"Kenapa kamu selalu menolak aku Put? apa yang kurang dari aku? kalau memang ada, katakan! aku akan memperbaikinya," ujar Davian kepada Putri.
Ini sudah yang kesekian kalinya Davian menyatakan perasaan kepada Putri. Dan ini juga sudah menjadi yang kesekian kalinya Davian ditolak oleh Putri.
Putri menundukkan kepalanya.
"Kak Davian enggak kurang apa-apa, Kak Davian sempurna. Hanya saja, aku yang tidak pantas untuk Kak Davian," jawab Putri dengan suara lirih.
Lagi dan lagi, Putri kembali mengatakan sebuah omong kosong. Apa maksud Putri dengan gadis itu tidak pantas untuk dirinya? Davian tidak peduli, bagaimana pun caranya, dia akan menjadikan Putri sebagai pasangannya. Davian tidak akan menyerah begitu saja.
Sebenarnya apa yang membuat Putri selalu saja menolak Davian? apakah ada sebuah alasan yang menjadi penyebab Putri terus melakukan hal itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku antar pulang!
-Bensin sama ban kempes? Itukan kondisi motor aku sekarang. Terus, ini Kak Davi lagi telfon siapa? Kenapa jadi kaya bawa-bawa motor aku?- Ucap Putri dalam hati.
Tapi meskipun begitu, Putri tidak mengatakan apa-apa kepada Davian. Karena ya itu, Putri bingung harus mengatakan apa.
Selesai menelfon seseorang yang Putri sendiri tidak tau siapa, Davian tampak menatap kearah Putri. Sebuah senyum tipis juga tampak tersungging dibibir laki-laki itu.
"Motor kamu mati udah dari tadi Put?" Tanya Davian kepada Putri.
Putri menggelengkan kepalanya.
"Enggak Kak, belum lama kok. Tadi begitu motornya mati, enggak lama Kak Davi lewat." Jawab Putri.
Davian mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya udah, sabar ya tunggu sebentar. Bentar lagi orang suruhan aku bakal kesini bawa bensin sama pompa kok." Ujar Davian.
Mendengar ucapan Davian, Putri melebarkan matanya karena terkejut. Loh, jadi tadi Davian beneran membicarakan kondisi motornya? Lalu Davian menyuruh orang untuk datang kesini membawakan bensin dan pompa ban motor? Heii, yang benar saja. Kenapa Davian melalukan hal merepotkan seperti ini untuk membantu dirinya?
"Kak Davi nyuruh orang buat kesini bawa bensin sama pompa?" Tanya Putri memastikan.
"Iya."Jawab Davian santai.
"Kenapa?" Tanya Putri lagi.
Pertanyaan Putri membuat Davian mengerutkan dahinya karena bingung.
"Kenapa apanya?" Ujar Davian balik bertanya.
Putri menggelengkan kepalanya sebentar. Sepertinya Putri perlu menjernihkan isi kepalanya. Entah kenapa saat ini otaknya terasa sangat sulit digunakan untuk berpikir.
"Iya, maksudnya kenapa Kak Davi mau repot-repot nyuruh orang kesini buat bawain bensin dan pompa buat motor aku." Ujar Putri.
Masih dengan senyum tipisnya dibibir Davian...
"Aku sama sekali enggak ngerasa repot sih. Dan kenapa aku melakukan ini? Karena aku tau kamu lagi kesulitan, Put. Lagian apa salahnya membantu teman yang sedang kesulitan? Enggak ada kan." Jawab Davian santai.
Kalau boleh jujur, sebenarnya saat ini Davian merasa deg-degan. Davian sendiri tidak tau kenapa ini terjadi. Apa mungkin karena dia sedang berdekatan dengan Putri? Tidak mungkin karena itu kan?
Sementara Putri.
-Teman? Bukankah hubungan kita hanya bisa disebut sebagai kenalan aja ya? Bagaimana bisa berteman kalau kita aja baru ketemu sekali. Eehh, tidak-tidak. Aku dan Kak Davi udah ketemu 2 kali. Tapi kan yang tadi enggak bisa dihitung kan?- Ucap Putri lagi-lagi hanya dalam hati.
Tidak memiliki jawaban lain, Putri memilih untuk menganggukkan kepalanya.
"Makasih ya Kak udah mau repot-repot bantuin aku." Ujar Putri.
"Terima kasihnya nanti aja Put, soalnya kan orang suruhan aku belum datang dan motor kamu kan belum hidup lagi." Jawab Davian.
Putri tersenyum tipis. Meskipun begitu, senyum tipis yang Putri perlihatkan berhasil membuat jantung Davian berdetak semakin kencang dari yang tadi. Davian jadi khawatir tiba-tiba dia terkena serangan jantung karena detak jantungnya yang terasa terlalu cepat.
"Ya seenggaknya aku berterima kasih dulu buat effort Kak Davian untuk bantu aku." Ujar Putri.
Davian masih tetap tersenyum.
