Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Arya masuk dengan tumpukan dokumen. Dian awalnya biasa saja, namun saat Arya berjalan ke arahnya, ia menatap Joshua dengan pandangan protes.
Ia memang pernah pegang perusahaan, tapi ia akan menyelesaikan sedikit demi sedikit dulu.
"Saya dengar kamu lumayan pintar. Kamu bahkan bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi kantor ayahmu, dan mengembalikan kejayaan perusahaan nya."
"Lalu, apa hubungannya dengan berkas setumpuk ini?"
"Saya hanya ingin melihat bagaimana kemampuan mu. Itu saja."
Arya keluar setelah meletakkan semua berkas-berkasnya. Dian menarik nafas berat. Ia mulai membuka berkas satu persatu. Ia dengan cermat membaca pokok persoalan yang terjadi, dan memberikan solusi nya. Karena ia merasa lama jika harus mengetik melalui laptop. Ia langsung mencoret dan mengisi solusinya di dalam berkas tersebut. Diam-diam, Joshua memperhatikan. Dian begitu serius saat bekerja. Wajahnya juga terlihat lebih adem, dan cantik.
Menyadari bahwa ia diam-diam memuji Dian, membuat nya kesal pada dirinya sendiri.
Sadarlah bajingan. Wanita cantik diluar sana masih banyak. Ingat tujuan awalmu, membalaskan dendam atas kematian ayah dan ibumu. Karena orang tua mereka pantas mendapatkan nya. Bagaimana jika nanti aku menghancurkan putri mereka perlahan-lahan.
Joshua mengepalkan tangannya dengan begitu erat. Menahan amarahnya. Ia sudah siap melihat kehancuran Dian dan keluarga nya. Mata-mata, sudah ia masukkan ke dalam perusahaan ayah Dian.
Sejam lebih, Dian begitu serius. Dan berkas tumpukan tadi sudah banyak yang ia selesai kan. Tinggal beberapa tumpukan lagi, dan ia rasa bisa menyelesaikan nya dengan cepat. Dian tambah semangat melakukan semuanya.
Saat semuanya selesai, Dian mengangkat nya untuk diantar pada Joshua, namun berkas tersebut sangat berat dan menutup jalannya. Saat akan jatuh, Joshua menahannya.
Joshua mengambil beberapa.
"Kenapa tidak mengangkat sedikit demi sedikit." Nada bicara Joshua terdengar lebih lembut.
"Ah, terima kasih." Dian merasa sedikit lega. Daripada ia harus jatuh di depan Joshua.
"Aku hanya tidak tahan melihat berkas ini menumpuk di tempat ku. Yang ada bikin mual saking banyaknya."
Dian meletakkan di meja Joshua, setelah itu kembali ke tempatnya.
Joshua memeriksa berkas satu persatu. Dan solusi yang diberikan Dian begitu bagus, untuk setiap proyek yang bermasalah.
"Pantasan ayahmu begitu memujimu. Ternyata kamu memang sangat pintar dalam masalah bisnis."
Si tua bangka itu memujiku? Hah, tumben sekali dia. Apa untuk menarik perhatian calon menantu nya ini? Dasar munafik.
"Lalu kenapa tidak bekerja lagi di perusahaan?"
"Karena dia tidak menyukainya." Jawab Dian ketus.
Joshua menggangguk paham. Tapi sepertinya dia salah mengartikan nya.
"Lagian mana mungkin, seorang ayah membiarkan putri kesayangannya melakukan pekerjaan yang melelahkan."
Dian melihat nya sebentar, tatapan mereka bertemu. Dian menjawabnya dengan senyuman kecil yang dipaksakan di sudut bibirnya. Terserah pria itu mau beranggapan seperti apa. Itu bukan urusannya.
Dian bosan menunggu Joshua yang belum selesai-selesai membaca. Pria itu lama sekali. Janjian dengan Cindy sekitar jam 2 sore. Karena katanya Cindy harus ikut beberapa kelas privat.
"Adekmu jarang keluar rumah ya, keluar pun harus dikawal terus."
"Iya, karena aku perlu menjaganya dari orang jahat. Makanya aku menyuruhnya homeschooling saja." Tatapan tajam Joshua mengarah pada Dian. Merasa dirinya dituduh sebagai orang jahat.
"Apa maksud dari tatapanmu itu? Kamu kira aku orang jahat. Mana mungkin aku menyakiti anak seimut itu. Dasar!"
