Rivaldo Xendrick yang mengalami cacat fisik akibat terkena siraman air keras dari selingkuhan kekasihnya yang bernama Lucas Anderson.
Kecacatan fisik itu, membuat hidupnya menderita dan dicampakkan oleh semua orang. Banyak orang yang menjauh darinya karena menganggap bahwa Rivaldo sebagai monster yang menakutkan. Hidup menggelandang tanpa siapapun yang peduli akan hidupnya, sampailah suatu hari, ada seorang wanita yang suka rela merawat dirinya dengan tulus.
Bagaimana kehidupan Rivaldo setelah itu? Akankah ia bisa bangkit kembali dari keterpurukannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liska Oktaviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Seorang Bos Mafia : Episode 9
Viona melihat jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya, jarum jam itu telah menunjukkan waktu hampir pagi, ia melirik layar ponsel, terlihat panggilan tak terjawab di sana.
"Rivaldo?" tanyanya pelan kepada dirinya sendiri.
"Untuk apa dia menelfonku? Sejak kapan? Aduh, apa yang akan aku jelaskan padanya?" ucap Viona bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Wanita itu memilih untuk pulang ke rumahnya sendiri. Sudah dua hari ini, ia tidak pulang ke rumahnya. Selama dua hari ini ia menginap di hotel bersama Lucas, selingkuhannya itu.
"Aku pamit pulang dahulu, Lucas. Sudah dua hari ini aku tidak pulang ke rumah, nanti Papa dan Mama akan bertanya-tanya ke mana perginya aku," pamit Viona sambil menciumi kedua pipi Lucas dengan mesra.
"Baiklah, Sayang. Kamu hati-hati di jalan, yah, kabari aku, kalau udah sampai di rumah." pinta Lucas lembut, sambil menciumi kening Viona.
Mendengar jawaban dari pria itu, Viona melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari kamar hotel dan berjalan menuju parkiran, ia hendak pulang ke rumahnya sendiri.
Selama di perjalanan ia terus memikirkan bagaimana cara menjelaskan kepada Rivaldo, kekasihnya. Karena tidak mengangkat telfon dari pria itu.
Viona masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukan membelah jalan perkotaan menuju rumahnya yang tidak jauh berada di Kota itu sendiri.
Di Perkebunan Teh.
Pemandangan di pagi hari, kilauan mentari terbit, membuat serumpunan daun teh yang terkena embun pagi menjadi sangat indah dan berseri. Enak dipandang oleh kedua mata.
Gadis cantik yang diperkirakan usianya sekitar 20 tahun, sedang asik memetik dedaunan teh yang mulai matang, dengan semangat pagi, ia bekerja demi biaya hidup sehari-hari. Hanya itulah yang bisa membuatnya bertahan dari kerasnya hidup di Kota.
"Denisa!" pekik seorang perempuan dari arah kejauhan.
Wanita itu menoleh ke belakang mencari asal suara, ternyata temannya, Mona yang mencoba memanggilnya.
"Hai, Mon! Kamu kenapa ke sini? Nanti kalau kamu gak kerja, bisa dimarahin oleh Juragan Arya loh," sahut Denisa ketika wanita itu ada di sampingnya.
"Tenang aja, Nis. Juragan Arya itu kalau aku gombalin dia akan luluh. Kamu kaya gak tahu aku aja!" seru Mona dengan bangga pada dirinya sendiri.
"Ya sudah, kamu lanjut bekerja, nanti kalau Juragan Arya melihat, bisa bahaya," celetuk Nisa dengan serius. Ia memperingati Mona untuk tidak lalai dalam bekerja.
"Baiklah-baiklah, aku akan bekerja, nanti makan siangnya bareng aku, yah?" pinta Mona dengan penuh harap, seperti Anak kecil pada umumnya kepada Denisa.
"Iya, nanti aku makan siang sama kamu, Mon." terang Nisa menerima ajakkan dari sahabatnya itu.
Mona tersenyum lebar, lalu ia pergi meninggalkan Nisa sendirian yang sedang sibuk memetik daun teh dengan semangat pagi yang luar biasa.
Ya, Mona tahu kalau wanita itu selalu rajin dan tepat waktu jika bekerja. Tidak lalai dalam pekerjaannya.
Denisa Kyle, gadis cantik berusia 20 tahun, merupakan gadis yatim piatu, ia ditinggal pergi oleh Orang tuanya saat usianya menginjak 15 tahun. Masa remajanya dihabiskan dengan bekerja dan bekerja demi mempertahankan hidup yang keras tinggal di Kota.
Kerasnya hidup di Kota, membuat gadis itu harus bekerja dengan extra demi mendapatkan sebuah rupiah. Beginilah jika hidup tanpa Orang tua, hidup sendiri dan bekerja sendiri demi mempertahankan hidup.
