NovelToon NovelToon
Sukses Setelah Kau Campakkan

Sukses Setelah Kau Campakkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Pengganti
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

"Ini bukan tentang pergi meninggalkanmu. Ini beasiswa, Alfa. Kesempatan sekali seumur hidup yang diberikan Ibu Amara untukku bekerja dan belajar di Paris. Hanya tiga tahun..."

"Tiga tahun?!" Alfa tertawa sumbang, langkah kakinya maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zia bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.

"Kamu menyebut tiga tahun itu hanya? Kamu mau meninggalkanku di sini sendirian, sementara kamu bersenang-senang di Paris?!"

Zia menatap wajah pria yang teramat dicintainya itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Alfa selalu seperti ini. Posesif, mengekang, dan selalu ingin memegang kendali penuh atas hidupnya. Namun, selama ini Zia selalu mengalah. Bagi Zia yang sebatang kara, kekangan Alfa adalah wujud dari rasa sayang yang teramat dalam.

Tapi apakah kali ini Zia kembali mengalah? Atau dia akan mengikuti kata hatinya? Pergi mengejar cita - citanya dan meninggalkan Alfa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melahirkan

***

"Rayyan... perutku... perutku mulas sekali. Rasanya sangat sakit!"

Rintihan lirih Zia seketika meruntuhkan keheningan di dalam studio kerja mereka di Paris. Pensil sketsa yang sejak tadi dipegangnya terjatuh, menggelinding di atas lantai kayu sebelum berhenti tepat di dekat ujung sepatu Rayyan.

Zia mencengkeram pinggiran meja gambar dengan sangat erat, telapak tangan-nya berkeringat dingin, dan napasnya mulai terengah-engah memburu.

Rayyan yang sedang memeriksa laporan logistik kain langsung menoleh. Begitu melihat wajah Zia yang memucat dengan bibir yang gemetar menahan sakit.

"Zia! Tarik napas pelan-pelan. Ketubanmu... ya Tuhan, air ketubanmu sudah pecah, Zia!" Rayyan menatap genangan air jernih yang mulai membasahi lantai di bawah rok longgar yang dikenakan Zia.

Padahal, menurut perkiraan dokter, hari perkiraan lahir masih dua minggu lagi. Namun tampaknya, tekanan mempersiapkan pameran tunggalnya di Paris dan kelelahan fisik yang menumpuk telah memicu proses persalinan ini datang lebih cepat.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Rayyan langsung menggendong tubuh Zia ke luar studio. Mobil sedan mewah milik Rayyan membelah jalanan kota Paris yang dingin dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit bersalin terdekat. Di kursi belakang, Zia terus meremas tangan Rayyan, menyalurkan rasa sakit yang teramat sangat dari kontraksi yang datang beruntun tanpa jeda.

"Tekanan darah pasien stabil, tetapi pembukaannya tidak berjalan dengan lancar. Pasien sudah kehabisan tenaga," ujar Dokter Celine, dokter spesialis kandungan yang menangani Zia, berbicara dalam bahasa Prancis yang cepat kepada tim perawatnya di dalam ruang bersalin.

Sudah lebih dari enam jam Zia berjuang di atas ranjang persalinan. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya, rambut hitamnya lepek menempel di dahi, dan tenaganya benar-benar telah terkuras habis. Setiap kali Dokter Celine menyuruhnya mengejan, Zia mencoba mengerahkan seluruh sisa kekuatannya, namun bayinya tetap kesulitan untuk keluar.

Posisinya yang sedikit sungsang membuat proses ini menjadi berkali-kali lipat lebih menyiksa.

"Madame Zia, dengarkan saya," Dokter Celine beralih menatap Zia.

"Kamu sudah terlalu lelah, dan detak jantung bayimu mulai melemah karena terlalu lama di dalam. Jika dalam sepuluh menit ke depan kamu masih kesusahan mengejan, kami harus segera mengambil tindakan operasi

C-section demi keselamatan kalian berdua,"

Mendengar itu, mata Zia yang semula sayu mendadak melebar penuh ketakutan. Bayangan tentang pisau bedah, ruang operasi yang dingin, dan risiko kehilangan bayinya seketika menghantam benaknya. Trauma masa lalu dan ketakutan akan kematian mendadak membuatnya histeris.

"Nggak... nggak mau operasi, Dokter! Aku mau melahirkan normal... tolong... anakku..." tangis Zia pecah, suaranya parau dan bergetar hebat.

Dia menggelengkan kepalanya dengan panik, air mata mengalir deras membasahi bantal rumah sakit.

Di luar ruangan, Rayyan yang sejak tadi mondar-mandir dengan cemas mendengar tangisan histeris Zia. Hatinya seperti diiris-iris. Dia tahu Zia sedang ketakutan setengah mati sendirian di dalam sana tanpa ada keluarga yang mendampingi.

