“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Malam: Di Antara Genggaman dan Keraguan Hati
Perlahan namun pasti, aku melangkah melintasi ambang pintu ruang VIP itu. Begitu pintu tertutup di belakangku, kesunyian yang pekat dan mencekam seketika menyelimuti segalanya. Jantungku berpacu liar di dalam dada, seolah hendak melompat keluar. Mataku membelalak kaget. Di ruangan yang remang-remang itu, ternyata hanya ada aku dan dia. Kevin Mahendra duduk tenang di sana, satu kakinya menyilang, tangannya sibuk memutar gelas kristal berisi cairan merah di dalamnya. Namun yang paling membuatku merinding adalah tatapannya—pandangan tajam yang tak terlepas sedetik pun dari tubuhku, seolah sedang menelanjangi setiap sudut jiwaku. 🧊🔥
"Apa maunya laki-laki ini sebenarnya?" batinku bergejolak tak karuan. "Apa dia belum puas membuatku dimarahi habis-habisan oleh Mami Feriska tadi? Mengadu dan membuatku terancam kehilangan pekerjaan, kini dia menungguku di sini..."
Aku menelan ludah susah payah, berusaha keras menahan rasa kesal dan takut yang meluap di dada. Aku memaksakan senyum paling sopan dan nada bicara yang sehalus mungkin, meski di dalam hati sedang bergemuruh badai.
"Selamat malam, Tuan..." sapaku hati-hati, suaraku terdengar lembut namun penuh kewaspadaan. "Ada yang bisa saya bantu malam ini?" 🕯️🙏
Kevin tidak menjawab langsung. Ia hanya mengangkat dagunya, menatapku lekat-lekat sebelum akhirnya mengangkat tangan dan memberi isyarat pelan. "Mendekatlah ke sini," perintahnya datar namun berwibawa.
Dengan langkah gemetar namun tetap berusaha tegar, aku melangkah maju perlahan mendekati meja tempatnya duduk.
"Tuangkan aku anggur itu," perintahnya lagi, menunjuk botol di atas meja dengan pandangan yang tak berkedip.
"Baik, Tuan," jawabku patuh. Aku meraih botol itu dan menuangkan cairan merah ke dalam gelasnya dengan gerakan cekatan namun gemetar.
Namun, belum sempat aku menarik tanganku kembali, gerakan kilat dilakukan oleh Kevin. Tangannya yang kuat tiba-tiba mencengkeram pinggangku erat, menarik tubuhku hingga berada tepat di hadapannya. Jarak di antara kami hilang seketika. Napasnya terasa hangat di wajahku.
"Kenapa kau tidak pernah membalas pesanku, Alya?" bisiknya rendah, matanya menatap tajam ke dalam manik mataku. "Apakah kau ingin membuatku semakin marah? Ingat, aku tidak suka diabaikan." 🤨📱
Alya tersentak kaget, berusaha menenangkan situasi. "Maafkan saya, Tuan... Saya tidak akan melakukannya lagi. Saya janji," jawabnya lirih penuh permohonan.
Mendengar itu, sudut bibir Kevin terangkat membentuk senyum tipis yang penuh arti. "Begini dong... Anak baik. Gadis kecil yang penurut," ucapnya penuh nada merendahkan namun memikat.
Rasa penasaran mulai menguasai dirinya. Ia menatap lekat wajah Alya dan bertanya, "Jawab aku jujur... Kenapa kau bersedia bekerja di tempat keras dan penuh risiko seperti ini? Kau terlihat berbeda dari yang lain."
Alya menelan ludah, matanya menunduk tak berani menatap. "Saya... saya butuh uang, Tuan. Itu satu-satunya alasan." 💸🥺
Jawaban itu seolah menjadi lampu hijau bagi Kevin. Tangannya yang kekar mulai bergerak semakin nakal dan berani, merambat dari pinggang hingga memeluk tubuhnya dengan kasar dan penuh dominasi. "Kau butuh uang? Berapa? Katakan saja... berapa yang kau butuhkan?" suaranya terdengar semakin mendesak dan brutal.
Alya merinding, berusaha menjaga jarak sebisa mungkin meski tubuhnya terkunci dalam cengkeraman itu. "Tidak usah, Tuan... Terima kasih. Saya bisa mencari uang saya sendiri dengan cara saya," tolaknya dengan suara bergetar ketakutan.
"Sangat tidak suka penolakan, Alya..." potong Kevin tegas, matanya menyala penuh tantangan. "Ingat itu."
Di bawah tekanan yang luar biasa itu, dengan jantung yang berdegup kencang seolah mau meledak, Alya memberanikan diri melontarkan angka yang menjadi mimpi buruknya. "Saya... saya membutuhkan dua ratus juta rupiah, Tuan." 🥀💔
Hening sejenak menyelimuti ruangan itu setelah angka itu meluncur dari bibir Alya.
Kevin terdiam sejenak, lalu di dalam benaknya timbul pemikiran yang merendahkan dan pahit. "Ah, dasar... ternyata semua wanita sama saja. Pandai bersandiwara. Sok suci, tapi begitu melihat pria kaya dan ditawari uang, langsung mendekat dan menaikkan harga diri. Mata duitan."
