NovelToon NovelToon
Cahaya Di Jalan Terjauh

Cahaya Di Jalan Terjauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyelamat
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.

Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.

Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Kabar dari Rumah

Seminggu berlalu sejak Nyonya Wijaya memberikan kepercayaan lebih pada Dika. Kini, pemuda itu tidak hanya menyiram dan membersihkan taman, tapi juga berhak mengatur posisi tanaman, memberi pupuk, serta memeriksa kesehatan setiap pohon dan bunga. Ia melakukannya dengan penuh perhatian, seolah merawat sesuatu yang sangat berharga. Hasilnya pun terlihat jelas — seluruh bagian taman terlihat lebih rapi, segar, dan penuh warna.

Namun, semakin ia dipercaya oleh Nyonya Wijaya, semakin terlihat ketidaksukaan Paman Arga. Pria itu tidak pernah lagi menyapa Dika dengan nada sopan seperti awal kedatangan, bahkan sering lewat di hadapannya dengan wajah masam, seolah melihat sesuatu yang mengganggu pandangannya. Dika menyadarinya, tapi memilih tetap diam dan fokus pada pekerjaannya. Ia tahu, satu kesalahan kecil saja akan dijadikan alasan untuk menjatuhkannya.

Suatu pagi, saat Dika baru selesai merapikan bunga di halaman depan, ia melihat sopir keluarga, Pak Joko, kembali dari luar kota. Biasanya Pak Joko hanya keluar untuk mengantar Nyonya atau berbelanja kebutuhan besar, tapi kali ini ia terlihat membawa selembar kertas dan sebuah bungkusan kecil.

Begitu melihat Dika, Pak Joko melambaikan tangan dan memanggilnya pelan. “Dika, kemarilah sebentar.”

Dika segera menghampiri, menunduk sopan. “Ada apa, Pak?”

“Tadi saya lewat di dekat rumahmu, seperti yang diminta Nyonya. Ibumu sedang dalam keadaan cukup baik, kata tetangga. Dia sudah bisa duduk dan makan sedikit lebih banyak dari biasanya,” kata Pak Joko sambil menyerahkan bungkusan itu. “Ini ada pesan dari ibu, dan sedikit barang yang dia kirimkan.”

Hati Dika berdebar kencang. Ia segera menerima bungkusan itu dengan kedua tangan, jari-jarinya sedikit gemetar. “Benarkah, Pak? Ibu tidak terasa sakit lagi?”

“Masih terasa lemas memang, tapi katanya sudah jauh lebih baik. Dokter juga bilang pengobatannya berjalan lancar. Ibu cuma berpesan, supaya kamu bekerja dengan baik, jaga sikap, dan jangan menyusahkan tuan dan nyonya di sini.”

Dika mengangguk cepat, matanya terasa sedikit berkaca-kaca. “Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih sudah menyampaikan kabarnya.”

Setelah berpamitan, Dika segera pergi ke sudut taman yang agak tersembunyi di balik pohon rindang. Ia membuka bungkusan itu perlahan. Di dalamnya ada seikat daun kemangi kering yang harum, sebungkus kerupuk buatan sendiri, dan selembar kertas kecil bertuliskan tangan ibunya yang agak gemetar karena masih lemah.

“Anakku Dika,

Ibu sehat saja, jangan khawatir. Makanlah yang cukup, jangan sampai kurus. Bekerjalah dengan jujur dan rendah hati. Tuhan selalu melihat usaha orang yang sabar. Semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya.

Ibu rindu padamu.”

Membaca tulisan itu, dada Dika terasa sesak. Ia menempelkan kertas itu ke dadanya sejenak, mencoba menahan rasa rindu yang tiba-tiba meluap. Sudah hampir dua minggu ia tidak pulang, hanya mendengar kabar lewat orang lain. Rasa rindu itu terasa berat, tapi kabar kesembuhan ibunya menjadi obat yang paling manis.

Ia menyimpan surat itu dan barang kiriman ibunya dengan hati-hati di dalam kamarnya, lalu kembali bekerja dengan semangat baru. Kabar itu memberinya kekuatan lebih untuk bertahan menghadapi segala pandangan dingin dan sikap curiga orang-orang di rumah itu.

Sore harinya, saat Dika sedang memotong ranting-ranting pohon yang sudah kering, ia mendengar suara langkah kaki yang dikenalnya. Kirana datang mendekat, kali ini tidak terburu-buru dan juga tidak membawa buku.

“Kamu terlihat lebih bersemangat hari ini,” kata Kirana sambil berdiri di pinggir jalan setapak, mengamati pekerjaan Dika.

