Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Negosiasi Pagi dan Rahasia yang Berlanjut
Sinar matahari pagi yang cerah menyiram kehangatan di sekitar area dapur bersih kediaman Wijaya. Arumi terbangun lebih awal dari biasanya.
Setelah membasuh wajah dan mengenakan blus kasual baru pemberian Renard, langkah kakinya langsung menuntunnya turun ke lantai bawah. Pikirannya sama sekali tidak bisa lepas dari nasib anak kucing liar berbulu oranye yang semalam menghabiskan malam di dalam handuk kristal mahal milik sang miliarder.
Begitu sampai di dekat lorong dapur, Arumi menghentikan langkahnya. Ia mengintip perlahan, mengira akan menemukan area tersebut kosong atau hanya ada Bi Sumi yang sedang menyiapkan sarapan.
Namun, pemandangan di depannya kembali membuat Arumi harus menahan senyum kuat-kuat.
Di sudut ruangan, dekat pintu kaca menuju taman, kini sudah bertengger sebuah kandang portabel mewah bermerek luar negeri yang harganya pasti setara dengan uang kuliah Arumi selama satu semester.
Di dalam kandang berlapis bantal beledu itu, si kucing kecil sedang tertidur pulas dengan perut buncit yang kekenyangan. Dan tepat di depan kandang tersebut, berdiri Renard Wijaya dengan setelan kemeja putih yang lengannya sudah digulung rapi, memegang sebuah kaleng makanan kucing premium berlogo emas.
"Tuan Renard?" panggil Arumi pelan, tidak ingin mengejutkan pria itu.
Renard tersentak hebat hingga kaleng di tangannya nyaris terjatuh. Ia langsung menegakkan tubuhnya, berbalik dengan cepat, dan memasang kembali wajah sedingin es andalannya dalam waktu kurang dari satu detik. Semburat merah tipis yang familier langsung menghiasi kedua daun telinganya.
"Kamu... kenapa hobi sekali muncul tiba-tiba seperti hantu?" ketus Renard, melangkah menjauh dari kandang kucing seolah-olah ia tidak baru saja berdiri di sana sambil memandangi hewan itu selama sepuluh menit.
"Maaf, saya tidak bermaksud mengejutkan Anda," Arumi berjalan mendekat, matanya melirik ke arah kaleng makanan dan tumpukan perlengkapan kucing baru di atas meja dapur. "Saya kira, pagi ini asisten Anda akan langsung membawanya ke tempat penampungan hewan?"
Renard berdeham keras, merapikan kerah kemejanya dengan gerakan canggung.
"Asistenku sedang sangat sibuk mengurus persiapan rapat umum pemegang saham pagi ini," dalih Renard dengan nada suara yang sengaja dibuat angkuh.
"Dia tidak punya waktu untuk mengurus hal sepele seperti ini. Jadi, dia hanya sempat menyuruh toko hewan peliharaan terdekat untuk mengirimkan kandang dan makanan ini agar makhluk kotor itu tidak berkeliaran dan merusak karpet rumahku sebelum dipindahkan minggu depan. Ini murni untuk perlindungan aset."
Arumi berjongkok di depan kandang, memperhatikan kaleng makanan kucing yang dibeli oleh toko tersebut. Sebagai seseorang yang sangat paham tentang kebutuhan kucing, Arumi langsung menyadari sesuatu.
"Tuan Renard, makanan ini memang sangat mahal dan berkualitas tinggi," ujar Arumi sambil menunjuk label pada kaleng. "Tapi ini formula untuk kucing dewasa. Anak kucing sekecil ini belum bisa mencerna tekstur daging yang terlalu padat seperti ini dengan baik. Dia bisa sakit perut jika Anda terus memberikan ini."
Renard mengernyitkan dahi, matanya melirik kaleng di tangannya dengan bingung namun gengsinya menolak untuk terlihat bodoh. "Aku hanya menyuruh mereka mengirimkan produk terbaik yang paling mahal. Mahal berarti bagus, bukan?"
Arumi terkekeh pelan, mendongak untuk menatap mata elang suaminya. "Dalam dunia perawatan hewan, mahal tidak selalu berarti cocok, Tuan Muda yang rasional. Anak kucing butuh tekstur yang lebih lembut dan kandungan protein khusus pertumbuhan. Jika Anda tidak keberatan, nanti sore sepulang dari kampus, saya bisa membelikan makanan yang tepat untuknya. Saya tahu merek yang bagus dan ekonomis, tapi sangat cocok untuk kucing jalanan seperti dia."
Renard tertegun sejenak melihat binar penuh pengetahuan di mata Arumi. Ada rasa kagum yang samar yang melintas di benaknya, melihat bagaimana gadis yang sedang terpuruk ini tetap memiliki sisi kepedulian yang besar. Namun, ego raksasanya dengan cepat mengambil alih.
"Terserah kamu saja," jawab Renard dingin, memalingkan wajahnya egois. "Gunakan kartu debit yang sudah kuberikan pada Bi Sumi kemarin. Jangan gunakan uangmu sendiri, aku tidak ingin ada rumor bahwa istri seorang Renard Wijaya harus berhemat untuk membeli makanan kucing."
Pria itu kemudian berjalan menuju meja makan utama tempat laptopnya sudah menyala, menampilkan beberapa draf laporan bisnis. Namun, saat ia melewati ruang tengah, pandangannya tidak sengaja menangkap sebuah map dokumen berwarna biru yang tergeletak di atas meja kopi—map milik Arumi yang berisi berkas pendaftaran yudisium dan revisi skripsinya.
Renard menghentikan langkahnya, menatap map itu sejenak sebelum beralih menatap Arumi yang kini sedang mengusap lembut kepala si kucing oranye melalui celah kandang.
"Arumi," panggil Renard, suaranya berubah menjadi sedikit lebih serius, meski tetap terdengar kaku.
Arumi menoleh. "Iya, Tuan?"
"Kulihat berkas tugas akhirmu sudah selesai direvisi," ucap Renard, matanya melirik ke arah map biru. "Kapan tenggat waktu final pendaftaran yudisium kampusmu?"
Arumi agak terkejut karena Renard mengetahui tentang hal itu. "Tanggal empat belas Maret ini, Tuan. Tinggal beberapa hari lagi. Saya harus memastikan semua tanda tangan dekanat selesai minggu ini agar tidak perlu memperpanjang semester."
Renard terdiam sesaat, rahangnya mengetat seolah sedang menimbang sesuatu di dalam pikirannya.
"Pastikan kamu menyelesaikannya tepat waktu," ujar Renard datar, kembali melangkah menuju meja kerjanya. "Aku tidak ingin jadwal wisudamu nanti mengganggu agenda liburan keluarga besar Wijaya yang sudah dijadwalkan tahun depan. Jadi, jangan berani-berani menundanya lagi."
Arumi menatap punggung tegap Renard yang kini sudah duduk di depan laptopnya. Senyuman tipis kembali terukir di wajah gadis itu.
Di balik kalimat ancaman dan perintahnya yang selalu ketus, Arumi tahu betul bahwa Renard sebenarnya sedang mengingatkannya untuk tidak menyerah pada pendidikannya di tengah semua badai ini. Sang miliarder arogan itu, dengan caranya yang aneh, sedang menyemangatinya.