Follow ig author @tulisan_bee 😚
Menggantikan posisi anak majikannya untuk menikah dengan seorang lelaki bangsawan, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak Luana Casavia.
Karena lelaki itu menatapnya dengan sorot mata dingin, bahkan ketika ia memasangkan cincin ke jari manis Luana.
My Fake Bride: Jika aku ini palsu, akankah kau bisa mencintaiku meski sedikit saja?
Terima kasih sudah mampir dan selamat jatuh cinta~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 - Di Dalam Kamar (I)
“Kota ini masih sama indahnya. Tetapi kali ini sedikit tercoreng, sebab kau ada di sana.” ~Luana Casavia.
.
.
.
Mario menghentikan langkah di ujung koridor. Mendempetkan tubuhnya ke dinding, berusaha untuk menguping apa kira-kira yang dibicarakan oleh Luana—teman masa kecilnya, dan Rey Lueic sang bangsawan.
Tidak bisa begitu saja mengabaikan rasa penasaran yang terlanjur mengumpul di dalam hati, Mario akhirnya mencoba mencuri dengar percakapan tamu hotel mereka, meski ia tahu ia akan dikenakan sanksi jika tindakannya ini terendus oleh atasan.
Tetapi dia sungguh ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Luana dan Rey. Rasanya telinganya masih cukup baik untuk menangkap informasi penting tadi, saat Rey memanggil Luana dengan sebutan ‘istriku’.
Sebutan yang tentu saja tidak mungkin, meski seluruh dunia berguncang. Luana Casavia dan Rey Lueic? Yang benar saja!
Tetapi upaya Mario dalam menguping itu tidak membuahkan hasil yang maksimal, sebab suara Rey dan Luana tidak lagi terdengar meski samar-samar. Mario menyembulkan kepala dari sebalik dinding, mencoba untuk mengintip apa yang sedang terjadi di depan pintu kamar Luana.
Dan voila! Kedua orang itu sudah tidak lagi berada di sana.
“Bikin penasaran saja,” lirih Mario sedikit kesal, diikuti dengan embusan napas yang terdengar berat.
Setelah memastikan dia tidak akan bisa mendapat informasi apa-apa di sana, lelaki muda itu memilih untuk mengayunkan langkah.
Sembari berpikir jernih, di mana kira-kira ia bisa mendapat informasi yang lebih lengkap mengenai hal yang baru saja terjadi. Senyumnya merekah ketika satu ide melintas di benaknya, dan ia langsung mengambil jalan ke arah kiri.
Menuju sebuah tempat, yang mungkin bisa memberinya jawaban konkrit.
***
Luana tercengang.
Apa yang baru saja dikatakan Rey Lueic? Menyambutnya datang? Yang benar saja! Menyambut bagaimana yang ia maksudkan?
Rey menghentikan langkah. Begitu saja berbalik badan untuk memeriksa keberadaan Luana, lelaki itu meringis ketika mendapati Luana juga refleks berhenti dengan jarak yang cukup jauh darinya.
“Kau masih di situ rupanya,” ujar Rey dengan nada ejekan. “Kupikir kau sudah pergi.”
Luana memutar bola matanya dengan malas. Kehadiran Mario yang muncul di depan kamarnya saja sudah membuat waktu istirahatnya terbuang, dan kini ia harus meladeni lelaki bangsawan yang entah apa motifnya sudah duduk di tepi ranjang milik Luana.
“Itu ranjangku,” lirih Luana tiba-tiba. Tidak menyadari mengapa ia malah berkata demikian, Luana mendapati Rey yang menaikkan sudut bibirnya untuk membentuk senyum tipis.
“Ini ranjangmu?” tanya lelaki itu pura-pura tidak tahu. “Ah, benar. Ini ranjangmu.”
Bukannya bangkit dari sana, Rey malah mengusapkan kedua telapak tangannya ke atas selimut super lembut itu. Membuat Luana refleks mengerjapkan mata, tidak percaya akan hal yang dilihatnya saat ini.
“Jika ini adalah ranjangmu, bukankah berarti ini juga ranjangku, benarkan?” Suara Rey kembali menggema di ruangan, membuat atmosfer di antara mereka tiba-tiba terasa aneh.
Luana merasa ada rasa mulas yang mulai terasa di pangkal perutnya, tidak tahu apakah disebabkan dia tidak cukup makan siang tadi atau karena mendengar perkataan Rey baru saja. Perempuan itu tidak ingin mendebat, dia tahu Rey hanya mengejeknya dengan suka cita sekarang.
Memilih untuk mengatupkan bibir rapat-rapat untuk beberapa saat, Luana menolehkan kepala ke arah lain. Rey masih duduk di tepi ranjang besar itu, bertumpu pada kedua tangan di belakang kini. Gadis itu sedang berpikir kata-kata apa yang cocok untuk ia keluarkan, agar setidaknya Rey akan pergi dari sana.
“Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan?” tanya Luana akhirnya. Sedikit terbata, tetapi kalimat tanya itu sukses meluncur dari bibir merah mudanya.
Rey mendelik. Menatap pada Luana yang kini kembali melihat ke arahnya, lelaki itu memperhatikan raut wajah Luana yang tampak semakin kelelahan.
Tentu saja. Perempuan itu bahkan diculik atau lebih tepatnya ditodong pagi tadi—untuk menjadi pengantin dadakan tanpa ada persiapan apa-apa.
Kemudian ia harus ikut dengan lelaki yang kini menjadi suaminya, menuju mansion mewah hanya untuk mengepak barang-barang. Tidak lama kemudian sudah berada di pesawat pribadi, dan kini telah berada di kota lain pula.
Tenaga Luana pastilah terkuras, belum lagi perihal bagaimana perasaan yang dirasakan perempuan itu. Pasti tidak mudah, dan Rey sedikit kagum karena Luana sama sekali tidak merengek meminta apa pun hingga kini. Gadis itu adalah seorang gadis yang begitu penurut.
Rey berdehem pelan. Membenarkan posisi duduknya untuk kini lebih tegak, lelaki itu menautkan kedua tangan di atas pangkuan.
“Kenapa aku harus memiliki sesuatu untuk aku katakan?” kata Rey lagi.
Kali ini lelaki itu bangkit, melangkah gontai ke arah sebuah jendela panjang dengan gorden yang menjulur hingga lantai, untuk kemudian membuka gorden itu dengan satu tarikan tegas.
.
.
.
~Bersambung~
sekarang tanya pada diri kalian jika ada sosok Pedro versi wanita dan menyukai suami kalian, apakah kalian juga akan kagum wanita lain yang itu
pakai ajala biar tidak jadi wanita jablay yang lebih melebih pria lain dari pada suami sendiri
coba dibalik Thor suami mu nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan wanita lain apakah kau anggap itu hal benar juga
pakai akal sehat biar bisa bedakan mana salah mana benar