Jia harus menerima takdir yang digariskan Tuhan untuk menikah dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal. Semua itu atas permintaan majikannya Tuan Jaya.
Untuk membalas kebaikan Tuan Jaya, Jia menerima permintaan itu. Namun siapa sangka pria yang akan ia nikahi bukan pria sembarangan. Ia adalah seorang pengusaha muda dan pewaris terkaya di negeri ini.
Berharap mendapatkan kebahagiaan dengan Pria bernama Reno Bara, ternyata Jia hanya di jadikan pelampiasan hasrat dan pembantu gratis di rumah nya. Itu karena Reno merasa dirinya di tipu oleh Tuan Jaya dan akhirnya melampiaskan dendam nya pada Jia. Reno terus menyiksa Jia baik fisik maupun batin.
Mampu kah Jia bertahan bersama Reno? Atau justru memilih untuk pergi dan mencari kebahagiaan nya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Yuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Debaran Aneh
Tidak butuh waktu setengah jam mereka tiba di kediaman Bara.
Reno turun dari mobil, Bi Lasmi yang melihat majikannya pulang lebih cepat dari biasanya merasa keheranan. Apalagi melihat beberapa luka lebam di wajah majikannya itu.
"Tuan sudah pulang? eh ya ampun itu wajah Tuan kenapa?" tanya Bi Lasmi panik.
"Saya baik-baik saja, Bi." jawab Reno sekenanya. Kemudian menaiki tangga dengan setengah berlari.
Sementara Jia yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan bathrobe dan juga handuk yang menggulung rambutnya. Seperti hal nya Bi Lasmi, ia pun terkejut melihat suaminya sudah pulang tidak seperti biasanya.
"Kak Reno."
Jia semakin terkejut ketika melihat wajah suaminya yang di penuhi luka. Sehingga berinisiatif mengambilkan kotak obat, agar bisa segera mengobati luka suaminya.
"Sebentar kak, aku ambilkan obat dulu."
Tidak peduli bagaimana Reno memperlakukan nya, Reno tetaplah suaminya. Jelas Jia tidak mungkin mengabaikan atau membiarkan luka di wajah suaminya dengan begitu saja.
Sementara Reno sendiri langsung melepaskan dasi yang mengikat leher nya sebelum menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
Beberapa menit kemudian Jia sudah kembali dengan membawa semangkuk air dan juga obat di tangannya.
"Permisi kak." ucap Jia dengan ragu-ragu.
Perempuan itu sudah membasahi handuk kecil dengan air dingin berniat untuk membersihkan luka namun perempuan itu takut dan ragu-ragu.
Tapi melihat Reno yang diam saja dan tidak memberikan reaksi apa-apa membuat Jia akhirnya memberanikan diri untuk menempelkan handuk kecil di wajah suaminya yang terluka.
Dengan begitu perlahan, Jia membersihkan luka Reno sampai selesai. Jia begitu telaten dan hati-hati agar suaminya merasa nyaman. Jia terlalu fokus dengan pekerjaan nya sehingga tidak menyadari kalau sejak tadi Reno tengah memandangnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Jantung Reno seakan berdetak lebih cepat dari biasanya. Saat kedua matanya tengah fokus memperhatikan wajah cantik Jia yang selama ini ia abaikan. Mungkin selama ini pertama kali Reno bisa memandang wajah perempuan itu dengan durasi begitu lama.
Entah di sadari atau tidak, Reno selalu merasakan perasaan aneh setiap kali menatap lekat wajah Jia seperti sekarang ini. Pria itu hampir saja terlena, jika dia tidak segera mendapatkan kesadaran nya.
Reno segera membuang muka, merutuki kebodohan nya sendiri, yang hampir saja terpikat dengan pesona perempuan yang sangat di benci nya. Perempuan yang telah terang-terang menipu nya dan menginjak-nginjak harga diri keluarganya.
"Minggir!"
Reno langsung menepis kasar tangan Jia yang masih bergerak di atas wajahnya. Beruntung Jia tidak terjatuh akibat perbuatan suaminya.
"Tapi wajah kakak belum selesai di obati." cicit Jia yang sedang berusaha menekan rasa takutnya.
Pria itu bangkit dari ranjang dan segera masuk ke kamar mandi. Tanpa peduli Jia yang begitu mengkhawatirkannya.
Reno sama sekali tidak menghiraukan Jia dan menganggapnya angin belaka membuat Jia hanya bisa pasrah. Ia takut memancing kemarahan pria itu.
Brak.
Terdengar dentuman keras membuat perempuan itu berjingkat kaget. Jia tampak mengusap dada nya berulang kali.
***
"Bibi, cepat bawa barang belanjaanku ke dalam kamar!" seru Ambar pada salah satu asisten rumah tangga nya.