Sementara itu, Alya yang melihat perubahan ekspresi wajah Kevin mulai diliputi keraguan yang menyesakkan dada. Ia merasa takut dan ragu. "Tuhan... kenapa aku mengucapkan itu begitu saja? Bagaimana jika Tuan Kevin berpikiran macam-macam tentangku? Bagaimana jika ia mengira aku menjual diri dan harga diri demi uang? Padahal ini demi nyawa Ibu..." Batinnya menjerit cemas, terjepit di antara kebutuhan mendesak dan rasa malu yang luar biasa. 😰🤐
Ciuman Pertama dan Tebusan yang Menjerat 🌑💋💸
Di bawah temaram lampu ruangan itu, tatapan Kevin menelusuri setiap inci wajahku dengan kekaguman yang bercampur nafsu yang tak terbendung. "Kau sungguh sangat cantik..." bisiknya parau. Tubuhku yang terperangkap dalam pangkuannya bergetar hebat bagaikan daun tertiup badai. Jantungku berpacu liar, berdentum kencang hingga rasanya bisa terdengar di keheningan ruang itu. Di dalam hati, aku berusaha sekuat tenaga menahan gelombang ketakutan yang melumpuhkan tulang. 😨💓
Tangannya yang besar dan hangat menggenggam erat daguku, memaksaku menatap tepat ke manik matanya yang tajam. "Aku bisa menolongmu, Alya..." ucapnya pelan namun penuh beban janji. "Tapi, adakah balasan yang pantas untukku?" Bersamaan dengan kata-kata itu, telapak tangannya mulai merambat liar, menyusuri lekuk tubuhku, meremas kedua pundakku dengan tekanan yang membuatku sesak. Aku merasakan ada sesuatu yang asing, sesuatu yang keras dan bergerak di balik celana kainnya, menekan pinggangku. Aku mengeratkan gigi, menahan kepanikan yang meledak di dada, berusaha tetap tenang meski nyaliku menciut. 😰🖐️
Dengan suara yang tercekat, aku memberanikan diri bertanya, "Apa... apa syaratnya, Tuan?"
Kevin tersenyum tipis, senyum yang penuh misteri dan kepemilikan. Ia mendekatkan wajahnya hingga hidung kami bersentuhan. "Bisakah kau melakukan sesuatu untukku di luar sini? Sesuatu yang lebih dari sekadar ruang sempit ini?"
Darahku berdesir hebat. Aku mengerti maksud terselubungnya. Kepalaku penuh berputar mencerna makna kalimat itu, namun bibirku tetap bertanya dengan polos dan gemetar, "Jadi... apa yang harus kulakukan, Tuan?"
Kevin tidak menyukai keragu-raguan itu. Ketidaksabarannya mulai memuncak. Tanpa aba-aba, ia mencium bibirku dengan gerakan yang tergesa-gesa, penuh kelaparan dan dominasi. Ciuman itu kasar dan menuntut, membuat napasku tercekat seolah berhenti seketika di kerongkongan.
"Tuan... tunggu! Aku... aku tidak bisa melakukan ini!" jeritku dalam hati, berusaha memberontak lemah.
Namun di saat itulah Kevin menyadari kebenaran yang mengejutkan baginya. Gadis di pelukannya ini—yang bekerja di tempat kelam—ternyata belum pernah menerima ciuman seperti ini sebelumnya. Kebingungan dan kekakuan tubuhku memberitahunya bahwa aku masih lugu, belum tersentuh oleh siapa pun. Ia tertegun sesaat menyadari fakta itu. 🥺💍
"Ini akan kuajarkan padamu..." bisiknya lembut namun tetap memikat. Dengan kekuatan yang kokoh, ia mengangkat tubuhku dan membaringkanku perlahan di atas meja besar yang luas di ruangan itu. Suasana di antara kami seketika berubah menjadi panas dan mencekam. Napas kami beradu, aroma tubuhnya menguasai indraku.
Inilah ciuman pertamaku... batinnya meratap pilu. Ciuman pertama yang kuberikan pada pria berusia dua puluh tujuh tahun ini—pria yang dewasa, kaya, dikagumi banyak orang, dan kini memegang kendali penuh atas nasibku. 🥀🖤
Aku menahan rasa sesak yang luar biasa, menekan ego dan ketakutan yang bergolak di dada. "Tuan... aku belum siap sekarang," bisikku di sela-sela hembusan napas yang berat.
Sungguh di luar dugaan, Kevin perlahan melepaskan ciumannya. Ia menatapku lekat-lekat, lalu mengangguk pelan. "Baiklah... aku mengerti. Jangan hari ini. Tenanglah dulu. Aku akan menyiapkan tempat yang pantas untukmu, dan aku akan menunggu waktunya tiba." 🕯️🏠
Sebelum melangkah pergi, ia mengeluarkan ponselnya sebentar. "Sebagai tanda jadi dan jaminan... uang dua ratus juta itu sudah kuterima transfer ke rekeningmu. Aku tunggu kepatuhanmu, Nona Cantik." 💳💸
Pintu ruang VIP itu tertutup rapat di belakangnya, meninggalkanku sendirian dalam keheningan yang memekakkan telinga. Aku terdiam terpaku di tempat, menahan tangis yang mendesak ingin meledak. Air mata ini kubendung sekuat tenaga agar tidak tumpah. "Apakah perbuatanku ini salah? Apakah aku telah menjual diriku?" jerit batinnya hancur lebur. Namun bayangan wajah pucat ibunya di rumah sakit melintas jelas di benaknya. "Maafkan aku, Ibu... Maafkan putrimu yang berdosa ini. Demi nyawamu, aku rela melakukan apa saja. Maafkan aku..." 🥺🏥😭