"Iya sama-sama Put, santai aja." Jawab Davian.
Setelahnya hening, tidak ada pembicaraan lagi diantara keduanya. Sepertinya antara Davian dan Putri sedang sibuk dengan isi kepala masing-masing.
"Ehmm.. ini Kak Davian baru pulang kantor ya?" Tanya Putri.
Hanya berdiam diri tanpa ada pembicaraan nyatanya justru membuat suasana terasa semakin canggung. Oleh karena itu Putri memutuskan untuk membuka obrolan terlebih dahulu. Apalagi saat ini dia sedang ditolong oleh Davian, masa iya Putri malah mendiamkannya.
Dan karena Putri melihat Davian masih menggunakan kemeja, celana dan sepatu formal, Putri berkesimpulan kalau Davian baru pulang bekerja. Dan topik itulah yang Putri jadikan untuk membuka obrolan.
Mendapatkan pertanyaan itu, Davian menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku baru pulang kantor. Habis selesai lembur soalnya." Jawab Davian. "Kamu sendiri darimana Put?" Tanya Davian.
"Aku juga habis pulang kerja Kak." Jawab Putri.
Tunggu, pulang kerja? Kenapa Putri pulang kerja selarut ini. Saat ini bahkan sudah hampir jam setengah 9.
"Bukannya toko bunga Viola cuma buka sampai sore doang ya? Kenapa jam segini baru pulang?" Tanya Davian tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Ya, meskipun tidak tau tepatnya jam berapa. Tapi Davian tau kalau toko bunga Viola hanya beroperasi sampai sore saja. Davian yakin sore yang dimaksud juga tidak sampai Maghrib kan?
"Iya kak, toko emang tutup sore, jam setengah 5. Tapi kebetulan tadi ada pesanan bucket bunga yang harus diselesaikan hari ini juga. Jadi aku sama Ranj putusin buat lembur dan nyelesain setelah toko tutup." Jawab Putri.
"Oo karena lagi ada pesanan." Davian mengangguk-anggukkan kepala. "Tapi biasanya enggak sering pulang sampai malam kan?" Tanya Davian lagi.
Entah kenapa tiba-tiba Davian merasa khawatir kalau Putri pulang kerja terlalu malam.
"Enggak sih, cuma kalau pas ada banyak pesanan aja." Jawab Putri.
Nyatanya semakin lama rasa canggung yang Putri dan Davian rasakan sedikit demi sedikit mulai menghilang. Saat ini keduanya bahkan sudah bisa mengobrol dengan akrab. Tidak seperti tadi yang terlihat canggung.
Sampai akhirnya orang suruhan Davian pun datang. Sesuai dengan instruksi, 2 orang suruhan Davian itu membawa bensin dan pompa.
Sesampainya disana, keduanya langsung mengisi bensin ke motor Putri. Tapi saat hendak memompa ban motor, mereka berhenti.
"Ini ban motornya bukan kempes karena kurang angin, Pak. Tapi bocor karena paku." Ujar salah satu orang itu.
"Bocor kena paku?" Tanya Putri terkejut.
Bagaimana bisa? Putri bahkan tidak merasa kalau motornya baru saja menginjak paku.
"Mana?" Tanya Davian.
"Ini Pak."
Orang itu memperlihatkan ban motor Putri yang ternyata memang benar terkena paku.
"Terus ini gimana Pak? Enggak bisa ya kalau tetap dipompa?" Tanya Putri.
Sebenarnya ini adalah pertanyaan bodoh. Sudah tau ban motornya bocor, tentu saja tidak bisa kalau hanya di pompa saja.
"Enggak bisa, Mbak. Tetap harus dibawa ke bengkel buat ditambal." Jawab orang itu.
"Yahh, gimana dong." Gumam Putri.
Sebenarnya Putri tidak masalah kalau memang harus ditambal. Tapi masalahnya bengkel terdekat saat ini dimana? Putri bahkan tidak tau dimana bengkelnya. Masa iya Putri harus mendorong motornya sembari mencari bengkel motor?
"Ya udah, kalau gitu motornya kalian bawa ke bengkel aja." Ujar Davian.
Ucapan Davian membuat Putri langsung menolehkan kepalanya.
"Bengkel mana Kak? Setau aku lokasi bengkelnya agak jauh." Ujar Putri.
"Bengkel langganan aku. Emang tempatnya jauh, tapi kualitasnya bagus kok." Jawab Davian. "Udah, urusan motor kamu biar mereka aja yang urus. Sekarang mending kamu aku anter pulang aja. Ini udah malem soalnya. Enggak baik kalau kamu terlalu lama diluar. Apalagi kamu pasti udah capek pengen istirahat setelah seharian kerja." Ujar Davian.
Jadi, haruskah Putri mempercayakan motornya kepada orang suruhan Davian dan pulang bersama dengan laki-laki itu?
Abis dri sblh lm gag up.tau" pindah kesini.Dan kini lom nongol lgi...
hrp jgn lama"liburny y thor...