Jatuh cinta pasti dirasakan setiap manusia
Dan banyak sekali rintangan didalamnya
baik suka maupun duka
mau tidak mau kita harus melewatinya
Setiap hubungan juga tidak akan berjalan
dengan mulus layaknya jalan tol
akan ada waktunya jalan itu berlubang
Akibat kesalahpahaman dan keegoisan kita
Jadi, mau happy atau sad endingnya
kitalah yang tentukan sendiri
dan mungkin ada hati yang akan dikorbankan
atau tidak sama sekali diantara kita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourdream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Ersa berjalan memasuki kantin dengan seorang diri. Ia melihat Yuan yang sedang menatap Irine bersama Sastra dimeja bagian depan. Ia pun menghampiri Yuan yang sedang duduk sendirian di sudut kantin itu.
"Boleh gue duduk disini?" Yuan mendongak menatap Ersa dihadapannya.
"Gue lagi pengen sendiri," ketus Yuan.
Ersa tidak memperdulikan ucapan Yuan. Dan ia langsung duduk dihadapan Yuan.
"Lo gak denger gue ngomong apa?"
"Gue lihat lo sendiri. Dan gue pikir lo butuh temen saat ini." Ersa tersenyum, "lo sama sekali gak kenal gue ya?"
Yuan hanya diam.
"Padahal, waktu kecil kita pernah main bareng lho. Gue aja masih inget sampe sekarang."
"Gue gak inget siapa lo."
"Wajar sih, orang lo ingetnya sama Irine doang. Iya, kan?"
"Sebenernya lo mau ngapain sih disini?" Tanya Yuan secara to the point ke Ersa. Karena semakin lama, ia semakin jengah dengan sikap Ersa.
Ersa berhenti makan dan menatap Yuan sepenuhnya.
"Gue cuma mau saranin lo buat tinggalin Irine kalau lo gak mau terus-terusan sakit hati kayak gini."
"Apa urusannya sama lo? Gue mau jauhin Irine atau gak, itu sama sekali gak ada urusannya sama lo." Yuan berdiri dari tempatnya dan menatap Ersa dengan kesal.
"Yuan, lo itu cuma sahabatnya. Dunia Irine itu bukan selalu tentang lo. Dia berhak cari cowok yang tepat buat dia. Dan setelah itu, dia bakal lupa lo yang pernah ada buat dia."
"Dia gak akan pernah lupa dan ninggalin gue. Karena selamanya gue tetep sahabatnya."
Ersa tersenyum tipis.
"Buktinya?"
Yuan diam.
"Lo lihat sendiri, kan? Sekarang aja lo dibiarin sendiri sementara dia sama cowok lain."
"Mending lo pergi deh."
Ersa berdiri dari tempatnya.
"Gue cuma ngingetin lo sebelum lo merasa jatuh sejatuh-jatuhnya karena dia."
Ersa pergi dan Yuan terduduk di tempatnya. Yuan melihat dimana Irine tampak asik dengan Sastra. Sementara dirinya?
Yuan mengusap wajahnya untuk sekian kalinya.
[[]]
Irine segera berlari mengejar Yuan yang hendak masuk kedalam mobilnya.
Ketika Yuan membuka pintunya, Irine juga membuka pintu mobil salah satunya.
Irine sudah ada didalam mobil Yuan.
"Keluar."
Irine tetap tidak mau keluar dari dalam sana.
"Irine, gue bilang keluar. Sekarang," ucap Yuan terdengar sangat dingin tidak seperti biasanya yang selalu lembut dan hangat.
Irine pun keluar.
"Yuan."
Yuan langsung masuk kedalam mobilnya. Dan untuk yang kedua kalinya, ia meninggalkan Irine sendirian.
"Yuan!"
Irine merunduk. Ternyata Yuan benar-benar marah padanya. Tapi ia bisa apa? Ia juga tidak ingin mengecewakan Arini.
"Yuan marah sama lo, apa karena gue?"
Irine menoleh ke belakang. Dimana Sastra berdiri disana.
Irine memaksakan senyumannya dan menggeleng.
"Enggak, Yuan marah sama gue bukan karena lo."
"Terus, sekarang lo pulang naik apa? Naik bus?"
"Gue pun gak tahu. Hari ini gue gak minta uang saku gue ke bunda. Karena gue pikir, gue bisa baikan lagi sama Yuan," lirihnya.
"Yaudah, hari ini lo gue traktir naik bus."
"Gak usah. Uang lo juga pasti pas doang, kan? Takutnya malah nyusahin lo doang," tolak cepat dari Irine.
"Cuma ngeluarin selembar ribuan gak akan nyusahin gue. Udah ayo. Keburu busnya habis."
Irine tersenyum.
"Makasih."
"Terima kasih kembali."
[[]]
Hari ini hari weekend. Ini hari kesempatan untuknya agar berdamai dengan Yuan. Pagi sekali, Irine sudah membuatkan kue kesukaan Yuan. Dengan harapan, Yuan gak marah lagi dengannya.
"Bun, Irine pergi kerumahnya Yuan dulu ya?" izin Irine.
"Iya, kamu hati-hati ya."
"Iya, Bun. Irine pamit, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Irine pergi dengan menenteng sekantung plastik kue kesukaan Yuan itu.
"Pagi, Mang Jaja," sapa Irine ketika bertemu dengan Mang Jaja yang sedang membersihkan mobil.
"Pagi juga, Neng Irine. Neng Irine mau pergi ya? Mau diantar sama Mang Jaja?" Irine menggeleng ramah.