Sesuai dengan regulasi rumah sakit Prancis yang sangat ketat, hanya anggota keluarga inti atau suami yang diizinkan masuk ke dalam ruang bersalin intensif. Rayyan menarik napas panjang, memantapkan hatinya, lalu mencengkeram lengan perawat pria yang berjaga di depan pintu.

"I am her husband! Let me in! My wife needs me!" seru Rayyan dengan nada suara yang sangat tegas dan penuh penekanan, berbohong demi bisa berada di sisi Zia.

Perawat itu menatap mata Rayyan  lalu mengangguk.

"Gunakan baju steril ini cepat, Monsieur."

Hanya dalam hitungan detik, Rayyan sudah merobos masuk ke dalam ruang bersalin. Dia langsung berlutut di samping ranjang Zia, meraih tangan wanita itu yang sedang mencengkeram seprai dengan erat, lalu menggenggamnya dengan kedua belah tangannya.

"Zia! Aku di sini! Aku di sini, Zia!" panggil Rayyan lantang, mencoba mengalahkan suara bising peralatan medis di ruangan itu.

Zia menoleh dengan mata yang basah oleh air mata. Begitu melihat wajah familiar Rayyan yang menatapnya dengan penuh cinta dan kekuatan, ketakutan yang menguasai dada Zia perlahan-lahan mulai terkikis, digantikan oleh secercah rasa aman yang luar biasa.

"Rayyan... aku takut... mereka mau mengoperasiku..." bisik Zia terisak.

"Nggak, Zia. Kamu tidak akan dioperasi," ucap Rayyan lembut namun penuh keyakinan. Dia mengusap keringat di dahi Zia dengan jemarinya yang hangat.

"Kamu wanita yang kuat. Kamu sudah melewati hal yang lebih buruk dari ini di Jakarta. Anakmu di dalam sana sedang berjuang bersamamu. Lihat aku, Zia. Tarik napas dalam-dalam, dan saat dokter bilang mengejan, lakukan dengan seluruh kekuatan yang kamu punya. Aku tidak akan melepaskan tanganmu,"

Dokter Celine melihat indikator medis dan bersiap kembali di posisi bawah ranjang.

"Ok, Madame Zia. Pembukaan sudah lengkap sekarang. Ini kesempatan terakhir sebelum kita ke ruang operasi. Push!"

Zia memejamkan matanya rapat-rapat. Dia menarik napas sedalam-dalamnya, mencengkeram tangan Rayyan hingga kuku-kukunya menusuk kulit pria itu. Dengan sisa tenaga terakhir yang dimilikinya, didorong oleh rasa cinta yang teramat besar pada malaikat kecil di dalam perutnya, Zia mengejan dengan sekuat tenaga.

"Ayo, Zia! Sedikit lagi! Kamu bisa, Zia! Kamu bisa!" seru Rayyan menyemangati, matanya ikut berkaca-kaca melihat perjuangan hidup dan mati wanita di hadapannya.

"Arghhh!"

Oeeekk... Oeeekk... Oeeekk...

Suara tangisan bayi yang nyaring dan melengking seketika memecah ketegangan di dalam ruangan itu. Suara yang begitu indah, merdu, dan penuh dengan kehidupan.

Zia seketika melemaskan seluruh otot tubuhnya, menjatuhkan kepalanya kembali ke atas bantal dengan napas yang terengah-engah. Air mata haru mengalir deras dari sudut matanya saat melihat Dokter Celine mengangkat seorang bayi perempuan kecil yang kemerahan, lalu meletakkannya di atas dada telanjang Zia untuk proses skin-to-skin.

"Selamat, Madame Zia. Bayi perempuan yang sangat cantik dan sehat," ucap Dokter Celine dengan senyuman tulus.

Zia mendekap tubuh mungil yang masih basah itu dengan kedua tangannya yang gemetar. Dia mengecup puncak kepala bayinya.

"Anakku... malaikat kecilku..."

Rayyan berlutut lebih dekat. Dia mengulurkan jari kelingkingnya, dan secara ajaib, bayi perempuan kecil itu langsung mencengkeram erat jari Rayyan dengan genggaman tangannya yang mungil.

"Dia sangat cantik, Zia. Mirip sekali denganmu," bisik Rayyan, air matanya sendiri tanpa sadar ikut menetes.

***

"Siapa namanya, Zia?" tanya Amara lewat sambungan video call beberapa jam kemudian, setelah Zia dipindahkan ke ruang perawatan VIP yang hangat.

Zia menatap bayi perempuan yang kini sudah bersih dan tertidur lelap dalam bedongan kain merah muda di sampingnya.

"Namanya Sabrina, Mbak. Sabrina Anastasia. Artinya mawar putih yang anggun... lambang kesucian dan awal yang baru untuk hidupku,"

"Nama yang bagus. Kamu jaga kesehatan di sana ya, maaf Mbak beluk bisa datang. Rayyan akan selalu menemanimu di sana,"

Malam harinya, suasana kamar VIP rumah sakit terasa begitu tenang. Lampu ruangan diredupkan, menyisakan cahaya temaram yang hangat. Sabrina kecil tertidur lelap di dalam boks bayinya.

