Setelah empat tahun menjalin cinta terlarang beda agama yang ditentang orang tua, Manajer hotel Nayla akhirnya menyerah dan memutuskan Zefan, koki di hotelnya.
Namun, Zefan tak terima. Sifat posesifnya berubah menjadi obsesi yang mengancam Nayla. Di tengah keputusasaannya, Nayla bertemu kembali dengan Reno, mantan kekasih SMA-nya.
Terkejut dengan kondisi Nayla, Reno langsung mengambil langkah berani: ia membawa Nayla dari Bali ke Bandung dan menikahinya demi menyelamatkan Nayla dari Zefan.
Nayla awalnya trauma dan menolak, mengingat masa lalu yang menyakitkan dengan Reno. Namun, Reno membuktikan ketulusan cintanya yang tak pernah pudar. Nayla akhirnya menerima.
Dapatkah pernikahan mendadak ini, yang didasari trauma dan janji keselamatan, berjalan harmonis? Atau, apakah bayangan Zefan akan terus menghantui dan menghancurkan kebahagiaan yang baru mereka raih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim elly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Siang itu, sinar matahari menembus tirai tipis kamar hotel, menimpa wajah Nayla yang masih tertidur dengan posisi meringkuk.
Reno sudah duduk di tepi ranjang, rambutnya sedikit berantakan tapi wajahnya segar. Ia mengenakan kaus putih polos dan celana santai.
“Sayang, sarapan yuk,” ucap Reno lembut sambil menepuk pelan pundak Nayla.
“Hmm… masih ngantuk,” gumam Nayla dengan suara serak, setengah sadar.
Reno tersenyum kecil. “Ya sudah, aku ke bawah dulu, ya. Nanti aku bawain sarapan buat kamu.”
Nada suaranya tenang, tapi matanya masih menatap Nayla dengan tatapan yang sulit ditebak—antara sabar dan rindu yang tertahan.
Nayla tidak menjawab, hanya menarik selimutnya lagi, seolah menolak kenyataan bahwa ia kini istri Reno.
Reno turun lewat lift hotel, langkahnya mantap tapi pikirannya penuh. Ia memesan dua piring sarapan, dua kopi, dan segelas susu.
“Antar ke kamar, ya,” katanya datar.
Tak lama kemudian, Reno kembali bersama pelayan membawa nampan besar berisi sarapan. Begitu masuk, pandangannya langsung tertuju pada Nayla.
Perempuan itu sudah rapi—rambutnya masih sedikit lembap, wajahnya bersih, dan wangi sabun memenuhi ruangan.
“Wih, udah cantik nih,” ujar Reno sambil tersenyum menggoda.
“Udah dari dulu,” jawab Nayla ketus tanpa menatapnya.
Reno tertawa kecil. “Iya sih… makanya rela nunggu bertahun-tahun.”
Nayla hanya memonyongkan bibir, duduk, dan mulai menyendok sarapannya tanpa banyak bicara. Reno menatapnya sebentar, lalu ikut makan.
Suasana pagi itu seperti udara yang tenang tapi menekan—ada sesuatu yang belum terselesaikan.
“Ke Bali hari ini, ya,” ucap Reno akhirnya, pelan, tapi cukup jelas.
“Terserah,” jawab Nayla sambil terus mengunyah.
“Barang udah dikemas, tinggal berangkat.” Reno mencoba tersenyum.
“Ngga ke ibu dulu?” tanya Nayla, kali ini dengan nada sedikit lembut.
“Gimana kamu sih… mau ke ibu dulu hayu, mau langsung juga hayu,” jawab Reno sambil tersenyum lebar.
“Ya udah, pamit dulu deh. Gue juga ngga bakal bawa semua barang itu. Baju aja.” Nayla meneguk susunya, suaranya dingin tapi teratur.
“Siap, Nyonya,” sahut Reno sambil memberi hormat pura-pura.
Nayla mendengus kecil, tapi sudut bibirnya sempat terangkat sebelum kembali datar.