"Gak usah, Mang. Irine pergi naik bus aja."
"Kalau gitu hati-hati ya, Neng."
"Makasih, Mang. Salam sama Bi Jum ya kalau pulang ke kampung. Selamat atas kelahirannya juga."
Bi Jum sedang cuti karena ingin lahiran. Mang Jaja tidak ambil cuti karena membutuhkan uang persalinan. Makanya, Mang Jaja mengambil lemburan terus. Dan pekan ini, Mang Jaja akan pulang ke kampungnya untuk melihat istrinya yang sudah lahiran.
"Iya, nanti Mang Jaja sampaikan salam dan ucapan selamatnya."
Irine tersenyum. "Kalau gitu Irine pergi dulu ya, Mang."
"Iya, Neng, silakan."
Irine pergi menuju halte bus yang tidak jauh dari rumahnya. Mungkin hanya butuh beberapa menit untuk sampai kesana.
Irine sudah duduk di halte dan sambil menunggu bus tujuannya.
[[]]
Irine sudah tiba dirumah Yuan. Ia pun memencet bel rumahnya. Dan Bi Sisi keluar untuk membukakan gerbangnya setelah mendengar bel.
"Eh, Non Irine. Cari Den Yuan ya?" Irine mengangguk dengan tersenyum.
"Iya, Bi. Yuan ada didalam, 'kan?"
Bi Sisi mengangguk. "Ada, Non. Bahkan Den Yuan belom keluar dari kamarnya semenjak pulang sekolah."
"Berarti dia belom makan sama sekali dong, Bi?"
"Iya, Non."
"Siapa itu, Bi?" tanya Rena yang baru saja keluar dari kamarnya. Irine tersenyum pada Rena.
"Eh, Irine. Apa kabar, sayang?" Rena langsung memeluk tubuh Irine dengan hangat.
Hubungan keduanya begitu dekat.
"Baik, Bunda. Bunda sama Ayah juga baik."
"Kok kamu jarang main kesininya lagi? Sibuk banget ya?"
Irine mengangguk. "Iya, nih, Bun. Tugas sekolah banyak banget. Jadi gak ada waktu main deh."
"Hmm, kasihannya anak Bunda."
Irine memang sudah dianggap sebagai putri Rena juga. Begitupun juga dengan Yuan yang sudah dianggap sebagai putra Jessy sendiri.
"Bunda, Yuan ada dikamar?"
Rena mengangguk. "Ada. Dari kemarin dia belom juga keluar dari kamarnya. Bunda jadi khawatir sama dia karena belom makan sedikitpun."
"Yaudah, bunda tenang aja. Nanti aku paksa dia buat makan."
"Kamu emang bisa diandalkan. Yaudah, bunda ke kamar lagi ya. Kamu have fun aja sama Yuan."
Irine mengangguk. "Iya, Bun. Kalau gitu, Irine ke kamarnya ya."
Rena mengangguk. Kemudian, Irine pergi ke atas untuk ke kamar Yuan.
Tokk tokk
"Yuan, ini gue. Buka dong pintunya. Tebak, gue bawa apa kesininya?"
"Ngapain lo kesini? Pulang sana."
"Yuan, gue bawa kue kesukaan lo tau. Gue udah buat kuenya pagi-pagi. Masa lo tega banget sih sama gue yang udah capek-capek bikinin kue buat lo?"
Cklek
Pintu kamar terbuka. Dan langsung menampilkan wajah kusut Yuan. Irine menghela nafas.
"Lo pasti gak tidur ya semalem? Mata panda lo keliatan banget."
Yuan tidak mengindahkan ucapan Irine. Ia masuk kembali ke kamarnya diikuti dengan Irine yang masuk sambil menaruh kantung plastik itu di nakas.
"Lo kenapa? Sakit?" Irine memegang kening Yuan, Tidak panas, "Badan lo gak panas kok."
Yuan menghindar dari tangan Irine yang memegang keningnya.
"Mana kuenya?"
Irine tersenyum. Ia mengambil plastik di nakas dan membukanya.
"Nih."
Yuan langsung mengambilnya dan memakannya dengan lahap.
"Yuan, jangan buat gue khawatir dengan lo yang kayak gini," lirih Irine.
Yuan terdiam sambil mengunyah kue dimulutnya. Sebenarnya, ia tidak ingin membuat Irine khawatir.
"Gue haus."
Irine segera mendongak.
"Lo haus? Bentar, gue ambilin dulu minumannya dibawah." Irine segera turun ke bawah untuk mengambilkannya minuman.
Ketika Irine keluar, Yuan menaruh kue di atas nakas kembali.
"Maaf, Rin. Karena gue lo jadi khawatir."
Irine sudah datang kembali dengan segelas air putih ditangannya.
"Nih, lo minum dulu." Yuan menerimanya.
"Lo ada acara hari ini?" tanya Yuan.
"Hah?"
"Kalau Lo ada ac--" ucapan Yuan langsung dipotong oleh Irine.
"Gak ada! Gue lagi free. Lo mau gue temenin kemana?" Tanya Irine cepat.
Mungkin dengan begini, gue sama Yuan bisa baikan lagi.
"Kemanapun."
To Be Continued
Jangan lupa buat like ya.
Aku sudah like ya, mampir yuk keceritaku
Dia Untukku. Terimah Kasih
Mencintaimu kaka
Salam manis "Scandal pewaris tunggal"
tetap semangat up nya 😀
jangan lupa di feedback ya kakak 😀
mari saling mendukung