"Mama akan menikah."
Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.
"Aku tidak setuju, Ma..."
Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.
"Mama berhak bahagia, Amerta."
Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.
Amerta Bunga Adiguna.
Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.
Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Mahesa Putra Dirgantara.
Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 19
Gumpalan kertas surat dari Amerta dicengkeram begitu kuat hingga kuku-kuku jari Mahesa memutih. Amarah yang membakar dadanya kini telah bermutasi menjadi dingin yang membekukan. Siasat adiknya memang cerdik karena berhasil memanfaatkan restu orang tua mereka sebagai perisai hukum. Namun, Amerta tampaknya lupa bahwa restu itu hanya berlaku di dalam rumah ini. Di luar sana, di bawah langit Jakarta yang gelap, kekuasaan mutlak tetap berada di tangan Mahesa.
Melangkah lebar kembali ke kamarnya, Mahesa mengunci pintu rapat-rapat. Ia mengabaikan rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya setelah seharian penuh mengurus bisnis. Baginya, memburu Amerta jauh lebih krusial daripada waktu istirahatnya.
Ia mengambil ponsel khusus berenkripsi miliknya, lalu menekan sebuah nomor. Hanya dalam satu kali nada sambung, suara berat seorang pria langsung menyahut di seberang sana.
"Ya, Pak Mahesa. Ada perintah?"
"Lacak adikku, Amerta," perintah Mahesa tanpa basa-basi. Suaranya luar biasa datar, namun memiliki penekanan yang membuat bulu kuduk bergidik. "Dia meninggalkan rumah sore tadi menggunakan sopir keluarga. Cari tahu di mana lokasi flat atau apartemen yang dia sewa."
Di seberang telepon, terdengar suara ketukan kibor yang cepat. "Baik, Pak. Apakah kami harus mencegatnya?"
"Tidak perlu," potong Mahesa cepat, matanya menatap tajam pantulan dirinya di jendela kaca. "Kepergiannya kali ini mengantongi izin dari Ayah dan Mama. Jika kalian menyentuhnya secara kasar, orang tuaku akan curiga. Bermainlah dengan bersih."
Mahesa berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, melonggarkan kancing teratas kemejanya yang terasa kian mencekik. "Buka akses ke seluruh CCTV publik di sekitar rute yang dilalui mobil rumah sore tadi. Periksa setiap persimpangan, lampu merah, hingga area sekitar kampus Amerta dalam radius lima kilometer. Aku ingin tahu flat mana yang dia masuki, lantai berapa, dan nomor kamar berapa."
"Dimengerti, Pak. Akses ke CCTV jalan raya dan area komersial di sekitar kampus sedang kami retas. Tim siber kami akan menyaring rekaman dari pukul empat sore tadi."
"Bagus. Ingat, jangan sampai ada satu pun pihak internal keluarga—termasuk sopir yang mengantarnya tadi—mengetahui pergerakan ini. Jika sopir itu pulang, biarkan dia. Aku tidak butuh informasi dari mulutnya yang bisa saja memicu kecurigaan Mama. Aku hanya percaya pada data visual dari kalian," tegas Mahesa.
"Siap, Pak. Kami akan bergerak dalam senyap. Begitu titik koordinatnya ditemukan, apakah kami harus menempatkan personel di sana?"
Sebuah senyuman miring yang sarat akan kelicikan terukir di wajah tampan Mahesa. "Ya. Tempatkan tiga orang tim senyap untuk mengawasi flat itu dua puluh empat jam. Pasang kamera pengawas tersembunyi di koridor depan kamarnya jika memungkinkan. Aku ingin laporan mendetail tentang siapa saja yang berinteraksi dengannya, jam berapa dia keluar untuk kuliah, dan apa saja yang dia beli."
"Baik, Pak Mahesa. Laporan awal mengenai rekaman CCTV rute pelarian Nona Amerta akan dikirimkan ke tablet Anda dalam waktu tiga puluh menit."
Panggilan itu terputus. Mahesa meletakkan ponselnya di atas meja kerja, lalu berjalan mendekati dinding ruangannya yang menyembunyikan sebuah brankas rahasia. Di dalamnya, berjejer beberapa gawai dan dokumen yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun, termasuk sebuah tablet yang terhubung langsung dengan sistem keamanan satelit dan jaringan siber pribadinya.
Tepat tiga puluh menit kemudian, layar tablet tersebut menyala, menampilkan notifikasi pesan masuk yang terenkripsi.
Mahesa membukanya. Serangkaian potongan video dari CCTV publik mulai terputar. Layar pertama menampilkan mobil Alphard milik keluarganya yang melintasi jalan layang pada pukul 16.45 WIB. Layar kedua, berganti ke CCTV sebuah lampu merah di dekat kawasan universitas. Di sana, melalui kaca mobil yang agak gelap, Mahesa bisa melihat siluet Amerta yang sedang menatap ke luar jendela dengan senyuman lega—senyuman yang mengindikasikan bahwa gadis itu merasa telah benar-benar bebas dari cengkeramannya.
"Kamu tersenyum, Amerta?" desis Mahesa, jemarinya mengusap permukaan layar tablet tepat di atas wajah Amerta. Matanya berkilat penuh kegilaan obsesif. "Tersenyumlah selagi kamu bisa. Kamu pikir flat kecil itu akan menjadi tempat perlindunganmu?"
Layar tablet kemudian menampilkan potongan video terakhir: mobil tersebut berhenti di depan sebuah bangunan flat berlantai empat yang tampak sederhana namun bersih. Amerta turun sambil menggendong ransel hitamnya, diikuti oleh sopir yang membantu menurunkan satu koper besar.
Mahesa memperbesar gambar tersebut, mencatat dengan saksama alamat, bentuk bangunan, hingga posisi jendela yang kemungkinan besar adalah kamar baru adiknya.
"Satu langkah salah yang kamu ambil, Amerta, adalah berpikir bahwa kamu bisa hidup mandiri di kota yang sepenuhnya berada di bawah kendaliku," gumam Mahesa dengan suara rendah yang berbahaya. "Aku tidak akan menyeretmu pulang sekarang. Aku akan membiarkanmu menikmati ilusi kebebasan ini selama beberapa waktu ......sebelum aku sendiri yang datang untuk meruntuhkan dinding flat itu dan membawamu ke sangkar yang sesungguhnya."