Mereka akhirnya pamit ke dua keluarga, saling menahan canggung di depan orang tua masing-masing. Hingga sore hari, barulah mereka berangkat menuju bandara.
Dalam perjalanan, Nayla hanya menatap keluar jendela. Suara musik pelan mengisi mobil, tapi tak satu pun dari mereka bicara.
Sesampainya di Denpasar, udara laut menyambut mereka. Reno menyalakan mobilnya, melajukan nya pelan ke arah rumah miliknya.
Begitu gerbang terbuka, mata Nayla membulat.
“Waaah… bagus banget,” ucapnya spontan, kagum.
“Kamu suka?” tanya Reno dengan nada penuh harap.
“Ya… gitu lah,” jawab Nayla datar sambil melangkah masuk. Tapi dari matanya, jelas kekaguman itu nyata.
Rumah itu besar, dikelilingi taman kecil dengan pohon kamboja dan kolam renang di tengah. Dari lantai atas, pemandangan laut terlihat jelas, apalagi saat senja.
Nayla berjalan berkeliling sambil menatap setiap sudut. “Kamar lo yang mana?” tanyanya tanpa menoleh.
“Di bawah,” jawab Reno.
“Ini kamar gue,” ujar Nayla menunjuk kamar di lantai atas.
“Loh? Kok beda kamar?” Reno menatapnya bingung.
Nayla berbalik, mendekat dengan tatapan dingin yang membuat udara terasa berat.
“Gue masih belum lupa lo pernah nyakitin gue. Jadi selama gue belum luluh… jangan harap lo bisa sentuh gue,” ucap Nayla tegas, suaranya bergetar tapi matanya tajam.
Reno menatapnya dalam diam. “Nayla… udah berapa kali aku bilang, waktu itu Tania lah yang nyium aku.”
“Tapi lo bales, kan? Jangan belaga bego deh.” Nayla berbalik, langkahnya cepat, seolah ingin menghindar dari kenangan.
Reno hanya mengusap wajahnya, menghela napas panjang. “Ya Tuhan, kenapa sesusah ini ya ngebenerin kesalahan satu ciuman bodoh…” gumamnya pelan.
Malam harinya, mereka makan berdua. Tapi tak ada suara, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar.
Sesekali Reno mencuri pandang ke arah Nayla, tapi perempuan itu terlalu sibuk menunduk.
Setelah makan, Reno masuk ke kamarnya tanpa sepatah kata. Nayla pun melakukan hal yang sama.
Di kamar atas, Nayla berdiri di balkon menatap langit malam.
“Waaah… di sini nyaman banget. Bisa liat bintang,” ucapnya pelan, senyum kecil menghiasi wajahnya untuk pertama kali hari itu.
Di bawah, Reno duduk di tepi kolam renang, menatap ke arah balkon. “Yang penting aku udah nikahin kamu,” ucapnya lirih, penuh rasa lega sekaligus pasrah.
Malam semakin larut. Dua hati yang sama-sama lelah itu akhirnya tertidur di kamar masing-masing.
Keesokan harinya, Reno sudah siap dengan pakaian kerja. Ia menatap jam, lalu melirik Nayla yang tengah menikmati kopi di dapur.
“Mau ke hotel?” tanya Reno sambil merapikan dasinya.
“Boleh,” jawab Nayla santai sambil menyeruput kopi.
“Gue ganti baju dulu,” lanjutnya sambil berjalan ke kamar.
Beberapa menit kemudian, Nayla keluar dengan tampilan yang membuat Reno terpaku—kemeja putih, celana panjang formal, dan riasan tipis yang menonjolkan kecantikannya.
“Yuk,” ucap Nayla lembut, sedikit berbeda dari biasanya.
Reno hanya bisa berdiri sebentar, senyum kecil muncul tanpa sadar. “Ya Tuhan… ini cobaan,” gumamnya dalam hati.
Dan pagi itu, mereka berdua berangkat ke hotel—dengan hati yang masih berjarak, tapi langkah yang mulai seirama.
Bersambung...
Jangan lupa.
#vote
#like
#komen
Biar author semangat makasih 🥰