Winda adalah seorang wanita berumur 32 tahun yg sudah menikah dengan Ardi yg berumur 38 tahun.
Pernikahan mereka sudah memasuki umur 7 tahun, akan tetapi belum juga dikaruniai seorang anak.
Winda merasa bahwa hidupnya tidak lengkap bila belum menjadi seorang Ibu.
Keinginannya untuk mempunyai anak sampai membuatnya putus asa.
Sampai suatu saat dimana dia diperkenalkan suaminya denga orang yang bernama Mina....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon green veil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Ingin sekali rasanya Ardi membalas pesan dari Winda saat itu juga, akan tetapi dia juga
merasa bersalah kepada Mina yang sekarang menjadi istri sahnya. Niat Ardi untuk
membalas pesan Winda diurungkannya, kemudian dia menghapus pesan yang dia
kirimkan kepada Winda.
Bagaimanapun dia sekarang sudah menjadi seorang Ayah, beda seperti dulu sewaktu bersama
Winda, dia hanya menjadi seorang suami. Sekarang dia sudah menjadi suami dan
Ayah. Dia harus memprioritaskan keluarganya daripada hatinya.
Untuk menghentikan kekalutan hatinya, dia pergi ke rumah dan bermaksud ingin bercengkerama dengan
Bimo supaya Winda bisa hilang dari pikirannya. Akan tetapi, sampai di rumah
ternyata Bimo tertidur pulas di samping Mina yang juga tidur. Ardi mendesah, kemudian
dia pergi ke rumah kakaknya. Di rumah kakaknya ternyata ada Mitha yang sedang
asyik bermain HP.
“Lagi ngapain Mit?”, tanya Ardi.
“Mau tau aja sih. Kepo banget jadi orang”, jawab Mitha sambil ketawa-ketawa.
Ardi yang dijawab begitu langsung pura-pura cemebrut,
“Ye ditanya orangtua juga jawabnya kaya gitu”
“Ini Mas Ardi, aku lagi lihat foto bayi-bayi” kata Mitha kepada Ardi. Mitha berpikir
untuk memberi Ardi kesempatan melihat foto Arjuna. Walau bagaimanapun Arjuna
kan tetap anaknya.
“Ngapaian lihat foto bayi orang lain, kan ada Bimo anak Mas Ardi. Daripada lihat foto
bayi orang lain mendingan lihat Bimo sekalian jagain Bimo” kata Ardi merasa
cemburu karena selama ini Mitha jarang melihat ataupun menjaga Bimo. Padahal
Mitha kan sangat senang dengan anak kecil pikirnya.
“Lihat dulu deh Mas, ini bayinya ganteng. Mirip Mas Ardi juga. Jangan-jangan ini anak Mas
Ardi lho”
Sebenarnya, Bimo agak marah Mitha berkata begitu, karena sekarang ini dia sudah memiliki
Bimo, tetapi oleh Mitha malah dibandingkan dengan anak orang lain.
“Apaan sih Mit, gak boleh gitu lho. Lagian kan Mas Ardi udah ada Bimo, ya miripan Bimo lah
daripada dia” jawab Ardi agak ketus.
Mitha kaget mendengar jawaban Ardi yang ketus. Tidak biasanya Ardi berkata ketus kepada
Mitha, karena Mitha adalah keponakan kesayangannya.
“Apa sih Mas, biasa aja kali jawabnya. Nggak usah ketus-ketus gitu jawabnya” Mitha
menjawab dengan sebal karena merasa sikap Ardi berbeda kepadanya sekarang.
“Ya udah sini, Mas Ardi lihat fotonya” jawab Ardi luluh.
“Nih”
“Ini kamu
download ya Mit? Kok di gallery? Memangnya segitu sukanya ya kamu sama bayi
ini?”
Ardi menatapke layar HP, dilihatnya bayi yang ada di HP Mitha, ada perasaan yang tak bisa
dijelaskan oleh Ardi. Perasaan apa ini? Batinnya.
“Anak siapa Mit?”
“Anak Mas Ardi” jawabnya cepat.
“Hush ngawur kamu. Lama-lama nggak asyik ah jawabnya ngawur. Anak Mas Ardi kan baru Bimo”
“Tapi itu mirip Mas Ardi lho bayinya, lebih mirip itu daripada Bimo” kata Mitha berani.
Yah sudah kepalang basah, lebih baik kalau Mas Ardi segera tahu. Soalnya Mitha
pernah nggak sengaja denger bundanya bicara dengan Tante Sari kalau anak Mas
Ardi, si Bimo itu nggak mirip sama sekali dengan Mas Ardi ataupun pihak
keluarga dari Mas Ardi. Bundanya Mitha mencurigai kalau Bimo, bukanlah anak
Ardi, akan tetapi tidak ada satu keluarga pun yang berani bicara dengan Ardi
tentang hal itu karena belum tentu apa yang mereka pikirkan benar.
