NovelToon NovelToon
ASI untuk Pewaris Haram

ASI untuk Pewaris Haram

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Ibu susu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: N A R I

Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.

Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.

Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.

Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.

Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.

Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.

Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,

“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Ruang Keluarga Rothmere

Bastian berdiri di ambang pintu ruang bayi. Tatapan Bastian tak beralih sedikit pun dari sosok wanita kurus yang sedang menggendong Nathan. Kemala sama sekali tidak menyadari dirinya sedang diperhatikan. Perhatian wanita kurus itu hanya tertuju pada bayi kecil di pelukannya.

Tangan Kemala menopang tubuh Nathan dengan sangat hati-hati. Jemari Kemala sesekali mengusap punggung mungil bayi itu dengan gerakan lembut. Seolah Nathan adalah sesuatu yang paling berharga di dunia.

Nathan yang biasanya mudah gelisah apalagi saat digendong seseorang, justru terlihat begitu tenang. Bahkan napas Nathan terdengar lebih teratur dibanding biasanya.

Pemandangan itu membuat Bastian terdiam. Membuat pandangannya sulit berpaling dari wanita muda yang sedang menggendong anaknya. 

Selama hidupnya, Bastian tumbuh di lingkungan yang dipenuhi kepentingan. Semua orang menginginkan sesuatu atas dirinya. Entah itu keuntungan, kekuasaan, uang, atau jabatan. Bahkan hubungan keluarga sering kali terasa seperti transaksi. Karena itu, ketulusan menjadi sesuatu yang hampir tidak pernah Bastian temui.

Namun wanita desa bernama Kemala itu berbeda. Tak ada kepura-puraan yang terlihat dari Kemala. Tak ada ambisi tersembunyi dalam rangkulan lembut saat Kemala menggendong Nathan. Tak ada usaha mengambil keuntungan yang biasanya hampir selalu menempel pada orang-orang yang mendekati Bastian. Dalam seluruh gerakan Kemala yang terlihat oleh Bastian hanya ada ketulusan seorang ibu.

Nathan bergerak kecil. Kemala langsung menundukkan kepala. "Wah, sudah bangun?"

Suara Kemala begitu lembut. "Kamu lapar ya?"

Nathan mengeluarkan suara kecil. Kemala tersenyum dalam wajah ayunya. Senyum yang begitu hangat hingga membuat ruangan terasa berbeda.

Namun beberapa detik kemudian, senyum itu perlahan memudar. Mata Kemala mulai memerah. Kemala segera menunduk berusaha menyembunyikan sesuatu.

Dari depan pintu, Bastian melihat tangisan itu. Setitik air mata jatuh ke pipi wanita itu.

Kemala buru-buru menghapusnya. Namun air mata itu terus mengalir deras dalam keheningan. Suasana ruangan menjadi cukup berat. Bastian yang sedari tadi memperhatikan Kemala dan Nathan juga tak bisa mengeluarkan satu suara pun.

Nathan, bayi kecil yang masih terlihat sangat lemah itu mengingatkan Kemala pada seseorang. Seseorang yang bahkan belum sempat diberi nama oleh Kemala. Buah hati Kemala yang terlalu kecil untuk melawan dunia, bayi yang hilang beberapa hari setelah dilahirkan.

Dada Kemala kembali terasa teramat sesak. Bagaimana keadaan bayi Kemala sekarang? Apakah dia menangis? Apakah ada yang memberi bayi itu susu? Apakah ada yang menggendong buah hati Kemala saat ketakutan?

Kemala memeluk Nathan sedikit lebih erat, mendekapnya dengan penuh kehangatan. Bukan karena bayi yang ada dalam pelukan Kemala, melainkan karena kerinduan Kemala kepada buah hatinya yang menghilang bagaikan ditelan bumi.

"Jadi dia ibu susu yang kamu temukan, Bastian?" suara wanita tua terdengar pelan dari belakang Bastian.

Kemala masih tetap fokus pada Nathan dan perasaan kehilangannya sama sekali tak mendengar suara wanita tua itu.

Bastian yang sedari tadi terpaku dalam perhatian yang ditujukan ke Kemala, baru menyadari kehadiran seseorang. Madam Eleanora berdiri di ambang pintu. Penampilan wanita tua dengan gaun elegan dengan potongan sempurna terlihat begitu anggun dan berwibawa. Tatapan Madam Eleanora langsung tertuju kepada Nathan.

"Iya, Ma." Bastian yang sudah tersadar berjalan mendekati ibunya.

Madam Eleanora mengamati Kemala beberapa saat. Alis wanita tua itu sedikit berkerut. "Kamu yakin?"

Bastian memahami maksud pertanyaan itu. Kemala memang terlihat kurus. Wajah Kemala yang sedang fokus menggendong Nathan itu masih pucat. Tubuh wanita muda ayu itu tampak jauh dari gambaran seorang wanita sehat yang baru melahirkan.

Namun Bastian menjawab dengan tenang. "Kemala sudah diperiksa tim medis."

