Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 9
"Mulai besok pagi, kamu bisa kembali pindah ke kamarmu di bawah."
Deg.
Inara merasa seolah ada sebongkah es batu yang baru saja dijatuhkan ke dalam dadanya.
"Pindah ke bawah?"
"Ya. Ini kamar saya. Dua hari kemarin saya mengizinkanmu di sini hanya agar Dokter Tirta lebih mudah memantau kondisimu. Sekarang setelah kamu sembuh, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk berada di satu ranjang," ujar Mahesa tanpa beban.
Seolah tiga hari penuh perhatian kemarin hanyalah sebuah kewajiban moral yang terpaksa dia tunaikan agar tidak dicap sebagai pembunuh. Mahesa benar-benar sudah mempermainkan perasaannya. Inara mencengkeram selimutnya kuat-kuat.
"Jadi, semua perhatian Mas selama dua hari ini hanya karena Mas merasa bersalah karena aku pingsan di kantormu?"
Mahesa terkekeh sinis, menyunggingkan senyuman meremehkan yang sangat Inara kenali. Keangkuhan pria baji-ngan itu telah kembali seutuhnya setelah melihat Inara tidak lagi berada di ambang maut.
"Lalu kau berharap apa, Inara? Aku tiba-tiba jatuh cinta padamu hanya karena kau sakit?" Mahesa melangkah maju, menunduk dengan tatapan yang menguliti harga diri Inara.
"Jangan naif. Saya merawatmu karena saya tidak mau Mama curiga dan mengacaukan rencana saya dengan Clarissa. Hari ini Clarissa mendatangi saya di kantor, mengeluh karena proyek Pak Hadi tertunda akibat dramamu. Jadi, hentikan tatapan penuh harapmu itu. Itu menjijikkan. Kita harus segera bekerja kembali! Apalagi Pak Hadi selalu meminta agar kamu ada di setiap meeting! Menyebalkan!"
Setiap patah kata yang meluncur dari bibir Mahesa terasa seperti belati yang digoreskan di atas luka yang baru saja mengering. Inara ingin berteriak, ingin memaki, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Rasa sakit di dadanya kembali mencuat, bukan karena penyakit fisik, melainkan karena kebodohannya sendiri yang sempat percaya bahwa pria di depannya ini memiliki hati nurani.
"Dan satu hal lagi," tambah Mahesa.
Mahesa berbalik memunggungi Inara untuk mengambil kemeja bersih dari lemari.
"Besok akhir pekan. Jangan lupa, kita tetap harus pergi ke Presidential Suite pilihan Mama. Kemasi barang-barangmu malam ini juga. Pastikan kamu merias wajahmu besok, saya tidak mau kolega saya melihat wajah pucatmu yang menyedihkan itu."
Mahesa melangkah masuk ke dalam kamar mandi, menutup pintunya dengan keras, menyisakan kesunyian yang kembali meremukkan jiwa Inara.
Di atas ranjang mewah itu, Inara tertawa lirih, sebuah tawa getir yang sarat akan cemoohan untuk dirinya sendiri. Air matanya luruh dalam diam, membasahi tangannya yang kini tak lagi digenggam oleh siapa pun. Dia sadar, Mahesa tidak akan pernah mencintainya. Pria itu hanya menyembuhkannya agar bisa kembali menggunakannya sebagai tameng sandiwara di depan sang ibu, sebelum akhirnya membuangnya seperti sampah saat Clarissa mengambil alih posisinya.
Keesokan harinya, Sabtu pagi yang cerah namun terasa mendung bagi Inara, mereka berangkat menuju hotel bintang lima yang telah dipesan oleh Mama Karina. Sepanjang perjalanan, mobil mewah itu dipenuhi keheningan yang mencekam. Mahesa fokus pada kemudinya, sementara Inara menatap kosong ke luar jendela.
Sesampainya di hotel, mereka disambut langsung oleh manajer hotel yang membimbing mereka menuju Presidential Suite di lantai teratas. Kamar itu luar biasa megah, dipenuhi dengan dekorasi bunga mawar merah, lilin aromaterapi, dan sebuah kartu ucapan besar bertuliskan.