Rayyan duduk di kursi samping ranjang Zia, memperhatikan wanita itu yang sedang memandangi putrinya dengan tatapan penuh cinta. Keheningan malam itu terasa begitu intim, membawa kedamaian yang sudah lama tidak mereka rasakan.

"Zia," panggil Rayyan lembut, memecah kesunutian.

Zia menoleh, tersenyum tipis.

"Iya, Ray?"

Rayyan menggeser kursinya lebih dekat, menatap lekat sepasang mata Zia yang kini memancarkan aura seorang ibu yang matang.

"Melihatmu berjuang hidup dan mati di ruang bersalin tadi... membuatku menyadari satu hal. Aku tidak pernah ingin melihatmu sendirian atau ketakutan lagi dalam hidup ini,"

Rayyan meraih tangan Zia, menggenggamnya dengan penuh kesungguhan.

"Aku tahu hatimu masih terluka karena masa lalu. Aku tahu kamu belum siap untuk membuka lembaran baru bersamaku. Dan aku tidak akan memaksamu,"

Rayyan menarik napas panjang, menatap bergantian antara Zia dan Sabrina kecil di dalam boksnya.

"Mulai malam ini, di depan bayimu, aku berjanji, Zia. Aku, Rayyan Mahindra, akan menjadi pelindung terbaik untukmu dan Sabrina. Aku akan menganggap Sabrina seperti darah dagingku sendiri. Aku yang akan membiayai seluruh hidupnya, memastikan dia mendapatkan pendidikan terbaik, dan menjaganya agar tidak ada satu pun orang dari masa lalumu, termasuk Alfa yang bisa menyakitinya atau merebutnya darimu,"

Zia tertegun, tenggorokannya mendadak tercekat oleh rasa haru yang teramat sangat. Di saat ayah kandung Sabrina mengutuk kehadirannya dan menganggapnya sebagai aib, Rayyan justru menawarkan seluruh hidup dan perlindungannya untuk anak yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya.

"Rayyan... kenapa kamu begitu baik padaku? Aku tidak tahu bagaimana cara membalas seluruh hutang budi ini," isak Zia, air matanya kembali menetes.

Rayyan tersenyum hangat, mengusap air mata di pipi Zia dengan ibu jarinya yang lembut.

"Kamu tidak berutang apa pun padaku, Zia. Mengetahui bahwa kamu dan Sabrina aman dan bahagia di sisiku... itu sudah lebih dari cukup untukku. Pegang janjiku, Zia. Selama aku masih bernapas, dunia tidak akan pernah bisa menyakitimu lagi,"

Beberapa minggu setelah persalinan yang melelahkan itu, Zia akhirnya diperbolehkan pulang ke apartemen mereka di Paris. Lembaran baru benar-benar dimulai. Dunia gemerlap mode Paris untuk sementara waktu dikesampingkan, berganti dengan aroma minyak telon, tangisan tengah malam, dan popok bayi.

Zia duduk di tepi ranjang, menimang Sabrina yang sedang rewel karena kolik. Matanya sembab akibat kurang tidur, dan punggungnya terasa amat nyeri. Menjadi ibu baru di negeri orang ternyata jauh lebih berat dari yang dia bayangkan.

Di tengah rasa lelah yang mendera, kilasan rasa bersalah dan kesedihan masa lalu kadang masih mencoba menyelinap masuk ke dalam benaknya.

Namun, Zia tidak pernah benar-benar sendirian.

Cklek.

Pintu kamar terbuka pelan. Rayyan masuk dengan kemeja kantor yang sudah kusut dan lengan yang digulung hingga siku. Di tangannya, ada botol susu hangat dan handuk kecil.

Tanpa berkata-kata, Rayyan langsung mengambil alih Sabrina dari gendongan Zia, menimangnya dengan canggung namun penuh kelembutan hingga tangis bayi itu perlahan mereda.

"Pergilah mandi dan istirahat, Zia. Biar Sabrina malam ini bersamaku," bisik Rayyan dengan senyum menenangkan.

Zia menatap punggung tegap Rayyan yang sedang menimang putrinya. Di dalam hati, Zia bersumpah akan mendidik Sabrina menjadi wanita yang kuat. Bersama Rayyan di sisinya, dia siap menghadapi kerasnya dunia, membesarkan Sabrina dalam persembunyian yang aman dari jangkauan Alfa Abraham, entah sampai kapan.

1
Lisa
Sukses y utk rencananya Rayyan..
indah
next bun......seruuuu....ini bun....
yuni ati
Semakin menarik👍
yuni ati
Menarik/Good/
Lisa
Sukses y Zia di acara Paris Fashion Week nanti
Lisa
Aku mampir Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!