"Dan?" tanya Madam Eleanora yang masih memperhatikan Kemala dari ujung rambut hingga ujung kaki Kemala.

"Semua hasilnya baik," ungkap Bastian juga ikut memandang Kemala.

Madam Eleanora masih diam. Namun Bastian yang sudah sangat yakin dengan keputusannya mempekerjakan Kemala melanjutkan. "Nathan juga sudah menerima ASI dari Kemala."

Tatapan Madam langsung berubah. Beberapa kali percobaan dengan formula dan bahkan ASI yang lain justru memperburuk kondisi penerus Rothmere itu.

"Tidak ada penolakan?" tanya Madam yang sangat ingin Nathan dalam kondisi sehat.

"Tidak," jawab Bastian.

“Benar?” Madam bertanya sekali lagi, seolah belum berani mempercayai bahwa wanita muda di hadapannya bisa menjadi penyelamat bagi Nathan.

Bastian yang sejak tadi memperhatikan Kemala dan Nathan, kini menatap wajah ibunya yang penuh harapan. Bastian mengangguk dengan yakin. "Dokter juga cukup terkejut."

Madam Eleanora menoleh ke arah Nathan. Untuk pertama kalinya sejak melihat ruangan Nathan, wajahnya sedikit melunak.

"Bagus."

Satu kata itu terdengar sangat berarti. Karena selama beberapa hari terakhir, kondisi Nathan benar-benar membuat seluruh keluarga Rothmere cemas.

"Kita tidak bisa mengambil risiko lagi," tegas Madam Eleanora.

"Tidak akan." Bastian menjawab dengan penuh keyakinan.

Madam Eleanora mengangguk pelan. Lalu kembali menatap Kemala.

"Kalau begitu …" Madam menoleh kepada Bastian. "Perkenalkan dia secara resmi di ruang keluarga."

Bastian langsung memahami maksud ibunya. "Baik, Ma."

Madam Eleanora langsung pergi tanpa memasuki ruangan Nathan. Setelah Madam Eleanora pergi, Bastian mendekati Kemala.

Saat itu Kemala masih menggendong Nathan. Mata Kemala masih sedikit sembap. Namun wajah ayu itu terlihat jauh lebih tenang.

"Kemala," panggil Bastian yang sudah berada di dekat Kemala.

Wanita itu langsung menoleh ke arah Bastian. "Iya, Pak?"

"Datanglah ke ruang keluarga. Madam ingin bertemu denganmu," ujar Bastian kepada Kemala.

Kemala tampak gugup. "Saya?"

"Iya," timpal Bastian singkat.

"Ruang keluarga? Untuk apa?" Kemala sangat penasaran keperluan apa yang membutuhkan Kemala di ruang keluarga dari Rothmere.

"Kamu akan tahu nanti," kata Bastian tidak menjawab semua tanda tanya yang berputar dalam kepala Kemala.

Kemala menelan ludah. "Baik, Pak."

"Pergilah bersiap," perintah Bastian kepada Kemala yang masih menggendong Nathan.

Kemala mengangguk. Dengan hati-hati wanita kurus itu membungkuk mengembalikan Nathan ke tempat tidurnya. Nathan tetap tenang dan kembali dalam tidurnya. Kemala berjalan keluar ruangan melalui pintu besar dari ruangan seorang bayi kecil.

Sementara itu, Bastian tetap berdiri di sisi ranjang bayi Nathan. Tatapan Bastian sempat mengikuti langkah Kemala. Pria tegas yang selalu mengkhawatirkan Nathan yang selalu rewel sebelumnya, akhirnya Nathan bisa tenang dan nyaman berada di kediaman megah Rothmere.

Sekitar tiga puluh menit kemudian.

Ruang keluarga utama Rothmere, ruangan yang bahkan lebih megah dibanding ruang tamu hotel berbintang. Lampu kristal menggantung tinggi di langit-langit. Karpet tebal membentang memenuhi lantai. Lukisan mahal menghiasi setiap sudut dinding.

Bastian duduk di sofa sambil menatap layar tabletnya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Biasanya pada jam seperti ini Bastian sudah berada di kantor atau melakukan pengarahan di lokasi megaproyek. Namun karena permintaan ibunya, jadwal Bastian sedikit berubah.

"Di mana istrimu?" Madam Eleanora yang baru masuk langsung bertanya.

Bastian bahkan tidak mengangkat kepala. "Masih di kamarnya."

"Kamu tidak menyuruhnya ke sini?" Madam lanjut bertanya.

"Sudah," timpal Bastian singkat sambil menatap Madam Eleanora.

Madam Eleanora mendecak pelan. "Kita lihat saja apakah dia datang."

Bastian tidak menjawab. Perhatian lelaki yang sudah siap untuk pergi ke kantor itu kembali kepada pekerjaan di tabletnya.

Beberapa menit kemudian. Seorang pelayan membuka pintu. "Nona Kemala sudah datang, Madam."

"Persilakan masuk," timpal Madam Eleanora yang sudah duduk di kursinya dengan ukiran mewah.