"Perasaan aku nggak menuduhmu. Tapi kok tersinggung?"
"Tapi tatapan mu itu."
"Apa aku salah, bila berbicara dan menatap lawan bicara ku. Mana mungkin aku menjelaskan padamu lalu melihat ke tempat lain."
Dian terdiam. Dirinya kalah berdebat lagi.
"Aku akan pergi jam 2, berikan aku pekerjaan lain. Sudah bosan duduk seperti ini. Dari tadi menunggu mu membaca, lama sekali. Padahal cuman baca doang."
"Baiklah, karena nona Dian begitu ingin sekali bekerja, bisa bikinkan aku kopi. Tapi tolong banyakin kopinya, gulanya seperempat saja."
Bikin kopi?
"Aku kan asisten mu, bukan office girl. Untuk apa bikin kopi?"
"Tapi, disini biasanya asisten ku yang bikin. Bukan office girl. Jadi jangan banyak ngeluh."
Dian keluar dengan kesal. Tapi mendingan ia keluar dari ruangan itu sementara, dari pada harus duduk disana, dan hanya melihat nya menyelesaikan bacaan berkas itu berjam-jam.
"Ahh,,, seenggaknya terbebas dari orang itu untuk sementara waktu."
Dian masuk ke dalam lift, ia perlu mencari orang untuk menanyakan tempat membuat kopi di mana. Dian hanya perlu turun satu lantai saja, karena pasti lebih banyak orang di sana. Saat pintu lift terbuka, Dian memperhatikan sekitar untuk mencari orang.
Dian berjalan masuk karena tidak mendapati siapapun di lorong. Saat masuk melewati lorong, Dian berhenti pada ruangan Divisi 3.
Semua orang begitu sibuk pada pekerjaan mereka masing-masing. Tidak ada yang malas-malasan. Bahkan sebentar lagi makan siang, tapi semua orang hanya fokus pada komputer mereka.
"Permisi." Suara Dian menghentikan fokus dan perhatian mereka. Kini mereka saling bertanya dengan tatapan aneh.
Dian merasa kali ini ia telah melakukan kesalahan besar. Bukankah ia terlihat seperti pick me. Apakah mereka akan mengatakan seperti itu di belakangnya.
"Maaf mengganggu, bisakah saya bertanya?"
Semua masih saling diam dan saling lihat. Masih belum ada yang berani bergerak. Membuat Dian merasa canggung, karena menjadi pusat perhatian.
Seorang pria tinggi dengan postur tubuh yang bagus, serta wajah yang tampan berjalan mendekat ke arah Dian.
"Ada apa ya nona? Saya kepala Divisi 3. Apa mungkin ada yang bisa saya bantu?"
Semua karyawan menganga tak percaya. Mereka terlambat memberitahu siapa Dian sebenarnya.
Semua orang di kantor tersebut sudah tahu kalau Dian adalah calon istri bos mereka. Menurut berita yang beredar, itu yang akan terjadi. Makanya, mereka sedikit takut untuk menegur dan mengajak bicara. Dan mungkin karena kepala Divisi baru balik dari cutinya, dan sedikit terlambat tadi, dia belum tahu informasi itu sama sekali.
Menahannya juga percuma, karena akan terlihat lancang.
"Begini, saya akan membuat kan kopi untuk pak Joshua. Kira-kira dimana bikinnya?"
"Pak Joshua? Apa anda office girl?" Kepala Divisi melihat penampilan Dian, terlihat rapi, bukan office girl juga.
Dian sedikit memasang ekspresi kesal, namun ia tetap tenang. Kelapa Divisi merasa seperti nya telah salah menanyakan hal itu.
"Maaf? Saya baru melihat anda di sini."
Dian mengerti. Banyak yang belum tahu siapa dirinya. Karena Joshua juga tidak mengenalkan dirinya pada mereka.
"Saya Dian. Asisten baru pak Joshua." Dian mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
Sang kepala Divisi sedikit terkejut. Tapi ia merasa aneh, pak Arya masih terlihat datang ke kantor. Kenapa posisi nya diganti? Padahal pak Arya salah satu orang yang sangat dipercaya pak Joshua. Bahkan untuk mencapai tempatnya itu sangat sulit. Dan kini dengan mudahnya diganti dengan seorang wanita. Apakah pak Arya telah melakukan kesalahan?