Alone Claney hidup dalam kesendirian seperti namanya. Ibu suri yang terpikat padanya pun menjodohkan Alone dengan putra mahkota, calon pewaris tahta. Tak seperti cerita Cinderella yang bahagia bertemu pangeran, nestapa justru menghampirinya ketika mengetahui sifat pangeran yang akan menikahinya ternyata kejam dan kasar.
Karena suatu kejadian, seseorang datang menggantikan posisi pangeran sebagai putra mahkota sekaligus suaminya. Berbeda dengan pangeran yang asli, pria ini sungguh lembut dan penuh rasa keadilan yang tinggi. Sayangnya, pria itu hanyalah sesosok yang menyelusup masuk ke dalam istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yu aotian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Rentetan Pertanyaan
Aku tersenyum tipis saat ia tampak mempertimbangkan ucapanku. Dia terdiam cukup lama, tetapi kemudian menoleh ke arahku. Dalam pencahayaan yang sempurna, aku bisa melihat satu sudut bibirnya sedikit terangkat, menciptakan seringai tipis.
"Nona Alone apa tujuanmu?"
"Apa belum jelas? Aku ingin kau ikut bersamaku ke istana dan berperan sebagai saudaramu dalam waktu yang tak bisa ditentukan."
Mata legamnya menyipit sebelah. "Kau bilang dia mengalami koma, apa itu benar?"
Aku terdiam sejenak, sebelum kembali menjawab pertanyaannya. "Ya. Dokter mengatakan otaknya mengalami kerusakan parah sehingga diperkirakan komanya akan berlangsung lama. Jika siuman pun, tak akan secepatnya pulih," ucapku dengan penuh keprihatinan.
"Apa penyebabnya?" tanyanya lagi.
Aku bergeming seketika. Kurasakan lidahku mendadak lumpuh. Kedua tanganku gemetar dan berkeringat dingin seiring ingatan akan kejadian malam itu kembali terkilas di ingatanku. Semua itu mendatangkan ketakutan yang terlihat jelas.
"Apa yang membuatnya mengalami koma?" Dia mengulang pertanyaannya dengan tatapan dingin nan tajam.
Entah mengapa suasana ruangan terasa semakin mencekam saat tubuh tegaknya melangkah pelan ke arahku. Sedikit demi sedikit hingga jarak kami pun terpangkas tepat saat dia berada di hadapanku.
"Te–tentang itu ... aku belum bisa menceritakannya padamu." Kata-kata itu keluar dari mulutku dengan gagap. Meski sudah berusaha bersikap santai dengan mengepalkan tangan kuat-kuat, gemetar di seluruh badanku tak bisa kusembunyikan.
Kerutan kecil muncul di antara kedua alisnya. "Jika hanya karena alasan koma, bukankah pernikahan bisa ditunda?"
"I–itu karena ... tak ada yang mengetahui insiden yang dialami pangeran Julian."
Kegugupan masih menguasaiku seiring sekelabat kejadian malam itu terus muncul membayangi benakku. Jantungku serasa terpompa cepat. Napasku pun semakin memburu kala ia memerangkap mataku dengan sepasang manik yang memancarkan dominasi pekat. Aku yakin wajahku sudah sangat pias. Sialnya, mimik yang tak bisa kusembunyikan ini membuatnya memicing curiga.
"Jadi kau berusaha menutupinya dengan memintaku menggantikan dia." Dia memberi kesimpulan dengan berkata lambat-lambat, kemudian menancapkan tatapan curiga kepadaku. "Apa kau yang mencelakainya?"
Pertanyaan dengan nada suara yang dingin itu membuatku kembali terbungkam.
Dengan mata yang mendadak memancarkan kilatan tajam, ia kembali mendesakku, "Nona, Alone katakan apa tujuanmu yang sebenarnya? Apa kau hanya ingin memanfaatkan aku demi menjadi ratu?"
"Itu tidak benar!" tampikku cepat sambil membalas tatapan tajamnya.
