Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.
Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.
Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Tamparan orang yang serakah
Langkah kaki bot militer Radit berdentam berat di atas tanah halaman gubuk, memecah keheningan yang mencekam. Setiap langkah pria itu membuat nyali ibu tiri Vina dan Mila kian menciut hingga mereka refleks melangkah mundur, menyembunyikan diri di balik tubuh kurus Vina yang masih terisak.
"T-Tuan Perwira... Ada keperluan apa Anda kembali ke sini?" tanya ibu tiri Vina dengan suara bergetar, mencoba memaksakan senyum ramah yang tampak sangat aneh di wajah piasnya.
Radit menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depan mereka. Pandangan matanya yang setajam silet turun, menatap nanar pada kebaya putih lusuh yang melekat paksa di tubuh Vina, serta helai rambut gadis itu yang acak-acakan. Kemarahan yang besar seketika bergemuruh di dalam dada sang perwira.
"Lepaskan tangan kalian dari calon istriku," perintah Radit. Suaranya tidak keras, namun getaran dingin di dalamnya sanggup membuat bulu kuduk kedua wanita serakah itu meremang.
Mila yang ketakutan langsung melepaskan cengkeramannya dari lengan Vina, namun ibu tirinya masih mencoba memberanikan diri. "Tapi, Tuan! Gadis ini sudah dijodohkan! Kami sudah menerima uang lamaran dan hari ini dia harus menikah dengan—"
"Siapa yang berani menikahinya?" potong sebuah suara berat dan serak dari arah gerbang luar.
Semua orang menoleh. Juragan Tejo berjalan masuk dengan perut tambunnya yang membusung angkuh, dikawal oleh dua orang pria berbadan kekar. Lelaki tua itu mengenakan beskap pengantin beludru hitam, bersiap menjemput Vina. Namun, begitu pandangannya bertubruk dengan sosok Radit yang berdiri gagah berseragam lengkap beserta tiga prajurit bersenjata di belakangnya, langkah Juragan Tejo seketika terkunci.
"Kau yang bernama Tejo?" tanya Radit dingin, membalikkan tubuhnya perlahan menghadapi lelaki tua itu.
Juragan Tejo menelan ludahnya dengan susah payah, nyalinya yang tadinya setinggi langit mendadak ambles ke dasar bumi melihat lencana emas perwira di dada Radit. "I-iya, Tuan. Saya Tejo. Ada masalah apa, ya? Saya hanya ingin menjemput calon istri saya yang sudah saya bayar lunas dari ibunya."
Radit mendengus hambar, senyuman meremehkan terukir di sudut bibirnya. Ia memberikan isyarat kecil dengan jentikan jarinya ke arah prajurit di belakang. Detik berikutnya, salah satu prajurit maju dan dengan kasar melemparkan sebuah tas jinjing kanvas tebal ke atas tanah, tepat di depan ujung sepatu bot Juragan Tejo hingga tas itu terbuka, memperlihatkan tumpukan uang tunai berwarna merah yang sangat tebal di dalamnya.
"Ambil uang itu. Jumlahnya sepuluh kali lipat dari uang haram yang kau berikan pada wanita serakah ini," ujar Radit dengan nada menghina yang telak. "Bawa uangmu, angkat kaki dari sini, dan jangan pernah berani menampakkan wajah burukmu di depan Vina lagi."
Ibu tiri Vina dan Mila seketika membelalakkan mata melihat tumpukan uang yang begitu banyak di dalam tas. Air liur keserakahan hampir menetes dari sudut bibir sang ibu tiri, namun ia tidak berani bergerak satu senti pun karena moncong laras panjang para prajurit kini mengarah lurus ke arah mereka.
Juragan Tejo yang menyadari posisinya kalah telak dalam hal kekuasaan maupun kekayaan, langsung membungkuk berkali-kali dengan wajah memelas. "B-baik, Tuan Perwira! Saya mengerti! Saya minta maaf karena tidak tahu gadis ini adalah milik Anda!"
