyentuh jemari Lucy sekilas, dan gadis itu langsung menarik tangannya seperti tersengat listrik.
"A-aku pergi dulu! Sampai jumpa!"
Sebelum Ren bisa menjawab, Lucy sudah berbalik dan setengah berlari menyusuri koridor. Susu stroberi masih di tangannya. Pita kuning kecil di rambutnya—hadiah dari Nao pagi tadi—bergerak-gerak seirama langkahnya.
Ren berdiri di sana, kotak bekal di tangannya. Dia membukanya perlahan.
Di dalamnya, tersusun rapi mochi bulat-bulat berwarna pink dan putih, beberapa kue kering berbentuk bintang, dan dua potong dorayaki mini. Semuanya tertata dengan hati-hati, seolah pembuatnya benar-benar peduli.
Dia menutup kotak itu lagi. Dan untuk sesaat—hanya sesaat—sudut bibirnya tertarik ke atas.
Sebuah senyuman. Kecil. Cepat menghilang. Tapi senyuman.
Dia berbalik dan berjalan ke arah ruang OSIS, kotak bekal itu dipegang erat di tangannya. Satu tangannya lagi merogoh saku, mengambil earphone-nya. Tapi dia tidak langsung memasangnya. Sebagai gantinya, dia menatap koridor kosong tempat Lucy menghilang.
Rasa stroberi, pikirnya. Dia suka rasa stroberi.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Ren Arisugawa menantikan hari esok.
Sementara itu, di taman belakang sekolah yang sepi, Lucy duduk di bangku batu di bawah pohon sakura yang belum mekar. Susu stroberi di tangannya sudah setengah habis. Dia menguap lebar.
"Lili," panggilnya.
Lili muncul dari balik semak-semak, melompat ke bangku di sebelahnya. "Apa?"
"Presentase."
Lili memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya. "Ren Arisugawa: ♡♡ | 20%."
"Dua puluh persen." Lucy menyesap susunya. "Naik sepuluh persen lagi. Cukup bagus."
"Hanya 'cukup bagus'? Kebanyakan manusia akan melompat kegirangan dengan perkembangan seperti ini."
"Kebanyakan manusia." Lucy menekankan kata itu. "Aku bukan manusia."
Dia menyandarkan punggungnya di bangku, menatap langit sore. Awan-awan mulai berubah warna menjadi jingga.
"Dia mudah didekati sebenarnya," kata Lucy, lebih ke dirinya sendiri. "Di balik semua dinding es itu, dia hanya butuh seseorang yang tidak mencoba menghancurkannya. Seseorang yang memberi tanpa meminta."
"Dan kau memberinya makanan manis."
"Makanan manis adalah jalan menuju hati." Lucy terkekeh. "Secara harfiah maupun metaforis."
Dia menghabiskan susunya, lalu meremukkan kotaknya dan melemparkannya ke tempat sampah terdekat—tepat sasaran.
"Manusia pada umumnya akan deg-degan sekarang. Jantung berdebar. Pipi merona. Bertanya-tanya apakah dia juga menyukaiku." Lucy berdiri, meregangkan tubuhnya. "Aku? Aku hanya memikirkan apa yang harus kumakan untuk makan malam."
"Kau tidak merasakan apa-apa?"
"Aku merasakan ketertarikan. Jiwanya indah. Tubuhnya juga." Lucy mulai berjalan pulang. "Tapi deg-degan? Itu untuk manusia, Lili. Aku Dewi. Aku menghargai diriku sendiri terlalu tinggi untuk gemetar hanya karena seorang pria memberiku susu kotak."
Lili melompat ke bahunya, ekornya melingkar di leher Lucy seperti syal berbulu. "Tapi dia tidak tahu kau Dewi. Yang dia lihat adalah Lucy si kutu buku yang semakin hari semakin cantik."
"Dan itu yang membuat ini menyenangkan." Lucy menyeringai. "Dia jatuh hati pada gadis biasa. Bukan pada Dewi. Itu lebih... jujur."
Mereka berjalan melewati gerbang sekolah. Matahari mulai terbenam, menciptakan siluet panjang di trotoar.
"Besok acara," kata Lili.
"Besok aku akan bernyanyi di depan semua orang." Mata Lucy berkilat. "Dan Ren akan duduk di barisan depan. Aku akan pastikan itu."
"Lalu?"
"Lalu..." Lucy memiringkan kepalanya, memikirkan Kaito yang menatapnya dari lapangan basket. "...setelah Ren, aku akan mulai dengan Kaito. Tapi itu nanti. Untuk sekarang, biarkan aku menikmati kemenangan kecilku."
"Kemenangan kecil berupa 20%?"
"Dua puluh persen yang diperoleh dengan susah payah." Lucy menguap lagi. "Sekarang, makan malam. Aku ingin ramen. Kau mau?"
"Aku kucing."
"Kucing juga bisa makan ramen. Aku akan pesankan porsi untukmu."
Lili mendengus, tapi tidak menolak. Mereka berjalan di bawah langit senja, dua makhluk yang bukan manusia, menyamar di dunia yang bukan milik mereka, memainkan permainan yang mereka ciptakan sendiri.
Dan di suatu tempat di belakang mereka, di ruang OSIS yang mulai gelap, Ren Arisugawa membuka kotak bekal itu lagi. Dia mengambil sepotong mochi pink, menggigitnya perlahan, dan membiarkan rasa manisnya menyebar di lidah.
Dia tersenyum lagi. Kali ini, tidak ada yang melihat.