Kisah gadis yang bernama Zahra Andriani yang tak pernah mendapatkan kasih sayang layaknya seorang anak di dalam keluarganya, di karenakan dirinya bukan anak kandung dari ayahnya
dan ia memutuskan untuk pergi merantau mencari tempat dimana dia bisa di anggap dan di pandang orang lain seperti impiannya.
sampai akhirnya ia menemukan seseorang yang menjadi sandaran hidupnya.
bisakah Zahra bahagia dan bertemu dengan ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EtyRamadhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09 Tawaran kerja
Adam dengan wajah sendu mengungkapkan alasan dirinya tak menginginkan anak yang ada di dalam perut Venti.
"Mas mengertilah aku yang melahirkannya aku yang merawatnya dia anakku mas lahir dari rahimku" Venti terus menangis dalam pelukan Adam.
Adam masih memeluk erat tubuh Venti dan menghela nafas kesal.
"aku mengizinkanmu melahirkan dan merawat anak itu tapi dengan 1 syarat Venti"
Venti melepaskan pelukan Adam dan mendongak melihat wajah Adam.
"apa itu mas? "
"aku tak ingin kau lebih perhatian ke anak itu, aku tak ingin kau terlalu menyayanginya seperti kau menyayangi Zahira.Ingat Venti dia bukan anakku" ucap Adam menegaskan.
Venti mau tidak mau harus menerima syarat dari Adam,daripada harus menggugurkan janin yang ada di dalam perutnya.
"baiklah mas aku akan melakukannya asal kau mengizinkan aku untuk melahirkan dan merawatnya".
mungkin hal ini lebih baik pikir Venti.
Flashback On
Ibu menghapus air matanya tak sanggup ia menghapuskan kenangan pahit yang ada di dalam hidupnya.tak dapat di pungkiri hatinya tetap mengkhawatirkan Zahra. walaupun sampai saat ini Zahra dan Zahira tak pernah mengetahui kebenaran itu.
*********
Malam itu aku duduk di teras kamar kostku, aku memandang jauh ke langit. Suasana yang cerah dengan tiupan angin yang lembut, serta bintang-bintang bertaburan menghiasi indahnya langit di kota ini.
"Ayah Ibu sekarang lagi apa yah?. apa mereka memikirkanku?. apa mereka mengkhawatirkan ku?. ataukah justru mereka senang aku pergi?, karena tak ada lagi yang menyusahkan dirumah"
pikiranku di penuhi dengan berbagai macam pertanyaan tentang ayah dan ibuku.
"Zahraa"
Panggil seseorang yang membuyarkan lamunanku, sontak aku menoleh ke sumber suara , ternyata Bagas.
"Saya, ehhh kak Bagas, kakak ngapain malam-malam kesini? "
di berjalan santai menghampiriku
"iyah aku abis nganterin baju Bukde nih! . lah kamu ngapain bengong sendirian disini kayak nyamuk frustasi"
ledek Bagas
"yeee apaan sih kak, aku cuma lagi liatin noh bintang-bintang"
pandanganku mengarah ke langit bertabur bintang.
"aku boleh duduk ga? "
"jangan deh kak nanti alergi, "
"emang duduk bisa alergi? " Bagas terlihat bingung
"hahahahahah yah boleh lah kak, lagian kakak ada aja masak duduk doang ga boleh. Sini-sini"
aku melambaikan tangan , Bagas terkekeh geli melihat tingkahku.
"Oh iya Zahra kamu jauh-jauh ke kota tujuannya apa? " Bagas sambil duduk di sampingku.
di setiap teras kamar kos di sediakan 1 bangku kayu panjang , yang di khususkan untuk para penghuni kost menikmati suasana di luar kamar.
" kakak penasaran banget yah? "
aku mencoba menjahilin Bagas
Bagas terlihat kesal dengan tingkahku
"heheheh biasa aja mukanya kak. yaudah aku bakal cerita ke kakak deh"
Ntah mengapa aku merasa Bagas adalah tempat yang cocok untuk aku mencurahkan segenap masalahku.
dan aku menceritakan rentetan masalahku namun aku tak bercerita bagaiman sikap kedua orang tuaku kepadaku , karena sejelek apapun sikap kedua orang tuaku mereka tetaplah surga dan pahlawanku.
sampai pada akhirnya Bagas pun bertanya
"kamu beneran serius mau kerja? "
" yah serius atuh kak, kalau ga serius ngapain aku sampai jauh-jauh ke kota ini"
aku menampilkan wajah kesal pada Bagas dia hanya tersenyum menampilkan lesung pipinya,
"ehmm aku bisa sih bantu kamu tapi... "
Bagas menjeda ucapannya
"tapi apa kak? "
aku penasaran dengan ucapan kak Bagas
"tapi apa kamu mau jadi Cleaning servis di kantor aku bekerja? "
"se.. serius kak,?. aku mau kak mau"
aku antusias mendengarnya padahal Bagas pun belum selesai menjelaskan.
"lah ni bocah asal mau aja"
dia pun tertawa
"gak apa-apa kak asal halal aku mau kok"
"uh bocil semangat banget"
tanpa sadar tangan Bagas mengusap kepalaku gemas.
tatapan kami bertemu beberapa detik.
"ehhh ma. ..maaf Zahra"
dengan cepat Bagas menarik tangannya, suasana yang tadinya ramai sekarang berubah menjadi canggung.
semoat terdiam beberapa saat di antara kami
"jadi bagaimana kak, aku mau kok kerja itu"
aku memulai pembicaraan untuk menghilangkan rasa canggung di antara kami.
"ehm besok aku kirim persyaratannya ke kamu.,terus lusa kamu berangkatnya bareng aku ajah jam 7 udah stand bay .gimana? "
aku yang mendengar penjelasan Bagas pun mengerti dan mengangguk.
"yaudah ini ponsel aku kamu catat nomor kamu biar gampang kasih infonya"
Bagas menyodorkan benda pipih bergambar apple seperti tergigit.
aku mengetikkan nomor ponselku di handphone Bagas.
"ehm nih kak udah aku save"
"oke, yaudah kalau gitu aku mau balik deh ga enak terlalu lama di kost putri, takut bukde ngomel"
aku tertawa. elihat ekspresinya
"hahahah iyah kak"
balasku sambil tertawa.
Bagas pun akhirnya pulang karena hari sudah malam, sementara aku memutuskan kembali ke kamar karena angin malam semakin menyeruak menusuk kulit.
******
Butuh masukkan yang membangun .
maaf kalau masih berantakan. apalah daya author masih belajar.
happy reading 😊
lanjut dong..