"Baik, Nyonya."
"Mama habis belanja?" Tanya Reno menatap ke arah paperbag yang di bawa pembantu nya ke kamar milik Ambar.
Reno sudah terlihat rapih, saat pria itu turun dari tangga ia berpapasan dengan Ambar yang baru saja pulang.
"I-iya, mama bosan di rumah jadi mama memutuskan untuk refresing." jawab wanita yang selalu berpakaian glamour itu.
Beruntung, sebelum Ambar pulang dari menjual kalung. Ia melimpir ke pusat perbelanjaan terlebih dahulu. Guna nya yah ini untuk alasan jika putranya bertanya. Bisa gawat jika Reno tahu kalung itu tidak pernah hilang.
Mendengar jawaban itu Reno mengangguk-anggukan kepalanya.
Karena Reno sama sekali tidak pernah mempermasalahkan apapun kegiatan yang di lakukan oleh Ibu dan adik tirinya. Berbeda jika Ambar ketahuan berjudi, maka itu lain urusannya. Dan Reno tidak akan pernah memaafkan Ambar begitu mudah.
"Sayang, ada apa dengan wajahmu?" seru Ambar menghampiri sang putra tiri. Saking gugup nya Ambar tidak menyadari jika wajah Reno terdapat banyak luka.
"Tidak apa-apa Ma, hanya luka kecil. Reno harus pergi. Ada yang harus Reno urus. Reno pamit yah."
Pria itu segera melangkahkan kaki nya pergi namun langkah kakinya terhenti saat Ambar kembali bersuara.
"Sayang, mengenai kabar Dea. Ia akan kembali dari luar negeri. Bolehkah mama buat pesta penyambutan untuknya? Sudah lama kalian pun tidak pernah bertemu. Momen itu bisa kalian gunakan untuk ajang reuni." ucap Ambar meminta izin.
"Mama atur saja, terserah mama. Reno tidak masalah." jawab Reno sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah.
"Terima kasih banyak, sayang." ucap Ambar senang.
Sementara Reno tetap melanjutkan langkahnya menuju mobilnya yang terparkir.
"Berikan kunci nya, aku ingin berkendara sendiri." titah Reno pada supir pribadinya.
Sesekali Reno juga ingin mengendarai mobil nya sendiri, tanpa membawa sopir. Agar ia bisa me time dan menikmati kesendirian nya.
"Baik Tuan."
Setelah mendapatkan kunci dari supir pribadi nya. Reno segera membawa mobil kesayangan nya itu pergi ke suatu tempat yang membuat nya nyaman.
***
Sekembali nya Jia dari dapur, ia tidak menemukan keberadaan suaminya di kamar.
"Kak Reno?" panggil Jia berhati-hati.
Mereka memang sepasang suami istri, namun terdapat pembatas yang memisahkan mereka. Sehingga mereka memiliki kehidupan masing-masing. Meskipun begitu Jia tetap berbakti pada suaminya. Berbeda dengan Reno yang menganggap Jia hanya seorang pembantu dan penghangat ranjang nya saja.
Jia memeriksa ke kamar mandi, namun nihil tidak ada seorang pun di sana. Hanya ada bekas-bekas air menandakan bahwa Reno baru saja mandi. Dengan sigap Jia membereskan handuk kotor bekas pakai suaminya dan mengganti dengan yang baru.
'Kak Reno tidak ada, apa dia berada di ruang kerja nya?' tanya Jia dalam hati.
Ingin sekali Jia membawakan secangkir kopi untuk menemani suaminya bekerja. Namun Jia sama sekali tidak berani dan mengurungkan niatnya.
"Ah, lebih baik diam saja di kamar dari pada harus membuat masalah dan membuat Kak Reno marah." ucapnya kemudian.
Baru saja Jia ingin merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia mendengar dering ponsel miliknya berbunyi hingga ia bergegas untuk segera mengambilnya.
Bibir wanita cantik itu melengkung sempurna saat nama Tuan Jaya terpampang di layar ponsel jadul miliknya. Membuat Jia ingin segera menjawab panggilan itu. Karena Jia pun ingin tahu apa yang akan di katakan oleh majikannya itu hingga sampai menghubungi nya.
"Halo, Tuan." sapa Jia setelah mendekatkan benda pipih itu ke telinga nya.
"Halo Jia, apa kabar Nak?" Tanya Tuan Jawa di sebrang sana.
.
.
.
Bersambung
jangan lama lama up-nya pls
biar reno berjuang tapi jgn pisah kan mereka..biar kan mereka bersatu
Masak iya fania dan ibunya yg bnr2 dalang kejahatan nya di maafkan begitu sajaa..lalu bagaimana dgn reno yg menjadi korban mereka