"Happy 1st Anniversary, Mahesa & Inara. Mama & Papa can’t wait for the good news!"
Begitu pintu kamar tertutup dan manajer hotel pergi, Mahesa langsung melempar kunci kamar ke atas meja kaca dengan bunyi dentang yang nyaring.
"Bereskan barang-barangmu. Jam satu siang nanti, Mama akan melakukan panggilan video untuk mengecek apakah kita benar-benar menikmati fasilitas ini. Pastikan kau tersenyum lebar," perintah Mahesa dingin seraya melonggarkan jam tangan Rolex-nya.
Inara hanya mengangguk kaku. Dia berjalan menuju lemari pakaian untuk menggantung gaunnya. Namun, belum sempat dia membuka ritsleting tasnya, bel pintu kamar berbunyi.
Ting tong.
Mahesa mengernyitkan dahi.
"Siapa? Apa ada layanan kamar yang belum dibatalkan?" Pria itu melangkah lebar dan membuka pintu.
Detik berikutnya, napas Inara seolah berhenti di tenggorokan.
"Kejutan! Hai, Mas Mahesa..."
Suara manja itu merayap masuk ke dalam kamar, disusul oleh sosok wanita dengan mini dress satin berwarna merah menyala yang sangat kontras dengan suasana kamar pengantin itu. Clarissa. Dia berdiri di sana, menjinjing sebuah koper kecil dengan senyum kemenangan yang merekah.
"Clarissa? Kenapa kamu di sini?" tanya Mahesa, nadanya terkejut, namun tidak ada kemarahan di sana.
"Lho, bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu sewa kamar terpisah buat aku di lantai ini? Aku sengaja datang lebih awal. Kamarku membosankan, jadi aku mau main di sini dulu sebelum kalian mulai 'sandiwara' jam satu nanti," ucap Clarissa tanpa tahu malu.
Dia melangkah masuk, melewati Mahesa, dan langsung melempar pandangan menghina ke arah Inara yang berdiri mematung di dekat lemari.
"Wah, kamarnya romantis sekali ya. Sayang sekali, mawar-mawar ini harus dinikmati sama wanita pajangan," cibir Clarissa seraya memetik sekelopak mawar dari vas bunga dan menjatuhkannya ke lantai, lalu menginjaknya di depan mata Inara.
Inara mencengkeram tepi lemari pakaian hingga kuku-kukunya memutih. Dia menatap Mahesa, berharap pria itu akan mengusir Clarissa demi menghargai sisa-sisa harga dirinya yang telah remuk. Namun, Mahesa justru menghela napas panjang dan menutup pintu kamar kembali.
"Clarissa, jangan buat keributan di sini. Kalau Mama mendadak datang atau menelepon lebih awal, ini bisa berantakan," ujar Mahesa, suaranya terdengar sangat lembut, jenis suara yang hanya dia simpan untuk Clarissa.
"Tenang saja, Mas. Aku tahu batasan kok," jawab Clarissa manja, berjalan mendekati Mahesa dan dengan berani merapikan kerah kemeja pria itu.
"Aku cuma mau menagih janjimu. Kamu bilang, setelah foto-foto untuk Tante Karina selesai, kamu akan menghabiskan malam minggu ini di kamarku, kan?"
Mahesa melirik Inara sekilas. Tatapannya kembali menjadi sedingin es, tanpa ada sedikit pun rasa bersalah yang tersisa dari kejadian beberapa hari lalu.
"Iya. Setelah jam satu siang, tugas Inara di sini selesai. Dia bisa pulang naik taksi, dan saya akan ke kamarmu," jawab Mahesa tanpa memikirkan bagaimana kalimat itu merobek-robek jantung Inara hingga tak berbentuk lagi.
Inara hanya memalingkan wajahnya melihat pemandangan mesra sepasang kekasih di masa lalu yang belum usai. Rasanya dia ingin sekali pergi menjauh tapi tidak bisa. Dia berusaha menahan air mata agar tak terlihat semakin lemah di mata Clarissa. Mereka malah akan semakin senang melihat dia semakin terpuruk.
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