Wajahnya yang anggun dan cantik berseri, membuat pria manapun merasa kagum akan kecantikkannya. Wajahnya yang putih, bulu mata yang lentik, hidung mancung, dagunya sedikit runcing, dan bibirnya yang tipis. Membuat dirinya menjadi seperti Bidadari yang tak bersayap, bagi pria manapun.
Ia tinggal di dekat area Perkebunan, bersama sahabatnya Mona. Meski mereka terpisah rumah, tapi jarak rumah mereka tidak terlalu jauh. Terkadang ia sedikit merasa berkecil hati saat melihat Juragan Arya, yang masih mempunyai Orang tua di sisinya.
"Nisa, kamu kenapa melamun?" seorang pria bertanya membuat lamunan wanita itu berhamburan begitu saja.
"Ah, iya, maafkan saya, Juragan," ucap Nisa sedikit merasa canggung. Ia tersenyum seperti kuda menampakkan giginya yang rata.
"Tidak apa-apa, kenapa kamu melamun, Nisa? Ada yang menganggu fikiran kamu?" tanya pria itu heran dan khawatir akan sesuatu pada Nisa.
"Tentu tidak, Juragan, mungkin saya sedang menikmati suasana pagi yang indah ini," tukas Nisa berbohong, ia menyembunyikan rasa rindunya pada Orang tua yang telah lama pergi meninggalkannya.
"Ya sudah, kamu semangat bekerja, jangan terlalu sering melamun, entar kesambet loh!" celoteh Arya dengan tertawa kecil, lalu ia pergi meninggalkan wanita itu. Kembali mengawasi kebun teh yang cukup luas itu.
Entahlah, Arya sendiri tidak mengerti kenapa ia selalu ingin mencari tahu tentang Denisa. Ataukah ini hanya rasa peduli terhadap pekerja yang bekerja di perkebunan? Ataukah ada rasa lain yang timbul di hatinya?
Semenjak pertama kali bertemu dengan Denisa, Arya merasa ada yang lain dari hatinya. Wanita itu mampu membuat dirinya tertarik. Meski kekasihnya sendiri tidak pernah membuatnya tertarik seperti kepada Nisa.
Ia tidak ingin mengingat hal itu lagi, mungkin hanya sebatas peduli dengan pekerja di perkebunan saja, tidak lebih dari itu.
Cukup dikatakan jika Mona dan Nisa adalah pekerja yang teramat muda di perkebunan, mungkin hal itu membuat Arya sedikit merasa aneh dan canggung saat mengawasi perkebunan.
♾♾♾
Pesawat pribadi yang membawa mereka telah sampai di halaman belakang rumah utama, Rivaldo melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari pesawat pribadi diiringi oleh Nathan di belakangnya.
"Boss, tubuhku terasa sangat lelah sekali, mungkin aku tidak dapat mengendarai mobil untuk pulang ke Apartemenku, bolehkah aku beristirahat di kamarmu? Untuk hari ini saja, setelah tubuhku terasa tidak lelah, aku akan kembali ke Apartemenku," pinta Nathan pada pria itu dengan serius. Seluruh tubuhnya terasa sangatlah lelah.
"Boleh, tapi dirimu tidur di lantai," jawab Rivaldo tersenyum menyeringai sambil berjalan menuju rumah utama.
"Yah ... Kenapa begitu, Boss? Ranjangmu, 'kan, besar. Kenapa aku tidurnya di lantai?" protes Nathan memasang wajah kecewanya.
"Nathan, aku tak masalah dirimu tidur denganku atau tidak. Silakan saja, aku hanya bercanda!" celetuk Rivaldo tertawa lepas saat melihat expresi wajah pria itu.
Saat di depan pintu rumah utama, Rivaldo menekan bel pintu itu.
Ting-tong!
Ting-tong!
Ditekan dua kali, baru pintu itu terbuka. Pintu terbuka, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah utama. Terlihat Orang tuanya yang sedang asik menikmati secangkir teh di pagi hari.
"Rivaldo pulang!" serunya sendiri mengagetkan Orang tuanya itu.
"Eh, kamu sudah pulang, Nak? Aduh, kamu tidak kenapa-kenapa, 'kan, Sayang?" tanya Nani sambil berjalan mendekati Rivaldo.
Nani merangkul Anaknya masuk ke dalam pelukkannya. Ia mengelus lembut punggung putranya itu.
Kala bener Rivaldo seorang Mafia, dia akan menugaskan anak buah nya utk membuntuti dan melaporkan setiap gerak gerik nya Viona, melaporkan segala rencana buruknya...
Tapi Rivaldo bukan Mafia, cuma pedagang senjata aja...