Kemala melangkah masuk dengan gugup. Gaun sederhana berwarna krem yang diberikan Keluarga Rothmere kini membungkus tubuhnya. Meski sederhana menurut standar Rothmere, pakaian itu tetap terlihat mahal bagi Kemala.

"Selamat pagi," suara Kemala terdengar pelan.

"Silakan duduk." Madam Eleanora menunjuk kursi di hadapannya.

Kemala segera duduk. Punggung Kemala tegak memperlihatkan jelas ketegangan dalam dirinya. Tangan lentik wanita kurus itu bertaut gugup di atas pangkuan.

"Siapa namamu?" Madam Eleanora kembali bersuara.

Pertanyaan itu datang tanpa basa-basi.

"Saya Kemala Sinta, Nyonya," jawab Kemala hampir terbata-bata.

"Panggil saya Madam," ujar wanita tua yang terbalut busana aristokrat itu.

"Baik, Madam." Kemala mengangguk dengan upaya mengumpulkan keberaniannya.

Madam Eleanora mengangguk. Tetua Keluarga Rothmere itu kemudian menyilangkan tangan dengan sikap tenang dan berwibawa, membuat syal beludru di bahunya bergeser perlahan. 

"Saya akan menjelaskan peraturan di kediaman Rothmere," ujar Madam penuh wibawa.

"Baik, Madam," timpal Kemala yang cukup terkejut semakin menegakkan punggungnya.

Kemala sempat heran. Wanita ayu itu mengira akan ditanyai banyak hal. Tentang diri Kemala, keluarga, atau tentang bagaimana wanita desa itu bisa sampai di kediaman yang megah ini.

Tak seperti apa yang Kemala perkirakan, semua itu tak terjadi. Di balik rasa heran Kemala, wanita muda itu tak mengetahui bahwa Madam Eleanora memang tak membutuhkan penjelasan. Sebagai tetua dalam keluarga Rothmere, Madam Eleanora terbiasa bergerak di belakang layar. Wanita tua yang selalu menjaga kewibawaannya itu hanya perlu sekali bertanya, lalu semua sumber daya yang dimiliki Madam Eleanora akan bergerak. 

Apalagi yang paling penting bagi Madam saat ini hanyalah satu hal. Nathan, sang penerus yang akan membawa nama Rothmere ke generasi berikutnya. Selama Nathan sehat dan hidup, maka sisanya bisa diatur kemudian.

"Kamu akan tinggal di sini selama bekerja."

"Baik, Madam," jawab Kemala tegas.

"Kamu tidak diperbolehkan membawa orang luar masuk ke kediaman."

"Saya mengerti, Madam." Keteguhan terlihat jelas di wajah ayu Kemala.

"Kamu harus selalu tersedia ketika Nathan membutuhkanmu."

Kemala mengangguk tanpa ragu. "Tentu, Madam."

Madam Eleanora memperhatikan reaksi Kemala. Dalam wajah polos itu sama sekali tak ada keluhan, tuntutan, maupun permintaan tambahan. Alih-alih merasa berat, Kemala terlihat begitu yakin dan tegas terhadap atas setiap jawabannya. 

Hal itu sedikit mengejutkan wanita tua itu. Sebab kebanyakan orang akan berusaha memanfaatkan kesempatan berada di dekat Keluarga Rothmere. Namun Kemala hanya tampak ingin bekerja.

"Dan satu lagi," ucap Madam Eleanora.

Kemala langsung menegakkan tubuh. "Ya, Madam?"

"Keselamatan Nathan adalah prioritasmu." Tatapan Madam berubah tajam. "Apakah kamu mengerti?"

Kemala langsung menjawab tanpa ragu. "Saya mengerti."

Ruangan menjadi hening. Madam Eleanora mengangguk puas. Namun tepat saat Madam hendak melanjutkan pembicaraan, sesuatu menyentak mereka.

Brak!

Pintu ruang keluarga terbuka keras. Semua orang langsung menoleh ke arah pintu. Langkah sepatu hak tinggi terdengar menghentak lantai marmer. Raline masuk dengan wajah penuh amarah. Tatapan wanita bergaun mewah itu langsung menemukan Kemala yang sedang duduk di hadapan Madam Eleanora. Dan dalam sekejap wajah cantik berhias make up itu berubah semakin gelap.

"Kenapa Mama membiarkan gembel ini masuk ke ruang keluarga?!

1
Apita BalqisNabillah
jangan sampai ketipu kemala siapa tau anak yng dibawa clarissa bukan arkana anakmu melainkan anak orang yng diambil dari panti asuhan.....jangan sampai nathan celaka gegara kamu lengah kemala...
Apita BalqisNabillah
waduh apa tujuan si clarissa mendekati kemala apa mau dijadikan tumbal
N A R I: waduh serem banget 😢
total 1 replies
Syifa Rufaidah
kerennn
N A R I: terima kasih kak 😍
total 1 replies
Alia Chans
cerita nya ser😣
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️






kalo berkenan mampir juga y😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!