Tanpa membuang waktu lagi, Juragan Tejo menyambar tas berisi uang itu dan langsung berlari terbirit-birit keluar dari halaman gubuk bersama kedua pengawalnya, ketakutan setengah mati jika nyawanya melayang di tangan militer.
Setelah pengacau itu pergi, Radit membalikkan tubuhnya kembali menghadap ibu tiri Vina yang kini mendadak bersikap manis, berharap bisa kecipratan harta dari sang perwira.
"Aduh, Tuan Perwira... Ternyata Anda benar-benar bertanggung jawab," ujar ibu tirinya dengan nada bicara yang dibuat-buat manja. "Kalau begitu, uang tebusan untuk pernikahan Vina bisa langsung diserahkan kepada saya sebagai ibunya—"
"Aku tidak sudi memberikan satu rupiah pun kepada wanita yang tega menjual anaknya sendiri," potong Radit kejam, membuat ucapan ibu tiri Vina terhenti seketika.
Radit mengabaikan mereka berdua, lalu melangkah mendekati Vina. Tatapan matanya yang semula sedingin es mendadak melembut dengan sangat kontras saat menatap wajah polos gadis desa yang kini menatapnya dengan pandangan tidak percaya bercampur haru. Air mata Vina masih menetes pelan di pipinya.
"Aku datang untuk menepati janjiku kemarin untuk menjaga kehormatan mu, aku akan menikahi mu," bisik Radit lembut.
Pria itu melepas jas militer tebal miliknya yang bersih, lalu menyampirkannya ke bahu kecil Vina, membungkus tubuh gadis itu dengan kehangatan yang protektif. Sebelum Vina sempat mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya yang kelu, Radit sudah lebih dulu menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Vina, mengangkat tubuh kecil gadis itu dengan gaya bride-style ke dalam dekapannya yang kokoh.
Vina terpekik pelan, refleks mengalungkan kedua lengannya ke leher kekar Radit. Detak jantungnya bertalu-talu hebat saat mencium aroma maskulin bercampur minyak obat dari dada bidang pria yang semalam diselamatkannya itu.
"Tuan... luka perutmu nanti berdarah lagi," cicit Vina lirih, mengkhawatirkan kondisi fisik Radit.
Radit hanya menatapnya sekilas dengan binar mata yang tegas. "Diam dan bersandarlah. Tugasmu sekarang hanya perlu memercayai aku."
Radit membawa Vina berjalan menjauh menuju mobil jip militer miliknya, meninggalkan halaman gubuk tanpa menoleh lagi. Para prajurit dengan sigap membukakan pintu mobil dan membantu menyelimuti Vina di kursi penumpang, sebelum akhirnya jip militer itu melaju kencang meninggalkan kepulan debu, membawa Vina pergi menuju kota.
Sementara itu, di halaman rumah yang kini kembali sepi, ibu tiri Vina dan Mila hanya bisa berdiri mematung menatap kepergian mereka. Alih-alih merasa bersyukur karena Vina mendapatkan pria yang mapan, wajah kedua wanita itu justru menggelap, dipenuhi rasa iri, dengki, dan dendam yang amat sangat karena tidak mendapatkan uang sepeser pun.
"Ibu... kita tidak bisa membiarkan anak sialan itu hidup bahagia di kota bersama perwira kaya itu!" geram Mila dengan tangan mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih.
Ibu tirinya tersenyum sinis, matanya berkilat penuh kelicikan yang mengerikan saat menatap sisa debu kendaraan Radit di ujung jalan. "Tentu saja tidak, Mila. Ibu tahu persis cara menghancurkan perempuan murahan seperti dia. Kita akan pergi ke kota besok, dan Ibu akan pastikan pernikahan mereka berubah menjadi mimpi buruk yang paling mengerikan untuk Vina!"