Ardi melihat beberapa foto bayi dan video bayi yang ditunjukkan oleh Mitha. Memang benar
kalau wajah anak itu mirip dirinya, terutama hidung dan bibirnya. Tapi, namanya
juga bayi masih berubah-ubah wajahnya. Ardi menyangkal perkataan Mitha bahwa
bayi itu adalah anaknya.
“Anak siapa Mit?” tanya Ardi kepada Mitha.
“Dibilangin anaknya Mas Ardi. Ngeyel banget sih!”
“Hush. Lama-lama kamu jengkelin juga ya. Udahlah Mas Ardi pulang aja kalau gitu”. Ardi
marah-marah kemudian langsung pulang ke rumahnya dengan hati jengkel. Dia
berpikir kalau Mitha sudah keterlaluan.
Mitha yang melihat Ardi marah-marah ikutan jengkel dibuatnya. Kemudian dia mulai bertekad
untuk membicarakan perihal Arjuna ke bundanya.
.....................................
Setelah Winda membalas pesan dari Ardi, dia sering melihat Hpnya berharap Ardi membalas
pesannya kembali. Tapi yang ditunggu-tunggu tak juga datang. Pesan dari Ardi
yang dinantikan ternyata tidak datang lagi. Winda merasa sedih, kecewa lagi,
kemudian menyalahkan dirinya yang masih berharap pada Ardi.
Tidak berapa lama kemudian Hpny berbunyi, segera diambilnya Hpnya kemudian
dilihatnya. Ternyata pesan itu dari Resti, pegawai Ardi.
‘Mbak Winda apa kabar?’ pesan dari Resti.
‘Alkhamdulillah baik Res, gimana kabarmu?’
‘Alkhamdulillah baik juga Mbak. O ya Mbak, insya Allah aku hari ini mau ke daerah T. Mau lihat Purple
Shop. Sekalian mau mampir. Kangen dah lama nggak ketemu sama Mbak Winda’
Winda bingung, mau jawab bagaimana. Purple Shop itu kan miliknya, dan mau apa Ardi
minta Resti datang ke tokonya? Apakah karena langganan Ardi pindah ke tokonya? Banyak
pertanyaan yang ada di benak Winda.
‘Iya, mampir aja. Kita nanti ketemu di Purple Shop ya’ akhirnya Winda menjawab Resti
tapi tidak memberitahukan bahwa Purple Shop itu toko miliknya.
‘OK Mbak, nanti habis dari Purple Shop kita ketemu ya. Aku mau ngobrol banyak sama
Mbak Winda’ balas Resti. Resti merasa senang karena akhirnya bisa ketemu Winda,
selaku mantan bosnya. Dia juga ingin tahu bagaimana keadaan Winda sekarang.
.............................................
Tibalah hari di mana Resti akan pergi ke Purple Shop. Dia berpamitan dengan Ardi dan
mendapat uang jalan. Ardi berpesan kepada Resti,
“Nanti kamu lihat barang dagangan mereka beserta harganya ya. Kalau bisa sekalian
ketemu pemiliknya. Jangan tanya di mana mereka ambil jualannya karena itu nggak
etis, tapi tanya aja apa bisa kerjasama, kalau harganya cocok gitu. Dan kalau
beliau berkenan aku pengen ketemu, siapa tahu bisa diajak kerjasama”.
“Iya Mas. O ya, nanti aku bisa langsung sekalian pulang nggak ke sini lagi kan?”
“Ya kalau ternyata sudah sore ya langsung pulang aja. Tapi kalau bisa ketemu kita dulu
ke sini. Kan rumahmu juga Cuma deket sini. Kita bahas apa yang kamu dapat dari
sana. OK?”
“Ya Mas” jawab Resti lesu. Dia kan punya rencana setelah dari Purple Shop pengen ke
tempat Winda dulu.
“Kok jawabnya lesu gitu?” tanya Ardi. “ Gak ikhlas ya suruh balik sini?”
“Nggak kok Mas” jawabnya. ‘Cuma aku pengen ketemu Mbak Winda aja di sana. Pengen
ngobrol dan sebagainya’ batin Resti tetapi yah gitu beraninya hanya berkata di
dalam hati saja tanpa bicara kepada Ardi.
“Siip deh pokoknya. Aku tunggu ya. Nanti kalau memungkinkan, ada yang murah beli aja
supaya gak malu cuma datang sama tanya-tanya doang”.
“Iya Mas, siap pokoknya beres” jawab Resti kemudian mulai bersiap dan pergi ke tempat
Purple Shop menggunakan motor.
mending bobo...
bikin kesel/eneg dehhh..