Dika berhenti sejenak, menyeka keringat di dahinya. “Iya, Non. Tadi dapat kabar dari rumah. Ibu saya sudah mulai membaik kondisinya.”

Wajah Kirana langsung berubah menjadi senyum tulus. “Syukurlah. Saya ikut senang mendengarnya. Itu pasti beban yang paling berat untukmu, bukan?”

“Benar sekali, Non. Selama ibu sakit, rasanya hati ini tidak pernah tenang. Sekarang ada kabar baik, rasanya segala pekerjaan jadi terasa lebih ringan.”

Mereka terdiam sejenak, menikmati angin sore yang berhembus lembut. Lalu Kirana bertanya lagi, nadanya lebih lembut.

“Kapan terakhir kali kamu pulang menengoknya?”

“Hampir dua minggu yang lalu. Sejak itu belum sempat lagi, karena pekerjaan di sini juga banyak dan saya takut meminta izin akan mengganggu Nyonya.”

Kirana mengangguk mengerti. “Nanti saya bicarakan dengan Ibu. Pasti Ibu mengizinkanmu pulang sehari untuk menengoknya. Kalau kamu tenang, pekerjaanmu pun akan lebih baik.”

Dika terkejut mendengar tawaran itu. “Tidak usah repot-repot, Non. Saya bisa menunggu sampai waktunya pas sendiri.”

“Tidak apa-apa. Saya juga ingin membantu sedikit, sebagai balas jasa karena sudah menolong banyak hal di sini. Lagipula, itu hal yang wajar.”

Sebelum percakapan berlanjut, suara keras terdengar dari arah teras. “Kirana! Apa yang kamu lakukan di sana?”

Keduanya menoleh, melihat Paman Arga berdiri di sana dengan wajah gelap. Ia berjalan mendekat dengan langkah cepat, matanya menatap tajam ke arah Dika.

“Sudah berapa kali saya katakan, jangan terlalu lama berduaan dengan dia! Kamu lupa batasanmu, Kirana?” bentaknya sedikit keras.

Kirana mengerutkan dahi, merasa tidak nyaman. “Kami hanya mengobrol sebentar saja, Paman. Tidak ada yang salah.”

“Mengobrol soal apa? Urusan rumah atau urusan keluarga bukanlah hal yang pantas dibicarakan dengan orang luar!” Paman Arga berbalik ke arah Dika, suaranya meninggi. “Dan kamu! Cepat selesaikan pekerjaanmu! Jangan memanfaatkan kesempatan untuk mendekati Non Kirana, paham?”

Dika hanya menunduk dalam, tidak menjawab apa pun. Ia tahu, melawan hanya akan memperburuk keadaan.

“Paman terlalu berlebihan,” kata Kirana dengan nada tegas. “Dia hanya pekerja yang jujur, bukan orang jahat.”

“Kamu masih muda dan tidak tahu dunia luar. Bisa saja dia punya niat lain yang tidak terlihat,” balas Paman Arga sambil menarik lengan Kirana pelan. “Masuklah ke dalam, Ibu sedang mencarimu.”

Setelah Kirana pergi, Paman Arga mendekat lagi ke Dika, suaranya menjadi sangat rendah dan mengancam. “Ingat kata-kataku. Jangan pernah berpikir bisa mendekati keluarga ini lebih dari yang seharusnya. Semakin kamu terlihat baik, semakin saya mengawasimu. Jangan sampai ada kesempatan sekecil apa pun yang bisa saya gunakan untuk mengusirmu pergi.”

Ia berbalik pergi meninggalkan Dika yang masih berdiri kaku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena semakin jelas terlihat bahwa Paman Arga benar-benar ingin menyingkirkannya dengan cara apa pun.

Malam itu, Dika kembali menulis di buku catatannya:

“Hari ini saya dapat kabar baik tentang ibu, tapi juga mendapat peringatan yang lebih keras lagi dari Paman Arga. Dia tidak mau melihat saya dekat dengan siapa pun, apalagi dengan Non Kirana. Tapi saya tidak bisa menghindar selamanya kalau takdir mempertemukan kami. Saya hanya akan tetap bersikap apa adanya, tidak melanggar aturan, dan terus berbuat baik. Biarkan dia mengawasi sesering apa pun, selama hati saya bersih, saya tidak akan merasa takut. Semoga kebaikan ini pada akhirnya bisa dilihat oleh semua orang.”

Ia menutup bukunya, lalu membuka surat dari ibunya sekali lagi, membacanya dalam hati. Kata-kata ibunya menjadi penguat yang paling ampuh di tengah suasana yang terasa semakin penuh tekanan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!