Ia masih setia menghujamkan tatapannya ke arahku, tak berniat sedikit pun memalingkan pandangan. "Lantas, mengapa kau tidak menjelaskan hal apa yang membuat saudaraku mengalami koma?"
"Karena kau adalah saudaranya!" Suaraku keluar secara spontan. "Kau mungkin tidak akan percaya, sama seperti pihak istana yang mungkin hanya akan menganggap aku mencemarkan nama baik pangeran." Tanpa terasa butiran bening yang keluar dari sudut mataku.
Hening. Pada saat ini, kilatan di matanya mulai meredup diikuti intonasi yang rendah. "Ceritakan saja padaku!"
Dengan susah payah, aku berkata, "Aku ... aku memukul kepalanya dengan vas bunga saat dia ... saat dia hendak ...."
Aku tak melanjutkan ucapanku karena air mataku sudah berhamburan keluar. Melihatku terisak tanpa suara, ia mundur selangkah dengan mimik wajah yang mulai melunak. Kuusap rembesan air mata di pipi seraya menggigit bibir ini kuat-kuat, sekadar meneguhkan hati agar kembali menemukan kekuatan untuk bersuara.
"Aku tak menyalahkannya karena saat itu dia mabuk berat dan sedang dalam pengaruh obat-obatan. Aku siap bertanggung jawab, tapi aku juga harus melindungi orang-orang di sisinya yang sudah mendedikasikan waktu mereka untuk menjaganya. Tentu saja mereka akan ikut menerima hukuman. Pada akhirnya, pilihan yang bisa kuambil hanyalah mencari sosok yang mirip dengannya dan melanjutkan pernikahan."
Aku tertunduk dalam, hanya untuk mengambil napas sejenak.
"Memang terkesan mengelabui semua orang. Tapi ... persiapan pernikahan sudah dilakukan sejak tahun lalu dan hampir seratus persen rampung. Jika ditunda atau dibatalkan akan menjadi berita nasional yang mengganggu stabilitas negara dan kedudukannya sebagai putra mahkota pun akan goyah," tuturku dengan air mata yang terus mengalir.
Ada keheningan sesaat sebelum Bright berkata, "Ini malam terakhir aku membiarkanmu tetap di sini."
Ia terus memundurkan badannya, kemudian langsung pergi meninggalkan aku yang membeku di sudut ruangan. Begitu pintu yang tertutup bergema, aku langsung luruh ke lantai sambil memegang jantungku yang terasa hendak melompat. Dari kalimat yang baru saja ia ucapkan, terlihat jelas kalau dia masih dengan pendiriannya. Mungkin sekarang justru semakin kukuh karena tahu akulah penyebab saudaranya mengalami koma.
Aku memejamkan mata rapat-rapat. Sekarang, aku harus bagaimana? Semuanya terasa buntu. Di matanya mungkin aku tak ubahnya seorang kriminal yang meminta pertolongan padanya, setelah menyebabkan saudara kembarnya koma.
Entah sudah jam berapa ini. Kelopak mataku bergerak gelisah sebelum akhirnya mengerjap dengan pelan. Aku terbangun bukan karena sorotan sinar mentari, melainkan suara gunting yang tengah memotong sesuatu. Aku bangkit dari posisi tidurku, kemudian mengedarkan pandangan di ruangan yang temaram. Mataku yang tengah berkeliling berhenti tepat pada sosok tegap yang berdiri di depan cermin. Helaian rambutnya tampak berjatuhan ke bawah. Ternyata dari sanalah suara gunting itu berasal.
Detik itu juga, mataku melebar sempurna saat melihat sosok itu dalam pantulan cermin.
"Pa–pangeran Julian?" gumamku pelan.
Bukan. Ternyata dia adalah Bright dengan potongan rambut yang telah menyerupai kembarannya. Setelah merapikan rambutnya, dia berbalik pelan menghadap ke arahku kemudian tersenyum lembut.
"Apa aku sudah mirip dia?"
.
.
.
Like dan komeng. gua jadi lemes nih, keknya di novel ini kalian kurang antusias
bisa lah sedikit waspada dan pasang kuda2,tapi jangan mau diajak main kuda2an ya😅🤭